
Alexa sedari tadi terus mengumpati suaminya di dalam hati. Bagaimana tidak, ia nyaris kehilangan muka di hadapan kedua mertuanya gara gara keingin Zayn yang tidak bisa di tawar sama sekali.
Zayn menatap mama tajam, jelas terlihat di matanya jika Zayn di buat tak berkutik atas tuduhan nyata yang di lakukan oleh wanita yang paling ia hormati kehadirannya.
Kedua tangan Zayn membawa makanan serta satu botol air mineral besar keluar ruang inap mamanya. Ia heran terhadap mamanya padahal tengah sakit tapi bisa bisanya mamanya bertindak begitu menyebalkan menurutnya. Pada Akhirnya Zayn membawa istrinya keluar ruangan mamanya lebih baik ia makan di luar saja dari pada Alexa terus menerus di buat tersedak juga mati kutu oleh tingkah laku mamanya yang frontal serta luar biasa menyebalkan.
Raut wajah Alexa sudah di tekuk dalam, sedemikian rupa wajah itu terlihat amat marah serta malu atas perbuatan Zayn.
"Kau puas sudah membuatku kehilangan muka di hadapan Mama dan Papamu?" Alexa sedikit membantingkan bobot tubuhnya ke kursi stainles yang tersedia di luar ruangan Mama Lexi.
"Lebih puasan yang di kamar mandi Al." Zayn menanggapi dengan santai perkataan istrinya.
"Sejauh ini kaulah pria yang paling jauh dari kata malu Zayn!" Alexa menggeram di antara gertakan gigiginya yang ia ketatkan. Sumpah demi apapun Alexa kehilangan banyak kalimat untuk mengatai suaminya.
Zayn hanya tersenyum simpul. Mendengar kalimat Alexa yang menggerutu. "Aku lebih menyukai desa hanmu, di banding umpatan umpatan yang kau katakan sejak tadi." Zayn menyuapkan satu sendok makanan di saat Alexa membuka mulut bersiap untuk menyahuti ucapan Zayn.
"Lanjutkan makanmu! Sesekali percayai ucapam Mamaku, kau tak akan tau di mana lagi aku akan mengajakmu bercinta. Di mobil aku belum mencobanya."
"Berhenti berbicara Zayn atau aku tak akan memberikan hakmu selama seminggu penuh!" Ancam Alexa, setelah ia berhasil menelan sisa makanan yang telah selesai ia kunyah.
Seketika Zayn bungkam. Ancaman Alexa sangat mengerikan, dan lebih menyeramkan di banding film horor yang suzana bintangi beberapa tahun silam. Mulut Zayn langsung mengatup ia tak ingin malam malamnya berakhir kelabu karna kelancangan mulutnya, Zayn memikirkan bagai mana nasib miliknya? serta hajat besarnya untuk menciptakan suara tangis bayi dalam waktu dekat dengan benihnya sendiri.
"Ya, aku diam." Zayn memakan makanannya dalam diam.
__ADS_1
"Yang, apa perlu kita bulan madu seperti Hanna? Kau ingin kemana?" Zayn menawarkan tempat yang menurut Alexa bagus untuk referensi bulan madu.
Bisa juga bulan madu menjadi sebagai ajang perbaikan untuk hubungannya dengan Zayn yang sudah ia cacati dengan surat gugatan cerai yang berhasil Zayn musnahkan
Alexa terlihat berpikir, ada dua negara yang sejak dulu ingin ia kunjungi, yang pertama Paris dan yang kedua adalah Korea.
Kedua negara itu merupakan tempat yang menurut Alexa sangat istimewa dengan keunikan dan ragam budaya yang menjadi daya tariknya, Paris dengan fashionnya dan Korean dengan sejuta oppanya, sungguh Alexa ingin mengunjungi kedua negara itu. Namun jika ia pergi sekarang kasihan Mama Lexi, wanita yang sudah berjasa membesarkan dan mendidik suaminya itu kini tengah sakit juga menderita patah tulang kaki, otomatis gerak dan kegiatan mama Lexi akan tergambat. Terlebih Papa Kahfa harus pergi bekerja jika di waktu siang. Maka siapa yang akan membantu dan menjaga Mama mertuanya jika bukan Alexa sendiri.
Mana Lexi selalu berbuat baik terhadap Alexa. Kalimat atau pribahasa mertua kejam sangat tidak tergambar pada diri Mama Lexi, Alexa bersukur karna Mama Lexi adalah seorang mertua yang pengertian serta menyayangi dirinya, sehingga ia tak bisa berbuat seenaknya, Alexa juga menyayangi Mama Lexi jauh di hari dirinya di jadikan menantu oleh keluarnya Zayn.
