
Alexa mengerjapkan matanya berkali-kali, bias cahaya semakin mengusik penglihatannya.
"Kak Zayn."
Saat Alexa membuka matanya dengan sempurna Zayn sudah berada di dekatnya memegang lembut sembari, juga mengecupinya.
Saat Zayn mendengar suala lirih, ia menoleh ke arah Alexa berbaring. Rupanya Alexa memang sudah sadar dari pengaruh obat bius.
"Tunggu sebentar biar aku panggilkan dokter." Zayn meninggalkan Alexa yang masih diam berbaring, kemudian memanggil dokter.
Dokter menjelaskan jika Alexa sudah membaik. Juga tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Alexa juga bisa hamil lagi jika semuanya sudah pulih.
Zayn mengecupi kening Alexa juga membisikan kata maaf berulang kali. Ia merasa bersalah, menurutnya Alexa berada di pososi seperti ini juga karna ulahnya.
"Maafkan kak Zayn ya."
Alexa mengedipkan matanya lambat sebagai isyarat menjawab pertanyaan suaminya.
Jauh di lubuk hati Alexa penyesalan juga rasa bersalah melingkupinya. Dokter mengatakan bisa saja hal ini terjadi karna stres. Alexa akui, ia tertekan akhir-akhir ini, seandainya saja ia bisa mengontrol setra mengendalikan egonya mungkin bayi mereka bisa bertahan.
Mengingat bagaimana Zayn begitu menyayangi anaknya membuat Alexa semakin merasa tak layak untuk tetap bersama pria itu. Akan lebih baik jika Zayn menceraikannya dan menikahi wanita shaliha lainnya. Misalnya Inara, gadis bercadar yang melamar Zayn tempo hari. Asalkan tidak dengan Lula. Ya Alexa lebih iklas Zayn menikahi gadis manapun asal bukan Lula, sepupu yang tega memfitnah serta menbuatnya tertekan.
"Orang tuamu dan orang tuaku sedang mengantar anak kita ke tempat terakhirnya. Yang ikhlas ya Al." Zayn mengusap punggung tangan Alexa Yang tidak terdapat inpus, meski Zayn terlihat menguatkan Alexa nyatanya ia sendiripun terlihat rapuh. Zayn bahkan terlihat beberapa kali meneteskan air matanya karna kepergian bayi yang belum Zayn sapa dengan nyata.
"Kak Zayn tak ikut mengantarkan bayi kita ke peristirahatan terakhirnya?" tanya Alexa parau, airmata itu kini menggenang di pipinya.
"Sebenarnya aku ingin ikut. Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu, hatiku menyerukan aku agar tetap tinggal bersamamu. Lagi pula aku percaya kepada keluarga kita. Anak kita pasti mengerti, jika Mamanya lebih membutuhkan Papanya saat ini."
Perut yang semula sudah membuncit kini rata kembali. Alexa merasakan ada yang hilang dari tubuhnya, sebagian jiwanya turut terangkat bersama sang buah hati yang tidak pernah di inginkan pada awalnya kini sangat di rindukan keberadaannya.
"Jika kak Zayn ingin marah padaku, atau menyalahkanku sungguh aku tidak papa." Alexa memalingkan wajah, tangan yabg semula di genggaman Zayn ia tarik secara perlahan, kemudian ia letakan di atas perut ratanya. Beberapa kali Alexa meringis saat merasakan perutnya yang terasa perih.
"Aku tak memiliki alasan untuk marah atau menyalahkanmu Al, kau juga merasakan kehilangan bahkan rasa kehilanganmu lebih besar dariku. Justru aku menyalahkan diriku sendiri atas apa yang terjadi terhadapmu, meskipun aku yakin ini sudah menjadi ketetapan Allah."
__ADS_1
"Kak, kau menikahiku karna aku hamilkan? Setelah aku keguguran tak ada lagi sesuatu hal yang pantas dan bisa menahanmu agar tetap bersama. Aku ingin serakah untuk tetap membuatmu menetap denganku, namun aku cukup tau diri karna aku bukan wanita yang kau inginkan. Setelah semuanya membaik nanti aku akan membebaskanmu. Kau berhak menentukan kebahagiaanmu sendiri." Alexa sudah bertekad dalam hatinya. Kelak, ia akan membiarkan Zayn pergi menemui kebahaiannya tanpa harus di recoki tentang bayang-bayangnya.
"Alexa."
"Alexa."
"Hmm,"
Alexa terkejut saat Zayn memanggil namanya dengan sedikit menyentak. Ia terlalu larut dalam lamunannya barusan.
"Ada apa kak."
"Jangan terlalu banyak berpikir. Setelah kini aku akan menghamilimu kembali, kali ini kita akan membuat anak yang halal memenuhi syarat juga ketentuan. Kau selalu merisaukan status mendiang dedek bayi-"
"Aku memang merisaukan setatusnya kak, tapi tidak sekalipun aku menginginkan ia pergi, apalagi dengan cara seperti ini." Potong Ale cepat, ia merasa jika Zayn mengira dirinya menginginkan anak mereka pergi.
