
Semua orang benar benar yakin jika Alexa di culik. Titik terakhir keberadaan Alexa yang Adam lacak melalui nomor ponsel Alexa menunjukan di suatu tempat, tempat yang mana rumah itu benar benar rumah kosong setelah betahun tahun di tinggal pemiliknya.
"Ayo kita ke tempat terakhir ponsel Alexa berada, semoga saja Alexa masih berada di sana, atau jika tidak, kita bisa mendapatkan informasi atau petunjuk di mana keberadaan Alexa." Adam segera menutup laptopnya juga bergegas mengambil kunci mobilnya.
"Untuk apa kau mencarinya Ada? Alexa hanya mantan kekasihmu. Kau tak memiliki hubungan lagi dengannya." Ibu Berlian tak mengijinkan putranya turut mencari Alexa, sampai di hari inipun Berlian masih tak menyukai wanita yang piatu sedari kecil.
Ibu Berlian tak suka akan kebebasan Alexa di masa remajanya, itu sebabnya ia tak memberikan restunya kepada Adam, hingga ia gelap mata dan menjebak Alexa.
Bagi Ibu Berlian seorang wanita yang memiliki keluarga tak utuh seperti Alexa tak akan mampu menciptakan keluarga bahagia, contohnya adalah dirinya sendiri.
"Bu, aku harus mencari Alexa. Meskipun kami sudah tak terikat bubungan apapun tapi aku sudah mwnganggap Alexa sebagai saudara perempuanku. Dia baik kepadaku di masa lalu aku lah yang melukainya."
"Terserah, tapi menurut Ibu, kau hanya buang buang waktu saja. Harusnya kau istirahat bukan malah turut serta mencari wanita yang sudah menyakiti hatimu." Ibu Berlian pergi dari sana.
Zayn ikut menumpang di mobil Adam, sedangkan Papa Azam, Aris dan Papa Kahfa menumpang mobil Papa Kahfa yang di kemudikan oleh Aris.
"Kasihan sekali Alexa. Bagai mana keadaannya sekarang?" Adam berucap lirih. "Zayn coba kau ingat ingat kembali barangkali ada seseorang yang tidak menyukaimu?" tanya Adam serius.
"Aku tak tau Dam. Aku tak bisa membaca hati setiap orang." Desah Zayn putus asa.
.
Alexa masih menangis dalam diamnya, ia takut karna tempat itu gelap juga tak ada orang di sana.
Namun beberapa saat Alexa mendengar sebuah suara mobil mendekat ke tempat itu, Alexa juga melihat bias cahaya mungkin ber asal dari mobil itu,
Alexa menghentikan tangisannya, beberapa orang mendekat ke arahnya, di antara perbincangan orang orang itu Alexa dapat mendengar suara seorang wanita.
"Dasar bodoh! kenapa tidak bilang dari tadi jika wanita itu sempat membawa ponsel." Wanita itu terdengar memarahi seseorang.
"Ma-maaf Bos. Saya kira tidak papa karna saya sudah menghancurkan ponsel itu." Pak Ardi membela diri. Sebatang nikotin ia hisap kembali di bibirnya.
__ADS_1
"Kau sangat bodoh!"
Pak Ardi kembali dengan seorang pria bertubuh besar, juga dengan seorang wanita yang mengenakan masker wajah berwarna hitam.
Ketiganya menghampiri Alexa yang masih sesegukan menyisakan tangis yang berusaha ia redam.
"Kau menangis? Kau takut?" Tanya wanita itu.
"Apa inginmu? Mengapa kau menyekapku di sini?" Alexa mendongak menatap wanita juga pak Ardi, sedangkan pria bertubuh kekar itu Alexa abaikan, karna Alexa rasa pria itu hanya suruhan dari wanita itu.
Pria bertubuh kekar itu meletakan sebuah alat penerang berupa senter besar karna dirinya, hendak menyulut sebatang nikotin. untuk sekedar menghilangkan rasa dingin yang menusuk tulangnya.
"Kau bertanya apa inginku? Baiklah - baiklah aku akan mengatakan keinganku. Aku ingin kau dan bayimu mati!" ucap wanita itu seranya menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Alexa. "Aku juga menginginkan suamimu." bisik wanita itu tepat di telinga Alexa.
Tegh ...
Seketika mata Alexa membola, ia menatap wajah wanita yang kini menjauhkan wajahnya dari telinganya. Jika saja wanita itu tak mengenakan masker Alexa pasti bisa melihat wajah wanita itu. Seandainya tangan Alexa tidak terikat, ingin rasanya Alexa menarik masker wanita itu dan melihat sendiri siapa wanita itu?
