Terjebak

Terjebak
Part 12 Hukuman untuk Voni


__ADS_3

“Udah cukup, kalau kau bertanya lagi, maka akan ku tonjok mulut mu itu,” ujar Voni yang langsung melayangkan pukulannya ke pipi Yerni.


“Aw…!” merasa sakit, lalu Yerni menangis histeris di bangkunya.


“Lain kali, kalau mau ngomong, pikirkan dulu, kalau nggak ingin kena bogem mentah dari ku.”


Melihat kejadian itu, semua anak-anak datang berkumpul, mereka semua ingin tahu, apa yang telah terjadi antara Voni dan Yerni.


“Pergi kalian semua!” bentak Voni keras.


Semua siswa yang tak ingin mendapat masalah, mereka lebih memilih menghindar dan seperti tak melihat apa-apa.


Tak berapa lama setelah perdebatan kecil itu terjadi, Kepala sekolah datang ke kelas mereka, saat itu Kepsek melihat tak ada guru di kelas 1A.


Melihat Kepsek menghampiri kelas mereka, beberapa murid yang berada di luar langsung masuk dan duduk di bangku masing-masing.


“Kalian nggak ada guru?”


“Nggak Pak!” jawab siswa serentak.


“Siapa guru kalian rupanya?”


“Pak Aswadi Pak.”


“Kemana dia?”


“Kabur!” jawab seluruh siswa.


“Kabur? kabur bagai mana maksud kalian?”


Ketika Kepsek bertanya, mereka semua langsung terdiam, tak seorang pun yang berani buka mulut. Akan tetapi, seluruh pandangan mata langsung tertuju pada Voni.


“Lhoh, kok pada diam? tadi Bapak lihat kalian begitu semangat bilang, kalau guru kalian kabur, lalu saat Bapak tanya, kok kalian malah pada diam?”


Mesti Kepsek sudah dua kali bertanya, mereka semua tetap memilih bungkam, tapi karena pandangan mata mereka semua selalu tertuju pada Voni, Kepsek jadi ikut-ikutan menatap kearah Voni.


“Ada apa dengan nya?” tanya Kepsek pada seluruh siswa.


Namun tak ada jawaban saat itu, semua siswa hanya terdiam.


“Siswa baru?”


“Nggak Pak,” jawab Voni pelan.


“Kayaknya Bapak baru melihat mu?”


“Udah lima bulan Pak.”


“Ooo, berarti kamu termasuk siswa baru di sini, sekarang coba kamu jawab pertanyaan dari Bapak, kenapa semua teman menatap kearah mu. Pasti ada sesuatu yang ingin mereka ungkapkan tapi mereka nggak berani, takut barang kali.”


“Ada apa? kenapa kalian memandangi ku? jawab dong!”


“Ooo, jadi kamu nggak tahu, kalau semua mata di ruangan ini tertuju padamu?”


“Emangnya kalau semua mata memandang kearah ku, apakah di pastikan aku yang bersalah.”


“Hm, kamu pintar juga rupanya.”


“Bukan itu masalahnya Pak.”


“Lalu apa masalahnya?”


“Mereka itu terlalu pengecut untuk berterus terang, apa salahnya kalau langsung saja bicara. Bukankah kalau di belakang Bapak mereka suka berkoar-koar!”

__ADS_1


“Apakah selama ini kamu nggak tahu, kenapa mereka semua jadi pengecut?”


“Nggak.”


“Pasti ada alasannya dong, kamu ancam barang kali?”


“Tanya aja pada mereka, apakah saya mengancam atau bagai mana.”


“Baiklah, tolong kamu datang ke ruangan Bapak.”


“Ngapain Pak?”


“Ada yang perlu Bapak bahas dengan mu.”


“Kenapa nggak di bahas disini aja, di depan mereka semua.”


“Kamu nggak ngerti, Bapak bilang apa tadi?”


“Ngerti, ngerti.”


“Ya sudah nggak perlu membantah.”


“Baik Pak!” jawab Voni setengah mengejek.


“Baiklah anak-anak Bapak semua, kalian jangan ada yang ribut, sebentar lagi, Pak Aswadi akan masuk kedalam kelas ini.”


“Baik Pak!”


“Ayo anak baru, mari ikut Bapak!” perintah Kepsek pada Voni.


“Nama saya Voni, Pak.”


“Iya Bapak tahu.”


“Baik Pak,” jawab Voni seraya mengiringi langkah Kepsek dari belakang.


