Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Bukan tentang cinta


__ADS_3

Selesai membersihkan diri Zayn menatap dan mengambil foto yang terdapat di atas meja rias Alexa, potret mesra Alexa dan Adam yang terlihat sangat bahagia. Seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Zayn akui sejak bersamanya senyum Alexa tak semanis dahulu.


Dalam foto itu Adam tengah merangkul bahu Alexa dan tersenyum lebar ke arah kamera, sedangkan Alexa menatap ke arah Adam dengan tawa yang memperlihatkan kebahagiaan.


"Jangan salah paham. Aku belum sempat mengemasi kamarku sejak kejadian di mana papaku mengusirku." Alexa keluar dari kamar mandi setelah bergantian membersihkan diri.


"Bukankah saat ke jadian itu kau sudah putus dengan Adam? Tapi kau masih membiarkan fotonya di pajang di sini. Apa kau masih berharap Adam akan kembali padamu?" Pertanyaan Zayn sangat menohok bagi Alexa membuat wanita hamil itu memalingkan wajah.


"Bohong jika aku mengaku tidak." Terdengar suara getir di nadanya. Ujung bibir Alexa bahkan bergetar.


Mengingat tentang Adam, Alexa juga merasa bersalah terhadap pria itu. Lalu di mana keberadaan Adam kini? Pria itu seperti di telan bumi semenjak satu bulan yang lalu. Alexa tidak lagi mendengar kabarnya.


"Jangan memikirkan pria lain Alexa. Aku suamimu haram untukmu mengingat pria manapun selain aku." Zayn meletakan kembali foto itu di tempatnya semula.


"Tidak. Aku tidak memikirkan tentangnya, aku cukup tau diri Zayn. Aku akan membuat sarapan." Alexa keluar tapi sebelum Alexa berhasil menutup pintu Alexa berpesan untuk tidak menyentuh apapun di kamarnya.


"Jangan menyentuh barang-barangku tanpa ijin." Bukannya Zayn menurut, bukankah adanya perintah untuk di langgar. Zayn semakin penasaran dengan apa yang ada di kamar Alexa. Zayn melangkah matanya tertuju pada sebuah kotak berwarna ungu tua di samping nakas. Kotak itu tidak terlalu besar hanya berukuran 60x40 cm persegi.


Zayn yang penasaran membuka kotak tanpa kunci itu, terdapat beberapa lembar foto Alexa dan adam di sana, juga satu sal rajut dengan ukir nama Adam, ada juga sapu tangan dengan bordir nama yang sama. Di sana juga ada sebuah switer berwana navy yang Zayn yakini sebagsi switer cople. Adam memang tipikal seorang pria romantis. Ada karangan bunga kertas aksesoris dengan tag nama Adam dan Alexa.


"Sialan. Mereka terlalu banyak membuat kenangan, pantas saja Alexa terlihat kesulitan melepaskan bayang-bayang Adam dari hidupnya." Dadanya terasa terbakar saat melihat beberapa barang kenangan yang Alexa kemas rapih.


"Mereka pacaran selama dua tahun. Tak yakin aku Adam gak ngapa-ngapain Alexa, pasti mereka udah pernah berbuat hal lebih dari sekedar ciuman." Bayangan tentang Adam yang menyentuh Alexa membuat Zayn semakin kegerahan padahal ia sudah mandi sebelumnya. "Mustahil kan mereka pacaran selama dua tahun hanya pegangan tangan saja. Sial!"


Zayn menutup kotaknya dengan kasar, kakinya bahkan menendang kotak itu pelan.

__ADS_1


Kaki Zayn melangkah ke arah balkon kamar Alexa, pikirannya kacau. Zayn merasa dirinya sudah menjadi penghalang dan batu sandungan akan hubungan keduanya. Seandainya malam itu tak terjadi mungkin Adam dan Alexa sudah bersama sekarang. Terkadang Zayn menyalahkan dirinya sendiri yang sudah menghancurkan hubungan sepasang manusia yang saling mencintai.


Zayn mengurai surai hitamnya yang setengah basah. Zayn mengakui dirinya egois karna memaksa Alexa menikah dengannya, Zayn sama sekali tak memberi pilihan pada Alexa. Dan wanita itu mengaku terdzalimi olehnya beberapa saat lalu.


"Aku harus bagai mana Ya Allah." Zayn menatap langit pagi yang tampak mendung, seperti tengah mendukung suasana hatinya.


Cukup lama Zayn berada di balkon, sehingga ia memutuskan untuk menyusul Alexa ke bawah. Ia harus lebih peka dan mengambil hati Alexa. Ya Zayn harus membuktikan jika dirinya lebih baik di bandingkan Adam.


