
Papa Kahfa dan Mama Lexi amat terkejut dengan reaksi yang Zayn perlihatkan. Mereka tak tau apa yang terjadi selain dengan sebuah map yang berada di genggaman Zayn.
Papa Azam hanya diam. Ia tak bisa berbuat apapun, Alexa memang sangat keras kepala.
"Katakan apa alasannya kau ingin bercerai dariku?!" Suara Zayn menggema di dalam rumah dengan urat urat yang terlihat jelas di leher serta lengan Zayn. Terlihat sekali jika Zayn benar benar tengah di rundung kemarahan.
Bercerai? Apa masalahnya? Bukankah beberapa waktu yang lalu Zayn dan Alexa terlihat sangat manis. Pikir Papa Kahfa dan Mama Lexi, bahkan Zayn terlihat terpuaskan sesaat keluar dari kamar barusan. Lalu beberapa saat kemudian. Surat cerai? Apa sebenarnya yang telah terjadi? Sungguh kedua orang tua Zayn tak mengerti dengan pola pikir Alexa.
"Aku tak mencintaimu." Ujar Alexa. Wajahnya berpaling, kesepuluh jemarinya saling bertautan.
Zayn menatap Alexa dengan tatapan dingin dan membekukan. Map berwarna hijau tosca beserta kertas didalamnya Zayn robek menjadi serpihan kecil kemudian ia taburkan ke udara, menimpa pecahan kaca yang barusan Zayn hancurkan.
"Omong kosong dengan cinta. Aku tak perduli, selama aku menginginkannya kau akan tetap menjadi istriku!" Zayn semakin menusuk Alexa dengan tatapannya.
"Aku tidak mau Zayn. Aku tak mau menjadi istrimu lagi."
"Dan aku tak perduli. Sekalipun kau merangkak di atas kakiku dan memohon agar aku melepaskanmu aku tak akan menalakmu!" Zayn mengacungkan satu jemarinya di hadapan wajah Alexa.
"Kau egois Zayn. Kau egois! Aku selama ini selalu menuruti setiap maumu. Katamu kau akan menuruti inginku tapi saat aku meminta kau menceraikanku kau tak mau." Alexa berteriak, ia marah karna surat gugatan cerainya di rusak oleh Zayn.
"Jika aku egois. Lalu apa namanya dirimu Alexa? Kau ingin menghancurkan hidupku begitu? Setelah kau berhasil membuatku tergila-gila kau ingin membuangku, mencampakanku begitu? Tidak Alexa. Tidak segampang itu." Zayn berujar dengan berapi api, seluruh kekuatan suaranya ia keluarkan dengan sangat nyaring, tak perduli dengan tenggorokannnya yang terasa sakit.
Hanna dan Raffa yang masih di kamarpun tak berani keluar mendengar kemarahan Zayn.
Bola mata Zayn merah menyala dengan kilatan bening penuh kekecewaan yang berusaha ia redam.
"Ada apa ini Alexa? Tidak ada angin tiada hujan kau meminta cerai dari putraku?" Mama Lexi menatap menantunya yang kini tengah menunduk.
"Kau sudah merencanakan ini?" Telak papa Kahfa.
Alexa diam. Ia tak berani menyaut sedikitpun.
"Azam putrimu kesambet setan mana? Apa perlu aku meruqiahnya." Papa Kahfa menatap iparnya, hingga Papa Azampun hanya menggeleng. Ia juga tak mengerti alasan Alexa sebenarnya.
"Katakan Alexa! Apa alasanmu meminta cerai dari putraku?" Mama Lexi berujar lembut meski ia sangat kecewa akan kelakuan Alexa.
__ADS_1
"Aku merasa tak cocok saja dengan kak Zayn. Aku juga ingin berkarier-"
"Itu bukan alasan Alexa. Apa yang menurutmu tak cocok, kau wanita aku pria kita normal jika menikah cocok cocok saja kecuali jika kau pria baru tidak cocok. Dan lagi kapan aku menghalangimu berkarier aku membebaskanmu, aku bukan pria kolot yang mengharuskanmu patuh terhadapku." Setiap kata Zayn terdengar ketus dan menyakitkan.
"Kau tidak perlu menahan diri lagi. Aku tau kau juga merasa hubungan kita hambar Zayn. Kita menikah karna kesalahan dan-"
Lagi lagi Zayn meruntuhkan presepsi Alexa.
"Hambar katamu? Dari segi mana kau menyimpulkan demikian? Kita kerap kali bergairah jika bersama. Bukankah beberapa waktu lalu kita juga melewati surga bersama?"
"Jangan mendebat diriku Zayn!" Alexa mulai kesal Zayn selalu saja memiliki sahutan akan setiap hal yang ia katakan.
"Tapi alasanmu tak masuk akal."
"Aku tau kau hanya jenuh akan hubungan kita Alexa. Kau hanya perlu waktu untuk beristirahat bukan dengan cara mengakhiri hubungan kita." Zayn melembut. Semoga saja Alexa tak keras kepala.
