
"Barakallah. Maha suci engkau ya Allah." Zayn menatap takjub layar monitor di hadapannya. Ia dan Alexa tengah berada di sebuah ruang pemeriksaan kehamilan, mereka tengah melakukan pemeriksaan usg.
Zayn tak menyianyiakan moment ia merekam usg kali ini menggunakan kamera ponselnya. Ia akan menunjukan vidio calon bayinya kepada keluarganya termasuk kakek dan neneknya.
Dan sudah di pastikan jika Alexa tengah benar benar mengandung putranya. Usia kehamilan sudah memasuki minggu kesembilan. Ya Allah Zayn bahkan melewatkan masa awal kehamilan Alexa, kadang kala Zayn malah merasa jengkel dengan perubahan Alexa akhir akhir ini. Tau begini Zayn akan lebih sabar menghadapi Alexa.
"Bayinya sehat, berkembang dengan sangat baik sesuai usianya." Dokter wanita menyudahi pemeriksaan usgnya, kali ini dokter yang memeriksa Alexa bukanlah dokter Aida, melainkan dokter lain yang lebih tua dari dokter Aida, dokternya kali ini mengenakan kacamata dengan tag nama Novi yang terdapat di jas putihnya.
Dokter memberikan resep berupa vitamin, tablet penambah darah, asam polat serta kalsium tambahan untuk ibu hamil muda ini.
"Dok, istri saya pernah ke guguran tolong agar dokter menambahkan obat atau apapun supaya kandungan istri saya lebih kuat." Zayn benar benar tak ingin kejadian yang telah berlalu terulang kembali.
"Baik pak, sudah saya resepkan. Indya Allah di kehamilan kali ini calon bayi serma mamanya sehat. Jaga selalu mood sang ibu agar tetap happy menjalani kehamilannya." Dokter Novi menyarankan yang terbaik untuk pasiennya.
"Terimaksih Dok." Alexa sangat senang setelah memeriksa keadaan bayinya yang sehat. Sedangkan Zayn.
Alexa sudah berdiru dan hendak pamit. Namun Zayn masih saja duduk di kursinya.
"Kak ayo."
Alexa mengajak Zayn untuk beranjak, nami Zayn tak bergeming ia masih di tempatnya.
"Dok apa sudah selesai?" tanya Zayn pongah.
"Sudah Pak." jawab dokter Novi.
"Sudah kak. Ini resep serta buku KIAnya sudah aku bawa." Alexa menunjukan buku berwarna pink juga selembar kertas yang tak Alexa mengerti tulisannya.
"Lalu di mana foto usgnya?" tanya Zayn bingung. "Waktu usg anak pertama saya mendapatkan potret anak saya meskipun berupa gambar hitam putih." Zayn meminta foto anaknya yang masih di dalam perut.
"Oh, Pak Zayn ingin hasil usgnya di print. Maaf pak, saya pikir karna bapak tadi merekamnya bapak tidak ingin potretnya."
__ADS_1
Zayn mendengkus kesal. "Saya ingin foto anak saya dok. Cepat print, begitu saja nunggu di minta. Kecuali jika saya minta foto dokter baru berpikir begitu." Zayn berujar malas, dokternya kali ini tidak peka sekali.
Dokter Novi mengeprint hasil usg Alexa san seperti biasa Zayn akan menaruhnya di dalam dompet. Di sana bahkan masih ada foto usg anak pertamanya yang telah tiada.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan Zayn keluar tanpa mengucapkan terimakasih terlebih dahulu, biarkan saja Zayn kesal pada dokter itu. Hanya Alexa saja yang menyucapkan terimakasih.
"Kak. Pengen makan bakso dulu."
"Siap tuan putri. Kita mengantri menebus obat dulu ya." Zayn membawa Alexa untuk duduk di deretan bangku yang ada di tempat penebusan resep.
Setelah menebus obat Zayn menjalankan mobilnya ke kedai bakso langganan Alexa dengan senyuman yang terus mengembang, tangan kirinya bahkan sesekali mengusap perut rata istrinya.
"Anak Papa lapar? Ingin makan bakso?" Zayn kambuh kembali kebiasaannya berbicara dengan perut Alexa.
"Iya, Pap." Alexa menirukan suara anak kecil untuk menanggapi ucapan suaminya. Zayn tersenyum senang lama kelamaan Alexa mulai menyesuaikan kembali, sepertinya usaha Zayn selama ini tidak sia-sia karna telah mendapat respon baik dari Alexa, wanotanya ini terlihat menyambut baik semua perlakuannya.
"Terimakasih karna sudah memberikanku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita." Zayn merai jemari Alexa dan menautkannya dengan jemari miliknya, kemududian membawa ke bibirnya untuk ia kecupi. Bukan hanya satu kecupan melainkan hujanan kecupan, Alexa bahkan kesulitan menghitung berapa banyak kecupan yang ia dapat dari Zayn.
