
Voni pun melanjutkan ucapannya, di hadapan semua orang dia mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua.
“Benar seperti itu kejadiannya Yola?”
“Nggak! berarti dia itu berbohong Pak!”
“Anak didik ku nggak suka berbohong, jika yang dia katakan seperti itu, maka itulah yang terjadi.”
“Kenapa Bapak terlalu percaya dengan ucapannya, bukankah Bapak sendiri nggak tahu kejadian yang sebenarnya?”
“Aku mempercayainya, semenjak dia datang kesekolah ku.”
“Kau berbohong Yola!” bentak guru olah raga itu pada anak didiknya.
Karena gurunya marah, Yola hanya bisa tertunduk malu, hatinya sangat sakit sekali saat itu, karena kebohongan yang telah di buatnya ketahuan oleh orang banyak.
“Awas kau! kita akan bertemu nanti di gelanggang!”
Mendengar ancaman dari gadis itu, Voni hanya diam saja, matanya yang indah hanya menatap tajam kearah Bramono.
“Ayo, kita pergi!” ajak Bramono pada Voni.
Dengan langkah santai Voni mengikuti Bramono dari belakang, saat itu Voni hanya diam saja, setelah Bramono tiba di depan kamarnya, lalu dia menyerahkan kunci kamar itu pada Voni.
“Kamar ini saja untuk mu, angkat koper mu dari kamar itu dan pindahkan ke sini!” perintah Bramono pada Voni.
Mendengar perintah Bramono, Voni hanya bisa terpana heran, dia tak menyangka kalau Bramono begitu perhatian sekali padanya.
“Lalu Bapak tidur di mana?” tanya Voni heran.
“Kamu nggak usah pikirkan Bapak, sekarang cepat keluarkan koper mu dari kamar itu!”
“Baik Pak,” jawab Voni seraya bergegas mengeluarkan kopernya dari kamar sebelah.
Setelah koper Voni di pindahkan kekamar Bramono, kemudian pria itu pergi, kesempatan itu di manfaatkan Voni untuk beristirahat.
Saat Voni sedang tertidur lelap, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar, diapun segera bangkit untuk membukanya.
“Oh, Bapak.”
“Kamu terganggu?”
“Nggak Pak. Itu Bapak bawa apa?”
__ADS_1
“Ini makanan ringan untuk mu dan ini nasi bungkus.”
“Bapak dapat dari mana?”
“Tadi Bapak beli di luar.”
“Ayo kita makan.”
“Bapak mau makan dengan ku?”
“Kenapa? apakah nggak boleh, Bapak makan bersama mu?”
“Oh bukan itu, justru aku nggak menyangka Bapak mau makan bersama gadis jahat seperti ku.”
“Siapa bilang kamu itu gadis jahat.”
“Semua orang bilang begitu kok.”
“Apakah Bapak pernah bilang begitu?”
“Nggak tahu!” jawab Voni seraya mengangkat kedua bahunya.
Mendengar jawaban dari Voni, Bramono hanya tersenyum seraya mencubit lembut dagu Voni yang lancip dan indah.
Kemudian makanan itupun di buka, lalu mereka berdua memakannya dengan lahap sekali, Bramono melihat Voni memakan nasi itu dengan sopan dan tenang, mesti Voni selalu berbuat jahat dan nakal, namun dia mempunyai sisi lembut dan anggun.
“Baik Pak,” jawab Voni dengan lembut.
Sesuai dengan perintah Bramono, Voni mengerjakannya tanpa merasa enggan dan ragu. Namun ketika hari sudah sore, Voni merasa sedikit jenuh, air liurnya agak sedikit dingin, karena ingin meminum sesuatu.
Lalu gadis tomboi itu, mencoba berjalan-jalan keluar dari gedung perlombaan, Voni berjalan pelan di sepanjang trotoar jalan.
“Di mana aku dapat membeli minuman ya? sepertinya aku udah pingin minum saat ini,” gumam Voni pelan.
Mesti dia tak menemui penjual minuman yang diinginkannya, namun Voni tetap berjalan mengikuti kemana kakinya melangkah, setelah begitu jauh melangkah, tiba-tiba saja dari arah depan Voni melihat banyak orang berkerumun.
