Terjebak

Terjebak
Part 77 Siksaan yang dilakukan Luna


__ADS_3

“Cobalah Non lihat, siapa kira-kira yang telah menculik putriku?”


Saat melihat mobil yang terparkir di halaman sekolah, Voni sudah yakin kalau itu adalah Mamanya.


“Itu memang Mama Om?”


“Mama Non?”


“Iya.”


“Non yakin kalau itu adalah Bu Luna?”


“Iya, aku yakin sekali,” jawab Voni tenang.


“Benar kamu yakin kalau itu adalah mobil Mama mu, sayang?”


“Iya Bram, sebelum aku melihat mobil itu, aku sudah yakin kalau semua itu adalah kelakuan jahat Mama. Karena semenjak dulu, Mama memang punya tabiat buruk seperti itu. dia selalu merasa di sakiti, jika Papa nggak sanggup memenuhi semua kebutuhan hidupnya.


Setelah yakin, kalau itu Luna, lalu Bayu bersama yang lainnya mendatangi rumah Luna. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Bayu langsung masuk kedalam rumah mewah itu.


“Luna! keluar kau!" teriak Bayu seraya bejalan kesana-kemari untuk mencari keberadaan Luna. Namun pada saat itu mereka tak menemukan seorang pun di rumah itu, sepertinya mereka telah pergi entah kemana.


“Ya Allah! Luna, di mana kau menyembunyikan putri ku?”


Bayu tak kuasa membendung air matanya, hatinya begitu hancur ketika dia tahu Luna dan yang lainnya telah pergi meninggalkan rumah itu.


Karena tak menemukan siapa-siapa di rumah itu, akhirnya Bayu dan yang lainnya pergi, mereka semua keluar dari rumah itu tanpa memeriksa seluruh ruangan.


“Giman Om, apakah Om menemukan sesuatu?”


“Nggak Non, rumah itu telah kosong.”


“Berarti Mama udah tahu, tentang kejadian ini. Kalau begitu, ada mata-mata di antara kita.”


“Tapi siapa yang mesti kita tuduh, sebagai mata-mata itu Non?”


“Tenang saja, diantara anak buah Om, ada yang telah berkhianat.”


Karena tak berhasil menemuka Yesi, Bayu terus mencari keberadaan putrinya kemana saja, dia sangat mengkhawatirkan keadaan gadis kecil itu. Sementara itu Mega yang tak kuat karena kehilangan anaknya, dia mengalami depresi.


Sudah dua hari Voni menemani Bayu mencari keberadaan putrinya, namun dia tak menemukan apa-apa tentang Yesi, Voni masih yakin kalau Yesi masih di sekap oleh Mamanya. Tapi karena dia masih sekolah, Voni terpaksa meninggalkan Bayu mencari keberadaan putrinya sendiri.

__ADS_1


Siang itu saat Voni sedang beristirahat, dia di kejutkan oleh Luna yang tiba-tiba saja menendang pintu rumahnya dengan kuat.


“Astaga! siapa itu Non?” tanya Anum ketakutan.


“Nggak tahu, coba Bibi periksa dulu, barang kali ada orang yang ingin bertamu.”


“Baik Non.”


Sesuai perintah Voni, Anum bergegas keluar dan membukakan pintunya dengan lebar. Akan tetapi, betapa terkejutnya Anum, ternyata yang datang itu adalah Luna bersama dua orang pria suruhannya.


“Nyonya?”


“Minggir kau!” bentak Luna seraya menarik paksa tangan Anum keluar rumah, sehingga perempuan itu tersungkur di teras rumah.


“Non Voni! Mama Non datang!” teriak Anum yang meringis kesakitan.


Mendengar teriakan Anum, Voni cepat bangkit dari tidurnya, namun sebelum dia berusaha untuk mengendalikan dirinya, Luna telah melabrak Voni terlebih dahulu.


Voni yang saat itu belum siap dengan kondisi tubuhnya, dia terjatuh, Luna berusaha menampar wajah Voni dan menarik rambut putrinya seperti musuh yang ingin dia bunuh.


Luna benar-benar marah sekali saat itu, dia bahkan menginjak-injak tubuh Voni dengan kakinya, bukan itu saja, Luna juga menyeret putrinya dan melemparnya ke luar rumah. Gadis cantik itu hanya diam saja, karena dia tak ingin membalas kemarahan itu.


