Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Jadilah penyembuh untuknya


__ADS_3

"Mau pulang sekarang?" tawar Zayn seraya melepas pelukannya.


"Aku-." Alexa terlihat ragu.


Alexa mengusap seluruh wajahnya yang basah menggunakan lengan bajunya. Alexa terlupa jika dirinya tengah marah dengan Zayn, bisa bisanya Alexa malah minta di sambat oleh Zayn.


"Ga jadi, kau jahat juga kepadaku tadi." Alexa mendorong tubuh Zayn agar menjauh dari hadapannya.


"Alexa maafkan Papa ya." Papa Azam berujar tulus. "Papa berdosa karna mengabaikanmu. Papa pikir kau baik baik saja selama ini. Rupanya kau begitu menderita Nak. Maaf karna Papa menyia nyiakanmu sedari kau kecil."


Ingin rasanya Alexa menyahuti. 'Apa dengan maaf papanya bisa merubah atau memperbaiki masa kecil Alexa yang terlanjur kacau dan berantakan. Tidak kan?' tapi Alexa tak sekeras itu ia kerap kali luluh jika di bujuk atau ketika seseorang mengatakan maaf, Alexa selalu memaafkan. Hanya pada Zayn saja Alexa bisa jual mahal, hanya pada pria itu Alexa akan berlagak merajuk.


Alexa mengangguk pelan. "Alexa tak kuasa untuk merevisi masa kecil Alexa sekalipun Alexa keras hati." ucapnya serak di sertai cegukan kecil.


"Maafkan Papa. Papa menyesal karna mengabaikanmu, papa menyayangimu." Satu kecupan Papa Azam berikan di atas kepala putrinya. "Semoga Allah melimpahimu dengan ke bahagiaan. Zayn tolong bahagiakan putriku!"


"Ya Pa."


Alexa meraih makanannya dan menyuapkannya dengan malas ke dalam mulutnya, meskipun ia tengah bersedih bayinya butuh nutrisi, ia tak bisa lalai dan membiarkan bayinya kelaparan begitu saja.


Zayn sudah berkaca kaca menatap Alexa, ostrinya memang sangat lembut, wanita itu tak akan bisa marah terlalu lama kepada orang lain. Zayn mengambil alih piring dari pangkuan Alexa beserta sendok yang istrinya genggam.


"Aku tak ingin di suapi olehmu!" Alexa bersungut tak suka dengan mata yang mendelik.


"Siapa juga yang mau menyuapimu. Aku ingin menyuapi bayiku, aku tak ingin mengabaikan bayiku sekalipun mamanya tengah marah."


Alexa diam dengan kening yang berkerut dalam. juga dengan bola mata yang berputar malas sampai sampai bola mata Alexa terlihat juling.


"Aaa, buka mulutmu." Zayn menyuapkan makanan sesuap demi sesuap sampai makanannya habis. Ini yang Zayn sukai dari Alexa meski marah wanita itu menurut apa inginnya.


"Ga enak makanannya. Orang aku pengennya makanan kondangan." gerutu Alexa sebal.


"Tak enak kok habis." Mama Green tiba dengan sepiring buah potong di tangannya.


"Kewajibanku untuk memastikan bayiku tidak kelaparan Ma. Aku akan memastikan anak anakku nanti tak akan mengalami apa yang pernah ku rasakan dulu. Aku akan memberikan cinta dan kasih sayang untuknya, aku akan memastikan tumbuh kembangnya" Alexa mengusap perutnya sendiri. "Kak kau juga harus terlibat dalam pengurusannya." Kalimat itu seakan menyindir papa Azam. Hingga pria paruh itu menunduk sedih.


"Tentu Alexa. Insya Allah aku akan menemani tumbuh kembang anak anak kita nanti. Aku ingin menjadi ayah yang baik seperti Papa Kahfa. Aku beruntung Alexa, meski papa Kahfa Papa sambungku, tapi kasih sayangnya penuh terhadapku. Beliau sangat bijaksana dan penyayang sebagai seorang ayah." Zayn mengatakan yang sebenarnya. Ia amat bangga terhadap papanya.

__ADS_1


"Alexa kita pulang ya. Besok saja menginapnya, aku benar benar harus berangkat pagi besok. Ada beberapa hal yang tak bisa ku tunda." Zayn membujuk Alexa. Sedangkan Alexa hanya mengedikkan bahunya acuh.


"Pulanglah lebih dulu aku ingin menginap di sini, nanti jika aku sudah tak kesal padamu aku akan menghubungimu untuk menjemputku." Alexa memakan buah yang di bawakan oleh Mama Green dengan santai.


Ponsel Zayn berbunyi. Ada seseorang yng menghubunginya, rupanya Papa Kahfa yang menyuruhnya pulang. Ada beberapa hal yang harus Zayn selesaikan sehingga dengan berat hati Zayn meninggalkan Alexa di rumah mertuanya.


