
“Nggak, tunggu sebentar lagi, saat Pak Aswadi telah selesai mengajar.”
“Ya sudah, kita ke kantin aja yuk?”
“Baiklah, tapi apakah Bapak nggak malu jalan dengan murid yang nakal seperti ku.”
“Nggak Voni, Bapak nggak malu.”
“Baiklah.”
Lalu mereka berdua, berjalan menuju kantin. Sedangkan semua siswa yang melhat mereka, menjadi begitu heran. Di kantin Bramono membelikan Voni nasi goreng, untuk sarapannya pagi itu.
Mesti pagi itu dia tak selera makan, tapi karena itu nasi pemberian Bramono padanya, Voni mencoba untuk menghabisinya.
“Kamu mau tambah lagi?”
“Nggak Pak, udah kenyang.”
Saat Voni selesai makan, lalu dia menaruh piring kotornya ke belakang, saat itu bel pergantian mata pelajaran berdering, Voni langsung saja bergegas ke luar dari kantin.
“Makasih Pak, nasi gorengnya.”
“Iya Voni,” jawab Bramono tersenyum manis.
Ketika Aswadi sudah keluar dari kelas, Voni langsung masuk kedalam, tak sorang temanpun yang menatap kesal padanya, mereka semua hanya diam saja kali itu.
“Aneh! kenapa hari ini mereka pada diam?”
“Nggak tahu,” jawab Nita pelan.
“Tadi saat aku keluar, apakah ada yang mengomentari aku?”
“Nggak.”
“Ya udah.”
Sementara itu, Bramono yang melihat Aswadi tiba di ruang majelis guru, dia langsung di panggil menghadap ke ruangannya.
“Tadi pagi, saya sudah memarahi Voni, setelah itu saya menyuruhnya belajar di kelas, tapi kenapa Bapak malah mengusirnya?”
“Saya nggak mengusirnya Pak?”
“Kalau Bapak nggak mengusirnya, kenapa saya lihat dia menangis di belakang labor?”
“Saya nggak tahu Pak.”
“Pak Aswadi pasti tahu, kenapa dia menangis dan keluar dari pelajaran Bapak.”
“Itu karena dia membantah ucapan saya Pak.”
“Ucapan yang mana yang dia bantah?”
“Saat dia datang, saya kan hanya nanya padanya, apakah dia mau belajar dengan saya atau nggak, lalu dia langsung bicara kasar pada saya.”
“Bicara kasar gimana?”
__ADS_1
“Saya udah nggak ingat lagi Pak.”
“Pak Aswadi, Voni itu adalah gadis yang sedang bermasalah, saya berusaha untuk membantunya agar dia bisa kembali menjadi gadis baik. Tapi Bapak justru membuatnya semakin terpuruk. Cobalah sedikit bersabar menghadapinya.”
“Baik Pak.”
“Voni itu nggak sama dengan anak-anak yang lain, saya pribadi menilainya, dia itu tak lebih seorang gadis bermasalah.”
“Iya Pak.”
“Jadi saya sarankan kepada Bapak, tolong sedikit bersabar dalam menghadapinya, Bapat tahu, kejadian satu minggu yang lewat, dia melakukan percobaan bunuh diri, jika Pamannya nggak menemukannya, gadis itu pasti sudah nggak bisa di selamatkan.”
“Baik Pak, saya akan mencoba bersabar dalam menghadapinya.”
“Ya, itu lebih baik untuk kita semua.”
“Iya Pak, saya mengerti.”
"Ya sudah, Bapak boleh kembali."
"Baik Pak."
Sementara malam itu, di saat semua orang sedang asyik berada di luar rumah kos, Voni tampak duduk di kursi yang ada di depan jendela lantai dua rumah itu, pandangan matanya tertuju kearah depan lurus tak berbatas.
“Papa, apa yang harus aku lakukan? aku sekarang sudah menjadi gadis yang terbuang, bahkan Mama tak lagi mengharapkan hidup ku, apakah aku mesti tetap hidup atau ah…!”
Saat dia bicara, tiba-tiba saja Voni menatap ke bawah, Voni benar-benar ingin mengakhiri hidupnya, yang sudah tak berguna itu, karena orang yang selama ini dia harapkan sudah tak ada lagi untuk dirinya.
“Papa izinkan aku datang untuk mu!” ucap Voni yang langsung melompat dari lantai dua.
