
"Alexa bangun. Ini sudah sampai." Zayn mengguncang pelan bahu istrinya.
"Lexa."
"Lexa."
Lula dan Hanna turut membangunkan Alexa. Alexa menggeliat dan membuka matanya.
Tanpa mengatakan apapun keluar dari mobil milik Zayn dan membanting pintunya. Zayn membuka lebar mulutnya, ia terkejut akan tindakan Alexa. Kenapa lagi makhluk itu?
Zayn memijat pelipisnya. Alexa benar-benar sulit di tebak.
Hah ...
Sepertinya Alexa akan kembali ke mode bisu.
Benar saja, sudah dua hari Alexa mendiamkan Zayn. Istrinya itu bahkan menginap di kamar Hanna. Dan setiap Zayn memindahkannya ke kamar mereka, maka Alexa akan kembali pindah ke kamar Hanna.
Seperti malam ini. Terhitung ini adalah malam ketiga setelah ulang tahun Zayn tempo hari.
Setelah memindahkan Alexa kekamarnya Zayn mengunci kamarnya dan menyembunyikan kuncinya hanya agar Alexa tidak kembali pergi ke kamar Hanna.
Dan benar saja Alexa banun tengah malam dan menggerak-gerakan handel pintu.
"Sial di kunci." Alexa menggerutu. Wanita hamil itu mencoba mencari kunci kamarnya dari mulai meja rias, nakas bahkan laci. Tapi tidak nenemukannya.
"Mungkin di bawah bantal." Alexa menyelipkan tangan kanannya ke bawah bantal yang di tiduri Zayn dengan posisi terlentang. "Tidak ada juga. Lalu dimana manusia ini menyembunyikan kuncinya?" Alexa berkacak pinggang, sembari berpikir.
"Dasar bodoh kan ada jendela." Alexa sudah bsrniat untuk kembali pergi. Namun saat Alexa mulai melangkahi kusen jendelanya Zayn menarik kerah bajunya. "Mau kemana kau?"
Tadinya Zayn ingin menarik telinga Alexa tapi khawatir Alexa akan membesar-besarkan masalah,akan mengadu mengatakan kdrt lah atau apapun pada keluarganya.
"Aku mau pergi dari kamar ini. Aku gak mau tidur dengan orang yang tidak perduli terhadap istrinya." Alexa menarik sebelah kakinya yang sempat keluar untuk masuk kembali.
"Ya Allah, tidak perduli terhadap istrinya dari posisi mana Alexa?" Zayn bahkan mengacak rambutnya sendiri. Ia belum tau jika Alexa marah padanya hanya karna perkara meniup lilin yang di siapkan Lula.
"Kau tidak hanya tidak perduli kau juga tidak peka. Aku benci padamu." Alexa menghentakan kakinya menuju tempat tidur. Alexa membalut seluruh tubuhnya hingga kebagian kepala. Di balik selimut Alexa bergetar sepertinya memang Alexa mengangis.
Zayn benar-benar di buat tak berdaya dengan apa yang selalu Alexa tunjukan di hidupnya.
Zayn mendekat, ingin tau masalahnya. Jika Alexa tidak berbicara apa kesalahannya ia tidak akan tau, juga Alexa akan tetap mendiamkannya.
Zayn duduk di tepi ranjang dan meraih kaki istrinya. Meski Alexa memberontak Zayn tetap bersikaf selembut mungkin menahan amarahnya yang siap berubah kapan saja menjadi Hulk.
"Biar ku pijat." Zayn menyingkap selimut di bagian kaki Alexa dan memberikan pijatan lembut. Sedangkan bagian atas tubuh Alexa Zayn biarkan tertutup selimut.
Tapi Zayn segera mematikan pendingin ruanga. Tentu saja tujuannya membuat Alexa kegerahan.
"Alexa tau tidak jika mendiamkan seseorang atau bersikaf buruk terhadap sesorang dengan sengaja lebih dari dua hari, itu adalah temannya setan. Alexa mau jadi temannya setan?" Bak seperti membujuk anak kecil Zayn berucap.
__ADS_1
Di balik selimut Alexa menggeleng.
Ya ampun. Zayn seperti tengah membujuk anak perawan.
"Kak Zayn minta maaf ya karna sudah membuat Alexa marah." Zayn terus memijat kaki Alexa.
Alexa membuka selimutnya, Zayn pikir Alexa sudah memaafkannya. Ternyata Alexa membuka selimutnya karna kegerahan.
Alexa terduduk dan mengambil remote pendingin riangan dan menyalakannya kembali. Ia tau suaminya mengerjainya tadi.
"Kak Zayn salah apa sih sama Lexa? Kok Lexa diemin kak Zayn terus?" Sungguh Zayn mual dengan nada bicaranya yang di buat selembut beledu ini.
"Aku kesal sama kak Zayn. Kenapa kak Zayn meniup lilin yang di nyalahkan Lula? Padahal aku sudah mewanti-wanti kak Zayn supaya menolak setiap pemberian Lula." Alexa melipat tangan di perutnya.
Zayn menghembuskan nafas jengkelnya, apa-apa salah di mata Alexa, bahkan bernafaspun Zayn kerap kali salah di depan Alexa.
