Terjebak

Terjebak
Part 10 Rahasia Intan


__ADS_3

“Oh, sial! sepertinya pagi ini aku akan terlambat lagi! gumam Voni seraya menatap jam dinding yang tergantung di hadapannya. “Terlambat lagi, terlambat lagi, kau pasti akan di maki oleh Pak Aswadi, Voni,” gerutu gadis itu seraya bergegas mengganti pakaiannya. Sial…sial…!”


Voni tak henti-hentinya memaki dirinya sendiri, serta berjalan mondar mandir tak tentu arah. Walau demikian Voni tetap berangkat kesekolah pagi itu.


Dari sudut ruangan kelas 1A, Voni mendongakkan kepalanya, untuk mengintip dari balik kaca nako sekolah. Dengan perlahan Voni melihat kedalam, apakah guru masih mengajar atau sudah pergi.


“Oh, syukurlah, Pak Aswadi sudah pergi, kalau nggak pasti telinganya akan mengembang dan marah pada ku,” gumamnya pada diri sendiri.


“Hai Voni!” sapa Nita teman sebangkunya.


“Hai!”


“Sepertinya hari ini kau terlambat lagi ya?”


“Iya, benar. Aku semalam begadang dan terlambat bangun Nit.”


“Ooo, begitu.”


“Gimana pelajaran Bahasa Indonesia yang barusan, apakah kita ada PR atau nggak?”


“Ada Voni. Membahas pelajaran Bahasa Indonesia senin kemaren yang belum tuntas, sekarang pun masih belum tuntas dan di jadikan PR oleh Pak Aswadi.”


“Apakah Pak Aswadi, bertanya tentang aku Nit?”


“Iya, tapi David langsung menjawabnya.”


“Apa jawaban dari David?”


“Pasti kau ketiduran lagi, akibat begadang semalaman.”


“Huuh, anak itu selalu saja ikut campur urusan ku.”


“Sudah! tuh Bu Mirna udah datang,” tunjuk Nita kearah pintu ruangan kelas.


“Melihat Bu Mirna masuk, semua siswa tampak diam sejenak. Lalu beberapa pasang mata pun saling beradu pandang, satu sama yang lainnya.


“Ada apa anak-anak?” tanya Bu Mirna memecah kebuntuan suasana.


Seluruh siswa tak ada yang menjawab, mereka semua tampak diam, hal itu membuat Bu Mirna merasa heran dengan kebisuan itu. namun dia hanya mengabaikannya saja.


“Apakah ada yang absen hari ini?”


“Tidak Bu!” jawab siswa serentak.


“Yang terlambat apa ada?” lanjut Bu Mirna kemudian.


Seluruh siswa tak ada yang berani buka mulut, hanya mata mereka saja yang melirik kearah Voni. Melihat gelagat semua siswa yang mencurigakan itu, Bu Mirna juga ikut-ikutan melihat pada Voni dan bertanya.


“Ada Voni? kenapa semua teman-teman menatap ke arahmu?”

__ADS_1


“Nggak tahu, Ibu tanya aja pada mereka , kenapa pandangan matanya mengandung kecurigaan.”


“Ada apa anak-anak? kenapa dengan Voni?”


“Nggak usah Ibu tanya lagi, paling mereka semua ketakutan buka mulut.”


“Kenapa kalian takut, menjawab pertanyaan Ibu?”


“Kenapa mesti diam, jawab dong pertanyaan Bu Mirna!” tantang Voni dengan suara yang lantang.


Voni yang saat itu sedang marah pada David, berusaha melirik mata David, namun anak itu tampak tertunduk takut.


“Ya sudah, kalau kalian nggak ada yang mau bicara, nggak apa-apa, sekarang mari kita lanjutkan pelajaran kita hari ini.” lanjut Bu Mirna seraya duduk di depan kelas. “Tolong kalian buka buku panduan kalian pada halaman 50 Bab 1.


Mendengar perintah dari Bu Mirna, seluruh siswa langsung membuka buku panduan mereka dan mencari halaman yang di maksudkan Bu Mirna.


“Apakah sudah ketemu?”


“Sudah Bu…!” jawab siswa serentak.


“Hari ini kita akan membahas pelajaran tentang, perkembangbiakan tanaman.”