Setelah tubuh Voni terjatuh dan membentur teras rumah, darah pun menyembur dari mulutnya dan dia langsung tak sadarkan diri.
Saat semua penghuni kos mendengar suara seseorang terjatuh, lalu mereka semua berlarian keluar untuk melihat apa yang telah terjadi di luar rumah itu.
“Ya Allah Voni!” teriak semua orang serentak.
Melihat kejadian itu, semua tampak panik, tak seorang pun tahu apa yang mesti mereka kerjakan, di saat seperti itu Ranti, Ibu pemilik kos langsung menemui Bramono.
Dia berlari kencang menuju rumah Bramono. Mesti saat itu usia tak memungkinkan Ranti untuk berbuat seperti itu.
Ranti langsung mengetuk pintu rumah Bramono. Tak kunjung di buka, Ranti tapak begitu gelisah. Tak beberapa lama kemudian Bramono pun keluar.
“Ada apa Bu? kenapa tampak begitu gelisah?”
“Voni Pak! Voni melompat dari lantai dua, dan saat ini begitu banyak darah,” ucap Bu Ranti seraya menangis histeris.
Tanpa berfikir panjang, Bramono langsung berlari dan meninggalkan Ranti sendirian di depan rumahnya. Bramono tak menyangka sama sekali kalau Voni akan mengulangi hal itu lagi.
Ketika dia telah berada di dekat Voni, Bramono langsung memegang denyut nadi gadis malang itu. “Alahamdulillah, dia masih hidup!” teriak Bramono seraya menggendong tubuh Voni dan berlari menuju rumah dinasnya.
Dengan mengendarai mobil Bramono melarikan Voni ke rumah sakit, dia tak ingin gadis yang mulai dicintainya tiada dengan cara sia-sia.
“Ya Allah. Voni, Voni! kenapa kau melakukan hal itu Voni, bukankah ada Bapak yang akan menjagamu, kenapa kau senekad ini.” Bramono menangis sedih tiada henti, saat itu dia benar-benar takut akan kehilangan gadis yang dia cintai.
Setiba di rumah sakit pertolongan segera tiba, tubuh Voni mereka bawa ke ruang UGD. Di atas meja operasi, Voni tampak tak bergerak, denyut nadinya semakin melemah.
__ADS_1
“Denyut nadinya mulai melemah dok,” ucap seorang perawat.
Bramono yang menyaksikan Voni di tolong oleh tenaga medis, hatinya bagai teriris dan sakit. Dia tiada hentinya berdo’a pada Allah untuk kesadaran gadis yang dicintainya.
Dua jam di tangani dokter, lalu seorang perawat keluar dari dalam ruangan itu, dengan suara lembut perawat itu memanggil nama Bramono.
“Saya sendiri Sus?”
“Bapak di suruh menghadap ke ruangan dokter.”
“Baik, dimana ruangannya Sus?”
“Bapak luruslah berjalan di Lorong ini, lalu belok kearah kiri, maka Bapak akan langsung bertemu ruangan dokter.”
“Baiklah terimakasih Sus.”
“Iya, Pak sama-sama.”
Mengikuti saran perawat itu, Bramono langsung bergegas menuju ruangan dokter yang menangani Voni.
“Tok, tok, tok! assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, silahkan masuk!”
“Baik terimakasih.”
“Silahkan duduk.”
“Baik Pak.”
“Saya dokter yang menangani pasien yang bernama Voni, Bapak orang tuanya?”
“Bukan Pak, saya adalah kepala sekolah tempat anak itu menuntut ilmu.”
“Begini, kami telah bekerja secara maksimal, mungkin belum takdir untuk anak itu bisa meniup udara segar saat ini.”
“Jadi maksud Bapak dia sudah meninggal?”
“Belum, dia masih hidup, tapi mungkin akan mengalami Koma.”
“Berapa lama dok?”
“Saya belum tahu pasti, berkemungkinan besar murid Bapak juga akan mengalami lupa ingatan untuk waktu yang lama.”
“Ya Allah. Voni, voni, apa yang kau lakukan sayang.”
“Bapak yang sabar, teruslah berdoa, untuk kesembuhan pasien.”
“Insya Allah.”
Dengan rasa sedih, Bramono melangkah pelan menuju ruang UGD, dia melihat Voni terbaring lemah tak berdaya di atas meja operasi.
Bukan hanya itu saja Bramono bahkan merasa tak berguna saat itu, karena dia tak mampu menyelamatkan gadis yang dia cintai.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*