"Tapi aku tak mau. Apa susahnya kau mendatangani surat tadi, atau menceraikanku dengan talak satu. Kau bisa menikah kembali dengan gadis manapun yang kau inginkan aku juga bisa melanjutkan hidupku."
"Dalam mimpimu saja!"
Alexa hendak menyahuti perkataan Zayn namun terdengar kumandang adzan maghrib yang menggema.
"Aku mau ke mesjid. Ambillah wudhu dan memohon ampunlah pada Allah karna sudah membuatku marah." Zayn meninggalkan Alexa dengan orangtua serta ayah mertuanya sendiri.
"Ma. Beritahu menantumu aku tak akan mengubah keputusanku."
Zayn memijat pelipisnya yang terasa sakit sejak tadi. "Astaghfirullah, Astaghfirullah."
Papa Kahfa dan Papa Azam pun turut mengikuti langkah Zayn untuk pergi ke mesjid.
.
Selepas shalat maghrib Zayn tak pulang, ia mengikuti tahlilan di rumah saudari sepupunya Lula, setelah itupun Zayn enggan untuk pilang sehingga ia lebih memilih pulang ke rumah neneknya, untuk makan serta mengisi kelas, di pondok pesantren.
Zayn menghubungi Mamanya. Ia menitipkan pesan supaya Alexa tidak di ijinkan untuk pergi kemanapun.
__ADS_1
Zayn tetap berada di dalam mesjid meskipun hari sudah larut malam. Tadinya Zayn ingin menginap di rumah neneknya namun tak ingin neneknya mengetahui permasalahan yang tengah ia hadapi. Sebenarnya ia lelah dan ingin beristirahat di kamarnya, namun Zayn berpikir jika ia pulang sedangkan Alexa belum tertidur. Maka sudah di pastikan pertengkarang mereka akan kembali terjadi.
Sebelum pulang Zagn kembali berdiri. Sekali lagi Zayn menunaikan dua rakaat malamnya di hadapan sang maha pemilik takdir, berusaha berdoa agar Allah bersedia melembutkan perasaan Alexa, agar tidak terus memintanya berpisah.
Sekitar pukul sebelas malam Zayn pulang ke rumahnya. Keadaan rumah nampak hening, di ruang tamupun sudah tak terdapat meja yang tanpa sengaja ia hancurkan. Sepertinya para pekerja di rumahnya sudah membereskannya.
Zayn juga tak melihat keberadaan siapapun di sana. Mungkin semua orang tengah istirahat. Lalu kemana perginya ayah mertuanya? Pulangkah? Atau menginap. Terserah, Zayn tak perduli asalkan Alexa tetap di rumah itu. Dan Zayn yakin jika Alexa masih berada di rumah itu. Jika Aleca pergi pasti Mamanya akan mengabarinya.
Secara perlajan Zayn membuka pintu kamarnya, kepalanya menyembul lebih dulu untuk memastikan jika Alexa sudah tertidur atau masih terjaga. Seketika Zayn menghembuskan nafasnya dengan lega saat Alexa terlihat terbaring di ranjangnya dengan mata terpejam. "Alhamdulillah." setidaknya ia aman untuk kali ini.
Tubuh Zayn menyelinap di antara pintu yang ia buka sedikit, kemudian ia masuk secara perlahan. Baru saja Zayn menutup pintunya sebuah suara mengejutkatnya.
"Kemana saja kau?"
Pertanyaan Alexa layaknya petasan yang membuatnya terkejut luar biasa. Bahkan sejadah dalam genggamannyapun turut terjatuh ke atas lantai.
"Astaghfirullah. Kau mengagetkanku."
Zayn melirik ke arah tempat tidur, Alexa sudah duduk dengan kedua tangan yang ia lipat di atas perut.
"Dari mana saja kau?"
"Menghindarimu." Aku Zayn jujur. Ia membuka baju kokonya, kemudian menggantinya dengan sebuah kaus putih polos.
Alexa terlihat menatap berang kearah Zayn. "Apa katamu? Menghindariku? Masalah itu di hadapi Zayn bukan di hindari." Sentak Alexa.
"Aku tak merasa memiliki masalah denganmu." ujar Zayn santai, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan mata mengarah pada Alexa.
"Ayo tidur!" Zayn menark lembut tangan Alexa hingga tubuh seksi itu jatuh di atas tubuh Zayn.
"Zayn kita perlu bicara." Zayn paham jika Alexa sudah menyebut namanya tanpa embel embel apapun berarti Alexa tengah marah terhadapnya.
"Jangan ngajak lembur sekarang. Aku lelah, besok saja ya." Zayn memejamkan matanya. Mengabaikan umpatan demi umpatan yang Alexa hadiahkan untuk dirinya.
"Terserah kau mau berkata apa Alexa. Sekalipun kau mengutukku aku tak akan melepaskanmu." Zayn tersenyum sinis dengan mata yang nyaris terpejam.
__ADS_1