.


Malam harinya Zayn kesulitan memejamkan matanya saat hendak tertidur lebih, padahal ia sudah terbaring di ranjangnya lebih dari satu jam yang lalu. Zayn meraba sisi kosong disampingnya, tiba tiba saja matanya terasa perih. Cairan bening itu menyeruak begitu saja dari celah matanya, sungguh Zayn baru kali pertama ini merasa merindukan seseorang sampai begitu nyata.


Dada Zayn berdenyut nyeri jika seandainya ia harus melalui malam malam tanpa Alexa, sungguh wanita aneh itu membawa pengaruh yang sangat besar terhadapnya, yang mana Zayn akan terlelap dengan sangat nyenyak saat bersama wanitanya. "Alexa aku tengah merasakan sakitnya merindukanmu." Zayn memejamkan mata, namun cairan bening terus saja merembes dari matanya.


"Ya Allah seindah ini kau menciptakan perasaan cinta untukku. Rasa yang tak pernah ku miliki pada siapapun, masya Allah kau maha pembulak balik hati manusia. Ijinkan agar rasa ini tetap ku miliki untuknya hingga akhir hayatku." Zayn beringsut dari tidurnya. Kamarnya terasa tak nyaman saat tanpa ada Alexa di sisinya. Ia harus menemui penawar rindunya, atau jika tidak sampai besok pun ia akan ter jaga tanpa memejamkan mata.


Zayn bergegas membuka lemari untuk membawa pakaian kerja serta beberapa dokumen miliknya, ia juga memasukan laptopnya ke dalam tas ransel miliknya. Ia akan membawa motor, agar esok pagi tidak terjebak macet karna memang Zayn tak berdusta mengenai pertemuan pentingnya esok pagi.


Sebelum pergipun Zayn mengetuk pintu kamar Orang tuanya, ia akan mengabari Papa Kahfa terlebih dahulu.


Tok ...


Tok ...


"Ya Tunggu." Suara Papa Kahfa terdengar dari dalam.


Cukup lama Zayn menunggu hingga Papa Kahfa keluar dengan tubuh berkeringatnya.


"Ada apa Zayn?" tanya Papa Kahfa. Zayn menyipitkan mata penuh selidik, seakan mengerti tatapan putranya Papa Kahfa tersenyum bersahaja.


"Maaf Zayn. Barusan Papa lagi nanggung."


"Sudah Zayn duga." tentu saja pria dewasa itu mengerti jika Papa pasti habis bersenang senang dengan Mamanya.


"Zayn akan pergi mengunjungi Alexa. Zayn benar benar tak bisa tidur, entahlah Alexa seperti meneror otak Zayn. Tapi Zayn akan pimpin rapat esok pagi Papa tidak usah khawatir. Zayn pamit Pa, sampaikan juga sama Mama. Akan tidak sopan jika Zayn masuk ke dalam."


"Kau pengertian sekali. Papa habis mencoba kursi hadiah darimu."


"Wah papa nyolong start, Zayn bahkan belum mencobanya Alexa lebih suka di atas ranjang."

__ADS_1


"Kapan kapan kau perlu mencobanya kursinya Zayn sensasinya berbeda." Bisik Papa Kahfa.


"Zayn pamit Pa. Assalamualaikum." Zayn tak ingin tercemari dengan kalimat Papanya, bisa bisa otak kotornya kembali bekerja dan ingin menyergap Alexa padahal situasinya tengah tidak tepat.


.


Alexa sendiri tidak merasakan apapun ia tidur dengan sangat nyenyak tanpa memperdulikan ketidak hadiran Zayn, justru ia merasa bebas karna tempat tidurnya terasa sangat lapang.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Zayn tiba di rumah mertuanya, karna ia memajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Zayn memarkirkan motornya di depan rumah. Dari atas motor Zayn dapat melihat Papa Azam tengah memandangi sebuah Album. Namun sepertinya Papa Azam terlalu pokus akan kegiatannya meneliti gambar demi gambar, juga halaman demi halaman di album itu. Terdengar isakan khas seorang pria, ya Papa Azam tengah menangis. Menangisi sesuatu yang ada sangkutannya dengan album tersebut.


Beberapa kali Zayn mengucapkan salam, namun papa Azam tak mendengar ataupun menyahuti salamnya. Papa Azam terlalu fokus dengan kegiatannya.


"Papa sedang apa?" Zayn turut duduk di sebelah Papa Azam, meletakan ransel yang ia bawa di sampingnya.


"Zayn." Papa Azam segera menghapus air matanya, maniknya terlihat memerah. Zayn bisa pastikan jika Papa Azam menangis dalam kurun waktu yang cukup lama.


