
"Letia jauhkan gunting itu dariku!" Alexa menggerak gerakan tubuhnya dan berusaha itu pergi dari tempat itu. Namun sekuat apapun Alexa berusaha nyatanya, ia masih berdiam diri di tempatnya.
"Aku ingin melenyapkan bayimu juga Alexa." Letia mengarahkan gunting itu pada perut buncit Alexa dan menekankan gunting itu hingga Alexa meringis kesakitan.
"Manakah yang harus ku lenyapkan lebih dulu? Anakmu atau kau juga? Sepertinya akan sangat menyenangkan jika aku melihatmu menderita lebih dulu sebelum kematianmu." suara Letia kini memenuhi setip ruangan.
"Haha ... Memohon lah Alexa, aku menyukai saat kau terlihat tak berdaya seperti itu." Tawa Letia seakan meledak ledak di rumah sewa pak Ardi.
"Aku pernah mendengar pujian dari mulut suamimu. Dia berkata sangat menyukai rambutmu, maka hal pertama yang paling ingin ku rusak adalah rambutmu. Rambut yang pernah di puji oleh Zayn." Letia semakin mendekat dan hendak membuka jilbab yang di kenakan Alexa, bahkan tangan yang terdapat bekas sayatan itu sudah memegangi hijab Alexa.
"Demi Tuhan! Letia, jangan pernah kau melepas kerudungku!" Alexa menggeleng - gelengkan kepalanya juga menjauhkan tangan Letia yang hendak menarik kerudungnya.
"Nona, saya rasa Nona jangan menghinakan wanita itu. Tolong lepaskan dia Nona." Asep merasa tak tega melihat Alexa menangis juga wajahnya yang nyaris di penuhi darah yang berasal dari kening Alexa.
"Diam kau! Atau kau yang akan ku lenyapkan lebih dulu." Letia menoleh ke arah Asep dengan tatapan tajam yang ia layangkan kepada pria berkulit sawo matang itu.
Asep tak memili keveranian lain, ia lebih memilih membungkam mulutnya sendiri dari pada Letia melenyapkannya saat ini.
Letia sangatlah nekad, bahkan wanita itu melenyapkan bayinya sendiri juga pernah berusaha untuk membunuh dirinya sendiri. Adanya pistol di tangan Letia, membuat nyali Asep menciut.
Dengan sekali tarikan kerudung yang Alexa kenakan terlepas dan rambut Alexa langsung terurai, karna Letia juga menarik ikat rambutnya.
Asep tersenung untuk beberapa saat. Tah salah apa yang di katakan Letia tentang Zayn yang memuji keindahan rambut Alexa yang tersembunyi di balik hijab. Rambut itu memang sangatlah indah, dengan warna coklat tua yang berkilauan, untuk sesaat Asep merasa terpana akan keindahan yang ada di hadapannya, pantas saja suami wanita itu sangat menjaga dan menolak pernikahan dengan Nonanya. Letia tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan wajah cantik Alexa. Meski dalam keadaan kacau kecantikan Alexa begitu terpancar.
"Ardi. Aku berubah pikiran, aku ingin melenyapkan Alexa malam ini. Kita bisa membakar rumah ini untuk menghilangkan jejak." Desis Letia.
"Tidak. Jangan lakukan itu Nona." Asep memohon, berharap seseorang segera menyelamatkan wanita hamil yang menyedihkan itu.
Atau ia sendiri yang harus menyelamatkan wanita cantik itu. Tapi jika Asep sendiri yang menyelamatkan Alexa, sepertinya ia akan serakah dan menginginkan Alexa untuk dirinya sendiri.
"Aku tak butuh pendapat mu."
"Ambil bensin di mobilku Ardi!" perintah Letia. Asep tak memiliki kekutan untuk membantu
Alexa. Ia tak memiliki senjata. Sedangka ke dua orang yang mengancam Alexa memiliki senjata api. Membantu Alexa saat ini sama saja menyerahkan nyawanya sendiri.
"Banyak bensin di mobilku. Siram dulu rumahnya selagi aku mempersiapkan kematian untuk Alexa. Setelahnya mandikan wanita ini dengan bensin, dan biarkan aku yang memantikan apinya.
Ardi menurut apa saja yang di perintahkan Letia padanya, yang terpenting Alexa cepat mati, maka dendamnya telah terbalaskan. Persetan seandainya ia tertangkap polisi dan harus mendekam di balik jeruji.
Letia sudah menggenggam helaian rambut panjang Alexa. dan bahkan sudah ada yang ia gunting beberapa bagian.
"Tolong. Hentikan Letia! Hentikan! jangan lakukan hal bodoh, atau priaku akan menyakitumu lebih parah dari apa yang kau lakukan padaku." Alexa berteriak lantang meskipun hendak menemui kematian.
__ADS_1
Letia tak memperdulikan apapun lagi ia tetap menggunting rambut Alexa.