“Dasar anak nggak berguna, apa tujuan mu, mengurangi jatah belanjaku, dan mengapa kau melarang ku masuk ke perusahaan, apa kau ingin membuat aku mati berdiri dan membuat adik mu jadi gelandangan, hah!”


Sementara itu, mereka semua menarik tangan Voni dari amukan Luna, yang terlihat seperti orang stress. Voni diam saja mesti saat itu wajahnya memar dan hidung serta mulutnya berdarah, bahkan rambut Voni sampai berada di dalam genggaman Luna.


“Tolong Anak itu Pak, perempuan itu sudah gila!” teriak Anum pada semua warga.


“Heh, perempuan gila, pergi sana, jangan coba-coba membuat gaduh di Desa kami!”


“Kalian semua bodoh, kenapa kalian mau menampung gadis pembunuh seperti dia.”


“Gadis pembunuh apa maksud Ibu?”


“Dia telah membunuh suami saya!”


“Hah! dia telah membunuh suami Ibu?”


Tak ingin Voni di katakan sebagai pembunuh, lalu Anum berusaha untuk berdiri, mesti saat itu kakinya masih terasa sakit.


“Dia itu bohong! perempuan itulah yang telah membunuh suaminya, dia meracuni suaminya sendiri demi selingkuhannya!”

__ADS_1


“Kurang ajar kau Anum!” teriak Luna yang berusaha mengejar Anum serta menampar wajah pembantunya itu dan menarik rambutnya dengan kasar.


Voni tak dapat berbuat apa-apa, lidahnya terasa kelu untuk dapat berteriak saat itu, karena Luna telah mencekik lehernya begitu lama.


Sementara itu, warga yang melihat perlakuan Luna pada Anum, mereka beramai-ramai memukuli Luna. Tak terima majikannya di perlakukan kasar, kedua orang suruhan Luna langsung bereaksi dan menarik tangan Luna untuk segera masuk kedalam mobil dan membawanya pergi.


Kejadian siang itu membuat semua warga terperangah, mereka tak menyangka, kalau ada seorang Ibu begitu tega menyiksa putrinya sendiri sampai sekarat.


Setelah Luna pergi, warga langsung beramai-ramai membawa Voni kedalam rumah. Mereka memberi Voni minum, tapi gadis itu tak berdaya. Anum langsung bergegas menemui Bramono dan melaporkan kejadian itu.


“Benarkah itu Bi?”


“Iya, Pak.”


“Dimana Voni sekarang?”


“Ada di rumah, sedang di obati warga.”


Kabar yang mengejutkan itu, membuat darah Bramono berdesir kuat, karena, Bramono pernah menyaksikan sendiri secara langsung, bagai mana Luna menyiksa putrinya sendiri di persidangan waktu itu.


Ketika Bramono masuk kedalam rumah kontrakan Voni, dia melihat gadis itu tergeletak tak berdaya diatas kasur, tak sepatah katapun yang bisa dia ucapkan saat itu.


“Voni! ada apa?”


Voni tak menjawab, seperti ada sesuatu yang sedang dia rasakan saat itu, sehingga gadis malang itu kesulitan untuk bernafas dan bicara.


“Kenapa Voni nggak bisa bicara Bi?”


“Tadi Mamanya berusaha mencekik leher Non Voni lama sekali Pak.”


“Ya Allah, kelihatannya Voni kesulitan untuk bicara.”


Bramono memeriksa leher Voni, memang terlihat bekas memerah di sana, juga ada memar di sekitar wajah gadis malang itu.


“Kompres bekas luka memarnya Bi!”


“Baik Pak,” mesti saat itu Anum juga sedang merasa kesakitan, tapi dia tak memperdulikan dirinya, asalkan Voni selamat dan baik-baik saja.


Dengan lembut Anum mengompres luka memar yang di alami oleh Voni, mesti saat itu dia hanya diam, tapi air mata gadis itu tak henti-hentinya mengalir.


Bramono begitu takut sekali, karena pada kejadian sebelumnya, setiap Voni mendapat tekanan dan penyiksaan dari Luna, pasti dia begitu nekat untuk mengakhiri hidupnya.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2