"Kapan kau datang?"


"Barusan. Papa sedang apa?" Zayn kembali mengulang pertanyaannya.


Papa Azam malah menunduk, menunjukan album lama disana.


"Kau lihat? Alexa sangat cantik, tapi sepertinya Papa lupa kapan terakhir kali menatap lekat wajahnya sebelum hari ini. Ini adalah hari saat akikah Alisa. Saat semua orang bersuka cita, sepertinya gadis kecil ini yang bersedih, kau lihat rambutnya yang tidak tersisir rapih." Papa Azam menunjuk seorang gadis kecil dengan rambut tak beraturan juga dengan raut sedih dan tanpa senyuman di saat menyambut kehadiran adik bayinya.


"Di foto itu Alexa habis menangis karna Papa omeli, dia sangat lelet dan tidak menyisir rambutnya sendiri padahal acara telah di mulai. Papa memarahi Alexa karna di umurnya yang delapan tahun dia tidak menyisir rambutnya sendiri. Papa juga menyentil telinganya saat dia minta di sisir oleh papa padahal kala itu papa tengah menggendong Alisa kecil. Papa masih mengingat raut sedihnya, dia pergi dengan sebuah sisir juga satu ikat rambit di tangannya. Sekejam itu papa padanya." tangis Papa Azam semakin menjadi. Sedangkan Zayn mencoba mengingat acara akikah Alisa, umurnya kala itu sudah 15 tahun.


Zayn mengingat Alexa kecil menangis di balik pohon mangga di rumah Papa Azam dengan ikat rambut dan sisir di tangannya. Zayn mencoba menghibur Alexa, Alexa kecil menceritakan penyebabnya menangis. Zayn yang sejak dulu kaku mebcoba menghibur Alexa dengan menyisir dan mengikat rapi rambut bergelombang Alexa, hingga gadis itu mengembangkan senyumannya.


"Namun setelahnya dia pergi Alexa kembali dengan senyuman ceria di wajahnya, sangat polos dirinya juga sangat pemaaf seakan tidak terjadi sesuatu diantara Papa dan dirinya. Dia mengecup Alisa yang tertidur di gendongan Papa hingga Alisa bangun dan menangis, Papa kembali memarahinya karna jika Alisa menangis akan sangat lama diamnya, papa juga sempat membentaknya hingga Alexa kecil pergi dengan sedih dari acar, dia mengurung diri di kamarnya hingga acara selesai Alexa tak menampakan diri. Bahkan hingga keesokan harinya dan seterusnya Alexa tak pernah mendekat lagi kepada Alisa saat ada papa. Bahkan hingga mereka besarpun. Alexa akan segera menjauh dari Alisa saat ada Papa. Baru papa mengerti sekarang. Alexa benar benar terluka dan kesakitan akan tindakan Papa. Banyak hal lain yang kerap kali perlakuan Papa melukai Alexa. Papa menyesal, seandainya bisa waktu Papa tarik mundur, akan Papa perbaiki semua yang papa lakukan padanya." Papa Azam menangis tergugu di tengah malam.


"Ya Allah, Alexaku benar benar mengalami kesakitan yang luar biasa dari orang terdekatnya. Lalu sekokoh apa hatinya hingga Alexa selalu menaburkan senyumannya." bathin Zayn bergunam.


"Papa tak bisa memberikannya kebahagiaan dan rasa aman. Tolong ciptakan rumah tangga yang bahagia untuknya, jangan melukai fisik dan perasaannya, karna Papa lebih dulu sudah melakukannya. Kau hanya boleh memanjakan dan membahagiakannya. Dia cantik dia baik Zayn perlakukan putriku sesrmpurna mungkin. Papa mohon. Ini permintaan dari seorang Papa yang gagal menjadi seorang ayah untuk putrinya." Papa Azam menggenggam tangan menantunya.


"Tanpa Papa mintapun Zayn akan berusaha memberikan kebahagiaan untuk Alexa. Zayn tak berjanji jika hubungan kami akan selalu mulus, tapi Alexa tak akan terluka saat bersama Zayn. Akan Zayn pastikan Alexa tak akan kekurangan apapun saat menjadi istri Zayn. Materi, cinta dan kasih sayang akan Zayn limpahkan semua itu terhadapnya. Itu janji Zayn dan papa bisa menyaksikannya sendiri. Hiduplah dengan umur panjang agar Papa bida melihat kebahagian di hidup putri tunggal papa." Zayn memeluk Papa mertuanya, gal itu membuat bathin Papa Azam sedikit tenang.

__ADS_1


"Cinta pertamanya melukai juga sudah membuat Alexa sakit. Maka jadilah obat untuk menyembuhkan Alexa dan semoga kau menjadi cinta terakhir untuknya."


__ADS_2