Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Alasan


__ADS_3

"Pergi? Maksud Mama istriku pergi kemana?"


Ada ketakutan yang kini menyergap Zayn, ia mengingat omongan Adam tadi siang, jika Zayn tidak memberikan Alexa pada pria itu Adam akan mengambilnya dengan caranya sendiri. Mungkinkah Adam nekad?


Tapi jika melihat profile Adam, pria itu tak mungkin melakukan hal sejauh itu. Sedikit banyak Zayn mengenal pribadi dan karakter Adam.


"Alexa mengatakan pada Mama jika ia perlu waktu untuk menyembuhkan lukanya. Ia juga ingin berpikir langkah mana yang seharusnya ia ambil seterusnya." Greendia mengatakan segalanya terhadap Zayn. Ia ingin Zayn tidak menyesal dengan tidak membiarkan Alexa menyembuhkan rasa kehilangannya sendiri.


Zayn mengerti maksud dari ucapan Mama Greendia, ia juga tak ingin jika hubungannya dengan Alexa sampai berakhir. Membayangkan saja hidupnya tanpa wanita itu membuat Alexa ketar ketir.


"Ma, katakan kemana perginya Alexa? Aku akan menjemputnya." Zayn bersungguh sungguh saat mengatakan hal itu.


"Nanti Mama akan memberitahumu tapi tidak untuk sekarang. Alexa benar benar membutuhkan waktu untuk sendiri." Mama Green melangkahkan kaki menuju kamarnya.


"Ma Zayn mohon. Beri tahu Zayn kemana Alexa pergi. Zayn akan menjemputnya." Zayn mengekori langkah kakinya.


"Tidak, biarkan Alexa untuk menenangkan diri. Jangan kau mengusiknya dulu. Dia perlu berpikir Zayn." Mama Greendia memasuki kamar miliknya dan membiarkan Zayn dengan kebingungan.


Zayn kebingungan kemana harus ia mencari keberadaan istrinya, akan sangat tidak mungkin jika Alexa pergi mengunjungi teman temannya mengingat Alexa tengah tersandung masalah dan hampir semua teman Alexa menjaga jarak dengannya.


Baiklah, Zayn mengalah ia akan membiarkan Alexa selama satu minggu ini untuk menenangkan diri. Setelah ini ia akan kembali ke rumah mertuanya dan menanyakan keberadaan Alexa.


Zayn pamit kepada Mama mertuanya, juga meninggalkan beberapa pesan kepada Mama Green supaya Mama mertuanya itu menyampaikan beberapa hal kepada wanita yang sudah memporak porandakan perasaannya.


Zayn mengendarai mobilnya menuju suatu tempat, bukan ke rumah orang tuanya melainkan ke sebuah aparteman yang berada di tengah kota. Ia butuh teman curhat sehingga ia akan menemui temannya yang baru pulang setelah menempuh pendidikannya di negri orang.


Zayn menekan beberapa kali bel di samping pintu unit apartemen milik dari temannya.


Zayn memiliki beberapa teman dekat pria namun setelah menikah, Zayn jarang sekali bertemu dengan mereka karna Zayn terlalu berpokus akan kehamilan yang Alexa jalani. Baru kali ini Zayn merasa benar benar kacau setelah menikah. Bayinya pergi menghadap sang illahi di tambah lagi Alexa kini juga tengah menenangkan diri. Sebagai seorang manusia biasa Zayn juga memerlukan teman berbicara. Namun Zayn mengingat kembali nasihat Kahfa Papanya, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk bercerita kepada temannya.


"Setelah menikah cukup istrimu saja yang menjadi teman. Tidak untuk orang lain, setiap permasalahan rumah tangga jangan sampai terdengar telinga lain." setidaknya itu yang Zayn ingat dari pesan Papa.


Zayn memutar arah, ia tidak jadi bertamu ke apartemen temannya. Langkah gontainya membawa Zayn untuk memilih pulang kerumahnya. Ia butuh Mamanya untuk mengadukan segala sesuatu dalam hidupnya. Selain sang khalik hanya Mamanya saja yang Zayn percayai.

