
“Yang mana?”
“Yang barusan Bapak periksa.”
Selesai semuanya di periksa, sebagian dari mereka di lepaskan, tapi Voni malah masuk dalam daftar yang mereka tangkap, karena saat itu Indah mengenali Voni dan mengakui kalau dia itu teman satu sekolah.
“Aduh, kenapa aku ikut di tangkap sih Pak?”
“Karena kamu ikut dari gerombolan mereka.”
“Nggak Pak, aku kesini hanya untuk makan kok, nggak lebih.”
“Nanti saja di kantor di jelaskan.”
“Aduh, kenapa Bapak nggak percaya sih.”
“Maafkan aku Voni, karena aku kau ikut terseret di dalamnya.”
“Diam, jangan sebut namaku!”
Kemudian mereka semua di bawa dengan menggunakan mobil tahanan, Voni tampak duduk diam di antara mereka, begitu juga dengan kedua orang cina yang melakukan transaksi narkoba tersebut.
Karena kesal, Voni sampai melupakan sabu-sabu yang telah dia buang ke bawah gorden restoran. Setelah jauh menempuh perjalanan, kemudian Voni baru teringat dengan barang bukti yang telah di simpannya di balik gorden.
“Apa aku kasih tahu aja, tentang barang itu, kalau nggak ku kasih tahu, pasti Indah mereka bawa dan dihukum karena dituduh sebagai pengedar.”
Di saat semuanya terdiam selama berada di perjalanan, lalu Voni menghampiri salah satu petugas jaga, Voni berbisik pelan pada petugas tersebut.
“Berhenti!” seru petugas tersebut.
“Cepat, jangan coba-coba kabur.”
“Baik Pak.”
Ketika Voni turun salah seorang petugas juga turun mengikuti Voni untuk melihatnya dari jarak jauh.
Kesempatan itu, di coba oleh Voni untuk memanfaatkannya, dia bicara pelan di balik mobil yang berhenti.
“Aku punya barang bukti yang Bapak cari, tapi aku ingin bertemu langsung dengan pimpinan Bapak.”
“Jangan asal bicara kamu, kalau memang kamu punya barang bukti, kenapa tadi nggak di kasih tahu?”
“Aku lupa, habis tadi itu aku ketakutan sekali.”
Kemudian petugas itu mencoba menghubungi pimpinannya, yang telah duluan di depan mereka.
“Benarkah?”
“Benar komandan!”
“Baik saya akan kembali kebelakang.”
“Siap!”
Di saat Voni hendak bernegosiasi dengan petugas itu, suasana di dalam mobil terdengar riuh, mereka merasa gelisah, karena mobil tak kunjung berjalan.
“Benar kamu tahu, di mana benda itu mereka simpan?”
“Benar Pak.”
__ADS_1
“Kalau begitu ikut dengan ku.”
“Nggak bisa!”
“Kenapa?”
“Kalau Bapak ingin benda itu saya berikan, tolong Bapak lepaskan gadis yang tadi ada bersama dengan ku.”
“Kenapa dia mesti di lepaskan?”
“Karena dia tak bersalah, dia datang ke restoran bersama ku tadi, kami hanya pergi makan ke sana, tapi Bapak telah memaksa kami untuk mengakui kesalahan yang tidak kami lakukan.”
“Baik kami akan melepaskan teman mu.”
“Tapi aku ingin bersandiwara dulu, agar mereka tidak mencurigai kita.”
“Baiklah.”
Sesuai perintah komandan mereka, lalu Indah mereka lepaskan. Indah merasa heran, kenapa saat itu tiba-tiba saja dia di lepaskan. Ketika Indah melihat Voni, sandiwara mereka pun di lancarkan, kedua tangan Voni mereka pegang dengan kuat.
“Indah, cepat kamu kembali pulang.”
“Kenapa kau melepaskan ku Voni?”
“Aku yang jadi jaminan untuk mu, sekarang cepat kau pergi dari sini.”
“Baiklah.”
Tanpa berfikir panjang, Indah langsung memanggil taksi yang melintas. Kesempatan berharga itu, di manfaatkan Indah untuk pergi dari Voni.
“Sekarang suruh mereka semua pergi, biar kita saja yang kesana.”
