Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Kau sangat hebat


__ADS_3

"Kak, sakit banget. Aku tak bohong. Bisa di percepat ga kak supaya pembukaan satu dan seterusnya di lewati saja?"


"Ya Allah. Apa Alexa pikir pembukaan bisa di skip jika tak menyukai rasanya." Zayn memijat pelipisnya.


Rasa sakit kontraksi pada Alexa datang dan pergi. Dan di saat ia sudah tak sakit, Alexa tiba tiba ingin memakan nasi padang. "Kak aku ingin makan nasi padang, mungkin ini ngidam terakhirku."


"Ma, Papa sedang dalam perjalanan ke sinikan? Sekalian beliin nasi padang Ma. Zayn tak ingin melewatkan moment dengan Alexa saat menyambit kelahiran anak kami."


"Ya. Mama hubungi papa sekarang sekalian mengabarkan kepada Green dan Azam jika Alexa hendak melahirkan."


Namun sayangnya Papa Azam dan Mama Green tengah berada di luar kota untuk beberapa hari, karna memang perkiraan lahir Alexa masih dua minggu lagi.


"Sakit lagi kak."


Alexa kembali mengadu dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Papa Azam dan Mama Green menelpon. Dan meminta maaf tak dapat menemani Alexa saat persalinannya, karna berada di luar kota.


"Selalu saja seperti itu." Lirih Alexa sendu.


"Tidak papa. Fokus saja akan kelahiran mereka. Ada atau tidaknya Papa dan Mama tidak akan mengurangi sakit dan pahala yang akan kau dapatkan. Yang terpenting aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan menemanimu hingga akhir." Zayn mengusap perut Alexa dengan lembut.


Papa Kahfa datang dengan nasi padang, lengkap dengan buah potong yang ia beli dpi pinggir jalan. Papa Kahfa juga sangat antusias menyambut cucu pertamanya yang sekaligus akan datang dua.


Zayn menyuapi Alexa sedangkan mama Lexi tengah mengikat rambut Alexa yang sudah sedikit memanjang, tujuannya tentu saja agar tidak riber saat kontraksinya tengah datang.


"Kak sakit lagi."


Alexa mendorong suapan dari suaminya kala kontraksi itu kembali menyerangnya.


"Sttt ..." Alexa kembali berdesis.


"Astaghfirullah ... Astaghfirullah ... Jangan mebgeluh sakit ya. Tak baik.!" Zayn berkata lembut ia juga mengusap kenibg Alexa menggunakan telapak tangannya.

__ADS_1


"Emang ini beneran sakit loh, aku tak bohong. Masa orang sakit harus bilang enak kak." Alexa sensi dan menepis tangan Zayn dari keningnya.


"Ya, aku tau itu sakit tapi jangan ngeluh ya. Kamu pasti bisa. Ingat ada dua bayi yang bersiap melihat dunia." Zayn dengan sabar memberi tau Alexa.


Belum sempat habis makanan yang di santap Alexa, Alexa sudah lebih dulu menyudahinya.


"Kak sakit. Tolong panggilkan dokter." Alexa meminta tolong, tapi Papa Kahfa lah yang memanggil dokter untuk memeriksa ke adan Alexa. Papa Kahfa di suruh menunggu di luar, cukup hanya Zayn saja yang menemani Alexa.


"Masih pembukaan satu." ujar dokter bernama Sita itu. "Coba jalan jalan agar mempercepat pembukaan." Di bantu oleh perawat Alexa turun dari ranjang rumah sakit, dan berjalan jalan dengan Zayn di ruang persalinan itu.


Zayn menuntun Alexa seperti tengah posisi berdansa. Keningnya ia tempelkan di kening Alexa yang di penuhi keringat. Sepanjang waktu Zayn berdzikir dan berdoa demi keselamatan istri setra calon anak anaknya.


Zayn juga dapat merasakan seluruh tubuh Alexa bermandikan keringat. Zayn tau rasanya sangat sakit sekali, seandainya bisa ia ingin menggantikan penderitaan istrinya itu.


"Kak aku pingin pup." Alexa berujar.


"Ayo biar ku antar."


Zayn membimbing Alexa memasuki kamar mandi. Dengan telaten Zayn mendudukan Alexa di kloset, Zayn juga membersihkan Alexa hingga suci.


"Sabar ya sayang. Kau pasti bisa." Zayn memberi semangat kepada istrinya.


"Ya kak. Aku pasti bisa, semua demi anak anak kita."


Alexa bersemangat kembali ia berjalan jalan sampai ia merasa tak kuat untuk berjalan.


"Kak haus. Aku ingin minum." Zayn menegukkan air minum di mulut istinya.


Berkali kali Alexa mengejan. Tapi ia tak mengeluh lagi ia hanya membaca shalawat dan asma asma Allah.


"Kak. Pengen pup lagi."


Zayn merasa jika Alexa kini sudah parah dalam kontraksinya.

__ADS_1


Sudah lima jam Alexa mengalami kontraksi. Zayn bahkan belum shalat dzuhur padahal sudah pukul satu siang.


"Kak shalat dulu. Tapi di kamar ini ya." Alexa sempat mengingatkan Zayn. Zayn pun menurut.


Belum sempat Zayn mengucapkan salam terdengar ringisan dari arah ranjang, sepertinya Zayn tidak terlalu fokus akan shalatnya sehingga dapat mendengar ringisan istrinya.


Selesai mengucapkan salam Zayn segera memanggil dokter.


"Dok. Cepat istriku semakin kesakitan."


Dan benar saat di periksa dokter pembukaan Alexa sudah lengkap, sehingga oroses persalinan akan segera di mulai.


Alexa benar benar mempertaruhkan hidup dan matinya demi memberikan Zayn gelar sebagai ayah.


"Dorong Bu! Kepala bayinya sudah terlihat." Dokter itu memberi aba aba.


"Semangat sayan kau pasti bisa." Zayn memberikan tangannya untuk berpegangan Alexa.


Dan setelah lebih dari satu jam Alexa berjuang kedua anaknya telah lahir dengan jenis kelamin yang berbeda.


"Pak ini anak anak bapak." ujar perawat.


"Bersihkan dulu. Saya inhin bersama isti saya dulu." Zayn mendekatkan wajahnya di wajah kuyu istrinya.


"Terimakasih. Terimakasih, atas kebahagiaan yang kau berikan."


Terdengar suara tangis bayi saling bersahutan. Dari dalam ruangan itu. Membuat Papa Kahfa dan Mama Lexi mengucapkan rasa syukurnya.


Zayn mengadzani putra dan putrinya secara bersamaan di antara telinga keduanya. Setelah itu Zayn membiarkan putra dan putri kembarnya di tangani dokter, yang ia fokuskan adalah Alexa saat ini.


"Kau sangat hebat Alexa."


Alexa mendapatkan beberapa jahitan di miliknya, karna terdapat robekan.

__ADS_1


"Kau bangga terhadapku?" Alexa menanggapi ucapan suaminya.


"Tentu saja. Kau sangat hebat dan luar biasa. Aku mencintaimu." Zayn labuhkan kecupan di kening istrinya.


__ADS_2