Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Membatasi diri


__ADS_3

Nafas Alexa masih terengah. Zayn benar benar mempermainkan perasaannya hanya dengan jemarinya saja.


Alexa juga di ajarkan oleh Zayn untuk menggunakan beberapa anggota tubuhnya untuk menyenangkan pria di saat organ intinya tengah mendapatkan udzur. Sungguh agama islam di penuhi dengan berbagai kemudahan yang tidak memberatkan.


"Kau tau apa yang aku sukai saat aku marah?" tanya Alexa di antara nafasnya yang tersenggal.


"Apa?"


"Saat kau diam dan tak mengatakan apapun. Aku menyukainya saat kau tak menyangkal atau memotong omonganku." Alexa menyembunyikan sajahnya di dada lembut Zayn.


"Aku tau kau diam bukan karna kalah oleh egoku. Sebenarnya kau tak mau ribet menyangkal perkataankukan?"


"Kau tambah pandai rupanya." Zayn memeluk tubuh Alexa. Tapi saat dia teringat sesuatu ia langsung beranjak dan memakaikan baju pada istrinya.


"Hehe, takut khilaf akunya." ujar Zayn.


"Khilaf di sengaja kan?" Alexa bersungut gemas.


"Tentu saja. Jangankan ini udah halal, waktu itu saja aku tancap gas." Zayn terkekeh oleh kekonyolannya sendiri.


"Jadi ke pasar malah gak?" Zayn menawarkan takutnya ia di nilai tak peka oleh Alexa.


"Aku lelah kak. Besok malam saja." Alexa mengeruakan wajahnya di dada bidang Zayn.


"Aku menyukai dada dan perutmu kak!"


"Nikmati sesukamu. Ini milikmu." Zayn membenamkan ciuman di puncak kepala istrinya.


.


Di sebuah ruang rawat inap. Lebih tepatnya di samping seorang wanita yang terbaring di brankar pasien, dua orang pria yang merupakan ayah dan anak tengah berbincang.


"Akbar, Bapak dengar pria beristri yang menolong adikmu kemarin merupakan seorang Gus." Pak Toha berkata kepada putra lelakinya.


"Memang Iya Pak, bahkan pria bernama Zayn itu pernah menjadi imam beberapa kali di mesjid dekat rumah. Dan suara Adzan baru yang bapak tanyakan suara siapa? Ternyata pria bernama Zayn lah yang mengumdangkan Adzan.


Pak Toha terlihat berpikir sejenak.


"Akbar bagai mana apa kau sudah menemukan pria yang tepat untuk menikahi Letia?" omongan pak Toha mulai serius.

__ADS_1


"Belum Pak, tak ada yang mau menikah dengan Letia karna setatusnya yang tengah mengandung, bahkan beberapa pemuda di kampung ini menolak dengan imbalan yang kita janjikan Pak." ujar Akbar prustasi. Ia sudah berhari hari mencari calon suami kontrak untuk adiknya, namun sampai hari ini dia belum menemukan pria yang tepat.


Seandainya saja Pak Toha tidak menekan dan menuntut terlalu banyak kepada calon suami Letia, mungkin mereka sudah menikah sekarang. Namun itu hanya seandainya saja nyatanya itu tidak mungkin terjadi, pria yang menghamili Letia sudah meninggalkan dunia dengan cara menggantung diri.


"Tidak usah di lanjutkan Akbar! Bapak memiliki calon yang tepat untuk Letia." ujar Pak Toha.


"Jangan katakan jika calon yang Bapak maksud adalah Gus Zayn Omar?" tebak Akbar.


"Memangnya kenapa jika Gus Zayn yang hendak ku jadikan calon mantu? Dia berilmu, kaya raya, sopan santun, dan berhati mulia. Bahkan dia menolong keluarga kita di saat tak ada satupun orang yang mau menolong kita, padahal sebelumnya Bapak sudah menyinggungnya, Bapak tak tau jika dia seorang Gus. Tapi lihatlah kebaikannya."


"Pak, Gus Zayn sudah beristri."


"Kenapa memangnya jika Gus Zayn sudah beristri? Lagi pula bukankah di kalangan Gus dan para ustadz istri lebih dari satu itu sudah wajar, sudah lumrah Akbar." Pak Toha ngotot, dia percaya diri jika Zayn bersedia menikahi putrinya yang cantik.


"Bapak yakin Letia pasti setuju. Bapak juga melihat tatapan berbeda di mata Letia saat memandang pria bergelar Gus itu." tekan Pak Toha kembali.


"Letia mungkin setuju, tapi Akbar ragu jika Gus Zayn setuju, dia terlihat sangat menyayangi istrinya." Akbar memang melihat seperti itu.


"Bukan masalah Akbar. Cinta nomor sekian yang terpenting Gus Zayn setuju dengan rencana kita." ujar Pak Toha.


"Terserah Bapak saja lah." Akbar sudah kehabisan akal untuk menyadarkan bapaknya.


"Ya Leti ini Bapak." Pak Toha mendekat ke arah putrinya.


"Dimana Leti?"


"Di rumah sakit sayang. Gus Zayn yang membantu Bapak membawamu ke mari."


