Terjebak

Terjebak
Part 81 Kebahagiaan


__ADS_3

“Iya sayang, Bi Anum sampai saat sekarang ini, dia masih seperti dulu, baik dan selalu menyayangi kita berdua.”


“Kalau begitu, Abi ngambil tas dulu, biar kita tinggal bersama dengan Bi Anum.”


Voni sangat senang sekali, karena, Abi mau mengikuti keinginannya, tampa menunggu lama, Voni dan Bramono kembali ke rumahnya.


Ketika pintu rumah terbuka dengan lebar, Anum telah menantikan Abi dengan kue tar buatannya, Abi senang sekali dia pun berlari mengejar pembantu yang sudah merawat dan membesarkannya melebihi orang tua kandung.


“Bi Anum! kenapa Bibi meninggalkan Abi?”


“Bibi, mengurus Kak Voni, sayang, kalau di rumah Abi, kan punya Mama, sementara Kak Voni, dia nggak punya siapa-siapa disini.”


“Tapi Bibi nggak pergi lagi kan, kalau Abi tinggal bersama Kakak?”


“Nggak sayang, Bibi, nggak bakalan meninggalkan kalian berdua.”


“Bibi janji ya?”


“Iya sayang,” jawab Anum seraya memeluk tubuh Abi.


Bramono dan Voni tampak tersenyum manis, ketika melihat keduanya saling sayang. Saat berpelukan Abi melihat ada kue tar di atas meja.


“Kue itu untuk siapa ya Bi?” tanya Abi ingin tahu


“Padahal Bibi sengaja membuatnya, tapi ada anak yang nggak tahu dengan makanan kesukaannya. Ya sudahlah, kalau begitu makanannya Bibi simpan aja di dalam.”


“Tapi Abi mau Bi.”


“Abi mau?”


“Iya.”


“Coba tebak, ini makanan kesukaan siapa?”


“Abi!”


“Pintar, kue ini sepesial Bibi buatkan untuk menyambut kedatangan Abi, karena Bibi tahu, Abi paling senang kalau melihat kue ini berada di dalam lemari. Pelan-pelan, seperti Tom yang sedang mengikuti Jeri, lalu Abi mencurinya dari dalam lemari Bibi.”


“Iya, Bibi benar, Abi jadi malu.”


“Nah kalau begitu, Abi bisa memakan kue ini sepuas Abi.”


“Benar kak?”


“Benar sayang,” jawab Voni tersenyum lebar.


Di saat semuanya terlihat senang, lalu Bramono memberi sedikit masukan pada Voni.


“Ada apa Bram?”


“Saat ini kamu bukan lagi Voni yang dulu, hidup bebas kemana saja yang kamu suka.”


“Kenapa begitu?”


“Karena saat ini, kamu sudah memiliki tanggungan sendiri, yaitu Abi.”

__ADS_1


“Iya Bram, aku ngerti kok," jawab Voni pelan.


Hari demi hari, Voni memang jauh berubah, dia tak seperti dulu lagi, karena ada Abi yang selalu menghibur dirinya bila mendapat tekanan di luar sana.


Selain Abi, Anum adalah segalanya dalam hidup Voni, perempuan yang telah merawat dan membesarkannya itu, ternyata punya peranan penting mengendalikan hidup Voni.


Gadis yang dulunya nakal dan punya segudang problem, sudah berangsur lembut dan tidak banyak tingkah. Kehadiran Bramono dalam hidupnya, juga telah membuat Voni tahu arti kasih sayang seseorang yang selalu ada untuknya.


Keesokan harinya, seperti biasa, Voni mulai kembali belajar, dua hari lagi, Voni akan mengikuti olimpiade B Indonesia. Guru Bahasa Indonesia telah di datangkan sekolah untuk menguji ketangkasan Voni. Bukan itu saja Bramono juga mendatangkan guru bimbel untuk Voni.


Usaha guru bimbel tersebut di tanggapi baik oleh Voni, di saat jam-jam tertentu, dia keluar untuk mengikuti pelatihan.


Di pergantian jam kedua, Voni tak masuk kedalam kelas, dia merasa lelah belajar dan lebih memilih duduk di kantin sendirian.


Saat itu pelajaran Bahasa indonesia , yang gurunya tak lain adalah Pak Aswadi. Dari awal sekolah, Pak Aswadi memang tak suka dengan Voni, begitu juga sebaliknya, Voni tak suka belajar Bahasa Indonesia dengan Bapak itu.