"Kau ingin tau siapa aku?" Dalam remang remang cahaya senter Alexa dapat melihat wanita bergaun hijau sage itu menunjuk dirinya sendiri.
"Bersabarlah sebentar. Aku akan memberitahu siapa aku, tapi kita harus pergi dulu dari sini."
"Ardi, Asep. Bawa dia!" Sebelum pergi wanita itu sempat menoyor kepala Alexa. Dan langkahnya mendahului para anak buahnya.
Ikatan tangan Alexa di buka oleh seseorang bernama Asep. Ia merasa tak tega melihat wanita hamil yang di sandra oleh majikannya. Sengaja saat melepas ikatan itu, Asep memutuskan gelang emas yang Alexa gunakan.
Alexa ingin memekik karna gelas yang ia di belikan Zayn diputus begitu saja.
"Diamlah! Ini akan menjadi petunjuk." Bisik pria itu. Kemudian menggiring Alexa, juga di temani oleh Ardi. Beruntung pria paruh baya itu tak menyadari bisikan Asep kepada tawanannya.
Tangan Alexa kembali di ikat, kali ini mulut Alexa juga di lakban. Pak Ardi tak ingin mengambil resiko, takutnya Alexa berteriak dan memancing perhatian orang lain saat di perjalanan. Alexa di bawa memasuki mobil berwarna putih dan segera di bawa pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Di perjalanan mobil Pak Ardi sempat berpapasan dengan mobil Adam dan mobil Papa Kahfa. Namun yang Alexa kenali hanya mobil Adam saja. Bagaimana Alexa tidak mengenali mobil Adam, mobil itu kerap kali di pergunakan olehnya selama dua tahun.
"Hmmm ... Hmmm ..." Alexa membrontak dan mencoba menimbulkan suara agar Adam dapat menyadari jika ada dirinya di sana.
"Diam." bentak wanita itu. Seraya membidikan sebuah senjata ke arah Alexa.
"Diamlah Nona. Jangan memancing Amarahnya!" Asep kembali berujar pelan. Ia takut jika bosnya melepaskan satu tembakan ke arah wanita hamil yang tengah bosnya jadikan tawanan.
Alexa langsung diam sembari memeluk perutnya sendiri. Takutnya Wanita itu melayangkan pelurunya.
"Kita harus kemana membawa wanita ini?" tanya wanita itu kepada pak Ardi.
"Kerumah sewaku saja. Kita tak mungkin mencari tempat lain di saat waktu yang sudah malam seperti ini. Besok kita akan mencari tempat lain untuk melenyapkan Alexa. Asalkan jangan di rumahku." ujar pak Ardi kembali. Ia tak ingin rumahnya di jadikan tempat kejadian perkara pembunuhan.
Setelah beberapa waktu sampailah Pak Ardi di rumah sewanya, sebelum membawa Alexa keluar, Pak Ardi memastikan keadaan rumahnya aman, ia memastikan bahwa tidak ada orang lain yang akan melihatnya membawa seseorang.
Pak Ardi dan Asep membawa Alexa memasuki rumah sedangkan wanita bermasker itu mengikuti mereka dari belakang.
Alexa masih di buat penasaran akan wajah di balik masker itu. Alexa seperti tak asing dengan wajah itu.
Pak Ardi kembali mengikat tubuh Alexa di sebuah kursi rotan tang terdapat di rumahnya, tidak hanya tangannya saja yang Pak Ardi ikat, kaki Alexapun tak luput dari dari tali rapia yang sudah Pak Ardi siapkan.
Wanita berambut lurus itu, membuka lakban yang membungkam mulut Alexa, hingga Alexa mengaduh kesakitan.
"Ahh ..."
"Kau ingin tau siapa aku kan?" wanita bermasker itu mendekat, "Aku akan menunjukan siapa aku sebenarnya sesuai janjiku. Karna kau tak boleh mati penasaran, sebelum aku yang menjadi penyebab kematianmu." wanita itu semakin mendekat kemudian melepas maskernya secara perlahan menunjukan seluh wajahnya, dengan senyuman sinis yang ia sunggingkan.
"Kau ..."
Suara Alexa tercekat, wajah menunjukan ketidak percayaan. Alexa tak mengerti dengan kenekadan wanita di hadapannya yang di luar batas.
__ADS_1
Alexa tak menyangka jika wanita itu menjadi dalang dan bekerja sama dengan pak Ardi. Rupanya orang orang yang Alexa kira baik ternyata tak lebih dari penjahat.