Terjebak

Terjebak
Part 91 Akhir hidup Intan


__ADS_3

Jantung Yuli semakin berdebar kuat saat itu, karena Yuli merasa, kalau Intan telah mengakhiri hidupnya.


Ketika dia hendak membuka pintu, Yuli semakin mencium bau yang lebih menyengat lagi, tak ingin penasaran, Yuli langsung mencari dari mana asal bau itu, ketika pintu kamar mandi di buka, betapa terkejutnya Yuli, karena di dalamnya Yuli melihat Intan tergeletak dengan tubuh bergelimang darah.


Bau busuk semakin menusuk hidup, Yuli yang tak tahan dengan apa yang di lihatnya diapun berlari menghampiri suaminya di ruang tamu.


“Ada apa Ma? kenapa berlari seperti orang ketakutan?”


“Intan Pa, Intan.”


“Ada apa dengan Intan Ma? apa yang terjadi dengannya?”


“Intan telah meninggal dunia.”


“Innalillahi.Oh, putri ku!” teriak Aris sembari berlari menuju kamar putrinya itu.


Saat melihat Intan tergeletak bersimbah darah, Aris seperti tak kuasa untuk berdiri, bau menyengat yang di ciumnya, tak lagi dia perdulikan, diangkatnya tubuh Intan yang terasa sudah mulai melunak dan busuk.


Aris mengambil air bak dan menyiram seluruh kamar mandi yang penuh dengan bercak darah. Air matanya tak kuasa untuk di tahan lagi.


“Sepertinya putri kita merasa kesakitan saat dia meregang nyawa Ma.”


“Iya Pa,” jawab Yuli seraya membantu suaminya membersihkan kamar mandi.”


"Lihatlah ada darah di mana-mana."


"Bapak benar."


“Sepertinya dia menggunakan sikat gigi ini untuk mengeluarkan janin dari rahimnya.”


“Papa dapat sikat ini dari mana?”


“Dari tangan putri kita Ma.”


“Ya Allah, apa yang telah kamu lakukan nak,” ujar Yuli yang terus menangis tiada henti.


“Mari kita bawa dia keruang tamu Ma.”


“Baik Pa.”


Kemudian Yuli dan Aris mengangkat tubuh Intan ke ruang tamu dan di baringkannya di atas kasur, setelah itu, Yuli mendatangi para tetangga untuk memberi tahu tentang kepergian Intan.


Tak berapa lama kemudian, kabar itu langsung menyebar begitu cepat, puluhan warga berdatangan memenuhi rumah Aris, mereka bahkan sampai duduk di teras rumah.


Aris dan Yuli menceritakan semua kejadian yang telah menimpa putrinya tanpa ada yang dia tutup-tutupi. Sebenarnya semua warga sudah lama tahu, karena Yuli sering menangis melihat tingkah laku putrinya itu.


Siang itu, semua warga beramai-ramai menguburkan jasad Intan dengan layak, gadis cantik yang malang itu, telah mengakhiri jalan hidupnya dengan caranya sendiri.


Kepedihan pun tak kuasa ditahan oleh Yuli dan Aris, mereka berdua menangis tiada henti, putri satu-satunya telah pergi meninggalkan dunia ini, yang tersisa hanya duka yang mendalam di hati keduanya.


Berita duka itu pun dengan cepat menyebar di sekolah, Voni sangat terkejut, tak disangka sama sekali, kalau Intan pergi begitu cepat.


Setelah pulang dari sekolah, Voni mengajak Bramono untuk melayat kerumah Intan, mereka berdua datang untuk mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Intan.

__ADS_1


“Kalian ini siapa?” tanya Yuli pada Voni.


“Aku teman Intan Bu, dan ini Kepala sekolah kami.”


“Oh, Intan telah pergi nak, dia telah mengakhiri hidupnya.”


“Maksud Ibu, Intan bunuh diri?”


“Iya.”


“Astaghfirullah, ternyata dia bunuh diri Pak.”


“Iya.”


“Kenapa dia sampai nekat mengakhiri hidupnya Bu?”


“Setelah berhenti sekolah, dia punya kebiasaan buruk nak.”


“Maksud Ibu, kebiasaan buruk apa?”


“Intan menjadi wanita panggilan.”


“Ya Allah, Ibu nggak lagi mengada-ada kan?”


“Nggak nak, nggak! buat apa Ibu mengarang cerita seperti itu, dia itu kan putri Ibu sendiri.”


“Iya Bu, aku minta maaf.”


