
Hanna diam mengatup di tempatnya duduk. Satu keluarga berjumlah tiga orang mendatangi rumahnya. Hanna akui hari ini Raffa tampil menawan dengan mengenakan baju batik berwarna coklat tua dengan corak berwarna cream.
Tidak banyak hantaran yang mengiringi lamaran ini, hanya beberapa set perhiasan yang menjadi penanda jika Raffa benar benar serius ingin meminang Hanna.
Senyuman manis tersungging di wajah pria berusia sama dengan Zayn itu.
Alexa menyikut Hanna dan berbisik. "Calon suamimu tampan, tapi berhati-hati hatilah dengan adiknya. Aku merasa adiknya sedikit aneh." ujar Alexa. Ia tak nyaman saat pria bernama Raffi menatap wajahnya lekat padahal ini pertemuan pertama mereka.
"Bu, tolong sekalian lamarkan gadis yang duduk di sebelah calon istri Abang. Sepertinya aku tertarik dengannya." Raffi menyunggingkan senyuman yang paling manis yang dirinya miliki, ia merasa jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Alexa.
Zayn yang mendengar hal itu langsung memincingkan nata tajamnya dan berujar datar. "Raffa beri tahu adikmu! Wanita yang dia pikir gadis, yang duduk di sebelah calon istrimu adalah milikku! Dia istriku!" Zayn bahkan menekankan kata istriku di akhir kalimatnya.
Raffi yang menyukai tantangan merasa adrenalinenya tengah di pacu saat mendengar kata istri dari Zayn. Sepertinya memperjuangkan istri orang belum pernah terjadi dalam hidupnya. Lagi pula Raffi seakan tak asing dengan wajah itu.
"Hai, perkenalkan namaku Raffi." Raffi mengulurkan tangannya di depan Alexa, sedangkan Alexa hanya mengangkat satu alisnya heran.
"Aku tidak bertanya." Alexa cukup ngeri dengan tatapan Zayn yang seakan mengancamnya supaya tidak macam macam."
"Raffi. Jaga sikafmu! Wanita itu sudah bersuami." Raffa mengingatkan adiknya.
sekalipun sudah di ingatkan Raffi terus saja memandangi lekat Alexa.
Raffa sangat gantleman sekali. Pria itu dengan fasih menyampaikan niatnya datang kemari untuk melakukan lamaran secara resmi terhadap adik dari temannya. Sudah sejak lama Raffa mengincar Hanna, sejak adik dari temannya itu masih berusia belasan.
Papa Kahfa menerima lamaran resmi itu bahkan tanggal pernikahannya sudah di tentukan sejak beberapa hari lalu.
__ADS_1
"Katakan wahai calon istriku mahar apa yang kau inginkan dariku?" Suara Raffa terdengar lembut membelai pendengaran setiap orang. Bukan hanya Hanna yang terpaku. Begitu pula dengan Alexa.
Ia berpikir berapa mahalnya seorang wanita terhormat, sampai seorang pria yang akan menikahinya bertanyatentang keinginan mahar, yang merupakan harga bagi seorang wanita. Namun apa yang sudah terjadi dengan Alexa, ia hanya hanya wanita murah. Jangankan Zayn bertanya tentang mahar di hari pernikahannya. Alexa tidak mengakan gaun pengantin ataupun baju khusus di hari pernikahannya. Bukan hotel atau gedung yang menjadi tempat bersejarahnya. Hanya kantor urusan agama dan saksinyapun hanya papa dan papa mertuanya. Alexa membatin akan pernikahannya yang sama sekali tak berkesan.
Alexa menunduk dengat kilat kilat yang hendak tumpah entah ia terharu atau justru merasa sedih, dan hal itu tak luput dari perhatian Raffi.
Raffi mengirimkan pesan pada seseorang supaya orang yang ia tugaskan mencari info tentang Alexa Halim yang kini sudah menikah dengan seorang Gus.
