Terjebak

Terjebak
Part 39 Mencari benda terlarang


__ADS_3

“Iya. Kalau kalian nggak ingin di keluarkan dari sekolah, maka jauhi Voni dan jangan pernah menyentuhnya sedikit pun juga.”


“Apa maksud mu, Ben?” tanya Rendi ingin tahu.


“Kau ketinggalan Rendi, Voni dengan Kepsek telah lama bercinta.”


“Benar itu Voni?” tanya Rendi ingin tahu.


Mendengar pertanyaan Rendi, Voni hanya diam saja. Sebenarnya Voni tak ingin menjawabnya, karena dia takut Rendi tersinggung, tapi karena Rendi terus mendesak, Voni mencoba mengalihkan pertanyaan Rendi pada Benu.


“Jawab Aku Voni!” bentak Rendi dengan suara kasar.


“Apa itu penting!”


“Iya, itu sangat penting.”


“Tapi ada yang lebih penting dari itu Ren, saat ini Indah sedang sakau di kos, jika Ibu kos tahu, maka kalian akan bertanggung jawab atas semua ini.”


“Kau serius?” tanya Benu, meragukan jawaban dari Voni.


“Iya, kalau kau nggak percaya kau lihat saja sendiri kesana. Tapi, kalau kau nggak datang kesana, maka aku bakal laporin kalian semua ke Kepsek.”


“Wah, kacau! mana obatnya habis lagi!” gumam Benu kebingungan.


“Makanya, jangan pernah mengajak orang lain terjerumus, sekarang tanggung sendiri akibatnya.”


“Aduh! bisa bahaya nih, posisi ku. Ayo teman-teman kita cabut saja!” ajak Benu pada teman-temannya.


Mendengar perintah dari Benu, mereka semua langsung bergegas menuju sepeda motor yang telah terparkir.


Dengan menggunakan sepeda motor milik mereka masing-masing, mereka mengemudi dengan cara ugal-ugalan di antara perkebunan karet milik warga. Tak perduli mesti jalan yang mereka tempuh berlumpur dan menanjak.


Sementara itu Rendi berusaha terus membujuk Voni agar ikut bersama dengannya. Namun saat itu Voni terus saja menolaknya.


“Ayo naik, nanti ketinggalan lho, tengok perkebunan ini sangat sepi.”


“Aku nggak mau naik, kau jalan aja duluan.”


“Ayolah Voni! aku nggak tega meninggalkan mu sendirian di hutan karet ini.”


“Tapi aku nggak mau Rendi!”


Karena Voni terus saja menolaknya, lalu Rendi turun dari sepeda motor miliknya, dia ikut berjalan kaki mengiringi langkah kaki Voni yang begitu pelan.


“Kenapa sih, kau menolak berboncengan dengan ku Voni?”


“Aku bukan menolaknya Ren, tapi aku nggak berani naik sepeda motor di jalan seperti ini, nanti kalau kita jatuh gimana?”


“Ya udah, kalau begitu kita jalan bareng aja ya?”


“Nggak berat mendorong sepeda motor sebesar itu di tengah hutan ini?”


“Habis nggak mungkin kan, aku ninggalin kamu sendiri di sini.”


Berjalan pelan bersama Voni, hati Rendi sangat tenang sekali, mesti dia sudah tahu, kalau Voni telah menjadi kekasihnya Bramono, kepala sekolahnya sendiri.


“Jadi benar, kata Benu, Voni?”


“Apanya?”

__ADS_1


“Katanya kau udah menjadi gebetan Kepsek saat ini.”


“Voni hanya tersenyum manis, dia tak ingin bicara apapun pada Rendi, karena Voni takut Rendi menjadi sedih.”


“Jawab dong Voni!”


“Udahlah Ren, kita nggak usah membahas itu lagi ya?”


Mendengar suara Voni yang lembut, Rendi tak dapat berkutik di buatnya, dia hanya bisa menelan air liurnya sendiri saat itu.


Setibanya mereka di tepi jalan besar, Benu langsung datang mengejar Voni yang masih berjalan bersama Rendi.


“Aduh Voni! gimana nih?”


“Gimana apanya?”


“Aku nggak punya stok lagi, semuanya sudah habis.”


“Ya cari akal dong, kau sendiri kan yang cari masalah?”


“Iya, Voni, iya! aku tahu itu. Tapi masalahnya semua itu telah terjadi, lalu aku mesti gimana?”


