
Dengan sedikit jutek, Voni mengikuti Bramono dari belakang, setibanya di sebuah ruangan, lalu Bramono mengetuk pintunya, dari dalam seseorang mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
“Silahkan duduk!”
“Iya terimakasih.”
“Apa ada yang perlu kami bantu, Pak?”
“Begini dok, murid saya ini sering kali pingsan secara tiba-tiba, tapi dia nggak mengalami sakit apapun sebelum tak sadarkan diri. Bisa nggak kira-kira rumah sakit memeriksa kondisi tubuhnya?”
“Saat ini dia udah berusia berapa tahun, Pak?”
“Udah lima belas tahun, dok.”
“Baiklah, kami akan coba periksa kondisinya. Kalau begitu Bapak tunggu di sini sebentar.”
“Baik dok.”
Ketika dokter itu telah pergi, Voni langsung mencubit tangan Bramono. Dia merasa marah karena Bramono tak berterus terang padanya.
“Bapak kok nggak bilang, kalau mau periksakan penyakit ku di rumah sakit ini?”
“Nanti kalau Bapak bilangin, kamu pasti menolaknya. Jadi, Bapak diamin aja.”
“Emangnya aku ini sakit apa sih, Pak?”
“Bapak juga nggak tahu sayang, itu makanya kita periksakan dulu kondisimu, lebih cepat kita mengetahuinya, lebih baik kan?”
“Tapi aku takut sekali saat ini.”
“Nggak usah takut, hadapi aja dengan tenang.”
“Baiklah.”
Tak berapa lama kemudian seorang pria masuk kedalam ruangan itu, pria itu berkulit putih dan tampan. Bramono yang melihat, darahnya langsung berdesir.
“Ya Allah, ada apa ini? kenapa darah ku berdesir kuat saat melihat pria itu?”
tanya Bramono pada dirinya sendiri.
Lalu pria itu pun duduk tepat di hadapan Voni, mesti saat itu dia terlihat tenang, tapi matanya yang bulat bersih tak henti-hentinya menatap Voni.
“Dengan Voni regina Sanjaya?”
“Iya, saya sendiri.”
“Ikut saya ke labor!” ujar pria itu memberi perintah pada Voni.
Tanpa banyak komentar, Voni langsung menarik tangan Bramono. Dari gelagat pria itu, Voni merasa takut padanya.
“Ayo ikuti saja dia!” ujar Bramono pada Voni.
“Ayolah! temani aku,” ajak Voni seraya menarik tangan Bramono.
“Emangnya kenapa?”
“Bapak lihat nggak, mata pria itu, sepertinya tak pernah berhenti melirik aku.”
“Itu artinya kamu itu cantik, jadi pria itu merasa senang melihat mu.”
“Aku nggak yakin.”
“Nggak yakin gimana?”
__ADS_1
“Ya, nggak yakin kalau aku ini cantik!”
“Kamu itu ya, bisa aja cari alasan.”
Sesuai keinginan Voni, Bramono mengikuti muridnya sampai ke pintu ruang rontgen. Di depan pintu itu dia menunggu Voni dengan gelisah. Sementara itu Voni yang telah masuk kedalam di suruh membuka pakaiannya di ruang ganti oleh pria itu.
“Kenapa mesti buka pakaian?”
“Kalau kamu berpakaian, sinar rontgen nggak bisa menembusnya, jadi penyakit apa yang sedang kamu derita, nanti nggak bisa di deteksi.”
“Tapi aku malu.”
“Nggak apa-apa, lagian nggak ada orang yang melihatnya kok.”
“Bapak, kan Bapak ada disini."
“Dek, ruang gantinya di sana, kamu nggak usah khawatir.”
“Baiklah.”
“Nanti setelah itu, kamu pakai pakaian yang ada di lemari.”
“Baik,” jawab Voni seraya berjalan menuju ruang ganti.
Sesuai perintah pria itu, Voni pun bergegas mengganti pakaiannya, setelah itu dia langsung menuju ruang rontgen.
Selesai rontgen, Voni kembali mengganti pakaiannya, saat itulah pria yang ada di dalam itu datang menghampiri ruang ganti. Untung saja saat itu Voni telah memakai pakaiannya, lalu pria itu masuk kedalam ruang ganti.
“Bapak? ngapain Bapak disini?” tanya Voni heran.
