
Mendengar suara Voni yang mulai kesal, Intan tak mau lagi melanjutkan ucapannya, karena Intan takut, kalau Voni marah, semuanya pasti ikut kena getahnya.
Bukan hanya Intan, bahkan semua anak kos itu tak ada yang berani berbicara sama Voni, jika mereka sedang bercanda, lalu Voni melintas di depan mereka, spontan saja mereka semua terdim dan berlagak sopan serta menegur Voni dengan lembut.
Malam itu bagi Voni terasa begitu cepat berlalu, baru saja rasanya dia memejamkan mata, lalu dari luar terdengar suara ayam berkokok, hal itu menandakan waktu subuh telah masuk.
Di tarinya kain selimut yang menutupi sebagian tubuhnya hingga ke kepala dan Voni kembali tidur dengan lelap, dia meninggalkan Subuh yang membawa rahmat dan berkah untuknya.
Karena pulasnya tidur, tak terasa pagi pun telah berlalu, saat Bu Ranti memeriksa seluruh kamar, dia mendapati Voni masih saja lelap dengan mimpi indahnya.
“Ya ampun! mau jadi apa anak ini kalau udah besar!” gerutu Ranti pelan.
Mendengar omelan Ranti, Voni langsung menjawab. “Nggak perlu Ibu menggerutu, sering-seringlah Ibu mendo’akan aku, biar aku mendapat hidayah dari Allah!”
“Huuh! hidayah apa!”
“Hidayah, biar aku menjadi orang baik dan berhasil!” jawab Voni dengan mata terpejam.
“Apa kau nggak sekolah Von?”
“Sekolah, tapi nanti!”
“Nanti! nanti kapan? tunggu semua murid pulang dari sekolah!”
“Apa maksud Ibu?”
“Kau lihat sendiri jam di kamar mu, apa masih subuh atau udah siang!” teriak Ranti seraya berlalu meninggalkan kamar Voni, untuk memeriksa kamar yang lainnya.
Ketika suara Bu Ranti tak terdengar lagi di telinganya, Voni mulai tersadar, lalu dia membuka matanya lebar-lebar.
“Ya ampun! udah pukul sepuluh! kenapa Ibu nggak bangunin aku.”
“Bukan kah kau udah bangun, saat Ibu lagi ngomel tadi?”
“Iya, itu benar Bu, tapi sebagian, sebagiannya lagi tertutup,” ujar Voni seraya berlari ke kamar mandi.
Dengan cepat dan sigap, Voni langsung berkemas dan berangkat ke sekolah, saat tiba di dalam kelasnya, tak seorang guru pun yang mengajar saat itu, sehingga Voni lebih leluasa untuk masuk, semua murid yang melihat keterlambatan Voni, mereka hanya diam saja.
Mereka semua takut pada Voni, semenjak kejadian Voni bertengkar dengan David, Voni menghajar David dengan beringasnya.
Bersamaan dengan itu, Rendi yang kebetulan lewat di depan kantor, di panggil Kepala sekolah.
“Ada apa Pak?”
“Kamu kenal dengan Voni?” tanya Kepsek pada Rendi.
“Kenal Pak!”
“Tolong kamu panggil dia, suruh menghadap saya!” perintah Kepsek saat itu.
“Baik Pak.”
Mendapat perintah dari Bramono, Rendi langsung bergegas menuju kelas Voni. Di depan kelas 1A, Rendi pun menoleh kedalam. Saat pria tampan itu menoleh ke dalam, lalu beberapa pasang mata, mulai memperhatikannya.
__ADS_1
Mereka seperti terpesona melihat ketampanan Rendi, bagai mana tidak, Rendi yang bertubuh tinggi itu, memliki kulit putih dan bola mata biru, persis seperti orang barat, sehingga banyak orang memanggilnya dengan sebutan. “Barat."
Melihat kehadiran Rendi yang juga ketua Siswa pecinta alam di sekolahnya, Voni langsung bergegas keluar kelas, untuk menghampirinya.
“Hei Voni, kau mau kemana?” tanya Nita ingin tahu.
“Sebentar, ada Rendi datang, aku mau menemuinya dulu!” teriak Voni, seraya menghampiri Rendi.
“Hai Voni!”
“Hai Ren, ada apa? kok kamu kesini?” tanya Voni ingin tahu.
“Kepsek memanggil mu.”
“Ada masalah apa?”
“Aku nggak tahu.”
“Padahal, aku baru saja datang.”