Zayn yang hanya melihat Alexa berpikir dengan tatapan jauh menerawang segera menyentuh tangan Alexa dan menegurnya.
"Yang."
"Malah bengong. Mau bulan madu kemana?" Zayn merapikan bekas makan mereka juga membukakan air mineral dalam botol berukuran 1,5 liter itu.
Alexa langsung meneguk air minum yang Zayn sodorkan.
"Mama sedang sakit. Nanti ku pikirkan lagi, aku tak tega jika harus meninggalkan Mama." ujar Alexa jujur.
"Terimakasih sudah perduli kepada Mama. Kau boleh meminta bulan madu ke padaku, warisan yang papaku tinggalkan sangat banyak, tidak usah repot memikirkan saldonya." Zayn berbisik. "Tawaran mahar yang waktu itu pun masih berlaku." tandas Zayn lagi.
"Kau bersungguh sungguh tak ingin berpisah denganku?" Alexa mengubah mimik wajahnya menjadi lebih serius dari sebelumnya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah bercanda dalam masalah hidup."
"Aku ingin membuat istanaku sendiri. Kelak jika kita memiliki anak aku ingin kita pindah rumah, bukan. Bukan aku tak betah serumah dengan orangtuamu Zayn. Hanya saja aku ingin memiliki prefasi, aku juga ingin menjadi satu satunya ratu di rumahku sendiri. Aku hanya ingin diriku saja yang bisa mengatur letak dan penataan rumah, aku ingin mengatur warna cat dan ruangan apa saja yang ingin ku hadirkan di dalam rumahku. Aku ingin bebas tanta rasa tak enakan dalam diriku." Alexa mengucapkan keinginannya tentang memiliki rumah idaman versinya sendiri.
Intinya senyaman nyamannya hidup dengan orangtua, jika sudah berumah tangga maka lain lagi ceritanya. setidaknya itulah uang kerap kali terjadi di masyarakat. "Aku ingin hidup dengan seseorang yang dimana di dalamnya hanya ada aku juga tentang dirinya." sambung Alexa tegas.
"Tentu. Biar kita bisa bebas bercinta di tempat yang kita inginkan tanpa gangguan dari siapapun. Aku memiliki fantasi tentang bercinta di kolam renang." Zayn sengaja membuat Alexa nenatap kearahnya dengan hal hal yang mengarah ke hal itu.
"Zayn."
"Ya."
"Aku berkata yang sebenarnya." Alexa melotot sedangkan Zayn hanya tersenyum mesem.
Zayn terasa mendapatkan terpaan angin segar di wajahnya yang berkeringat. Keingan Alexa adalah titah yang mutlak untuk ia lakukan dengan kesungguhan hatinya. Lagi pula ia sudah memperbincangkan hal ini dengan Mamanya. Ya Zayn sudah mengatakan jika ia akan membawa istrinya dan beruntung baik Mama Lexi maupun Papa Kahfa menyambut baik niat Zayn, kedua orang tua Zayn bahkan mendukung penuh keinginan putranya.
"Aku akan menuruti keinginanmu." Zayn mengusap kepala istrinya. "Tapi jangan tetlalu jauh dari pondok ya. Aku memiliki kewajiban lain untuk mengamalkan sedikit ilmu yang kumiliki. Tolong jangan jangan menempatkanku untuk memilih terlalu berat, baik kau dan kewajibanku akan mendapatkan perhitungan di hari pertimbangan kelak." Zayn berharap Alexa tidak minta pinta pindah ke tempat yang jauh dari pondok pesantren. Lagi pula ia sudah memiliki lahan kosong untuk ia jadikan rumah tinggal untuknya, istri serta anak anaknya kelak.
"Ya. " Alexa mengangguk. "Aku ingin mendesaig rumahku sendiri."
"Ya kau boleh mendesaig rumah kita sesuai keinginanmu. Kau yang akan lebih banyak waktu di rumah jadi buatlah senyaman mungkin."
"Akan ada kolam renang juga taman di rumah itu."
__ADS_1
"Apapun Alexa. Apapun yang kau inginkan akan ku penuhi, asalkan hal itu mampu menahanmu untuk tetap tinggal bersamaku." Sebucin itu Zayn Omar sekarang. Ia tunduk kepada seorang wanita yang bernama Alexa.