"Karna kau memaksa." renggut Alexa, "Intinya aku berpikir gini, hidup ini seperti di per kosa jika aku tak bisa melawan maka aku mencoba menikmatinya."
"Nanti saja kak, kau tau sekarang aku gampang lelah aku tak ingin lalai lagi pada kehamilanku kali ini." Ada kegetiran jika mengingat tentang anak mereka yang sudah tiada, Alexa kerap kali menyalahkan dirinya sendiri di saat mengingatnya.
"Anak Papa sehat selalu di perut Mama, 31 minggu lagi kita akan bertemu. Jadi anak baik ya sayang." Zayn kembali mengusap perut datar istrinya.
"Baik Papa."
Zayn memarkirkan mobilnya di parkiran salah satu kedai bakso. Aroma kuah kaldu langsung menusuk indra penciuman Alexa membuat perutnya langsung lapar saja.
"Kak aku ingin makan bakso paje nasi." Sebelum turun Alexa berujar, ini juga akan menjadi tanda apakah suaminya akan mencarikannya nasi putih karna di kedai bakso itu tidak berjualan nasi.
"Wah, anak baik Papa mulai menunjukan esitensinya ya. Nanti Papa carikan, sekarang kita mencari tempat dulu ya." Zayn berujar lembut ia tak keberatan sama sekali di saat Alexa menginginkan sesuatu, mengingat jasanya dalam mengandung anaknya sangatlah besar.
__ADS_1
Zayn menuntun Alexa dengan hati hati, seakan tak ingin jika calon ibu itu terluka sedikitpun.
"Mau pesan apa? Sayang"
"Bakso telur dan bakso halus."
Zayn memesankan bahkan menitipkan istrinya kepada pemilik kedai, ia ingin membelu nasi putih terlebih dahulu, terdapat beberapa warteg di sana, mungkin Zayn bisa membeli dua bungkus nasi putih.
Saat tengah memesan nasi putih, mata Zayn tak sengaja melihat sepasang suami istri yang tengah makan, istrinya terlihat hamil besar dan tengah memainkan ponselnya, sedangkan suaminya terlihat sibuk menyuapkan makanan ke mulut istrinya juga mulutnya sendiri, Zayn tersenyum sepertinya hal itu akan terjadi juga kepada ia dan Alexa.
Bahkan Zayn masih ingat dengan jelas waktu Alexa tengah hamil anak pertama, wanita itu mengatakan lapar tapi malas menyuap, itu artinya Alexa minta di suapi dengan bumbu bumbu gengsi.
Saat Zayn kembali Alexa terlihat sudah memakan bakso miliknya lebih dulu. "Kak Zayn lama banget sih, aku lapar tau." sungutnya galak.
"Maaf ya, tadi ngantri." ujar Zayn. Wajahnya bahkan kini terlihat berkeringat karna memanh di luar matahari lagi terik teriknya. Keringat sudah membasahi keningnya dan bagian wajahnya. Tangan Alexa terulur mengambil tissue dan mendekat ke arah Zayn kemudian mengelap keringat di wajah suaminya.
"Ya ampun kak Zayn gerah ya. Maaf ya kak Zayn jadi keringetan demi mencari nasi buat aku." Alexa merasa bersalah, terlebih barusan ia menyolot suaminya dengan nada yang sedikit tinggi.
"Enggak papa, sini kak Zayn bisa lap sendiri." Zayn mengambil alih tissue di tangan Alexa. "Sekarang kau boleh lanjut makan." Zayn mengambil satu gelas teh manis miliknya dan meneguknya dalam sekali tegukan setelah mengucapkan basmallah, minumannya langsung tandas hanya menyisakan batu es saja di dalam gelas itu.
"Kak, setelah ini mampir ke supermarket ya. Aku ingin beli susu hamil juga cemilan, dan beberapa banyak buah." Alexa membuka bungkusan nasi yang Zayn bawa.
"Boleh."
Inilah yang Alexa senangi saat dirinya hamil, swtiap hal yang ia inginkan Zayn akan melakukannya, dan akan mengusahakannya tanpa mencari alasan apapun. Jika tengah hamil semua keinginan Alexa bagai mantra adakadabra maka semua inginnya akan menjadi nyata.
"Adakadabra." gunam Alexa pelan. "Kak aku ingin menginap di hotel yang dekat pantai, ingin melihat mata hari terbit dan terbenam sesuai apa yang di ceritakan oleh Hanna."
"Boleh, tapi kita cari pantai yang dekat saja ya." Zayn tak ingin Alexa kelelahan.
"Adakadabra. Aku ingin besok."
__ADS_1
"Boleh, nanti aku atur jadwalnya."
Wah mantra kehamilannya benar benar sangat berguna.