Setibanya mereka berdua di ruangan Kepala sekolah, tanpa basa basi Voni langsung saja masuk dan duduk di kursi yang ada di hadapan meja Kepsek itu sendiri.


Saat itu Voni melihat ada nama Kepsek itu di sudut meja kerjanya, tanpa merasa takut sedikit pun Voni langsung saja membaca nama itu. “Bramono.”


“Iya, itu nama Bapak, kamu udah kenal dengan nama Bapak?”


“Belumlah, orang lihatnya aja baru kali ini.”


“Ada apa Voni? kenapa teman-teman mu pada takut?”


“Mana aku tahu.”


“Apa ada yang aneh dengan mu?”


“Nggak! saya biasa- biasa aja kok.”


Di belakang Voni, Bramono tampak sedikit tersenyum, dia pun duduk di hadapan Voni dan memandang wajah Voni dalam-dalam.


“Bapak kenapa lihatin saya? apa ada yang aneh?”


“Nggak, Bapak cuma merasa heran dengan mu, kenapa ya, anak yang baru masuk lima bulan yang lewat, bicaranya begitu lancar sekali dengan Bapak, nggak ada takut-takut nya, gitu lho.”


“Kenapa mesti takut?”


“O iya Voni, beberapa bulan ini Bapak selalu mendapat laporan dari guru yang mengajar di kelasmu, katanya kau sering berbuat onar setiap hari, sering terlambat dan suka buat sensasi.”


“Kata siapa?”

__ADS_1


“Kata semua guru yang pernah mengajar di kelas mu.”


“Ah, nggak! selama ini saya biasa-biasa aja kok, Pak.”


“Buktinya aja hari ini, gara-gara kelakuan mu, semua teman-teman mu nggak ada yang belajar, kamu memang nggak merasa rugi, tapi apakah kamu nggak kasihan pada mereka!”


“Apakah menurut Bapak, dengan kejadian tadi itu, aku yang di salahkan?”


“Ya! tentu saja kamu yang di salahkan.”


“Apakah Bapak nggak mau bertanya dulu padaku, bagai mana dengan sikap guru yang membuat ku kesal itu?”


“Bapak nggak mau tahu Voni!”


“Begitu kah! berarti Bapak telah membuat keputusan sendiri dan Bapak telah menuduh sepihak saja.”


“Di sini guru nggak bersalah Voni! setiap yang di katakan seorang guru, harus di patuhi, nggak ada yang boleh membantah dan melawannya. Setahu Bapak sudah tiga orang guru yang kamu sakiti dan datang ke kantor ini dalam keadaan menangis.”


“Apakah mesti aku sendiri yang Bapak salahkan?”


“Ya, tentu! karena mereka semua mengeluhkan tingkah lakumu yang kurang baik itu. apakah kamu belum juga merasa bersalah?”


“Ya udah, kalau memang aku yang di anggap bersalah, aku akan minta maaf pada mereka semua.”


“Sama siapa, Voni?”


“Sama siapa aja, yang merasa telah aku sakiti.”


“Apakah pada semua guru yang kamu sakiti?”


“Baiklah, terserah Bapak aja.”


“Tapi nggak semudah itu Voni.”


“Apakah masih ada lagi yang kurang?”


“Tentu.”


“Apa itu?”


“Bukankah hukuman untuk mu belum Bapak berikan?”


“Ooo, baiklah, kalau begitu hukum aja aku seperti yang Bapak inginkan, aku sanggup kok menjalaninya.”


“Hukuman mu berdiri di tiang bendera selama tiga jam, memberi hormat pada bendera, tanpa istirahat sama sekali.”


“Apakah cukup, hanya selama tiga jam?”


“Cukup.”


“Berarti, jika aku sanggup menjalani hukuman ini, itu artinya, kesalahan ku sudah di anggap hilang?”


“Tergantung, apakah guru yang kau sakiti mau menerima ucapan maaf dari mu atau tidak.”


“Baiklah, akan ku coba untuk menjalaninya,” jawab Voni seraya melangkah menuju tiang bendera.


Ketika Voni keluar dari ruangan Kepsek, semua pasang mata menatap tajam ke arahnya. Teriknya mentari siang itu membuat hatinya sedikit begidik, Voni begitu takut apakah dia sanggup menjalani hukuman itu atau tidak.


“Kamu harus optimis Voni, kamu harus kuat dan semangat!” ujarnya seraya melangkah menuju tiang bendera.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2