
Mama Lexi menjatuhkah rahang hingga mulutnya terbu lebar karna tindakan putranya. "Anak itu benar-benar."
Padahal jika Zayn ingin memberikan bukti pada Adam, cukup dengan mengambil akta nikah mereka saja karna pernikahan mereka sudah resmi secara agama dan hukum. Bukan malah dengan mencium Alexa di depan semua orang itu sih namanya memanfaatkan keadaan, mencuri kesempatan dalam kesempitan. Ternyata Zayn cukup licik.
Lain pula dengan pemikiran ibu Berlian. Wanita itu terlihat sangat lega meskipun hatinya tak tega melihat putranya yang terpuruk, namun apa mau di kata semua sudah terjadi. "Malang nian nasib putramu Lexi, menikahi wanita buruk seperti Lexa."
"Tutup mulutmu Berlian, baik buruk menantuku bukan urusanmu. Dan lagi aku bukan ibu berambisi yang pengatur sepertimu. Aku membebaskan putraku untuk menikahi gadis mana yang dia kehendaki." Lexi berujar mantap membungkam mulut ibu dari mantan kekasih menantunya.
"Lihat aku Alexa aku mencintaimu. Bercerailah dari Zayn dan menikah denganku." Seringan kapas Adam berkata demikian. Membuat Zayn yang mendengarnya mati matian menahan tinjunga agar tidak melayang. Jika saja Zayn tidak melihat kondisi Adam yang menyedihkan mungkin sejak tadi Zayn sudah menyapa wajah Adam dengan kepalan tangannya.
"Bukan tugasmu lagi untuk mencintai Alexa. Mencintainya sudah menjadi kewajibanku, jadi berhenti berharap apapun terhadap istriku." Zayn mencengkram kerah kemeja Adam yang terlihat berantakan.
"Kau yang sudah mengambil milikku, kekasihku. Lihat saja aku akan mengambil kembali apapun yang sudah menjadi milikku." Adam menghempas tangan Zayn di lehernya. Amarah tercetak jelas di matanya yang memerah karna tangis.
"Kurang ajar." Saat Zayn ingin melayangkan tangannya Alexa malah menghalanginya dan ini membuat Zayn semakin terbakar.
__ADS_1
"Cukup kak Zayn."
Melihat Adam menatapnya dengan pandangan menusuk Alexa segera menghindar tapi Zayn malah meraih istrinya dalam dekapannya seakan Zayn ingin membuat Adam terbakar sama sepertinya. "Aku sedang emosi, peluk aku agar marahku mereda." Zayn membenamkan tubuh Alexa dalam dekapannya, menelan tubuh mungil itu dalam tubuhnya yang kekar.
Adam menggigit kuat kuat kedua belah bibirnya yang pucat. Disertai air mata yang tak dapat Adam cegah, karna terlalu kuat menggigit bibirnya, Adam bahkan kini dapat merasakan rasa asin di mulutnya, sepertinya memang bersumber dari bibirnya yang mengeluarkan darah.
Sungguh ini benar-benar sakit.
Adam berharap ini mimpi buruknya, atau halusinasinya karna semalam terlalu banyak minum. Namun semua itu terpatahkan akan rasa sakit yang di rasa oleh Adam.
Sakit. Sumpah demi apapun Adam merasakan sesuatu yang tengah menghantam dadanya. Hingga sesaat kemudian Adam merasa semua penglihatanga menhitam dan.
Bruk ...
Adam tak sadarkan diri.
__ADS_1
Sebelum Adam benar-benar kehilangan kesadarannya Adam dapat mendengar Alexa meneriaki namanya, hingga Adam tak tau apa yang terjadi setelah ini.
Saat Alexa berusaha melepaskan diri dari pelukan Zayn. Zayn malah menggendong tubuh Alexa kedalam kamarnya dan menguncinya.
"Zayn, apa yang kau lakukan? Kak Adam pingsan aku ingin memastikan keadaannya."
"Diam di sini aku sendiri yang akan memastikan kondisinya." Zayn bahkan mengunci Alexa di dalam kamar mereka.
"Zayn." Alexa menggedor pintu kamarnya sedangkan Zayn berjalan untuk memastikan kondisi Adam. Zayn bahkan menghubungi dokter kuluarga untuk memastikan kondisi Adam. Neskipun dalam hatinya Zayn berharap Adam lenyap dengan sendirinya.
Dokter menjelaskan jika Adam kekurangan nutrisi juga cairan tubuh. Sehingga dokter mwnyarankan agar Adam di rawat di rumah sakit.
Saat Sadar Adam terlihat sangat tertekan. Sebelum ibu Berlian membawa Adam pergi, Adam berkali-kali mengatakan jika akan merebut Alexa darinya. Meski itu hanya ancaman tapi Zayn merasa gelisah takutnya apa yang di katakan Adam menjadi kenyataan.
Zayn terpengaruh oleh gertakan pria yang putus asa.
__ADS_1