
Tak berapa lama kemudian seorang pria tiba-tiba saja muncul dari dalam rumah, pria itu tampak sadis dan brewokan.
“Bang Jeki!” seru Benu dari luar pagar.
“Benu?”
“Iya Bang.”
“Ayo masuk!” ajak Jeki pada Benu.
Kemudian Benu dan Voni masuk kedalam rumah itu dengan tenang dan berhati-hati. Saat keduanya hendak duduk lalu Benu langsung bicara.
“Aku butuh obat itu sekarang Bang.”
“Kan baru Abang hantarkan kemaren malam.”
“Iya, semuanya sudah habis, saat ini Indah sedang sakau, di butuh obat itu.”
“Kau butuh berapa?”
“Nggak banyak, seperti biasa saja.”
Setelah Jeki memberi Benu obat yang di minta, lalu Jeki menatap wajah Voni begitu lama sekali, Jeki begitu mengagumi Voni yang sangat cantik itu.
“Kamu Voni kan?” tanya Jeki berpura-pura tak mengenalnya.
“Iya Bang.”
“Senang sekali kau bisa datang ke rumah Abang, Voni.”
“Terimakasih.”
“O, iya Benu. Sekarang kalian harus berhati-hati, baru dua hari yang lalu rumah Abang di geledah oleh polisi. Sepertinya ada yang melaporkannya. Apakah kalian ada bertemu polisi di jalan?”
“Nggak Bang.”
“Dasar bodoh, mana ada polisi berpakaian dinas bila sedang menyamar.”
“Ya, Voni benar. Mereka itu berpakaian biasa bila sedang menyamar.”
“Wah gawat, kalau kita sampai ketangkap gimana itu, Voni.”
“Ya kita kabur.”
“Aku serius Voni.”
“Aku juga serius Benu, sekarang kita cabut yuk!” ajak Voni seraya menarik tangan Benu.
Setelah transaksi selesai di laksanakan, lalu Benu dan Voni pergi meninggalkan rumah Jeki, tak begitu jauh dari rumah Jeki, mereka berdua bertemu dengan polisi.
Dengan pelan, Voni melewati kendaraan mereka yang sedang berdiri di pinggir jalan, namun setelah sedikit jauh, tiba-tiba mobil itu udah mengejar mereka. Benu dan Voni jadi terkejut.
“Berhenti!” teriak seorang petugas yang menghadang sepeda motor mereka berdua.
“Aduh matilah aku, Voni.”
“Hush! diam kau Benu, nanti kita bisa ketahuan,” bisik Voni seraya menekan suaranya.
“Baik Voni.”
Empat orang pria turun dari mobil seketika, dia datang menghadang Voni yang masih duduk di atas sepeda motor.
Melihat mereka berempat telah berada di depan sepeda motor miliknya, lalu Benu dan Voni juga ikut turun dan membuka helm yang mereka pakai.
“Ada apa ya? kenapa Bapak menghalangi kami?” tanya Voni ingin tahu.
__ADS_1
“Geledah mereka,” kata salah seorang pria itu.
“Oh, maaf. Apa-apaan ini? kenapa kami di geledah?”
“Mana barang yang kalian beli?”
“Barang apa?”
“Nggak usah berbelit-belit, cepat keluarkan!”
“Keluarkan apanya!”
“Barang yang kalian beli.”
“Ya ampun, Bapak-Bapak ini kenapa sih, kalian minta barang apa?”
Lalu dua orang di antara mereka menggeledah tubuh Voni dan Benu, mesti saat itu Voni tak mau, namun mereka berdua tetap menggeledah mereka berdua.
“Nggak ada Pak! mereka nggak membawa apa-apa.”
“Sebenarnya kalian ini lagi mencari barang apa sih, aku nggak mengerti.”
“Narkoba!”
“Ya Allah, aku ini bukan pemakai Pak, lagian apakah Bapak nggak lihat, kalau aku ini termasuk orang yang menggunakan narkoba atau nggak?”
“Maafkan kami, kalau begitu kalian silahkan lanjutkan perjalanan kalian.”
“Baiklah, ayo Benu!” ajak Voni seraya menarik tangannya.
“O ya, maaf. Saat ini kami sedang menyelidiki bandar narkoba di daerah ini. Jadi, kami mohon kerja samanya.”
“Baik, kalau kami melihat sesuatu yang mencurigakan, maka kami akan segera melaporkannya pada Bapak.”
“Iya Pak.”