“Nggak ada, kalau kamu udah siap, mari kita keluar,” jawab pria itu seraya kembali keluar dan menutup pintu kamar ganti tersebut.
Jantung Voni, rasanya tak mau berhenti berdetak, kehadiran pria itu yang tiba-tiba membuat Voni terkejut. Lalu dia segera keluar dan meninggalkan ruangan itu.
“Udah.”
“Kalau begitu mari kita menunggu di dalam,” ajak Bramono seraya menggandeng tangan Voni.
“Kenapa? kok kelihatan jutek gitu?”
“Tadi pria yang rontgen aku, masuk kedalam kamar ganti, saat aku sedang mengganti pakaian.”
“Kamu serius?” tanya bramono seraya melototkan matanya.
“Tapi Bapak tenang saja, untung saat itu aku sudah selesai berpakaian.”
“Apakah dia ada menyentuh mu?”
“Kalau iya, kenapa?”
“Voni! Bapak ini serius.”
“Bapak cemburu ya?”
“Gimana nggak cemburu.”
“Sedang belum di sentuh aja, sewotnya udah ke langit, gimana kalau aku sampai di peluknya!”
“Voni! bercandanya jangan keterlaluan gitu dong.”
“Nggak, nggak!” jawab Voni seraya tersenyum menatap mata Bramono.
Setibanya mereka berdua di ruang dokter, beberapa saat kemudian, seorang perawat datang sambil membawa hasil rontgen di tangannya.
__ADS_1
“Gimana hasilnya dok?”
“Sepertinya murid Bapak mengalami tumor otak ringan di bagian belakang.”
“Apa! tumor otak?”
“Iya, Pak.”
Mendengar jawaban dari dokter tersebut, Bramono dan Voni saling bertatapan, mereka tak menyangka sama sekali kalau saat itu Voni mengalami tumor otak.
“Apakah masih bisa di obati dok?”
“Bisa Pak, kami akan melakukan operasi untuk mengangkat tumor tersebut sebelum semakin meluas dan mengganas.”
“Apakah berbahaya dok?”
“Kalau tumor itu tak pernah menyakiti yang bersangkutan, maka belum di katakan ganas dan berbahaya. Tapi kalau sudah menyakiti dan mengganggu orangnya, maka itu baru di katakan berbahaya."
“Baiklah, kalau begitu, kapan murid saya bisa menjalani operasi tersebut dok?”
“Tergantung Bapak dan melihat pisik pasiennya dulu.”
“Kalau begitu minggu depan kami akan datang lagi dok.”
“Baiklah akan kami tunggu.”
“Kalau begitu kami permisi dulu dok.”
“Baik Pak.”
Di atas mobil menuju ke sekolah, Voni hanya diam saja, pandangannya hanya fokus pada jalan yang akan di lalui, saat itu dia teringat dengan Mamanya. Tanpa dia sadari air matanya jatuh menetes membasahi kedua pipinya.
“Hei ada apa sayang? kok kamu menangis?”
“Bapak tahu nggak, kira-kira kapan Mama mau mengakui ku sebagai putrinya?”
“Jadi selama ini, Mamamu nggak mengakui mu sebagai putrinya?”
“Nggak, Pak. Mama sangat membenci ku, karena aku telah dituduh membunuh suaminya.”
“Emangnya suami Mama mu, bukan Ayah kandung mu?”
“Bukan, Papa ku telah di bunuh oleh Mama.”
“Bapak jadi semakin bingung, mendengar ceritamu.”
“Papa ku diracuni oleh Mama, karena dia ingin menikah dengan pria lain!”
jawab Voni dengan kasar dan emosi.
Bramono tak langsung marah dengan suara Voni yang keras itu, Bramono tahu, kalau saat ini Voni menyimpan permasalahan yang tak bisa di selesaikan nya.
“Sabar sayang, sabar! ingat Voni, Bapak nggak suka bicara kasar dan keras.”
Saat itu Voni sadar, kalau dia telah bicara kasar dan keras pada kekasihnya, untuk itu Voni hanya bisa menangis sedih seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Tak ingin menimbulkan masalah baru, Bramono langsung menghentikan mobilnya, dia turun dan memberi Voni minum.
"Tenangkan hati mu sayang, nggak perlu berputus asa, Allah pasti mendengarkan semua keluh kesah hambanya, asalkan kau mau berserah diri dan berdo’a padanya.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1