“Ada apa itu? kenapa rame sekali?” tanya Voni heran.
Tak ingin memikirkan hal yang bukan-bukan, Voni langsung saja menuju kerumunan itu. Awalnya dia tak bisa mendekat, karena ramai, tapi setelah semua orang sebagian pergi, Voni bisa melihat dengan jelas apa yang telah terjadi.
“Ya ampun! ada kecelakaan.”
Tak berapa lama kemudian polisi datang ke tempat itu, lalu mereka memasang polis line, sehingga Voni tak bisa mendekati tempat itu. Karena polisi telah melarang semua orang mendekat, Voni pun melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Hanya beberapa langkah dari tikungan yang baru saja dia lewati, lalu Voni melihat begitu banyak orang berlarian ke arahnya.
Voni tak tahu, kalau di hadapannya ada pencuri yang sedang di kejar masa. Setelah pencuri itu lewat, dia pun melempar sesuatu pada Voni. Voni yang tak tahu apa-apa, dia langsung menyambutnya.
Setelah pemuda itu berlari begitu jauh, Voni membuka bungkusan yang ada di tangannya, betapa terkejutnya dia saat itu, ternyata bungkusan itu berisi uang yang begitu banyak.
“Ya Allah! ternyata dia itu maling?”
Tak ingin di tuduh sebagai pencuri, lalu Voni menghindari tempat itu dan mencari jalan pintas. Rencananya ingin kembali ke kedung perlombaan dengan melewati jalan pintas, ternyata dia salah dan hanya berputar-putar di sekitar komplek.
Mesti Voni sudah berusaha mencari jalan keluar, namun dia tetap tak bisa. Voni begitu takut sekali, karena dia tahu, kalau terlambat datang, Bramono pasti mencemaskan keadaannya, sementara itu Voni telah berjanji tak akan menyakiti hati Bramono.
“Ya Allah! kenapa aku nggak menemukan jalan keluarnya?”
Seraya membawa tas yang ada di tangannya, Voni berusaha untuk kembali ke tempat awal. Akan tetapi ketika dia baru saja melangkah, dari arah depan Voni melihat begitu banyak orang yang berlarian ke arahnya. Mereka semua berlari sangat kencang sekali.
Saat itu Voni melihat seorang pria tua sedang mendorong gerobak dagangannya, dan begitu banyak pedagang lain, yang ikut berlarian bersama mereka.
Tak berapa lama kemudian, di hadapan Voni ada seorang Ibu penjual goreng yang terjatuh, sehingga semua gorengannya habis berserakan. Si Ibu itupun menangis, Voni yang melihat langsung menghampiri Ibu tersebut.
“Dagangan Ibu nak, habis semua, padahal belum ada yang laku.”
Saat itu Voni teringat dengan uang yang ada di dalam tasnya, lalu dia mengambil beberapa lembar uang ratusan dan menyelipkannya di kantong si Ibu.
“Sekarang Ibu pulanglah, uang ini udah cukup untuk bekal hidup selama satu bulan.”
“Kamu siapa nak?”
“Nggak usah Ibu pedulikan aku, sekarang cepatlah Ibu pergi.”
Mendengar perintah dari Voni, Ibu itu berlari menjauhi satpol PP yang sedang mengejar mereka. Baru saja Voni hendak berdiri, tiba-tiba saja dari arah belakang seseorang menarik tangannya dengan kuat.
“Lari dek…lari! ayo cepat!”
Tanpa berfikir panjang lagi, Voni pun ikut berlari bersama pria yang menarik tangannya. Setelah begitu jauh berlari, barulah pria itu melepaskan tangan Voni yang tampak lelah. Nafas mereka berdua sama-sama tersengal.
Kemudian pria itu mencari tempat perlindungan yang aman, dia duduk di bawah sebatang pohon. Saat itulah pria itu baru sadar, kalau dia telah menarik tangan seorang gadis cantik.
“Ya ampun! jadi yang Abang tarik tangannya tadi itu kamu?”
“Iya, kenapa?”
“Maafkan Abang ya Dek, Abang nggak tahu. Abang kira tadi itu kamu anak-anak.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*