"Kan Alexa hanya larang Kak Zayn untuk tidak menerima pemberian Lula, inikan beda kisah. Kak Zayn hanya tiup lilin saja."
"Tetap saja Aku kesal. Harusnya kak Zayn bilang gini sama Lula, aku tidak bisa meniup lilin darimu ada wanita yang tengah ku jaga perasaannya. Gitu harusnya Kak Zayn bilang."
Alexa itu bagai mana dia sendiri yang minta pernikahan mereka di rahasiahkan sebelum lulus.
"Kan Alexa sendiri yang bilang supaya pernikahan kita di rahasiahkan."
"Iya juga ya."
"Ya minimal kak Zayn menolak gitu. Bukan manut gitu aja sama perintah Lula."
.
Alexa kini tengah menyelesaikan tugasnya. Sebentar lagi ia akan lulus.
Zayn di undang oleh kakek Riza untuk makan malam. Kakek Riza adalah adik dari Kakek Ridwan, kakek kandung Zayn. Entah apa yang akan di bicarakan kakek dari Lula itu.
Zayn mengajak Hanna juga Alexa untuk ikut makan malam bersamanya di rumah kakek Riza.
Zayn mengerutkan kening saat di rumah kakek Riza sudah ramai dengan beberapa orang kerabat dari keluarga Lula. Baik Zayn dan Hanna bertanya-tanya sebenarnya ada acara apa sehingga ada beberapa kerabat juga kakeknya disana.
Perasaan Alexa mulai tak enak, entahlah feelingnya mengatakan ini pertanda buruk.
Sedangkan Zayn dan Hanna mengira sekaligus menebak jika Lula akan di lamar seseorang itu sebabnya rumah kakek Riza ramai.
"Kak Zayn perasaanku kok ga enak ya." Alexa berbisik di telinga Zayn.
Anehnya di sini Alexa bisa membaca pikiran Zayn dan Hanna. Ini tidak pernahh terjadi sebelumnya.
Tidak hanya keluarga Lula, keluarganya juga turut hadir. Bukankah mereka bersaudara tentu keluarga Alexa keluarga Lula juga.
Ada pelaminan juga di sana.
__ADS_1
"Mau minum?" tawar Zayn.
"Boleh." Alexa mengangguk. Ia juga merapikan jilbab berwarna hijau urat nadinya.
"Lexa sebentar ya, aku ke kak Alena dulu." Hanna pamit sebentar saat Alena melambaikan tangan memanggilnya.
Lula menepuk pundaknya dari belakang.
"Hallo Alexa. Bagai mana apa aku terlihat cantik?" Lula memperlihatkan kebaya juga riasan yang ia kenakan.
Alexa mengangguk "Ya kau sangat cantik Lula." jawab Alexa jujur, Lula mrmang terlihat anggun dalam balutan kebaya berwarna broken white dengan riasan ala pengantin wanita.
"Aku akan menikah sebentar lagi." ucapnya dengan percaya diri.
"Selamat jika begitu." terbesit pemikiran di benak Alexa jika Lula akan menikahi Zayn.
Dan benar saja dugaan Alexa, sesaat kemudian Zayn sudah mengenakan tuksedo pria berwarna senada dengan Lula, dan mereka tiba-tiba berada di aula sebuah hotel megah.
Entah bagai mana ceritanya Zayn sudah sah menjadi suami Lula.
Lula menertawakannya Alexa yang kini menangis dengan perut buncitnya, terduduk menyedihkan di antara semua orang yang menertawakan dirinya.
"Tidak mungkin."
"Ini tidak mungkin."
Alexa menangis histeris di antara semua orang yang yang kini menghina dan mengatai dirinya. Di saat itu juga Zayn mentalak tiga dirinya.
Alexa nangis sampai berguling-guling hingga dirinya mengompol di saksikan banyaknya orang.
"Hiks ..." Alexa menangis menumpahkan segala kesedihannya.
Dan
Sesaat kemudian.
"Alexa ... Bangun."
"Alexa ..."
Alexa membuka matanya dan ternyata yang membangunkannya adalah Zayn. Ternyata dirinya berminpi barusan. Terbukti dengan ia masih mengenakan baju tidur miliknya, Zayn juga mengenakan baju yang terakhir ia pakai. Bahkan rasanya seperti nyata. Alexa menangis. Pipinya sangat basah oleh air mata sedangkan keningnya di penuhi keringat hingga sebatas lehernya.
"Minum dulu." Zayn memberikan segelas air. Alexa menenggaknya.
Alexa menyadari sesuatu tubuh bagian bawahnya juga basah, Alexa juga membawa mimpi ngompolnya hingga ke alam sadar.
"Barusan aku mimpikan?" ada cegukan kecil di antara nafasnya, mimpi barusan terasa nyata. Sebenarnya Zayn menikah lagi itu mimpi atau nyata?
"Kau mimpi apa Alexa sampai menangis sesegukan seperti itu."
__ADS_1
"Kak Zayn aku mengompol." Sungguh Alexa sangat malu sampai-sampai ia ingin melenyapkan diri.