Meski bertanya tanya tentang nama Zayn, Letia diam, ia kekurangan tenaga untuk bertanya lebih lanjut kepada ayahnya, yang ingin ia lakukan adalah tertidur kembali.


.


Beberapa waktu sudah berlalu, Letia sudah pulang dari rumah sakit, beberapa kali Letia memperhatikan Zayn yang pulang atau pergi berangkat ke mesjid dari jendela rumahnya. Letia juga kerap kali memperhatikan Zayn yang tengah bercanda dengan Alexa di depan rumah bibi Aliyah.


"Letia, kau menyukainya?" Pak Toha menghampiri putrinya yang tengah duduk merenung di teras rumahnya memperhatikan Zayn yang tengah mengupas buah durian di depan rumah bibi Aliyah.


"Suka atau tidak Gus Zayn sudah beristri Pak, aku tak mungkin memilikinya. Meski ku akui jika Gus Zayn pria yang penyayang." Ujar Letia datar. Wanita hamil muda itu seakan sudah lelah dengan tingkah dan perilaku bapaknya.


"Jika kau menyukainya Bapak bisa lamarkan Gus Zayn untukmu." kalimat Pak Toha ini membuat Letia yang semula tak memandang ke arahnya kini menatap lekat Pak Toha.

__ADS_1


"Bapak jangan bercanda apa lagi berusaha menghiburku. Aku bukan seorang perempuan yang shaliha seperti Teh Alexa." ujar Letia putus asa.


"Siapa bilang istri seorang Gus itu wanita shaliha Letia? Wanita bernama Alexa itu di nikahi Gus Zayn karna hamil duluan. Setidaknya informasi itu yang bapak dapat dari orang suruhan bapak." ujar Pak Toha kembali. Saking ngebetnya Pak Toha menginginkan Zayn menjadi menantunya, Pak Toha bahkan membayar orang untuk mengorek informasi.


"Benarkah?" Letia menegakan tubuhnya. "Bapak tidak bercandakan?"


"Tidak Letia. Gus Zayn memang pria baik. Dia bersedia bertanggung jawab atas ke hamilan Alexa, sayangnya wanita itu harus keguguran." tidak tau saja pria tua bangka itu jika Zayn mau bertanggung jawab atas kehamilan Alexa karna Alexa memang mengandung benihnya dulu.


"Ya Gus Zayn memang pria baik. Tapi apa Gus Zayn mau menjadi suami Leti? " tanya Letia murung.


"Pasti mau Leti. Asalkan kau juga harus mau berbagi dengan istri pertamananya. Bukankah para Gus sudah berilmu. Bapak yakin Gus Zayn akan bisa bertindak adil kepada istri istrinya."


"Leti mau Pak menikah dengan Gus Zayn." ujar Letia mantap. Wanita hamil itu bahkan sudah percaya diri dan mengusap perutnya secara perlahan.


"Tuhan memiliki rencana lebih indah sayang. Dia mengambil ayah kandungmu agar kau memiliki ayah yang lebih baik seperti Gus Zayn. Ini takdir." ungkap Letia kepada bayi yang masih berada dalam perutnya.


Letia langsung beranjak meninggalkan Pak Toha. Dia berjalan mendekat ke arah Zayn dan Alexa berada. Keduanya kini tengah memakan Durian dengan sangat lahap.


Letia tersenyum sembari mengucapkan salam. "Assalamualaikum ..."


Baik Alexa maupun Zayn mendongak sembari menjawab salam. "Waalaikum salam."


"Ada perlu apa?" Alexalah yang bertanya kepada wanita yang lebih muda darinya.


"Saya ingin mengucapkan terimakasih karna Gus Zayn sudah membawa saya ke rumah sakit tempo hari." ujar Letia lembut.


"Sama sama." Zayn menyaut datar. Ia melanjutkan kegiatannya membelah durian, tanpa menawari Letia sama sekali.


"Kamu ingin durian?" tanya Alexa, Letia hanya diam.


"Kasih saja yang baru Al. Biarkan dia belah sendiri, ada bapaknya kok." Zayn memang sepeeti itu kan berbicara seperlunya.


Alexa menurut dan memberikan satu buah durian. Tapi Letia menolaknya dengan menggelengkan kepala.


"Sebagai ucapan terima kasih saya mengundang Gus Zayn untuk makan malam di rumah saya." ujar Letia. Hanya Zayn saja yang di undang, Alexa sempat merasa heran tapi selanjutnya ia mengulum senyum saat Zayn kumat mulut pedasnya.


"Tidak usah. Kami tidak kekurangan makanan sama sekali, titip pesan kepada Bapakmu supaya jangan terlalu arogant. Kita hidup di bumi ini membutuhkan orang lain jangan merasa berbangga diri dengan apa yang kita miliki, semua hanya titipan." kemudian Zayn beranjak. Dan membawa buah yang baru selesai ia belah.


"Lanjut makannya di rumah yu, di sini mulai dingin tidak baik untuk tubuhmu." Zayn menuntun tubuh Alexa menuju rumah meninggalkan Letia yang berdiri di depan rumah Bibi Aliyah.

__ADS_1


Zayn berucap seperti itu karna ia sudah menyadari ketertarikan Letia terhadapnya. Untuk dari itu Zayn membatasi diri terhadap sesuatu yang bukan miliknya.


__ADS_2