Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Hanya boleh mengingat sentuhanku


__ADS_3

Sekuat mungkin Alexa berusaha membebaskan diri dari kuasa Raffi yang sekarang mulai lancang menyentuh tubuhnya. Bibir pria itu dudah terbenam di ceruk lehernya.


"Hemm ..." Alexa terus memberontak dengan sisa tenaganya, di saat Alexa memiliki kesempatan Alexa menghantukkan kepalanya hidung Raffi dengan sekuat tenaga. Hingga Raffi repleks mundur beberapa langkah, dengan hidung berdarah dan itu di pergunakan Alexa untuk membebaskan diri.


Namun hal itu juga sia sia, Raffi berhasil memerangkap Alexa kembali.


"Menyerah saja Alexa. Aku akan bermain lembut denganmu." Raffi menyeka hidungnya yang mengeluarkan darah dengan menggunakan punggung tangannya.


"Najis! Aku lebih baik mati dari pada harus menyerahkan diri padamu." Alexa terus memberontak hingga membuat Raffi kehilangan kesabaran.


Plak ...


Raffi menampar Alexa hingga wajahnya berpaling kearah kanan. "Kubilang diam! Alexa. Jangan menguji kesabaranku." Raffi mengecup pipi yang barusan ia tampar. " Maafkan aku, maafkan aku tidak sengaja melukaimu." Raffi terlihat menyesal, ia sama sekali tak bermaksud menyakiti Alexa.


Beberapa baju Alexa sudah tak beraturan, beruntung ia mengenakan dalaman hingga kelembutannya masih terlindungi.


"Zayn ..."


"Zayn ..."


Alexa terus memanggil nama suaminya. Berharap ada yang mendengarnya meskipun ia sudah nyaris pasrah dengan ke adaan. Kali ini Raffi mengungkung tubuh Alexa di atas lantai. Sudut bibir Alexa juga sudah berdarah bekas tamparan Raffi.


"Teriakan namaku Alexa."


"Namaku Raffi Alexa."


Raffi sudah benar benar bergairah. Ia siap untuk menyalurkan apa yang ia pendam dejak satu minggu lalu. Ini benar benar kesempatan yang baik untuknya.


"Hiks ... Hiks ..."


"Ku mohon lepaskan aku."


Alexa benar benar takut melihat keberingasan Raffi dalam menyentuh tubuhnya dengan liar. Kedua tangannya Alexa Raffi kunci di atas kepalanya, sehingga tangan dan wajah pria itu bebas mencumbu tubuh Alexa.


"Zayn ... Ku mohon tolong aku ..."


"Zayn."


Tiba tiba .


Seseorang menerjang tubuh Raffi yang berada di atas tubuh Alexa.


"Biadabb!" sebuah suara yang menggelegar di antara ke heningan malam. Diantara cahaya remang remang. Sesosok pria menghentikan kebrutalan seorang pemuda.


"Aku tak akan mengampunimu!"


Brakk!!


Bugh.


Bugh.


Entah apa yang di hantamkan ke tubuh Raffi sungguh Alexa tak ingin melihatnya. Metanya tertutup rapat dengan tangan yang memeluk kedua kakinya sendiri. Ia takut sangat takut.

__ADS_1


Tak Alexa rasakan nyeri yang ada di sekujur tubuhnya. ia benar benar menenggelamkan wajahnya di antara lutut yang ia tekuk kuat.


"Beraninya kau menyentuh milikku." Geraman itu terdengar mengerikan di antara teriakan seorang pria yang tengah di hajar habis habisan.


Bugh.


Bugh.


"Kedua mata ini telah lancang menatap tubuh, yang harusnya aku saja yang menikmatinya. Aku takan mengampunimu!" Zayn benar benar terlihat bukan dirinya sekarang. Ia sudah menjadi monster yang mengerikan. Dari tubuh saja Zayn dapat mengusai Raffi dengan mudah, Zayn mencongkel satu bola mata Raffi menggunakan satu telunjuknya membuat Raffi berteriak dengan amat keras sampai membangunkan seluruh penghuni rumah.


"Aaaa ..."


"Aaaa ... Sakittt."


"Ini akan menjadi tanda jika kau pernah melihat milikku dengan paksa."


Zayn tak main main dengan ancamannya tempo hari yang mengatakan akan mencongkel bola mata Raffi dari tempatnya.


"Aaaa ..."


Teriakan itu belum berhenti dengan penuh pesakitan.


"Tanganmu sudah lantang menyentuh milikku!"


Duakk.


Duakk.


Kraak.


Patah, tangan Raffi benar benar di patahkan oleh Zayn. Pemuda itu terkapar di atas lantai dengan darah yang memenuhi wajahnya.


Zayn melirik sebuah gucci di sudut ruangan. Amarahnya benar benar belum padam. Ia tak perduli sekalipun harus melenyapkan pria bajingan yang terlihat tak berdaya yang tak melawannya sedikitpun.


"Aku akan menghancurkan isi kepalamu yang kotor." Zayn mengambil gucci berukuran sedang itu.


Jika saja papa Kahfa dan semua orang tidak datang tepat waktu, sudah di pastikan Zayn akan menghancurkan Raffi dengan gucci itu.


"Zayn ..." mama Lexi berteriak memeluk putra dari belakang di saat Zayn siap melemparkan gucci itu ke arah tubuh Raffi yang bersimbah darah.