Karena telah mendapat izin untuk pergi meninggalkan tempat itu, Voni pun memacu sepeda motornya dengan kencang.
“Mereka telah berhasil kita tipu Benu.”
“Apa maksud mu, Voni?”
“Obat itu ada di kulit sepatu ku,” ujar Voni seraya mengeluarkannya.”
“Wah kau sungguh pintar Voni, kok bisa kau memindahkannya ke sepatu mu?”
“Nanti saja ku ceritakan, ayo sekarang pacu kendaraan mu, aku capek!”
“Ok say.”
Lalu Benu memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, hanya satu jam perjalanan saja mereka berdua kembali ke rumah kos milik Voni.
Dengan bergegas, lalu Benu menyuntikan obat itu ketangan Indah. Tak perlu menunggu lama, Indah langsung tenang.
“Ingat Benu, ini yang terakhir kalinya aku membantu kalian berdua, jika terjadi sesuatu pada kalian, aku nggak mau tahu."
“Baik tuan putri,” jawab Benu seraya keluar dari rumah kos Voni.
“Dan kau Indah, kau tahu obat yang baru kau pakai itu sangat berbahaya sekali, tapi kau tetap menggunakannya, apakah kau nggak takut masuk penjara karena di tuduh sebagai pemakai?”
“Tapi aku udah terlanjur menggunakannya Voni.”
“Aku kira, kau gadis baik-baik Indah, ternyata kau lebih parah dari aku.”
“Maafkan aku Voni.”
__ADS_1
Voni tak menjawabnya, dia langsung saja keluar dari kamar itu dan meninggalkan Indan beserta yang lainnya.
Saat itu malam sudah hadir menyelimuti bumi, menyelimuti cahaya yang meneranginya, semua penghuni kembali ke peraduan mereka masing-masing, Voni yang merasa lelah dengan apa yang baru saja dia kerjakan membuat malam yang dilaluinya menjadi tenang.
Dia bahkan tak lagi berminat untuk keluar malam itu, suasana hatinya terasa damai, karena hari itu dia telah menoreh satu kebaikan dalam hidupnya.
Pagi itu saat ayam jantan mulai berkokok, Voni masih asik tidur, dia tak memperdulikan suara riuh dari kamar sebelahnya.
Atas perintah Kepala sekolah, pagi itu seluruh siswa di suruh berkumpul di lapangan. Tapi Bramono tak melihat Voni ada bersama mereka semua, kemudian Bramono memanggil Nita untuk menghadap.
“Ada apa Pak?” tanya Nita ingin tahu.
“Apakah Voni ada di kelas?”
“Nggak Pak.”
“Mana dia, kenapa dia nggak masuk pagi ini?”
“Saya nggak tahu Pak.”
“Tolong kamu cari dia ke kosnya, barang kali dia masih tidur.”
“Baik Pak.”
Mendapat perintah dari kepala sekolah Nita langsung berlari menuju rumah kos Voni. Di perjalanan, Nita berpapasan dengan Rendi yang saat itu hendak pergi ke sekolah. Pria itu tampak menundukkan kepalanya saat bertemu.
“Hai Ren?” sapa Nita pelan.
“Hai! kamu mau kemana?” tanya Rendi ingin tahu.
“Mencari Voni.”
“Kenapa dengannya? apakah ada masalah?”
“Nggak tahu tuh, yang jelas dia sedang di cari Kepala sekolah.”
“Apakah karena gara-gara kemarin?”
“Gara-gara apa, Ren?”
“Ah udahlah, sebaiknya kau cari aja Voni.”
“Baiklah.”
Nita kembali melanjutkan perjalananya, dia mempercepat langkah kakinya agar segera tiba di rumah kos Voni. Benar saja dugaan Bramono saat itu Voni masih tertidur dengan nyenyak.
Ketika Nita membuka pintu cahaya pagi menyilaukan matanya. Dia menggeliat kan tubuhnya.
“Aduh! kenapa pintunya di buka sih?”
“Bangun Voni! ternyata kau masih enak-enakan tidur. Ayo bangun, Kepala sekolah sedang mencari mu.”
“Kau serius Nit?”
“Kalau nggak serius, buat apa aku datang kesini, buang-buang tenaga tau!”
“Mati aku, kalau begitu aku bersiap dulu, tungguin aku ya?”
“Iya, cepat dikit, nanti ku tinggal baru tahu!”
Tak berapa lama kemudian, Voni keluar dari kamar mandi, Nita yang melihatnya menjadi heran, karena Voni mandi seperti kilat yang lagi menyambar.
"Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1