Terjebak

Terjebak
Part 53 Usaha yang dilakukan dr. Hery


__ADS_3

“Tolonglah saya dok, saya masih ingin mengikuti ujian akhir. Saya akan bayar berapapun yang dokter minta sebagai bayarannya,” ujar Lesti seraya mengeluarkan semua uang yang ada di dalam tas miliknya.


“Bukan itu masalahnya dek, saya takut dengan resiko yang akan kamu hadapi nantinya.”


“Kalau masalah resikonya biar saya sendiri yang akan menanggungnya dok.”


“Nggak bisa gitulah, masalah ini menyangkut reputasi saya sebagai seorang dokter.”


Mendengar jawaban dr. Hery, Lesti hanya bisa diam saja, dia tak bisa memaksa dokter itu untuk mau melakukannya. Akan tetapi saat Lesti terdiam, dokter itu melirik uang yang ada di dalam tas Lesti. Lalu seraya menarik nafas panjang, dr. Hery mencoba untuk menyetujuinya.


“Baiklah sekarang coba kau berbaring di atas kasur.”


Mendengar jawaban dr. Hery, Lesti tampak tersenyum manis, kemudian dia mengikuti perintah dari pria itu.


Dr. Hery memeriksa posisi bayi yang akan dia gugurkan, dengan begitu hati-hati, dia terus memeriksa dengan teliti kandungan Lesti.


“Apakah kau udah siap?” tanya dokter Hery pada Lesti.


“Udah dok!”


“Dengan semua kemungkinan buruk yang akan terjadi?”


“Apa itu dok?”


“Pendarahan atau mungkin juga kematian yang menyakitkan.”


Mendengar jawaban dari dr. Hery, nyali Lesti menjadi ciut, dia merasa takut dengan semua ancaman yang di ucapkan Hery kepadanya, matanya yang indah langsung menatap tajam kearah Indah dan Intan.


Melihat mata Lesti menatap kearahnya, Indah dan Intan terpaksa harus menganggukkan kepalanya, agar Lesti tan menjadi takut dan grogi. Merasakan ada kekuatan dari Intan dan Indah, Lesti mencoba untuk tegar.


“Baik dok, akan saya tanggung semua kemungkinan buruk yang bakal terjadi.”


“Sekarang berbaringlah, tahan sedikit mungkin rasanya agak sedikit sakit.”


Untuk mendapatkan suntik pertama, Lesti sudah meringis menahan rasa sakit, yang teramat sangat, sepertinya saat itu pikirannya sudah mulai mendua.


"Jangankan untuk menggugurkannya sedang suntikan pertamanya saja sudah terasa begitu sakit," rintih Lesti ketakutan.


Setelah bagian bawah pinggang di suntik, lalu dr. Hery mulai bereaksi, saat pertama sekali tangan dokter itu menyentuhnya, Lesti sudah menjerit histeris.


Sudah satu jam dr. Hery bekerja, namun bayi Lesti sepertinya begtu sulit untuk di keluarkan, darah segar mengalir tiada henti dari Rahim Lesti. Keringat dingin bercucuran dari kedua belah pihak. Dr. Hery merasa takut sekali, nyalinya pun menjadi ciut.


Bukan hanya itu saja, rasa takut dr. Hery semakin menjadi-jadi, ketika darah Lesti semakin deras mengalir.


“Oh tuhan, kenapa darahnya nggak berhenti mengalir, apa yang mesti aku lakukan? kata dr. Hery cemas.


Sambil menarik nafas panjang, dr. Hery duduk terhenyak seraya menatap tajam kearah Lesti yang sudah tak sadarkan diri. Rasa cemas dan takut mulai menghantui pikirannya. Tak berapa lama kemudian dr. Hery teringat dengan darah.


“Ya, darah. Aku butuh darah!” ujar Hery, seraya bergegas menuju ruang penyimpanan darah miliknya.


Dengan cepat dr. Hery memasang infus tambah darah ke tubuh Lesti yang tampak semakin membiru.


Di saat Lesti sedang berjuang antara hidup dan mati, Indah dan Intan berjalan mondar mandir di ruang tunggu, hatinya begitu cemas sekali, takut terjadi sesuatu pada Lesti.

__ADS_1


Tak begitu lama kemudian, dr. Hery keluar dari ruang operasi dengan wajah yang pucat. Seluruh tangannya tampak gemetar dan berlumuran darah.


“Gimana dok?” tanya Indah cemas.