"Mama mohon hentikan Zayn." mama Lexi memeluk erat pinggang putranya.


"Istighfar Zayn ..."


"Istighfar." Mama Lexi menangis saat menyaksikan keberutalan putranya yang nyaris melenyapkan seseorang.


Papa Kahfa segera mengambil alih gucci dan ia berikan kepada menantunya Raffa.


"Pria itu biadab Ma. Dia ingin menodai istriku." Setetes air mata lolos di pelukuk matanya ia merasa gagal melindungi istrinya.


Lutut Zayn melemas saat melihat Alexa duduk tak berdaya menyembunyikan seluruh wajahnya di atas lututnya. Zayn kehilangan kekuatannya bahkan untuk menopang dirinya sendiri. Zayn bahkan merangkak untuk menghampiri istrinya yang tengah meraung tertahan teredam kakinya sendiri.


"Maafkan aku. Maafkan aku!" Zayn meraih dan memeluk tubuh bergetar Alexa dalam rengkuhannya.

__ADS_1


Hanna segera menyalakan lampu hingga terang benderang.


"Raffi ..."


Ibu Murni yang baru datang langsung berteriak melihat keadaan putranya yang terkapar dengan darah yang sudah bersimbah di atas lantai. Raffi tidak bergerak sama sekali. Entah pingsan atau bahkan mati.


"Raffa. Bawa adikmu kerumah sakit." Ibu Murni seakan tau apa yang terjadi. Tapi ia tidak bisa membiarkan satu putranya begitu saja.


"Biarkan dia mati Bu! Dia sudah lancang menyentuh istru Gus Zayn." Raffa bahkan menendang kaki Raffi yang tak berdaya.


"Raffa ayo tolong adikmu." Ibu Murni sudah menangis dengan menggoncang pelan tubuh putra bungsunya.


"Ustadz Kahfa tolong!"


"Raffa bawa adikmu!" Papa Kahfa berujar datar. Matanya tak lepas dari Zayn yang kini tengah memeluk tubuh Alexa.


Raffa, dan Bu Murni membawa Raffi ke rumah sakit dengan menggunakan mobil milik Kahfa.


"Alexa. Maafkan aku." Zayn menyembunyikan tubuh Alexa dalam balutan tubuh kekarnya. Alexa tak merespon ia terus menangis. Dengan wajah tenggelam. Alexa merasa malu juga kotor ia tak memiliki wajah untuk sekedar menatap muka Zayn.


Hanna datang mendekat dengan kain yang ia bawa utuk menutupi tubuh Alexa, karna tubuh atasnya nyaris terlihat.


"Alexa sayang." Mama Lexi mendekat mengusap pucuk kepala menantunya. "Semuanya baik baik saja sekarang."


Mama Lexi dapat melihat luka luka di tangan Zayn, bukan hanya lecet, tangan Zayn bahkan mengelupas di beberapa buku tangannya, hingga darah dan buku jemarinya dapat Mama Lexi lihat dengan jelas.


Alexa mengangkat wajahnya. Menampilkan wajah kacaunya, lima jemari tangan masih tergambar jelas di pipi kirinya, dengan sudut bibir yang terluka dan mengeluarkan darah. Wajahnya pun di genangi air mata.


Kahfa mengepalkan kedua tangannya. Melihat menantunya hampir saja di nodai membuatnya kian memuncakan amarah. Ia akan membalaskan semua ini terhadap Raffi, pria itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Papa Kahfa memalingkan wajah dengan seraut menyesal sudah mengijinkan Raffi untuk menginap di rumahnya.


Alexa malu. Sangat malu.


"Stt. Tidak usah katakan apapun."


Zayn membalutkan kain yang di bawa Hanna kemudian membawa Alexa dalam gendongannya dan berlalu memasuki kamar mereka.


"Kak." lirih Alexa pelan.


"Ya aku di sini. Maaf sudah menempatkanmu dalam bahaya."


"Mengapa takdirku seperti ini?" bathin Alexa.


Zayn menutup pintu dengan kakinya. Ia meninggalkan orangtua serta adiknya di ruangan yang hampir saja merenggut harga diri Alexa sebagai seorang istri.


Zayn membuka semua kain. Yang melekat di bagian tubuh atas Alexa. Karna celana yang di kenakan Alexa masih terpasang dengan benar, artinya Raffi tidak menyentuh Alexa sampai ketitik itu.


"Kak. Aku kotor dia, dia menyentuhku!" Alexa terisak dengan suara tertahan.


Zayn mengerjapkan matanya berkali kali. Berusaha membendung air matanya agar tak meluncur begitu saja. Ia terluka saat melihat beberapa ruam di leher dan dada istrinya. Jejak bibir pria itu.


"Dia menyentuhku! Aku tak pantas lagi untukmu." Alexa menangis. Ia mundur menjauh dari Zayn.


"Dimana saja dia menyentuhmu? Aku akan menghapus jejaknya. Lupakan sentuhannya! Kau hanya boleh mengingat sentuhanku saja." Dengan tubuh bergetar Zayn melucuti pakaian Alexa yang tersisa.

__ADS_1


"Ingat! Kau hanya boleh mengingat sentuhanku!" Zayn membenamkan bibirnya di antara belahan bibir Alexa yang terluka.


__ADS_2