Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Tidak sungkan


__ADS_3

"Kak!"


"Hemm."


"Tunggu sebentar ya aku haus." Alexa mengurai pelukan suaminya, pipinya masih di basahi air mata.


"Biar kuantar." Zayn memakaikan istrinya itu kerudung instan.


Jika saja ini di rumahnya sendiri atau di rumah Alexa, Zayn pasti akan mengambilkan Alexa minum. Namun karna ini di rumah bibinya Alexa Zayn merasa tak enak hati.


Zayn dan Alexa berjalan dengan bergandengan tangan menuju dapur, Tidak terdapat lemari pendingin ataupun dispenser di rumah itu, sehingga Alexa menuangkan sendiri minumanya dari teko yang di pergunakan sebagai tempat penampungan air matang ke dalam sebuah gelas kaca, di kampung itu memang sudah tersedia depot air isi ulang. Hanya saja Bibi Aliyah lebih memilih merebus air dengan kayu bakar yang di ambil suaminya di kebun atau di hutan. Menurutnya segala sesuatu yang di lakukan dengan alami lebih baik.


Alexa menenggak air putih dalam ke adaan duduk. Mengikuti saran dari Zayn, karna memang sunah hukumnya. Alexa meletakan gelas kosong bekasnya minum di atas meja, tanpa ia duga Zayn mengambil gelas itu dan mengisinya kembali dengan air, sebelum meminumnya Zayn memastikan terlebih dahulu sisi mana yang di pergunakan istrinya untuk minum. Kemudian Zayn meletakan bibirnya tepat di sisi gelas bekas bibir Alexa dan mulai meneguk air minumnya.


"Itu bekasku minum kak, tak sopan tau. Kenapa kak Zayn tidak bilang jika ingin minum? padahal aku bisa mengambilkan gelas baru yang bersih untuk kak Zayn minum."


"Memang kenapa jika bekasmu? Ini sunah Ale. Rasulullah pun minum di gelas bekas bibir istrinya sayyidatuna Aisyah, itulah cara Rasulullah bermanja kepada istrinya." ucap Zayn. "Banyak hal hal kecil yang sederhana yang beliau contohkan kepada kami kepada para pria yang memiliki istri."


"Begitukah. Asal jangan poligami saja yang di contoh dari beliau. Aku tidak keberatan."


"Tentu saja tidak. Aku tak akan bisa sepeeti beliau, cukup hanya dirimu saja. Yang ku jadikan tempat mencurahkan segala hal." Zayn membawa Alexa untuk kembali memasuki kamarnya.


Zayn mulai meringkuk membenamkan tubuh istrinya dalam pelukan sepeti biasa tangannya menangkup kelembutan istrinya sebagai bentuk perlindungannya kepada benda kesayangannya.


"Jangan di mainin terus. Ntar kakak pengen repot urusannya. Aku masih menjadi wanita yang haram untuk kakak sentuh." Alexa membawa tangan Zan untyk memeluknya saja.


"Kan masih ada tangan serta bibirmu. Kedua anggota tubuh itu masih halal ku pergunakan." Bisik Zayn tepat di belakang tengkuk Alexa. "Tapi nanti setelah kau benar benar pulih. Aku masih bisa mengatasi gairahku. Sekarang kau tidur saja." Zayn kembali menangkupkan tangannya di benda yang menjadi kesukaannya.


.

__ADS_1


Seperti biasa Zayn terbangun pukul setengah empat. Mengurai tubuhnya yang tertaut dengan Alexa. Secara perlahan ia turun ke bawah ranjang dan membiarkan Alexa tetap tertidur, selagi istrinya belum wajib shalat.


Udaranya cukup dingin untuk Zayn mandi. Tap Zayn tetap membersihkan diri. pakaian yang ia kenakan sekaligus ia cuci dan sekalian ia jemur di depan rumah.


Zayn menunaikan dua rakaat, sembari menunggu Manh Opik bangun Zayn membuka aplikasi al quran di ponselnya dan mulai melantunkan suara merdunya. Ayat demi ayat mengalun indah di indra pendengaran yang mendengarnya. Alexa yang sempat terbangun melanjutkan kembali tidurnya.


Bibi dan Mang Opik bangun bersamaan.


"Mang mesjid terdekat di sini dimana?" Zayn menghampiri mamangnya setelah membersihkan diri.


"Dekat ko Zayn. Sebentar mamang pake baju dulu, setelahnya kita berangkat bersama."


