Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Tak sadarkan diri


__ADS_3

"Kau dengar aku tidak?" Alexa menggoncang lengan Zayn. Sedari tadi ia berbicara tak sepatah katapun Zayn menyaut maupun menanggapi ucapannya, padahal Alexa tau jika Zayn belum tidur. Pria itu hanya memejamkan matanya saja.


"Ya Tuhan. Zayn kau ini benar benar keras kepala! Apa yang kau cari dari pernikahan kita?"


"Semua ku dapatkan Alexa dari pernikahan kita. Kepuasan, ketenangan bathin, juga gila sekaligus semua ku rasakan." Jawab Zayn dalam hati, ia masih setia memejamkan matanya.


"Zay."


"Zayn. Ih bangun." Alexa mengguncang guncang tubuh Zayn. Namun pria itu masih diam dengan mata terpejam, Zayn benar benar mengabaikan Alexa.


"Terserah." pada akhirnya Alexa menyerah dan lebih memilih merebahkan tubuhnya juga di sisi sebelah Zayn. Bibir Zayn berkedut tipis akan tindakan Alexa yang seperti anak kecil.


Zayn memaklumi perlakuan Alexa yang seperti ini, istrinya itu masih sangat muda juga kurang ahli dalam mengelola emosi, Alexa juga kerap kali terpengaruh oleh hal hal di sekitarnya. Setelah memastikan Alexa terlelap dengan nafas yang beraturan, Zayn membenarkan posisi tidur Alexa yang tak beraturan.


"Untung cinta." Gunam Zayn. Ya jika tidak cinta Zayn rasanya ingin membekap wajah cantik itu dengan bantal hingga kehabisan nafas.


Zayn memeluk tubuh Alexa, namun sepertinya cetah betinanya belum benar benar nyenyak tidurnya alhasil tamgan Zayn di hempas dengan kasar. "Ga usah peluk peluk!"


"Astaghfirullah." Zayn hanya mampu menggeram tertahan.


Namun beberapa saat kemudian tubuh Alexa malah meraksek dengan sendirinya pada tubuh kekarnya. "Dingin." lirih Alexa pelan, sepertinya Alexa tak sadar saat berkata demikian. Namun Zayn tak menyia nyiakan kesempatan ia langsung merapatkan tubuhnya.


"Dasar aneh. Tadi saja sok tak mau di sentuh sekarang malah nempel." seulas senyum terbit di ujung bibir Zayn.


"Duh. Jadi pengen. Astaghfirullah." Zayn menggelengkan kepalanya yang nakal, bisa bisa ia berpikir tentang hal iya iya padahal Alexa masih ngereog.


Zayn meraih tangan Alexa dan menyelinapkannya ke balik sarung, lebih tepatnya ke benda kebanggaannya. "Biar anget." ujarnya mesum.


Zayn pun tertidur dengan tubuh Alexa dalam dekapannya.


Sekitar setengah empat pagi Zayn sudah terbangun seperti biasa.


Zayn tak langsung beranjak, ia tatap wajah tenang Alexa yang terlelap tepat di hadapan wajahnya. "Kau selalu bertanya mengapa aku tak ingin melepaskanmu? Jawabannya karna aku mencinyaimu. Meskipun kadang kau melukaiku beberapa kali sungguh aku tak apa, asalkan kau tetap bersamaku. Aku bahagia, aku nyaman saat bersamamu." Zayn mengusap lembut wajah Alexa.


"Aku memang Egois Alexa. Namun semua itu ku lakukan demi diriku sendiri. Maaf." Zayn melabuhkan kecupan di sudut pelipis Alexa. Kemudian ia beranjak untuk membersihkan diri. Sebelum kemesjid Zayn kembali menunaikan dua raka'at di kamarnya dan saat Adzan subuh berkumandang Zayn membangunkan Alexa.


"Alexa, bangun ini sudah subuh. Shalat dulu setelahnya kau boleh tidur lagi jika masih mengantuk." Zayn mengguncang lembut tubuh Alexa.


"Kak Zayn ganggu mulu." Alexa menggerutu dengan merenggangkan kedua tangannya, hal itu memancing Zayn untuk bersikaf curang. Zayn segera menangkup kedua kelembutan Alexa dan meremasnya secara bersamaan.


"Perasaan makin besar saja." celetuk Zayn sambil berlari karna Alexa bersiap mencubit perutnya.

__ADS_1


"Haha haha ..." Zayn tergelak sampai ke luar kamar. Papa Kafka dan Raffa yang juga hendak ke mesjid mengerutkan kening karena keheranan melihat tingkah Zayn.


"Awas kau Zayn." teriak Alexa dari dalam kamar. Hampir saja ia kelepasan akan keluar kamar tanpa kerudung. Beruntung Alexa ingat.


"Ada apa Zayn subuh subuh sudah heboh?" Papa Kahfa bertanya dengan alis terangkat sebelah.


"Biasa Pa, urusan anak muda." Zayn menanggapi sekilas.


Ketiganya berangkat bersama ke mesjid.


Mama Lexi mengajak Alexa dan Hanna untuk memasak bersama untuk sarapan. Meski Alexa terlihatalas, tapi ia juga tak kuasa menolak keinginan Mama mertuanya.


Papa Kahfa dan Raffa pulang dari mesjid, sedangkan Zayn tidak terligat batang hudungnya.


"Zayn ada kelas Pa?" tanya Mama Lexi.


"Tidak. Tapi Zayn ada urusan di luar. Oh Ya, Alexa Zayn berpesan supaya kau bisa makan lebih dulu nanti tidak usah menunggu Zayn. Tapi jika ingin pergi kabari suamimu lebih dulu." Papa Kahfa berlalu ke kamarnya.


"Baik Pa."