Inikah Akhihra, apa ia akan benar benar mati kali ini.
Pada akhirnya Alexa hanya bisa pasrah dan menangis saja, ia tak kuasa berbuat apapun lagi.
"Aku menyukai dirimu yang menyedihkan dan pasrah seperti ini." Letia seakan sengaja menggunting rambutnya sedikit demi sedikit.
Brak ...
Pintu utama rumah sewa itu roboh dengan seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan mengepalkan tangan.
"Beraninya kau merusak milikku!" Berang Zayn dengan kepalan tangan yang siap ia layangkan.
Asep tak memperdulikan apapun lagi ia segera berlari menuju pintu belakang untuk menyelamatkan diri. Ia tak ingin terlibat urusan lagi dengan wanita yang bernama Letia.
Sedangkan Ardi sudah habis di pukuli oleh tangan Papa Azam, juga Papa Kahfa.
Zayn tak memperdulikan orang lain yang berlari, tujuan utamnya adalah Alexa.
"Zayn." Cicit Alexa. Dengan rambut tak beraturan juga dengan luka yang memenuhi wajahnya.
Ya Tuhan Zayn kembali lalai sampai istrinya terlihat sangat menyedihkan.
Bugh ...
Bugh ...
Duak ...
Duak ...
Zayn tak perduli sekalipun Letia seorang wanita, ia tetap menghajar karna sudah berani menyentuh miliknya.
Memukul, menjambak, juga menendang tubuh Letia hingga wanita itu memohon ampun berkali kali. Namun Zayn seakan tuli dan tak memperdulikan permohonan Zayn.
Adam dan Papa Azam segera membantu Alexa melepas ikatannya. Alexa langsung memeluk erat tubuh Papanya. "Pa, Alexa takut Pa."
"Kau sekarang baik baik saja sayang." Papa Azam membingkai wajah putrinya yang sudah berhiaskan luka luka yang di buat oleh Pak Ardi juga Letia.
Zayn mengambil gunting yang tadi sempat terjatuh dari genggaman Letia saat ia menerjang tubuh Letia ke dinding.
Rambut Letia benar benar di gundul habis oleh Zayn, bahkan beberapa kali kulit kepala Letia terluka oleh tindakan Zayn seperti orang kesurupan.
__ADS_1
Merasa ada yang kurang dengan luka yang di dapat Letia. Zayn mendekatkan kepala botak Letia ke dinding, kemudian Zayn menghantamkan dahi Letia ke dinding, dasar keras kepala! Hingga beberapa kali Zayn menghantamkan kepala itu hingga mengeluarkan darah.
Seakan tak cukup sampai di sini Zayn mencekik leher Letia, ia benar benar gelap mata. Dan ingin melenyapkan Letia menghunakan kedua tangannya.
Tubuh Letia terangkat keatas oleh sebelah tangan Zayn.
"Dasar tidak tau diri! Kau malah mencelakakan seseorang yang pernah menolongmu." Geram Zayn.
Adam tak ingin Zayn sampai melenyapkan orang lain. "Sudah Zayn sudah.. Dia bisa mati di kau terus menyiksanya."
"Memang itu yang ku inginkan Adam. Aku ingin iblis ini mati!"
"Jika kau di penjara, siapa yang akan menjaga Alexa dan bayi kalian." Melihat kemarahan Zayn, Adam mencoba melepaskan cekikan Zayn di leher Letia.
"Lihat Alexa! Dia membutuhkanmu Zayn." Zayn luluh ia melihat Alexa di pelukan Papa Azam.
"Alexaaa." Zayn melirih, bahkan Ia sempat melupakan Alexa yang baru terbebas dari bahaya.
Zayn tinggalkan Letia yang kini terbatuk batuk. Karna cekikan yang ia berikan barusan.
"Sayang." Zayn memanggil Alexa.
Wanita yang kini berada di pelukan Papa Azam kini mengurai pelukannya, dan segera memindahkan tubuhnya ke tempat ternyaman selama setahun terakhir ini.
"Kak Zayn. Aku takut kak. Dia ingin melenyapkan aku dan anak kita." Adu Alexa di dalam pelukannya.
"Maaf, maafkan aku. Aku kurang menjagamu."
Zayn kecup rambut Alexa yang tak beraturan. Darah yang mengucur di kening Alexa kini menodai kemeja Zayn.
"Aku jelek kak rambutku rusak."
"Sekalipun kau tak memiliki rambut aku tetap mencintaimu. Kau wanita tercantik untukku." Zayn bahkan menangis saat memeluk tubuh istrinya yang barusan berada di ambang bahaya.
Larut dalam rasa syukur keduanya tak memperdulikan sekitar.
Aris sudah kembali dengan Asep yang sudah ia amankan.
Duar ...
Tiba-tiba sebuah letusan senjata api terdengar. Dan rupanya berhasil melukai seseorang.
"Aaaaaaa ..."
__ADS_1
Alexa berteriak saat melihat banyak darah.