"Seorang wanita baik tak akan meninggikan atau mempersulit mahar." ujar Hanna lantang. "Namun seorang pria baik tak akan merendahkan mahar ataupun menyepelekannya. Aku serahkan maharku atas keridhoanmu saja." Hanna berujar tegas. Dan Raffa mengerti apa maksudnya. Ia hanya menganguk mengiyakan.
"Tentu saja. Aku akan memberi mahar yang layak untukmu khumaira." Raffa merasa senang saat Hanna tidak menolak lamarannya.
Sebenarnya Hanna ingin berbicara beberapa hal dengan Raffa. Ia pun meminta ijin kepada Papanya untuk pergi ke halaman belakang untuk berbicara dengan Raffa beberapa waktu. Lagi pula ia tak akan berbuat macam macam, hanya akan membicarakan beberapa hal dengan pria yang merupakan calon suaminya.
Setelah mendapatkan ijin akhirnya Hanna pergi taman belakang rumahnya, bersama dengan Raffa.
"Ada hal penting kiranya yang ingin kau tanyakan kepadaku?" tanya Raffa ia duduk berdampingan dengan calon istrinya tapi tatapannya ke arah lain. Jarak mereka juga lumayan jauh.
"Seperti aku ingin membahas ini sebelum pernikahan. Aku tak ingin jika suatu saat nanti ini menjadi pemicu pertengkaran di kemudian hari."
"Katakan saja. Insya Allah aku akan memberi jawaban yang memuaskanmu." sebenarnya Raffa tengah menebak hal apa yang akan di tanyakan gadis itu kepadanya.
"Bukan aku egois atau tegaan. Tapi aku belum siap menjadi ibu sambung. Rasanya aku tak siap jika semisal putrimu tinggal bersama kita suatu saat nanti aku-"
"Aku tau kecemasanmu. Dan itu tidak akan terjadi Hanna. Tapi jika menginap mungkin sesekali, lagi pula aku sudah memiliki perjanjian dengan mantan istriku juga ayah biologis anak itu." potong Raffa cepat.
__ADS_1
Ayah biologis? Apa maksudnya? Tanya Hanna dalam hati, namun ia tak bertanya lebih jauh, takutnya di nilai terlalu manulatif atau tetlalu jauh ingin mengetahui tentang Raffa, meskipun itu haknya. Tapi seperti kata Alexa jika kita tidak nyaman dengan apa yang kita rasa, kita boleh memilih bertahan atau melepaskan. Dan Hanba akan mencobanya leboh dulu. Hanna juga yakin jika ia tak bahagia baik kak Zayn dan orang tuanya pasti bertindak.
.
Zayn mengepalkan tangannya saat ekor matanya menangkap Raffi masih saja memperhatikan Alexa yang tengah berbincang dengan calon ibu mertua Hanna yang bernama Ibu Murni.
"Nak Alexa tinggal di sini?" tanya Bu Marni.
"Iya Bu. Tapi kadang nginep juga di rumah mama papa juga." ucap Alexa lembut.
"Sayang, tolong ambilkan ponsel mama di ruang kerja suamimu. Sepertinya tertinggal di sana." Mama Lexi mendekat dan meminta tolong kepada Alexa.
"Kak,,, antar aku. Aku takut jika pergi sendiri." Zayn meraih telapak tangan Zayn dan menggoncangnya sedikit.
"Manja." ujar Raffi pelan. "Aku menyukai wanita manja." pelannya.
Seperti biasa Zayn tak banyak bicara ia menuruti permintaan istrinya.
Saat membuka pintu dan memasuki ruang kerjanya Zayn langsung memerangkap tubuh Alexa dalam kungkungannya.
"Apa Raffa membuatmu tersinggung soal mahar?" tanya Zayn ia memperhatikan perubahan wajah Alexa tadi.
"Bukan tersinggung. Aku hanya merasa jadi wanita paling murah di bumi ini." Alexa memalingkan wajah dengan sudut matanya yang basah.
"Karna mahar?"
__ADS_1
"Hmm, kau menikahiku tanpa mahar sepeserpun!" Luruh sudah airmata yang Alexa yang sedari ia tahan.
Dada Zayn tiba tiba merasa terhimpit, seakan ada sesuatu yang menikam hatinya.