"Alexa. Mengenai perbuatan adikku tempo hari, aku mohon maaf." ucap Raffa tulus, hubungan ia fan Hanna masih saja jalan di tempat, tidak ada kemajuan sama sekali.


"Hmm." hanya gunaman kecil yang terdengar sekilas. Alexa tak terlalu menanggapi lebih jauh ucapan Raffa, ia memilih menyibukan dirinya dengan hal lain.


Alexa mengutak atik ponselnya beberapa saat. Hingga tulisan Hubby di ponselnya muncul di layar ponselnya. Ya Alexa benar benar menghubungi Zayn.


"Assalamualaikum?" sapa Zayn dari sebrang sana.


"Kau di mana? Apa kau sudah merasa bebas karna tidak mengabariku? Apa kau tengah bersenang senang Hah.?" Alexa langsung saja mengomel saat sambungan telepon terhubung. Bahkan mengabaikan sapaan salam dari suaminya.


Di sebrang sana Zayn menarik satu sudut bibirnya. Dalam hati ia bersorak. "Kau sudah terbiasa dengan kabarku Alexa, sehingga saat aku tak mengabarimu kau begitu menghkhawatirkan aku. Aku tau itu Alexa sekalipun kau tak mengakuinya. Lalu bagaimana bida kau mengatakan ingin lepas dariku juga tak mencintaiku?"


"Kau mendengarku?"


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam." jawab Alexa pada akhirnya.


"Kau di mana?"


"Di restoran, mau makan siang. Kau sudah makan?"

__ADS_1


"Belum." ucapnya sewot.


"Mau ku jemput untuk makan siang bersama?"


Alexa diam, dalam pikiran Zayn diam berarti Ya. Itu sebabnya ia segera berandak dari tempatnya duduk. "Tunggu sebentar aku akan menjemputmu."


Perceraian yang Alexa ajukan Zayn anggap sebagai angin lalu. Tak sedikitpun Zayn menanggapi permintaan Alexa, meskipun kemarin dirinya sempat menggebu gebu memarahi Alexa karna tak terima akan gugatan yang ajukan oleh Alexa. Namun Zayn masih di buat penasaran akan apa yang melatar belakangi hal itu.


Zayn tadi berangkat pagi pagi untuk menemui Raffi, pria yang hampir saja menodai istrinya. Pria berusia 26 tahun itu memohon maaf atas apa yang ia lakukan beberapa waktu lalu. Di samping Raffi begitu tertarik dengan Alexa, ia juga di pengaruhi alkohol sehingga dapat berbuat sejauh itu.


Zayn sempat terpancing emosi dan kembali menghajar Raffi karna pengakuan pemuda itu yang mengakui menyukai istrinya secara terang terangan. Zayn bertanya tanya apa satu mata saja tak cukup untuk memperingatkan pria itu? Atau Zayn harus menghilangkan satu matanya kembali agar Raffi tak lagi menatap miliknya.


Etelah melakukan perjalanan beberapa waktu lalu, Zayn menepikan mobilnya di pekarangan rumah. Dengan masih mengenakan koko dan sarung yang ia kenakan subuh tadi.


Zayn memasuki rumahnya dan mencari keberadaan Alexa di kamarnya. Namun Alexa tak terlihat, rupanya baru Zayn sadari ternyata semua penghuni rumah tak ada. Zayn menghubungi Alexa menanyakan keberadaan istrinya.


"Kau dimana?" Zayn mulai panik ia takut Alexa kabur lagi. Sudah menjadi kebiasaan buryk istrinya sering kabur kaburan.


"Aku di perjalanan kerumah sakit. Mama Lexi jatuh di kamar mandi, mama pingsan kak. Sudah dulu Kak aku sedang menyetir." Tak terdengar suara Alexa lagi, yang ada hanya deru suara kendaraan.


Zayn segera menghubungi Papa dan adiknya.


Perasaan Zayn amat tak tenang saat mendengar kabar tentang jatuh mamanya. Belum lagi masalahnya kelar, ada lagi cobaan lain yang menimpa keluarganya.


"Astaghfirullah."


Zayn, Papa Kahfa tiba di rumah sakit dengan waktu yang hampir bersamaan. Terlihat Alexa tengah menangis di dekat pintu kamar pemeriksaan.


Pakaiannya terlihat ternoda oleh bercak merah yang Zayn yakini sebagai darah.


"Alexa." panggil Zayn pelan.


"Alexa apa yang terjani Nak?" Papa Kahfa mendekat ke arah menantunya.


"Kak Zayn." Alexa langsung menghambur kepelukan suaminya.


"Kak. Mama berdarah, kaki mama. Aku takut mama kenapa napa kak." Alexa terlihat sangat panik dan ketakutan.


"Tenang Alexa semua pasti baik baik saja." Zayn mendekap tubuh Alexa berusaha menyerap ketakutan wanitanya.


"Ale, apa yang terjadi katakan pada Papa?." Kahfa juga sangat panik. Hanya Zayn yang terlihat sedikit tenang.

__ADS_1


"Alexa tak tau Pa. Saat Alexa tengah menelpon kak Zayn. Mama berteriak minta tolong dan saat Alexa datang keadaan mama sudah terbaring di lantai kamar mandi. Tapi saat di jalan Mama memejamkan matanya. Alexa takut Pa. Alexa tak berhasil membangunkan Mama." Alexa sesegukan saat menjelaskan hal itu. Tubuhnya bergetar dengan keringat dingin yang mengembun di keningnya.


"Darah. Mama berdarah banyak kak." Alexa mengadu pada suaminya dengan nafas tersenggal, setelahnya Alexa tak sadarkan diri dan terkulai lemas dalam pelukan Zayn.


__ADS_2