“Baik.”
Akan tetapi sebelum Voni mereka tahan, mereka telah membuat sandiwara terlebih dahulu, agar Voni terlihat melawan petugas.
Raut wajah sedih di perlihatkan Voni, ketika mobil para tahanan berlalu meninggalkannya.
“Ada apa dengan gadis itu?” tanya Antonio pada teman di sampingnya.
“Nggak tahu, barang kali melawan petugas.”
Setelah para tawanan itu pergi, lalu Voni bersama beberapa orang petugas kembali ke restoran untuk mengambil barang yang di maksud.
“Ayo turun!”
“Maaf Pak, jika aku ikut turun, mereka yang ada di restoran itu akan tahu, kalau aku yang memberi tahukan benda itu pada petugas.”
“Baiklah, sekarang beri tahu kami di mana barang itu di sembunyikan.”
“Di sudut sana, di belakang gorden.”
Mendengar ucapan Voni, beberapa orang pasukan khusus itu langsung masuk kedalam, Voni tidak berbohong, apa yang dikatakannya memang benar, pasukan khusus itu mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Aku sengaja menyembunyikannya, saat benda itu mereka lempar tepat di ujung kaki ku.”
“Terimakasih, karena adik telah memberi tahu kami tentang barang bukti ini.”
“Sama-sama, apakah sekarang aku bisa bebas?”
__ADS_1
“Tentu, apakah kamu mau menjadi saksi nantinya?”
“Nggak Pak, aku masih sekolah, aku nggak mau menjadi saksi yang berbahaya seperti itu, nanti akan mengganggu sekolah ku nanti.”
“Baiklah, kami akan menghormati keputusan yang kamu buat.”
“Terimakasih, Pak.”
Kesempatan yang di berikan pasukan khusus itu di manfaatkan Voni untuk pergi, setibanya dia di rumah, Anum terkejut, karena Voni kembali dalam keadaan sehat.
“Alhamdulillah, Non Voni udah kembali, Non nggak apa-apa kan?”
“Nggak Bi, aku sehat-sehat aja kok.”
“Tadi Non, kemana sih, Bibi sangat cemas sekali, bahkan saat ini Pak Bram sedang mencari keberadaan Non.”
“Bram mencari aku, Bi?"
“Iya Non.”
Mendengar ucapan Anum, Voni pun bergegas menuju rumah Bramono, saat tiba di rumah itu, Voni tak melihat siapa-siapa disana.
“Ya ampun, kamu ternyata sedang mencari keberadaan ku Bram.”
Lama Voni duduk di depan rumah Bramono, hingga malam menyelimuti bumi, tiba-tiba dari kejauhan Voni melihat mobil Bramono datang menghampirinya.
Ketika melihat Voni, mobil itu pun berhenti, dari dalamnya keluar Bramono yang terlihat begitu cemas.
“Kamu kemana saja sayang?”
“Ceritanya panjang Pak, kalau ku ceritakan habis waktunya sampai pagi.”
“O ya?”
“Iya.”
“Kamu itu bikin Bi Anum cemas.”
“Apa benar, hanya Bi Anum yang cemas?”
“Maksud mu apa, Von?”
“Ah, nggak.”
“Kamu itu ya,” ujar Bramono seraya memeluk tubuh Voni. “Masuk yuk?”
“Ayo.”
Saat masuk kedalam rumah Bramono, Voni langsung membuka kulkas dan mengambil segelas minuman yang ada di dalamnya.
“Nah, sekarang katakan apa yang telah terjadi padamu?”
“Tadi saat aku sedang makan, aku melihat Indah bersama dua orang pria, rasa curiga memaksa ku untuk mengikutinya, ternyata Indah dan kedua pria itu melakukan transaksi narkoba di restoran di depan kantor pos.”
“Benarkah?”
“Iya Bram, sebenarnya aku udah lama curiga pada Indah, karena Indah nggak mau kembali ke kampungnya setelah tamat, padahal kedua orang tuanya sangat membutuhkan pertolongan dari Indah. Ternyata dia menjadi pengedar narkoba.”
“Kok kamu tahu mereka itu pengedar narkoba, Von?”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*