
"Kak, aku terlihat sangat jelek dengan rambut yang seperti ini." Alexa menatap pantulan dirinya di depan cermin kamar mandi rumah sakit.
"Mana ada seperti itu. Kau sangat cantik. Biar ku rapikan rambutmu. Tunggu sebentar di sini." Zayn keluar, kemudian kembali setelah beberapa saat pergi dengan sebuah gunting serta sebuah sisir di sebelah tangannya.
"Apa Papa sudah sadar?"
"Sepertinya sudah, kita rapikan sebentar rambutmu setelahnya kita lihat Papa." Zayn mulai menyisir rambut Alexa dan meggunting dengan perlahan, tangan Zayn bahkan bergetar saat mulai menggerakan gunting dalam genggamannya. Padahal semalam tangannya dengan brutal menghajar Letia juga membuat wanita itu gundul, tapi saat ini di kala dirinya hendak merapikan rambut Alexa, tangannya tak tega seluruh sendinya seakan di bekukan sehingga Zayn kesulitan untuk menggerakan jemarinya.
Mata Zayn juga memanas cairan bening itu tak kuasa Zayn tahan, sehingga membasahi seluruh wajahnya.
"Kak. Kau bak baik saja?" Alexa bertanya, karna hanya melihat Zayn yang mematung di belakang tubuhnya, padahal baru beberapa helai rambut saja yang baru dirinya gunting.
Zayn menunduk dalam, bahkan dagunya sampai menyentuh lehernya sendiri. Zayn terisak, nafasnya terdengar tak beraturan.
"Maafkan aku." Zayn berpindah, merubah sedikit posisi tubuhnya, juga membalik kursi roda yang tengah Alexa duduki. Di atas lantai kamar mandi Zayn dudukan tubuhnya dengan kepala yang Zayn sampirkan di pangkuan Alexa.
"Maafkan aku, karna kurang hati hati dalam menjagamu. Kau harus menerima beberapa perbuatan yang tak menyenangkan dari orang lain padahal kau tak bersalah sama sekali. Maafkan aku karna kau harus terluka berkali kali karna kelalaianku." Kemudian Zayn membenamkan kepalanya di pangkuan istrinya, sungguh Zayn belum pernah menganggap sesuatu seberharga Alexa. Hanya Alexalah yang menurutnya harta yang paling berharga.
"Hey. Jangan menangis." Alexa mengangkat kepala Zayn, menahan wajah Zayn agar tetap mendongak menatapnya. Alexa tak mengeluarkan air matanya sama sekali, di wajahnya hanya terdapat beberapa memar, sudut bibir yang terluka, serta satu perban di keningnya.
"Aku baik baik saja, kak. Semua luka ini akan sembuh dalam beberapa hari. Begitupun dengan rambutku, ini akan kembali panjang. Tidak usah menyalahkan dirimu sendiri atas kemalangan yang menimpaku. Ini takdhir Allah, dengan selamatnya diriku juga anakku aku merasa bersyukur." Alexa kecup lama kening Zayn yang terasa lembab oleh keringat.
Omong-omong soal anak, Zayn belum mengabarkan jika Alexa mengandung anak kembar.
dengan segera Zayn menghapus air matanyanya. "Sayang di dalam sini." Zayn menyentuh perut Alexa yang sudah terasa membuncit. "Ada dua janin yang tengah tumbuh. Kita akan memiliki dua bayi sekaligus." Mata Zayn bahkan berbinar saat mengatakan kabar bahagia itu.
"A-aku hamil kembar? Maksud kak Zayn begitu?" Mata Alexa bahkan berkaca kaca saat bertanya hal itu.
"Ya, Sayang. Kau hamil anak kembar, mereka dalam keadaan sehat. Mereka anak yang halal kau tak perlu mempertanyakan setatusnya saat dia lahir nanti. Allah tengah menghibur kita, mengganti bayi pertama kita yang telah tiada. Meski begitu aku tetap mengenangnya sebagai anak pertama kita."
"Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah. Maha suci engkau yang sudah mempercayai kami." Alexa mengucap syukur atas apa yang Tuhan limpahkan untuknya.
__ADS_1
"Terimakasih, karna kau bersedia menjadi istriku serta mengijinkan benih benihku untuk tumbuh di rahimmu. Aku mencintaimu khumairaku." Zayn mengecup kedua tangan Alexa bergantian.
"Kak, cepetan rapikan rambutku." Alexa meminta Zayn memotong rambut miliknya. Zayn yang tak tega memotong rambut Alexa akhhirnya meminta tolong kepada Janna untung mengguntung rambut istrinya. Rambut Alexa sekarang sangat pendek hanya sebatas telinga saja, meski begitu Alexa tetap terlihat cantik di mata Zayn.
