Terjebak

Terjebak
Part 95 Ketulusan Voni


__ADS_3

Selesai mereka bermain air laut, kemudian Voni pergi menemui Lesti, teman yang dulunya pernah di beri modal untuk melanjutkan hidup.


Setibanya Voni dan Bramono di depan rumah Lesti, mereka jadi terdiam dan ragu, Voni hanya memandang keadaan dari dalam mobil.


“Yakin ini rumah Lesti Bram?”


“Entahlah Voni, tapi waktu itu, kita memang disini membeli rumah, kan?”


“Iya, tapi waktu itu bentuk rumahnya kecil, nggak seperti sekarang ini.”


Penasaran dengan yang di lihatnya, kemudian Bramono dan Voni turun dari dalam mobil secara bersamaan. Lama mereka memandang, tiba-tiba dari dalam rumah itu keluar seorang bayi yang masih merangkak.


“Lihat itu Bram, aku yakin itu pasti bayinya Lesti!”


Merasa tak sabar, Voni langsung berlari menghampiri bayi itu dan dia mencium serta menggendongnya dengan lembut.


“Ya Allah, kamu cantik sekali sayang.”


Lesti yang saat itu sedang melayani pembeli, dia begitu kaget, ketika bayinya di gendong oleh seseorang.


“Hei, kamu siapa?” ujar Lesti seraya menarik bahu Voni kebelakang.


Saat Voni berpaling, Lesti langsung menangis dan memeluk Voni dengan erat, Lesti merasa tak sendirian saat itu, karena ada Voni dan Bramono bersamanya.


“Voni, aku kangen sekali,” ucap Lesti memelas.


“Aku juga Lesti, lihat bayi mu cantik dan sehat, jika aja hari itu dia berhasil kau gugurkan pasti kau bakalan menyesal.”


“Iya Voni, kau benar sekali, saat ini aku merasa bahagia dengan yang kau berikan.”


“Tadi, kami berdua sempat kaget, melihat rumahmu sudah berubah.”


“Iya Voni, dengan modal yang kau berikan, aku mendapat sedikit keuntungan, dan keuntungan itu langsung aku modal kan kembali dan sisanya untuk merenovasi rumah.”


“Kau pintar Lesti.”


“O iya Von, kau datang bersama Kepsek ya?”


“Iya.”


“Mana dia?”


“Ada, barang kali masih di samping.”


Mendengar ucapan Voni, Lesti mencari keberadaan Bramono, setelah melihat, Lesti pun menyalaminya.


“Kamu tampak sehat sekarang,” ujar Kepsek pada Lesti.


“Alhamdulillah Pak, berkat pertolongan Bapak dan Voni, akhirnya aku bisa melalui ini semua dengan hati bahagia."


“Oh, syukurlah nak.”


“Bapak masuk dulu, biar ku buatkan minuman.”


“Baiklah.”


Lesti, kembali kebelakang setelah dia selesai bicara dengan Bramono, saat membuatkan minuman, untuk Bramono dan Voni, Lesti tampak sedikit kewalahan. Karena selain putrinya yang terus rewel, Lesti juga melayani para pembeli yang tiada hentinya.


Melihat hal itu, Voni langsung menelfon Bayu untuk meminta bantuannya, mencarikan seorang pembantu perempuan untuk Lesti.


“Pembantu?”


“Iya Om.”

__ADS_1


“Untuk siapa Non?” tanya Bayu heran.


“Nggak usah Om tanyakan, kirimkan saja ke jalan Manggala tiga.


“Baik Non.”


Sesuai perintah Voni, Bayu segera mengirimkan seorang pembantu rumah tangga, ke rumah Lesti, perempuan itu berdiri diam di depan rumah Lesti, lalu Voni menghampirinya.


“Ibu pekerja yang di kirim Om Bayu untuk ku?”


“Iya Non.”


“Tugas Ibu, membantu wanita yang di dalam itu.”


“Baik Non, nanti uang gaji Ibu akan masuk kedalam rekening Ibu setiap bulannya. Apakah Ibu punya buku tabungan?”


“Punya Non,” ujar perempuan itu seraya menyerahkan buku tabungannya pada Voni, setelah nomor rekening perempuan itu di catat, kemudian Voni mengirimkannya pada Bayu.


“Tolong Om transfer gaji setiap bulannya ke nomor rekening ini.”


“Baik Non.”


“Nah sekarang Ibu tenang saja, Ibu bekerja dengan baik disini, maka setiap bulan, Ibu akan menerima gaji.”


“Baik Non.”