Saat memasuki kamar Alexa, Zayn di buat terkesiap saat melihat pigura yang membingkai potret Alexa dan Adam sudah hancur berkeping-keping di atas lantai, seperti sengaja di banting atau terjatuh. Tapi kapan? Padahal saat Zayn meninggalkan kamar Alexa semua tampak rapih dan baik-baik saja.


Padahal dari arah balkon Zayn tak mendengar suara benda jatuh, tapi bisa-bisanya pigura itu sampai hancur.


Zayn khawatir Alexa akan menyalahkannya sehingga dengan segera ia mengambil tempat sampah dan memunguti pecahan kaca yang berasal dari pigura itu kedalam sampah. Karna terburu-buru dan tidak berhati-hati Zayn malah melukai tangannya sendiri sehingga darah segar mengucur dari telapak tangan kanannya.


"Astaghfirullah." Zayn mencoba mencabut serpihan kaca yang menancap di telapak tangannya. Belum sampai tercabut seseorang sudah memergokinya.


"Zayn, apa yang kau lakukan." Zayn berditi dari jongkoknya dan mencoba menghalangi jarak pandang Alexa agar tidak melihat pigura potonya yang hancur dengan sebab yang tidak Zayn ketahui.


"Aku, aku." Zayn mencoba mencari alasan namun sialnya Alexa malah berpindah tempat ke arah belakang. Terlambat Dan sudah pasti Alexa melihat poto itu hancur juga dengan tempat sampah di dekatnya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Alexa aku, aku tak melakukan apapun sungguh. Aku tidak merusak fotomu. Aku tidak berbohong Alexa." Zayn berujar panik.


"Aku bersumpah Alexa, aku tidak melakukan apapun. Aku sama sekali tidak merusak potomu. Percaya padaku!" karna panik Zayn mengepalkan tangannya tanpa ia sadari serpihan kaca kini melukai tangannya lebih dalam.

__ADS_1


Alexa mengerti, Zayn sepertinya mengira jika Alexa akan menyalahkan dan menuduh Zayn yang merusak potonyan. Padahal Alexa tidak akan berbuat seperti itu, dirinya sendiri yang membuat pigura itu jatuh.


"Siapa yang akan menyalahkanmu. Aku yang membuat pigura itu jatuh, tadinya aku hendak mengemas dan menyimpannya. Tapi sepertinya tanganku licin hingga pigura itu tergelincir dari genggamanku dan terjatuh keras di atas lantai hingga semuanya berhambura." Alexa menceritakan detail kejadian perkaranya.


"Jadi aku tadi pabggil bibi untuk beresin. Aku juga terkejut kau malah mendekati pecahan kaca itu sebabnya aku bertanya apa yang kau lakukan."


"Syukurlah. Ku pikir kau akan menuduhku." Genggaman tangan Zayn melonggar bertepatan dengan banyak darah yang menyucur melukai telapak tangannya lumayan dalam. Alexa menatap cairan merah yang menetes ke atai lantai dan menyadari sumbernya dari tangan Zayn.


"Astaghfirullah Zayn." dengan segera Alexa meraih tangan kanan Zayn yang terluka.


Membuka tangan itu hingga genggamannya terbuka sempurna. "Kau terluka. Ayo cuci biar ku obati." Alexa membawa Zayn ke kamar mandi untuk mencucinya. Meniup beberapa kali tangan Zayn yang terluka.


Alexa bahkan mengambil sepihan kaca itu dan membuangnya. Perlakuan Alexa membuat perasaan Zayn bergetar hebat. Baru setitik perhatiannya Zayn merasa beruntung. Bagaimana jika dirinya bisa mendapatkan simpati dan seluruh hati Alexa seperti Adam?


Dengan penuh kehati-hatian Alexa mengobatinya.


Zayn sengaja mengaduh hanya agar Alexa meniup lukanya. Alexa cukup lembut jika dirinya tidak memancing emodi wanita hamil itu.


Padahal sebenarnya Zayn tidak merasakan sakit sama sekali.


"Alexa apa yang membuatmu mencintai Adam?"


Alexa menghentikan kegiatannya membalut luka Zayn.


"Apa yang kau katakan? Kau mengigau ingin merubah diri menjadi sosok Adam agar bisa ku cintai?" skak, analisa Alexa tepat sasaran.

__ADS_1


"Ti-tidak, aku hanya ingin berusaha membuatmu nyaman saat bersamaku. Itu saja, lagi pula kita sudah menikah aku rasa aku tak akan mencintaimu semenggebu Adam. Ini bukan tentang cinta melainkan kenyamanan ku harap kau bisa bekerja sama." Sulit sekali untuk Zayn mengakui jika dirinya ingin membuat Alexa mencintainya, Zayn selalu mencari alasan-alasan yang tidak masuk akal.


__ADS_2