"Ya aku tau. Kau ibu terbaik untuk anak kita, anak kita juga pasti dapat merasakan kasih sayangnya. Jangan bersedih lagi! Masih banyak kesempatan untuk kita memiliki anak, kita masih muda. Masih produktif kita juga tidak memiliki kendala apapun. Aku akan memberikanmu anak sebanyak yang kau inginkan, tapi setelah nifasmu selesai. Jadi rencanakan kau ingin bulan madu di mana?" Zayn mengusap basah pipi Alexa yang tadi sempat tergenangi air mata, mengabaikan pipinya sendiri yang basah.
Bulan madu? Sungguh Alexa sudah tak menginginkannya. Otak kecilnya tengah menyusun beberapa rencana setelah dirinya pulih.
Zayn mengerti Alexa masih dalam suasana berduka. Sehingga ia bisa memahami cara bicara Alexa yang terdengar ketus kepadanya.
.
Keluarga Zayn dan Alexa sudah kembali dari pemakaman bayi Zayn dan Alexa. Meski belum mengetahui jenis kelamin bayi itu tapi Zayn sudah memberikan nama untuk anak mereka, Zayn juga akan mengakikahkan bayi mereka. Ini bukan semata tentang kewajiban, tapi bentuk tentang cintanya kepada sang anak.
Wajah Alexa juga masih meninggalkan luka lebam karna ulah Cinta, juga di dagunya masih terdapat luka membuat Azam ayah dari Alexa menatap kecewa ke arah menantunya juga Kahfa.
"Kahfa. Inikah yang di maksud kau menjamin aku sudah memilihkan suami terbaik untuk putriku? Kau bahkan dengan bangga membujukku untuk menikahkan Zayn dengan Alexa. Nyatanya kau lihat sendiri, putramu sangat lalai saat menjaga putriku. Alexa bahkan kehilangan anaknya." Ujar Papa Azam.
Semua orang bungkam, termasuk Zayn dan Kahfa. Papa Kahfa tak memiliki alasan untuk menampik tuduhan besannya, nyatanya Zayn putra kebanggaannya sempat lalai dan membiarkan menantunya terluka bahkan sampai keguguran.
"Maafkan putraku Azam. Tapi Zayn sudah menindak lanjuti semuanya. istri dari adikmu juga akan di hukum, Zayn juga tidak jadi mencabut laporannya terhadap Lula, semuanya akan sesuai hukum berlaku ujar Papa Kahfa."
__ADS_1
Papa Azam membuang muka, ia mendekat menghampiri putrinya yang masih terbaring di berankar pasien. Papa Azam meneliti wajah putrinya yang kuyu serta di hiasi beberapa lebam.
"Maafkan Papa. Papa gagal menjadi Papamu. Kau terlunta-lunta, sedari kecil Papa tidak terlalu memperhatikanmu. Setelah ini Papa akan memperbaiki semuanya. Harusnya Papa sejak awal tak menikahkanmu dengannya. Papa terlalu egois karna malu Papa menyakiti dan mengusirmu. Papa juga memintamu menikah dengannya, harusnya Papa tidak seperti itu. Papa adalah orang tua yang buruk Alexa." Papa Zayn menangis, ia tertunduk di hadapan putrinya yang terlihat tak berdaya.
"Tidak usah mrnyalahkan diri Papa. Alexa menikmati takdhir hidup Alexa. Semuanya Alexa terima dengan baik. Meskipun ada beberapa hal yang tidak dapat Alexa ubah. Tapi Alexa tengah meyakinkan diri jika hari esok Alexa akan bahagia." Alexa tersenyum dengan paksa.
"Papa akan selalu mendukungmu mulai hari ini. Papa tak akan memaksamu untuk menuruti apapun kehendak Papa. Lakukan apapun yang menurutmu baik, papa akan menyetujuinya." Papa Azam mengusap rambut putrinya, karna memang Alexa tak mengenakan hijab.
"Mama. Alexa rindu." Alexa meminta Greendia untuk mendekat.
"Mama Lexi, Anna. Kemari! Aku juga merindukan kalian." Alexa di bantu intuk duduk oleh Papanya.
"Ale tidak merindukan Papa?" Papa Kahfa menyilangkan tangan di perutnya.
"Tidak. Cukup Mama Lexi saja yang merindukan Papa." Membuat semua orang tertawa.
Alexa tengah menghibur dirinya sendiri. Hanna yang menyadari kesedihan di wajah sahabatnya segera memeluknya.
"Tak apa, Ale. Semua akan baik-baik saja."
"Ya, Anna. Terima kasih."
Hanna menghibur sahabatnya dengan beberapa leluconnya, Alexa hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya. Hanna juga mengatakan jika teman-teman mereka merindukan Alexa dan ingin meminta maaf kepada Alexa.
"Ale kau tau? Yuni bahkan melabrak tenan-temanmu karna turut berkomentar mengenai sesuatu yang di sebarkan Lula."
"Anak itu benar-benar pemberani." Alexa terkekek pelan.
"Ma, Alexa ingin kekamar mandi." ucap Alexa pelan.
Zayn langsung mendekat. "Ayo, biar ku antar."
"Aku ingin bersama Mamaku saja." Penolakan Alexa membuat Zayn cukup tersinggung.
__ADS_1
"Jangan menjadi anak sekaligus istri durhaka. Kau tanggung jawabku sekarang. Ayo aku yang akan mengantarmu."