__ADS_1


Di perjalanan menuju pulang, Zayn menepikan mobilnya di salah satu mesjid saat terdengar suara Adzan yang berkumandang berseru memanggilnya untuk menghadap Tuhannya.


Meski tengah di landa kebimbangan Zayn tetap melaksanakan kewajibannya tepat waktu, padahal jarak dari tempatnya berada ke rumah miliknya hanya tinggal lima menit perjalanan saja. Zayn ingin cepat cepat menumpahkan segala kegelisahan yang ia rasa kepada sutradara takdhir, hanya ini yang bisa ia lakukan satu satunya.


Setelah mengerjakan kewajibannya Zayn kembali melanjutkan perjalanannya yang tinggal berjarak beberapa kilo meter saja.


Zayn memasuki rumahnya. Aneh setelah kepergian Alexa semuanya terasa asing, apa sebegitu besar pengaruh wanita itu terhadap dirinya?


Zayn tidak menjumpai satu orangpun, ia tau jika Papanya tengah mengajar di pondok pesantren. Sedangkan Hanna pasti tengah mengaji di kelasnya. Mungkin di rumah itu hanya ada Mama Lexi saja, karna para pekerja rumah tangga di rumahnya akan pulang setelah menyiapkan makan malam.


Zayn melangkahkan kaki panjanggnya menuju kamar mamanya. Sebelum masuk Zayn lebih dulu mengetuk pintu hingga beberapa kali.


Tok ... Tok ...


"Masuk ...." Terdengar sahutan dari dalam kamar. Mama Lexi mempersilahkan Zayn untuk memasuki kamarnya.


Zayn dapat melihat Mama Lexi menutup lembaran suci yang ia baca beberapa waktu yang lalu.


"Ada apa Zayn?" Mamanya bertanya lembut, meski Zayn belum mengatakan apapun, Mama Lexi paham betul jika putranya tengah gelisah. Kesedihan terlihat nyata di matanya.


Zayn juga membawa kepalanya ke pangkuan sang ibu. Zayn berbaring dengan satu kaki yang berselonjor dengan kaki lainnya yang ia tekuk. Satu lengannya ia taruh di kening sehingga sebagian wajahnya tertutup, hingga satu matanya tak terlihat.


"Dia pergi tanpa pamit sama aku Ma." ujar Zayn kembali. Suaranya kini tercekat, ia bahkan kesulitan menelan salivanya yang tiba tiba berubah menjadi alot.


"Pergi? Kemana?" Mama Lexi yang masih mengenakan mekenanya mulai mencari titik terang dari kesedihan putranya. Tangan kamannya terulur untuk mengusap surai hitam putranya.


"Jika Zayn tau Alexa pergi kemana Zayn sudah menjemputnya Ma." Ada nada kesal dalam kalimatnya, kepala Zayn bahkan membelakangi Mama Lexi. Kini posinya berganti dan mulai meringkuk.


"Atas dasar apa istrimu pergi? Pasti Alexa memiliki alasan." ujar Mama Lexi tepat sasaran. " Kami para wanita tidak semena-mena pergi jika segala sesuatu dapat kami selesaikan. Mama juga pernah pergi meninggalkan Papa Kahfa saat terlalu kecewa di masa lalu." Mama Lexi mengatakan hal yang sebenarnya. Zayn mengangguk samar membenarkan.


"Dia meminta pengakuan cinta dariku. Aku belum bisa menyimpulkan perasaan yang aku rasa terhadapnya. Alexa egois Ma meminta aku mencintainya sedangkan dia juga tidak pernah mengatakan jika dia mencintaiku." Zayn kini mengubah posisinya ke posisi semula.


"Kau pernah menanyakan langsung?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan mama Lexi, Zayn bungkam. Ia memang tidak pernah mempertanyakan perasaan Alexa terhadapnya. Ia hanya menjalankan hari hari seperti biasanya.