Ketika perempuan itu masuk kedalam rumah, Lesti menatapnya dengan pandangan heran, ingin sekali dia bertanya namun belum sempat Lesti bicara, Voni telah bicara terlebih dahulu.


“Ibu itu akan membantu mu di rumah ini.”


“Benarkan Voni?”


“Iya, soal gajinya, aku yang bayarkan setiap bulan.”


“Iya sama-sama. Kalau begitu, kami berdua permisi dulu, jaga putrimu baik-baik.”


“Iya Voni, sekali lagi aku mengucapkan banyak terimakasih pada mu.”


“Apakah kedua orang tua mu pernah kesini?”


“Pernah Voni, malah sering kok.”


“Iya, bagus.”


“Kalau begitu Bapak dan Voni pergi dulu,” lanjut Bramono.


“Iya Pak, hati-hati di jalan.”


“Iya,” jawab Bramono singkat.


“O iya Lesti, apakah kau udah mendengar kabar tentang Intan?”


“Belum Von, semenjak dia meninggalkan ku di rumah sakit, baik Indah mau pun Intan, mereka berdua tak pernah datang lagi menemui ku.”


“Intan udah tiada sekarang Lesti.”


“Hah, benarkah?”


“Iya. Semenjak dia di keluarkan dari sekolah, Intan menjadi wanita panggilan, saat dia hamil, kedua orang tuanya tak mau menerima, Intan pun bunuh diri.”


“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, semoga arwahnya tenang di alam kubur.”


“Semoga saja begitu.”

__ADS_1


“Iya.”


“Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu.”


Setelah saling berpelukan Lesti dan Voni berpisah. Lesti hanya bisa melepas Voni dengan linangan air matanya, Voni yang selama ini di takutinya, kini telah menjadi sahabat yang begitu perduli padanya.


Di perjalanan menuju rumah, Bramono fokus pada jalan yang akan dia lalui, begitu juga dengan Voni, dia terlihat diam saja.


“Apa masih ada yang mau di beli Non?” tanya Bramono memecah kebuntuan suasana.


“Ah, Bram.”


“Kamu sih, kok diam aja, ngomong dong, biar mata Bapak nggak ngantuk.”


“Aku mau cerita apa, bukankah semuanya telah kita lewati berdua, jadi nggak ada lagi yang mesti ku ceritakan pada mu.”


“Tadi sore, ketika kita berdua melewati perusahaan mu, kenapa kau nggak mampir?”


“Aku nggak mau mampir, karena aku nggak mau, orang terlalu menghormati aku.”


“Kenapa begitu?”


“Jika semua orang terlalu berlebihan menghormati aku, aku takut Om Bayu merasa tersinggung nantinya.”


“Apakah Bayu punya pemikiran seperti itu?”


“Rambut yang sama hitam Bram, dalam hati seseorang siapa yang tahu.”


“Kamu yakin Bayu itu bisa di percaya?”


“Dia orang kepercayaan Papa ku Bram, bahkan semua rahasia perusahaan sudah di ketahuinya, kalau Om Bayu punya niat buruk, dia pasti nggak bakalan mencari dan menyelamatkan aku.”


“Iya juga ya.”


“Bahkan Om Bayu menyekolah kan aku biar aku bisa menjalani perusahaan nantinya.”


“Kamu benar Von, Bapak juga merasa seperti itu.”


“Itu sebabnya, aku nggak mau terlalu ikut campur di perusahaan.”


“Nanti kalau terbukti Bayu korupsi gimana?”


“Papa, pernah memberi tahu aku, bagai mana cara membuktikan seseorang itu korupsi, suatu saat nanti, aku akan mencobanya pada Om Bayu, tanpa sepengetahuan dia.”


“Emang, gimana caranya?”


“Nanti akan ku ajarkan kamu, bagai mana cara membuktikan seorang bawahan kita bermain belakang.”


“Iya, ajarkan Bapak, agar para guru di sekolah kita bisa jujur.”


“Baik, nanti akan ku ajarkan.”


“Makasih ya.”


“Iya.”


Tak terasa perjalanan yang menyenangkan itu berakhir sudah, setelah mengantarkan Voni kerumahnya Bramono langsung memasukan mobilnya kedalam garasi.


Mereka berdua, sama-sama tertidur dengan nyenyak, Anum yang melihat Voni tampak tidur tenang, diapun tersenyum bahagia.


Keesokan hari, sebelum anak asuhnya pergi ke sekolah, Anum mencoba bertanya tentang Abi padanya. Awalnya Anum sedikit ketakutan untuk bertanya, tapi dia mencoba memberanikan diri untuk tahu tentang keadaan Abi.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2