Kedua pria beda generasi itu berangkat ke mesjid yang tak jauh dari sana, terdengar pula pujian pujian yang menggema di antara kencangnya suara speeker mesjid.


Kebetulan saat tiba di mesjid Ajengan yang kerap kali mengumandangkan Adzan tengah sakit. Ajengan merupakan panggilan seperti ustadz di tempat itu.


Zayn mengumandangkan Adzan di mesjid sederhana di desa itu, seakan tidak cukup sampai di situ Zayn juga menjani imam shalat subuh di tempatnya berada.


Setelah keduanya pulang kerumah Zayn kembali memasuki kamar sedangkan Alexa sudah terbangun dan dan tengah membereskan tempat tidur, ia juga menyambut kepulangan suaminya.


"Tadi yang adzan suami aku ya?" Alexa mendudukan diri di pangkuan suaminya.


Zayn hanya tersenyum tipis menanggapi pernyataan istrinya. "Sini biar ku beri hadiah." Alexa mengecupi wajah suaminya.


"Baiklah demi hadiah ini aku akan adzan kembali." Zaym membingkai wajah Alexa menggunakan jemari tangannya yang panjang kemudian menggesekan pelan hidung bangir miliknya ke hidung milik sang istri.


"Biar ku buatkan teh hangat untukmu. Cuacanya cukup dingin."


"Neng. Suami Neng Alexa tadi menjadi imam di mesjid saat shalat. Mamang curiga siapa sebenarnya Zayn itu? Bacaan dan suara merdunya membuat Mamang yakin jika Zayn bukan orang sembarangan."

__ADS_1


Alexa tersenyum simpul. Terselip rasa bangga karna secara langsung mamangnya memuji suaminya. Bahkan bukan hanya mang Opik saja senua orang yang berjamaah di mesjid memuji kelebihan Zayn.


Bukan bermaksud sombong atau bagai mana. Alexa menjawab jujur siapa Zayn sebenarnya.


"Kak Zayn adalah cucu dari Kyai Ridwan Mang. Putra kandung dari mendiang Papa Kahfi. Kak Zayn merupakan cucu dari pimpinan pondok pesantren Almukarrim di kota J. Kota tempat Alexa sekeluarga tinggal."


"Masha Allah, Zayn seorang Gus ternyata. Mengapa tidak bilang? Ya Ampun mamang sudah berbuat tidak sopan pada Gus, tadi Mamang meminta Gus Zayn mengantarkan padi ke tempat penggilingan."


"Ya Allah kang." Bibi Aliyah sama terkejutnya, ia sama tak enaknya dengan sang suami, sebelum berangkat ke mesjid Bibi Aliyah juga meminta tolong pada Zayn untuk mengangkut air dari sumur belakang rumahnya menuju je dapur karna air dikjamar mandi rumah belum menyala.


"Tidak papa Bibi."


"Bukan seperti itu Alexa. Takutnya Zayn berpikir jika kami merendahkannya. Seorang Guskan begitu di segani di tempatnya." Bibi Aliyah terlihat cemas.


"Bibi tenang saja. Zayn bukan seseorang yang haus pujian."


"Kenapa Dek Azam gak bilang mantunya seorang Gus? Cucu pimpinan pesantren pula. Pantas saja caranya berbicara sangat teratur juga sangat rendah hati." ucap bibi Aliyah dalam hati.


"Ale, mengapa lama sekali?" Zayn sampai menyusul.


Astaghfirullah Alexa sampai lupa niatnya ke dapur untuk membuatkan suaminya teh hangat.


"Astaghfirullah aku lupa kak."


"Biar aku buat sendiri saja." Zayn menghentikan Alexa yang hendak beranjak. "Mamang mau ku sekalian buatkan teh hangat?" Zayn menawarkan.


"Tidak usah Gus. Mamang sedang minum kopi. Maaf mamang tadi nyuruh nyuruh Gus Zayn, manang pikir kamu bukan seorang Gus." Mamang Opik merasa tak enak.


"Tidak papa Mang. Zayn juga orang biasa, tidak mesti harus di perlakukan istimewa. Jija ada yang bisa Zayn bantu katakan saja tidak perlu sungkan." Zayn tersenyum tipis tiap kali mengatakan segala hal di hadapan Alexa.

__ADS_1


"Iya Mang. Aku saja tidak sungkan saat meminta tolong kepada kak Zayn." Alexa menimpali. "Kak tolong buatkan aku teh hangat sekalian." Alexa menunjukan deretan giginya yang rapih.


__ADS_2