“Gagal, gadis itu mengalami pendarahan hebat, Bapak kehabisan stok darah, tolong kau hubungi orang yang bisa mencarikan darah untuknya.”


“Darah?”


“Iya darah, karena temanmu ke habisan darah.”


“Darah apa?”


“Temanmu butuh golongan darah O.”


“Golongan darah O, kemana kami mesti mencarinya dok.”


“Kalau nggak ada, temanmu nggak akan selamat nantinya.”


Mendengar jawaban dari dr. Hery, Indah dan Intan semakin bingung dan cemas, mereka tak tahu mencari stok darah kemana. Intan sampai menggigit bibirnya karena menahan rasa takut.


“Gimana ini Indah, aku jadi takut sekali.”


“Iya Intan, aku juga ketakutan sekali saat ini, betul kata Voni, kalau kita nggak bakalan bisa menggugurkan kandungan Lesti.”


“Oh tuhan tolonglah kami ini.”


Tak berapa lama kemudian, Indah dan Intan melihat dr. Hery datang dengan membawa dua kantong darah segar di tangannya.


“Darah ini saya dapat dari labor rumah sakit.”


“Berapa biaya untuk satu kantongnya?”


“Rumah sakit sudah kehabisan stok, jadi untuk darah selanjutnya, coba kau hubungi saudara terdekat kalian.”


Setelah dua kantong stok darah itu di pakai untuk lesti, namun Lesti tetap saja belum sadarkan diri. Dr. Hery takut terjadi hal buruk pada Lesti yang dapat merenggut nyawanya.


Sementara pagi itu, di SMA Semangat Negri, semua murid tampak berkumpul di lapangan depan kantor.


Semua siswa beserta para guru merasa heran dengan pengumpulan mereka pagi itu.


Saat itu Kepsek hanya menyebutkan beberapa nama, untuk datang menghadap ke kantor. Termasuk Heru, Lesti Indah dan Intan. Dari keempat nama yang di sebutkan, hanya Heru yang bisa datang menemui Kepala sekolah.


Ketika Heru tiba di depan pintu ruang kepala sekolah, Bramono langsung memberinya izin untuk masuk kedalam, dengan tenang Heru duduk di hadapan kepala sekolah.


“Ada hubungan apa antara kamu dengan Lesti?” tanya Bramono ingin tahu.


Saat mendengar pertanyaan dari Bramono, Heru hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya, Heru begitu terkejut saat mendengar pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari mulut Kepsek tersebut.


“Kurang ajar, ini pasti Voni yang telah mengadukannya pada Kepsek,” ujar Heru dalam hatinya sendiri.


“Kenapa mesti diam? apakah kau nggak dengar apa yang telah Bapak tanyakan padamu?”


“Dek...dengar Pak.”

__ADS_1


“Kalau dengar, kenapa nggak langsung di jawab?”


“Lesti itu hanya teman dekat Pak.”


“Teman dekat? sedekat apa pertemanan kalian berdua?”


“Ya, sama dengan teman yang lainnya Pak.”


“Kalau sama dengan teman yang lainnya, lalu kenapa Lesti bisa hamil?”


Pertanyaan Bramono membuat Heru terkejut dia bahkan tak kuasa untuk menarik nafasnya saat itu, perasaan takut membuatnya terdiam sejenak.


“Jawab Bapak!” bentak Bramono seraya menampar meja yang ada di hadapannya.


“Maafkan aku Pak, aku khilaf,” jawab Heru pelan.


“Udah berapa kali kau melakukannya dengan Lesti?”


“Hanya dua kali Pak?”


“Yakin hanya dua kali?”


“Yakin Pak.”


“Kau nggak lagi berbohong?”


“Nggak Pak.”


“Tapi kata Lesti sudah nggak terhitung kalinya.”


“Dia itu berbohong Pak.”


“Heru, kalau kau nggak mau bicara jujur, maka Bapak nggak segan-segan menjebloskan mu kedalam penjara.”


“Iya Pak, maafkan aku, aku nggak mau di penjara.”


“Katakan dengan jujur, udah berapa kali kalian melakukannya?”


“Udah sering Pak.”


“Dimana saja tempatnya?”


Pertanyaan Bramono membuat nafas Heru semakin sesak, dia bahkan tak sanggup lagi menatap wajah Bramono yang ada di hadapannya.


Maafkan aku Pak.”


“Bapak nggak butuh permintaan maaf dari mu, yang Bapak pertanyakan saat ini, dimana saja tempat kau melakukannya?”


“Di rumah kos ku Pak.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2