
"Papa ..."
Alexa berteriak saat tubuh Papa Azam tumbang dengan bahu terluka.
Papa Azam melindungi Alexa yang hampir saja terkena timah panas yang pak Ardi lepaskan dari senjatanya.
Papa Kahfa dan Adam langsung sungap menyergap Pak Ardi lebih dulu, sebelum menolong Papa Azam. Adam segera mengamankan senjata api Pak Ardi. Entah bagai mana ceritanya Pak Ardi mendapatkan senjata. Usut punya usut, Pak Argi mengambil srnjata milik Letia yang tak sadarkan diri oleh ulah Zayn.
Meski dengan tangan terikat Pak Ardi mampu membidik, walaupun garus meleset karna sasarannya adalah kepala Alexa.
Pak Ardi berpikir, dengan ia melenyapkan Alexa, maka ia akan menghancurkan hidup Azam dan Zayn secara bersamaan namun ia harus kecewa karna Alexa bai baijk saja.
"Papa ..."
Alexa menangis ia takut jika sesuatu yang buruk terjadi terhadap Papanya.
"Papa ... Mengapa harus melakukan ini?" Alexa meraung ia pangku kepala papanya, darahnya keluar sangat banyak hingga membasahi lantai.
"Selama hidup Papa, Papa selalu merasa jika Papa melakukan hal salah terhadapmu. Papa selalu menyakitimu Alexa, Satu satunya yang tidak Papa sesali adalah menikahkanmu dan Zayn. Ini adalah bukti jika Papa menyayangimu Alexa, papa menyesal sudah mengabaikanmu selama ini."
Disana sudah terdapat banyak orang, orang orang mendekat saat mendengar suara tembakan.
Aris dan Adam berada di lokasi ke jadian untuk menunggu polisi datang. Papa Kahfa, Alexa dan Zayn membawa Papa Azam kerumah sakit.
Di perjalanan Alexa tak sadarkan kan diri, di karna kan fisiknya yang lemah karna tak makan dan tak mendapatkan asupan nutrisi sejak tadi siang.
Zayn terus memeluk Alexa, juga memastikan Alexa tetap bernafas, Zayn takut. Sangat takut, sungguh Zayn membayangkan hal tidak tidak saat Alexa tak sadarkan diri.
Papa Azam segera mendapatkan perawatan dari dokter, juga melakukan oprasi pengangkatan peluru di bahu sebelah kanannya. Sedangkan Alexa, ia tengah menjalani serangkaian pemeriksaan oleh dokter Obgyn. Beruntung selain luka luar juga rasa trauma Alexa tak mendapatkan luka dalam.
Dokter memberikan obat tidur sesuai dosis agar Alexa dapat terlelap.
Zayn terus mengecupi pergelangan tangan Alexa yang terluka. "Terims kasih karma kau masih baik baik saja. Aku ta tau kau berusaha menyelamatkan bayi kita juga diri Alexa. Ya diriku, karna jika terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu aku pastikan aku tak akan lagi mampu menyapa hari esok dengan senyuman."
"Cepatlah sembuh Tuan putri. Kau harus kembali mengerjaiku, bukankah kau pernah mengajakku untuk menginap di pantai? Kita belum melakukannya. Kita juga akan mwlihat mata hari terbenam sesuai keinginanmu. Maka untuk itu cepatlah sadar." Zayn mengecup kening Alexa yang terluka.
Zayn juga mengusap perut buncit Alexa, Zayn senang sekaligus terharu, ternyata benihnya yang tengah tumbuh di rahim Alexa bukan hanya satu janin, melainkan dua sekaligus. Mungkin gan itu di turunkam dari Kedua Papanya yang kembar.
__ADS_1
Mata Zatmyn kembali memanas saat melihat rambut Alexa yang tak beraturan. "Rambut indahmu di rusak wanita itu. Tapi aku sudah membalasnya. Aku akan merapihkan rambutmu saat kau sembuh nanti."
Di balik kabar juga sesuatu yang terjadi Zayn bahagoa atas kehamilan kembar istrinya.
"Zayn." Mama Lexi, Hanna juga Raffa memasuki ruangan Alexa.
"Kebetulan ada kalian. Aku titip Alexa ya. Aku ingin melihat keadaan Papa Azam pasca oprasi. Aku juga ingin berterimakasih karna sudah menyelamatkan istriku."
Zayn berjalan ke ruangan Papa Azam. Samar samar terdengar Papa Kahfa tengah memarahi seseorang, dari celah pintu yang tak tertutup rapat itu. Adam juga ada di ruangan itu. Zayn tergerak untuk mencuri dengar apa yang Papa Kahfa ucapkan terhadap Mama Green.
"Katakan yang sebenarnya Green! Ada hubungan apa kau dan Ardi?" Papa Kahfa berujar datar. Sangat jelas dari tatapannya jika pria itu kecewa terhadap adik iparnya sekaligus besannya itu.
"Hu-hubungan? Aku tak memiliki hubungan apapun dengannya." Greendia belum ingin jujur, ia takut rahasia di masa lalunya terungkap. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hubungannya dengan Ardi tapi entahlah ia takut jika Azam kecewa padanya.