“Kau terlambat lagi?”
“Iya!” ucap Voni mengangguk kan kepalanya.
“Ada masalah apa ya?”
“Aku nggak tahu, ayo!” ujar Rendi seraya menggadeng tangan Voni di hadapan teman-teman kelas voni lainnya.
“Sebenarnya aku udah capek di panggil terus Ren.”
“Ya udah, kalau begitu aku ke sana dulu.”
“Iya.”
Setibanya di depan ruangan majelis guru, Voni berpapasan dengan Bu Riska, guru yang pernah dia sakiti waktu itu. Bu Riska menatap Voni dengan pandangan sinis dan penuh amarah.
“Ibu nggak perlu menatap ku seperti itu, karena aku ini bukan musuh Ibu.”
“Apa maksud mu Voni?” tanya Bu Riska ingin tahu.
“Kenapa Ibu memandangi ku seperti seorang musuh, apa menurut Ibu aku ini seorang penjahat?”
“Kamu itu ya Voni, nggak pernah berubah! selalu saja bikin orang lain marah, jangankan untuk menurunkan ilmu pada mu, melihatmu saja Ibu udah muak!”
“Ooo, ternyata itu yang ada di dalam hati Ibu, Ibu muak melihat wajah polos ku.”
“Wajah polos?”
“Ya, wajah polos tanpa dosa! nggak seperti Ibu, seorang guru yang suka menaruh dendam di dalam hatinya.”
“Kurang ajar kau Voni!”
“Siapa bilang aku kurang ajar?”
__ADS_1
“Huuh!”
Mendengar suara ribut-ribut di luar, Bramono langsung bergegas melihatnya, dia begitu terkejut ternyata yang bertengkar itu adalah Voni dan Bu Riska.
“Ada apa ini? kenapa kalian berdua bertengkar?” tanya Bramono ingin tahu.
“Semua itu gara-gara Voni Pak, dia telah berkata kasar pada saya,” jawab Bu Riska.
“Benar begitu Voni?” tanya Bramono memastikan.
“Terserah Bu Riska saja, kalau dia ingin berbohong, aku terima, kalau dia ingin jujur itu lebih baik, untuk solusi ini.”
“Apa maksud mu Voni?” tanya Riska heran.
“Kok Ibu ketakutan banget, aku nggak bakalan ngomong kok.”
“Tapi kenapa kau bicara seperti itu barusan?”
“Aku hanya ingin memastikan apakah Ibu bisa di percaya atau nggak.”
“Sebenarnya masalah kalian ini apa sih, Bapak nggak mengerti?” tanya Bramono bingung.
“Bapak tanya aja sendiri pada Bu Riska.”
“Iya Riska, sebenarnya apa permasalahan kalian kok sampai bertengkar?”
Mendengar pertanyaan Bramono, Riska tak menjawab, dia hanya menangis dan berlari ke ruang majelis guru. Lalu Bramono menatap curiga kearah Voni dan Voni pun mengangkat kedua bahunya.
“Udah, nggak perlu di bahas, nanti Bu Riska nya, juga bakalan berhenti nangis.”
“Kamu itu ya Voni, selalu saja menyakiti hati guru, apa kah kamu nggak bosan melihat kekacauan ini?”
“Habis gimana lagi Pak, mereka sendiri yang selalu marah dan mencari kelemahan ku. Bapak tahu sendirikan, aku nggak suka mereka memancing emosi ku.”
“Tapi kamu itu kan bisa bersabar menghadapi mereka itu Voni.”
“Bukan aku yang mesti bersabar menghadapi mereka semua, Pak. Tapi mereka lah yang harus bersabar menghadapi ku.”
Mendengar ucapan Voni, Bramono hanya terdiam, dia menatap wajah Voni dengan pandangan yang penuh rasa kasihan.
“Voni, apakah kau masih punya ke dua orang tua?”
“Kenapa Bapak bertanya seperti itu?”
“Kau nggak mau menjawab pertanyaan Bapak?”
Saat pertanyaan itu terdengar di telinganya, wajah Voni langsung saja berubah, air mukanya menggambarkan kalau dia tak ingin membahas masalah orang tuanya pada siapa pun, Voni benar-benar hancur, bila mengingat masa lalu yang menyakitkan itu.
“Bisa Bapak nggak membahas masalah itu dengan ku?”
“Oh baiklah, berarti kau belum bisa menjawab pertanyaan Bapak.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*