Ketika pria itu telah masuk dan duduk di dalam kelas, dia memandangi seluruh muridnya, saat itu Aswadi tak melihat Voni ada bersama mereka.


“Voni mana? kenapa dia nggak masuk?”


“Paling-paling cabut Pak!” jawab Sarjan dengan suara lantang.


“Tadi Bapak lihat dia sedang latihan di kantor, apakah dia belum kembali?”


“Belum Pak,” jawab Nita pelan.


“Bolos terus dia, nanti saya kasih nilai merah baru tahu rasa,” gerutu Aswadi dengan suara keras.


Pelajaran Bahasa Indonesia tetap di lanjutkan walau Voni tak ada bersama mereka, setelah bel istirahat berdering, Voni pun bangkit dan berjalan pelan menuju kelas.


“Kenapa Bapak memandangi saya seperti itu? apa Bapak nggak senang melihat saya?”


“Jaga mulut mu itu Voni, udah salah, belum juga ngaku.”


“Emangnya kesalahan saya itu apa?”


“Kemana saja kamu, kenapa kamu nggak masuk saat belajar Bahasa Indonesia.”


“Saya capek!”


“Itu bukan alasan mu Voni, kalau kau capek, pulang sana, tidur di rumah!” bentak Aswadi dengan suara keras.


“Heh, Pak! itu kan hak saya! mau belajar atau nggak, Bapak nggak boleh paksakan kehendak dong! mestinya Bapak itu introspeksi diri, kenapa saya nggak suka dengan pelajaran yang Bapak ajarkan. Bapak ingin tahu kenapa? karena Bapak itu Nggak tahu apa-apa!”


“Kurang ajar kamu Voni, semakin hari, kelakuan mu semakin menjadi-jadi. kata orang kau telah jauh berubah, berubah apanya!”


“Salah Bapak sendiri, ngapain dengerin kata orang.”


Aswadi memang terpancing emosi saat itu, padahal Aswadi telah mendapat peringatan dari kepala sekolah, agar sabar dalam menghadapi Voni.


Di dalam kantor, Aswadi duduk diam seraya mengusap wajahnya dengan kasar, Pak Asrul yang melihat kegalauan di wajah Aswadi dia langsung datang menghampiri pria berkulit putih tersebut.


“Ada apa? sepertinya lagi banyak masalah?”


“Aku bertengkar dengan Voni.”

__ADS_1


“Bertengkar dengan Voni? masalahnya apa?”


“Lagi-lagi gadis itu nggak masuk saat aku mengajar di dalam kelas.


“Kalau dia nggak masuk, kenapa Bapak mesti marah, biarkan saja, nanti kalau dia melawan kasih nilai rendah, lama- kelamaan dia pasti sadar, dengan semua kesalahan yang dilakukannya.


“Aku tahu itu Rul.”


“Kalau udah tahu, lalu apa lagi?”


“Masalahnya, kalau dia di kasih nilai rendah, Bramono pasti marah pada kita.”


“Ah, yang benar kamu, setahu ku, sewaktu aku mengajar di kelas Voni, dia juga ku kasih nilai rendah, tapi kayaknya dia aman-aman saja tuh.”


“Dia itu gadis keras kepala Rul.”


“Jadi mau mu apa lagi Pak?”


“Aku mau melaporkan semuanya pada kepala sekolah.”


“Benarkah?”


“Iya.”


“Kalau kepala sekolah nggak menanggapinya, gimana?”


“Tapi ini semua nggak bisa di biarkan Rul, lama kelamaan gadis itu semakin melonjak dan keras kepala.”


“Terserah kamu! niar aku menjadi penonton dalam hal ini.”


“Terserah mu!” ujar Aswadi seraya bergegas menuju ruangan Kepsek.


Saat telah mendekati pintu, Aswadi mengetuk pintu itu dari luar dengan tenang. Bramono yang mendengarnya, langsung mempersilahkan Aswadi masuk kedalam.


“Pak Aswadi, ada apa?”


“Saya mau melaporkan Voni Pak.”


“Melaporkan Voni? melaporkan apa? apakah dia buat kerusakan lagi, atau dia berlaku kurang ajar lagi pada kalian?”


“Iya Pak, dia telah berkata kasar pada saya.”


“Dimana dia berkata kasar pada Bapak?”


“Ketika pelajaran telah usai.”


“Kenapa, apakah Bapak marah padanya?”


“Nggak Pak.”


“Nggak mungkin, dia marah dan meradang, kalau ada yang bicara kasar padanya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2