"Jangan berbohong lagi tante Green!" Adamlah yang berbicara, bahkan ia berdiri dari duduknya.
"Akui saja jika Pak Ardi adalah mantan kekasih tante Green." skak Adam.
"Kenapa ka-kalian tiba tiba menanyai tentang Ardi? aku tengah bersedih karna suami dan putriku terluka." Green memang baru datang, ia tak tau siapa pelaku penembakan suaminya, yang ia tau adalah Alexa di culik dan Papa Azam menyelamatkannya.
"Karna Ardi adalah pelaku utama di balik penculikan istriku, Ardi juga pelaku penembekan yang berhasil melukai Papa Azam." Zayn memasuki ruangan mertuanya. "Ada alasan mengapa Ardi menculik istriku dan semuanya berawal dari Mama Green."
Greendia bungkam. Benarkah seperti itu?
"Akui saja Ma! Ardi mengatakan jika alasan dia melakukan penculikan adalah mama." Zayn melihat tubuh mertua yang masih ter baring di atas brankar pasien.
"Sebanarnya aku-" Greendia menjeda ucapaannya. "Aku dan Ardi pernah miliki hubungan di masa lalu. Dia sudah melamarku dan kami sudah berencana menikah. Tapi saat mas Azam melamarku melalui Kahfa dan Lexi aku berubah pikiran. Meski Azam seorang duda beranak satu tapi hatiku memilihnya. Tak munafik aku melihat materi juga ke tampan Mas Azam, sehingga aku memutuskan hubunganku dan Ardi secara sepihak." Mama Green mengakuihubungannya dan Ardi di masa lalu.
"Setelah beberapa tahun, Ardi kembali. Dia bekerja sebagai supir Mas Azam. Aku tak bisa mengakui hubungamku dan Ardi di hadapan Mas Azam, sehingga sebisaku aku menghindari Ardi. Ku pikir Ardi sudah melupakanku, tapi dengan adanya hal ini membuatku sadar jika sebenarnya Ardi masih dendam terhadapku. Terutama Alexa, ini memang salahku, karna aku mengatakan kasihan kepada Alexa dan bersedia menikah dengan Mas Azam. Tadinya aku tak tak mau menyakitinya dengan mengatakan yang sebenarnua, rupanya alasan Alexa malah menjadi boomrrang untuk Alexa. Maafkan aku." Mama Green menundukkan wajahnya.
"Zayn apa kau mengenal Risa?" Adam kembali bertanya. Kali ini Zaynlah yang Adam introgasi.
"Risa?" Zayn terlihat berpikir dan mengerutkan keningnya dalam. "Risa anaknya Ardi?" tanya Zayn memastikan.
"Ya."
"Ya aku mengenalnya, di pernah menuntut ilmu di pesantren. Dia juga pernah melamarku di temani Ardi."
__ADS_1
"Kau menolaknya?"
"Ya. Aku tak tertarik dengannya, aku sudah terlanjur tertarik oleh Alexa, yang kala itu masih kekasihmu." Aku Zayn jujur.
"Kau menyukai Alexa dan tertarik pada Alexa semenjak dirinya masih kekasihku?" Adam memastikan.
"Sialan kau!" Adam mengumpat.
"Ada apa? Mengapa kau terlihat marah?"
"Aku marah karna kau menjadi pemenang Zayn." Adam mendengus kesal.
"Sudah takdirku." ucap Zayn datar.
"Dan kau tau Zayn. Menurut Ardi kaulah penyebab kematian Risa, putri angkatnya. Kau menolak lamarannya, dan tak jauh dari itu kau malah menikahi Alexa. Hal itulah yang semakin memupuk kebencian Ardi kepada Alexa. Begitulah yang ku tangkap dari apa yang terjadi." ujar Adam.
"Risa sudah mati?" Zayn memastikan.
"Ya."
"Tapi alasan wanita itu bekerja dengan Ardi sungguh aku tak tau, karna wanita itu belum sadarkan diri." tutur Adam.
"Jika mengenai Letia, aku tau alasannya. Wanita itu terlalu terobsesi untuk menjadi istriku."
Setelah memastikan keadaan Papa Azam baik baik saja Zayn kembali ke ruangan Alexa.
saat Zayn kembali Alexa sudah sadar, ia tengah di suapi oleh Mama Lexi.
"Kak bagai mana ke adaan papa? Aku ingin melihatnya." Alexa benar benar ingin melihat papanya.
"Papa baik baik saja, oprasi pengangkatan pelurunya berhasil. Sekarang papa tengah istirahat. Nanti kita temui papa jika sudah sadar." Zayn mengambil alih piring dari tangan Mama Lexi.
"Cepatlah sembuh. Aku ingin menengok dede bayi." bisik Zayn mencoba menghibur istrinya.
"Memangnya kau masih mau denganku yang sudah tak cantik?"
"Kau adalah wanita tercantiku." keluar lagi jiwa rayuan Zayn yang mulai mendarah daging.
__ADS_1