“Enam bulan yang lalu, kami memarahinya, dan diapun lari dari rumah, semenjak kepergiannya Ibu jatuh sakit. Tiba-tiba, seminggu yang telah lalu di pulang dalam keadaan kusut dan dia berjanji pada Ibu nggak akan mengulangi perbuatannya itu lagi.”


“Ibu bukannya nggak mau memaafkannya nak, tapi Ibu ingin melihat janji yang dia ucapkan, apakah benar dia itu berubah atau nggak. Berada di dalam rumah setiap hari, kami merasa senang sekali, tanpa sepengetahuan kami ternyata dia itu sedang hamil nak.”


“Oh, Ibu yang sabar ya.”


“Diam-diam di pergi keluar untuk memebeli testpack, Ibu memergokinya dan merebut benda itu dari tangannya. Sebenarnya ini semua kesalahan Ibu nak, Ibu terlalu keras padanya, sehingga tak ada lagi tempatnya berbagi penderitaan.


“Iya, Ibu harus mengikhlaskannya, biarkan dia tenang di sana.”


“Ibu sedih sekali nak.”


“Iya Bu, aku tahu itu, Ibu juga nggak boleh menyalahkan diri sendiri,” jawab Intan seraya memeluk perempuan paruh baya itu.


Melihat mereka berdua menangis tersedu-sedu, Bramono juga terbawa suasana saat itu, seperti Voni dan Yuli, air mata Bramono juga mengalir membasahi kedua pipinya.


Setelah mereka bercerita panjang lebar, Bramono dan Voni mohon pamit untuk kembali ke sekolah, Yuli melepas mereka dengan sedikit senyuman.


Di atas mobil, tampak Voni terdiam beberapa saat, lalu dia menatap Bramono yang terlihat fokus pada jalan yang akan di tempuhnya. Mesti saat itu Bramono tak melihat Voni, tapi dia merasakan tatapan tersebut.


“Ada apa sayang?”


“Dia sahabat ku Bram, aku bahkan belum sempat minta maaf padanya, sewaktu dia di keluarkan dari sekolah.”


“Bapak juga merasa berdosa padanya Von.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Karena Bapak telah mengeluarkannya dari sekolah, jika saja waktu itu, kita nggak terlalu keras padanya, mungkin hal buruk ini nggak bakan terjadi menimpa dirinya.”


“Iya juga, Bram.”


Di rumah kontrakannya, Voni duduk termenung di dalam kamarnya, Abi yang saat itu sudah bersekolah, dia pulang kerumah bersama Anum.


“Assalamu’alaikum, Kak!”


“Wa’alaikum salam,” jawab Voni seraya bergegas membukakan pintu untuk Abi. “Eh Abi, udah pulang sayang?” tanya Voni seraya menggendong tubuh Abi serta menciumnya berulang-ulang kali.


“Kak, tadi guru di sekolah Abi, baik-baik semua!”


“O ya? tapi Abi senangkan sekolah di sana?”


“Senang banget, teman Abi pun udah bertambah banyak, mereka semua baik dan mau berteman sama Abi.”


“Oh syukurlah, kalau Abi punya banyak teman, Kakak senang deh mendengarnya.”


“Kakak, kapan ya, kita kerumah Mama, Abi udah kangen sekali sama Mama.”


“Kalau Kakak punya waktu, nanti Abi akan Kakak antar untuk melihat Mama.”


“Tapi kapan kak, Abi pengin bobok sama Mama.”


“Iya sayang yang sabar.”


“Nanti kalau Om Bayu datang, boleh nggak Abi ikut bersama dengannya.”


“Ikut kemana sayang?”


“Ya menengok Mama, Kak!”


“Abi sayang, saat ini Mama kita belum kembali dari luar kota, kemaren Mama udah telpon Mama kok.”


“Kakak bohong!”


“Nggak Abi, Kakak nggak bohong,” ujar Voni menyakinkan adiknya.


Mesti Voni telah mencari begitu banyak alasan untuk itu, tapi Abi punya segudang jawaban untuk menangkis ucapan Voni.


“Kata Mama, Kakak itu orang jahat! Mama udah lama nggak mau ngomong sama Kakak.”


“Kenapa Mama bicara seperti itu pada Abi?”


“Karena Kakak itu udah membunuh Papa aku!”


“Astaghfirullah. Abi sayang, nggak ada yang membunuh Papa Abi, Papa meninggal karena serangan jantung, kalau Abi nggak percaya Abi boleh kok, tanya sendiri pada Bi Anum.”


“Abi nggak mau!”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2