Melihat Benu kebingungan, Voni menjadi kasihan, dia berpikir bagaimana caranya agar Indah tidak sakau lagi saat itu.


“Jalan satu-satunya, ya carikan dia obat itu.”


“Tapi aku udah nggak punya Voni.”


“Selama ini kau dapatkan dimana obat itu?”


“Dari Bang Jeki.”


“Aku udah mencobanya berulang kali, tapi ponselnya nggak aktif.”


“Kalau begitu kita ke rumahnya sekarang.”


“Wah, ngawur kamu, kau kira rumah Bang Jeki itu dekat apa!”


“Emangnya seberapa jauh, ada sekitar dua ratus kilo?”


“Ah, nggak nyampe, paling jauh sekitar sepuluh kilo.”


“ya udah, kita berangkat sekarang.”


Setelah mereka sepakat, lalu Voni meninggalkan Rendi sendirian di jalan, bersama benu dia pergi mencari pria yang selama ini menjadi bandar narkoba untuk semua anak-anak sekolah.


Di atas sepeda motor yang di kendarai Benu, Voni tampak duduk seraya memeluk tubuh Benu dari belakang, mesti Voni itu sahabatnya, namun jantung Benu terasa hendak lepas saat itu.


“Hm, jika saja, kau yang menjadi kekasih ku Voni, pasti akan ku buat hidup mu bagai di atas awan.”


Karena berkhayal, hampir saja Benu menabrak pembatas jalan, untung saat itu, Voni menjerit dan mereka berdua pun akhirnya selamat.


“Berhenti sekarang!” teriak Voni dengan suara yang lantang.


“Ada apa Voni, kok kita berhenti?”


“Bodoh kamu, apa kau mau membunuh ku?”


“Bukankah selama ini kau ingin bunuh diri, lalu kenapa kau takut mati hah.”

__ADS_1


“Aku hanya mau mati sendiri, bukan bersama mu Benu,” jawab Voni pelan.


“Kenapa? kau takut kalau aku ikut masuk neraka bersama mu?”


“Huh, dasar bodoh kau Benu! sekarang gantian, kau yang duduk di belakang, biar aku mengemudi.”


“Ini kereta besar Voni, apa kau bisa menjalaninya?”


“Udah, nggak perlu banyak cerita kamu!”


“Baiklah!” jawab Benu seraya menyerahkan honda miliknya pada Voni.


“Kalau kau takut, sebaiknya kau pejamkan saja mata mu di belakang.”


“Tapi…!”


“Tapi apa? ayo buruan naik!” ajak Voni seraya memasang helm miliknya.


Mau tak mau, Benu terpaksa mengikuti kemauan Voni, saat itu Benu telah pasrah, kalau mereka berdua akan jatuh kedalam jurang atau tabrakan.


Namun apa yang ada di dalam pikiran Benu, tak seperti kenyataannya, di luar dugaan ternyata Voni begitu jago mengendarai sepeda motor miliknya.


“Astaga Voni! ternyata kau jago juga ya.”


“Pegangan erat, jangan banyak bicara,” jawab Voni seraya mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.”


Hanya menempuh satu jam perjalanan, Voni dan Benu akhirnya tiba di rumah Jeki. Voni mulai memperlambat laju kendaraannya.


“Yang mana rumahnya?” tanya Voni pada Benu.


“Yang di ujung gang sana Voni,” ujar Benu seraya menunjuk sebuah rumah yang berada di penghujung gang.


“Rumah yang berwarna biru ini?”


“Iya, ini dia rumahnya.”


Lalu Voni menghentikan laju kendaraannya, tepat di depan rumah Jeki. Mesti daerah itu ramai sekali dengan perumahan elit, namun suasananya terlihat sepi.


“Kok kelihatan sunyi ya?” tanya Voni pada Benu.


“Jangan-jangan daerah ini sedang di awasi polisi.”


“Bisa jadi,” jawab Voni seraya menarik tangan Benu untuk menghampiri pagar rumah besar itu.


Setelah beberapa kali bel rumah itu di tekan, namun tak seorang pun yang keluar saat itu, hal itu membuat Benu semakin ketakutan.


“Ada apa Benu?”


“Aku merinding Voni.”


“Merinding kenapa?”


“Kayaknya rumah Bang Jeki udah di awasi polisi deh.”


“Udah, kamu nggak perlu takut berlebihan, jangan berlagak seperti orang mencurigakan.”


“Baiklah,” jawab Benu seraya memperbaiki posisi berdirinya.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca "


__ADS_2