Seluruh siswa tampak diam mendengarkan Bu Mirna menerangkan di depan kelas, termasuk Voni, dia juga ikut berkonsentrasi penuh mendengarkan penjelasan dari Bu Mirna.


Tak terasa dua jam pelajaran telah usai, seluruh pelajaran telah selesai di bahas, bel untuk istirahat pun berdering, semua siswa berhamburan keluar kelas. Mereka semua berpencar, ada yang ke kantin, ada yang nongkrong di parkiran dan ada pula yang tetap tinggal di dalam kelas.


Saat itu mereka semua sedang mengerjakan soal IPS bersama Pak Tino, sepertinya soal yang di berikan Pak Tino begitu sulit, sehingga tak satu pun di antara mereka yang bisa menjawabnya.


“Gimana anak-anak! apakah udah siap?” tanya Pak Tino ingin tahu.


“Belum Pak!” jawab seluruh siswa serentak.


“Kalau begitu kalian lanjutkan aja di rumah, kamis depan tolong kalian kumpulkan di meja Bapak.”


“Baik Pak.”


Ketika Pak Tino sedang bersiap-siap, Intan masih tetap berada di dalam kelasnya, saat itu Lesti berusaha untuk mengajaknya belanja di kantin tapi Intan menolaknya.


“Ayolah, Intan!”


“Kamu duluan aja ya Lesti, soalnya aku lagi malas keluar.”


“Benar, kamu lagi malas keluar?”


“Benar. Ntar lagi, kalau aku udah siap, aku pasti menyusul kok.”


“Baiklah, kalau begitu aku duluan ya?”


“Iya, bay!”

__ADS_1


“Bay juga Intan,” jawab Lesti seraya berlari keluar kelas.


Saat itu hanya Intan dan Pak Tino yang masih tertinggal di dalam kelas 2B. lalu Pak Tino menghampiri Intan yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.


“Nanti malam datang ke rumah Bapak ya Intan.”


“Baik Pak,” jawab Intan pelan.


Ketika Pak Tino udah menjauh, Indah datang menghampiri Intan, yang saat itu sedang tersipu malu, karena di suruh Pak Tino ke rumahnya.


“Awas!” ledek Indah seraya mencolek hidung Intan.


”Ah, apa-apaan kau ini Indah, emangnya kenapa, kalau Bapak itu menyuruh ku datang ke rumahnya?”


“Apakah ada rahasia yang nggak aku ketahui Intan?”


“Rahasia apa sih, Indah, kau ini kepo banget urusan orang lain.”


“Tentu dong, kalau terjadi sesuatu pada mu nanti, pasti aku dan Lesti yang akan di marahi oleh Papamu.”


“Udah, udah! ayo kita ke kantin, Lesti udah nungguin di sana!” ujar Intan untuk memalingkan pertanyaan Indah.


“Ayolah!”


Tak ada yang tahu tentang hubungan Intan dan Pak Tino, baik Indah mau pun Lesti. Karena Intan begitu pandai menyimpan rahasia yang telah di bungkusnya dengan rapi.


Malam itu saat seluruh para penghuni kos sedang asik belajar, Intan diam-diam pergi kerumah Pak Tino, dengan tenang dan santai.


Di ruang kamar rumah dinasnya, Tino telah menantikan bidadarinya dengan jantung berdebar-debar. Dari arah luar, tiba-tiba pintu kamar Tino di ketuk, oleh Intan. Tanpa berfikir panjang, Tino langsung bergegas keluar untuk membukanya serta mempersilahkan Intan masuk.


“Wow, ruangan Bapak tercium wangi sekali malam ini,” ucap Intan.


“Tentu dong, karena yang akan masuk kedalamnya seorang putri cantik yang jelita.


“Ah, Bapak,” jawab Intan tersenyum malu.


“Ssst! ayo cepat masuk, nanti kelihatan orang lho!”


“Iya, ya! cemas banget!”


Merasa tak sabar, Tino langsung saja memeluk tubuh anak didiknya dengan lembut, Tino tak ingin buang-buang kesempatan yang ada di depan mata.


“Hmm…!”


Saat itu Intan hanya bisa merasakan nikmatnya berada di dalam pelukan guru IPS itu. lama mereka bercumbu mesra, saling melepas kerinduan mereka masing-masing. Setelah malam semakin larut, barulah Intan pulang ke rumah kosnya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2