"Aku juga kesal saat Alexa mengatakan jika aku berbuat baik padanya hanya karna demi bayi kami yang sudah tiada. Bahkan saat aku menanyakan ia ingin ku bawakan apa setelah pulang kerja, Alexa masih menganggapku berbasa basi. Bahkan berulang kali Alexa mengingatkan jika bayi kami sudah meninggal. Apa dia pikir aku sepikun itu karna melupakan jika bayi kami sudah di panggil Allah."


Mama Lexi mengusap rambut putranya. "Alexa mengatakan berulang kali bayi kalian sudah tiada karna Alexa menganggap perhatian yang kau berikan hanya untuk bayinya saja." mama Lexi menjelaskan, ia paham jika putranya sangat bodoh dalam soal percintaan.


"Alexa itu benar-benar, dulu saat kami di awal penikahpun Alexa menganggapku jika aku menikahinya hanya demi anak kami juga karna kebutuhan biologisku. Medkipun iya demikian tapi sungguh aku tak menganggapnya begitu. Aku memperlakukannya dengan baik Ma, aku bahkan kerap kali bertanya kenyamanannya dalam segala hal, termasuk urusan ranjang." aku Zayn jujur.


"Apa para wanita sangat senang mengajak kami para pria untuk berdebat?" gerutu Zayn.


"Sekarang apa langkahmu selanjutnya setelah anak yang menjadi pemikat diantara kalian sudah tiada? Kau akan melanjutkan pernikahanmu atau mengakhiri pernikahan kalian dengan perpisahan?"


"Astaghfirullah Mama ngomongnya!" Zayn bahkan terduduk karna terkejut akan pernyataan Mamanya.


"Ma, ucapan adalah doa! dan aku sudah membuktikan keakuratannya. Terakhir kali Mama menyumpahiku untuk menikah dan itu terjadi. Jangan sampai perkataan Mama barusan di dengar Allah. Aku tak mau berpisah dari Alexa." mama Lexi diam, ia tidak bermaksud berkata buruk kepada Zayn ia hanya bertanya, karna terlalu penasaran dengan perasaan putranya yang kaku.


"Mama hanya bertnya Zayn."


"Apapun yang terjadi aku tak akan berpisah dengan Alexa. Dia akan ku jadikan istri satu satunya dalam hidupku, calon ibu dari anak anakku kelak." Tak ada keraguan dalam pernyataan Zayn.


"Apa alasannya? Kami para wanita menginginkan alasan yang kongkrit dan vailed no debat debat."


"Zayn juga tidak tau, Zayn nyaman saat bersamanya. Zayn merasakan ketentraman yang sesunghuhnya saat bersama Alexa. Ia selalu bisa memenuhi keinginanku, untuk pertama kalinya aku mengakui aku membutuhkan hadirnya dalam hidupku selanjutnya Ma. Aku juga tak rela saat Alexa dekat dengan pria manapun. Aku merasa perasaan asing tumbuh di hatiku. Penyakit hatiku selalu muncul setelah aku bersamanya, aku kadang iri pada siapapun yang mendapat perhatiannya sekalipun dengan Hanna aku iri, aku juga sering berburuk sangka saat Alexa tak di sampingku. Aku sangat ingin bersamanya!" ungkap Zayn jujur.


"Rupanya anak Mama sudah jatuh dalam pesona Alexa. Sadar atau tidak kau sudah mencintainya Zayn." Mama Lexi tersenyum juga mengusap rahang tegas Zayn, ia perhatikan mulut putranya yang barusan sudah mengakui perasaanya.


"Aku mencintainya benarkah? Alexa selalu mempertanyakan hal ini dalam beberapa waktu terakhir."


"Temui Alexa dan katakan yang sebenarnya apa yang kau rasa. Akui setiap perasaanmu." Mama Lexi menepuk pundak lebar putranya.


"Ya, jika menurut Mama aku mencintainya aku akan menemui Alexa seminggu lagi dan mengatakan alasannya jika aku ingin bersamanya karna aku mencintainya." Zayn menerbitkan senyumannya.


"Seminggu? Lama sekali."

__ADS_1


"Aku terlanjur sudah mengatakan pada Mama Green jika aku akan membiarkan Alexa menenangkan diri selama seminggu."


__ADS_2