Zayn dan Alexa menemui Papa Azam yang sudah tersadar. Papa Azam mengatakan banyak ucapan penyesalan terhadap putri satu satunya, juga berjanji akan menjadi seorang ayah yang lebih baik lagi.
.
Tiga bulan telah berlalu.
Usia kandungan Alexa kini sudah menginjak usia 24 minggu. Perut Alexa terlihat sangat besar dari kehamilan pada umumnya, karna memang di perutnya terdapat dua janin yang tengah tumbuh.
Zayn dan Alexa kali ini tengah berada di bali. Mengikuti keinginan Alexa yang beberapa bulan lalu memintanya. Namun karna beberapa pertimbangan Zayn baru kali ini mengabulkan keinginan istrinya.
Indahnya langit sore menemani kedua pasangan suami istri yang tengah di landa suka cita. Di balut dengan kebahagiaan.
Warna langit di senja kali ini berwana jingga kemerahan. Membuat Alexa betah betlama lama berada di teras penginapan.
"Senja kau akan menjadi saksi. Mulai hari ini aku tak akan lagi meragukan cinta pria nakalku." Lexa berteriak di antara angin sore serta deburan ombak yang tak jauh dari mereka berada.
Keduanya menyaksikan mata hari terbenam.
"Sayang ayo masuk, mata hari sudah terbenam. Aku juga ingin membenamkan diriku pada dirimu." Kumat lagi kemesuman Zayn yang hanya pria itu tunjukan pada Alexa.
Seperti apa yang Zayn ucapkan, selepas shalat maghrib keduanya memadu kasih, bercinta di hari pertama mereka berlibur di bali.
Nafas keduanya saling berlarian karna mereka baru saja mencapai nirwana.
"Kak, setelah anak anak lahir aku ingin mengadakan resepsi pernikahan kita. Aku ingin menciptakan moment untuk kisah kita." Alexa berujar sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun.
"As U Wish Sayangku." Zayn mengecup kening istrinya.
__ADS_1
"Semakin hari, kau semakin membuatku bergairah dengan tubuh seksimu." Zayn berujar di antara nafasnya yang memburu. Ia masih di landa kenikmatan yang baru saja ia raih beberapa waktu lalu.
"Kak, Shalat isyanya nanti dulu ya. Aku lelah." ujar Alexa.
"Ya. Kau tidurlah lebih dulu. Aku akan membersihkan diri."
"Kak dongengkan aku sebuah kisah." Alexa menaruh kepala berambut pendeknya dada Zayn.
"Tapi sebentar ya, aku harus mandi dan shalat." Zayn mengusap rambut pendek Alexa.
"Kau pernah mendengar kisah seorang pria bernama Hanzhalah?"
"Tidak. Siapa dia?" tanya Alexa.
"Beliau adalah salah seorang pria yang meninggal dalam keadaan syahid, dalam suatu peperangan." Zayn berucap bembut.
"Hanzhalah baru saja menikah dan baru saja selesai melakukan malam pertama saat ada panggilan untuk berjihad. Beliau masih dalam keadaan junub saat langgilan itu datang, sehingga Hanzhalah tak sempat untuk mandi wajib." Alexa terlihat serius mendengarkan kisah Hanzhalah yang Zay ceritakan kepadanya.
"Beliau langsung pergi berjihad tanpa melakukan mandi wajib terlebih dahulu. Hanzhalah pergi berperang dan meninggal dalam keadaan Syahid. Lalu Rasulullah memalingkan wajahnya saat melihat jenazahnya, karna Rasulullah melihat ada bidadari yang tengah memandikan jenazahnya." Zayn mengusap punggung polos Alexa.
"Masya Allah. Mulia sekali ya kak, orang orang jaman Rasul." Alexa berdecak kagum.
"Dudah ngantuk belum?"
"Ceritakan satu kisah lagi kak, tentang Rasulullah." minta Alexa.
"Baiklah. Hanya satu lagi, setelahnya aku harus shalat isya, ini sudah hampir pukul sembilan."
"Ya, hanya satu kak."
"Rasulullah yang pulang kemalaman pernah tidur di balik pintu karna tak ingin mengganggu waktu istirahat istrinya siti Aisyah, tanpa beliau ketahui Aisyahpun tidur di balik pintu itu karna menunggu kepulangan suaminya. Alangkah indah cinta yang seperti itu."
__ADS_1
Zayn sudah mengatakan sedikit keromantisan cinta Rasululah dengan siti Aisyah, tapi istrinya tak merespon apapun. Dan saat Zayn lihat rupanya Alexa sudah terlelap di sebelahnya.
"Benar benar seperti anak kecil. Seyelah di dongkan langsung tidur. Kau seperti anak anak yang pandai membuat bayi."