Terjebak

Terjebak
Part 29 Mengikuti perlombaan


__ADS_3

“Lalu bagai mana dengan orang yang suka melakukan bunuh diri secara berulang kali itu, Bu? apakah kalau dia mati, dia bakalan masuk kedalam neraka?” tanya David dengan suara lantang.


Ketika pertanyaan itu di ucapkan David, jantung Voni langsung mendidih, tangannya sudah mulai bergetar untuk segera menghajar orang yang telah usil kepadanya.


Melihat sikap Voni yang tak wajar, Bu Hanifah dengan bijak menggenggam tangan Voni dan berkata dengan suara lembut.


“Orang yang melakukan percobaan bunuh diri, pasti ada sebab dan musababnya, mesti Agama melarang hal itu, tapi semuanya akan di sidangkan nantinya di hadapan Allah.”


Mendengar jawaban dari Bu Hanifah, tangan Voni langsung melemah, genggaman tangannya yang kuat berangsur di buka.


Di bangku tempat duduknya, Voni terdiam seraya tertunduk, Nita yang melihat dari sudut matanya hanya diam saja. Saat pelajaran Agama sedang berlangsung tiba-tiba saja kepsek masuk ke dalam ruangan itu.


“Permisi Bu, mengganggu sebentar,” ucap Kepsek pada Bu Hanifah.


“Silahkan Pak,” jawab Bu Hanifah mempersilahkan.


Sejenak Kepsek duduk di bangku Bu Hanifah, sedangkan Bu Hanifah berdiri di dinding belakang siswa. Tampak jelas sekali oleh Bu Hanifah, Kalau saat itu Bramono menatap wajah Voni begitu lama. Tapi Voni tampak menundukkan kepalanya.


“Begini anak-anak sekalian,” kata Kepsek memulai pembicaraannya. “Dua hari lagi sekolah kita akan mengadakan olimpiade fisika. Kalau ada di antara kalian yang memiliki bakat untuk perlombaan ini maka peluang untuk kalian sangat terbuka lebar.


Nanti setelah kalian pulang sekolah, Bapak tunggu kalian di kantor, gimana menurut kalian? apa ada kira-kira murid Bapak yang bisa mengikutinya?”


“Ada…!” jawab seluruh murid serentak.


“Ada? siapa orangnya?” tanya Kepsek ingin tahu.


“Voni Pak!” jawab Afdal dengan suara lantang.


“Voni? benar kamu bisa mengikuti perlombaan ini?”


“Aku nggak begitu yakin Pak.”


“Kenapa kamu nggak yakin?”


“Karena aku belum pernah menguji kemampuan ku, Pak.”


“Baiklah, nanti setelah pulang sekolah kamu datang ke ruangan majelis guru, karena kamu bersama beberapa orang teman mu akan menguji kemampuan kalian nantinya.


Voni diam saja, dia tak berbicara sama sekali, hanya matanya yang menatap tajam kearah Afdal. Sebenarnya Voni tak suka disibukan dengan perlombaan itu, tapi karena Afdal telah bicara, makanya Voni terpaksa harus diam.


Seperti yang telah di pesankan kepala sekolah, setelah pulang sekolah, Voni langsung datang ke ruang majelis guru, bukan hanya dia sendiri yang akan di uji kemampuannya, banyak murid lain yang juga di uji kemampuannya.


Setelah di uji berulang kali, akhirnya Voni tetap mengungguli teman-teman yang lainnya, mesti saat itu dia terlihat tenang dan biasa-biasa saja.


Voni memang terlihat begitu dingin. Namun, dia memiliki pemikiran yang jenius dan cemerlang. Bukan hanya itu saja perlombaan yang di lakukan Voni di dalam olimpiade ini, perlombaan pencak silat juga di ungguli oleh Voni.


Menjelang keberangkatannya, Voni di sibukkan dengan beberapa kali latihan, Bramono dengan setia menemaninya, lalu di hari keberangkatan Bramono sendiri yang mengantarnya untuk mengikuti perlombaan itu.

__ADS_1


Selama berada di perjalanan, Voni terlihat begitu murung, dia tak bicara sepatah kata pun, hal itu membuat Bramono ingin tahu apa yang ada di pikiran Voni saat itu.


“Kamu, kenapa diam sayang?”


“Nggak ada apa-apa Pak.”


Mesti Voni menjawab tak punya masalah, tapi Bramono tahu, kalau saat itu Voni sedang menyembunyikan sesuatu.


“Apakah kamu nggak menginginkan perlombaan ini sayang?”


“Nggak juga.”


“Lalu kenapa murung?”


“Aku nggak murung kok.”


“Nanti setelah kita tiba di sana, Bapak akan mengajak mu berkeliling, apa kamu suka?”


“Terserah Bapak aja.”


“Lho, kok terserah Bapak sih?”


Mendengar jawaban Voni yang tak mengenakkan itu, Bramono hanya diam saja, bahkan Bramono tak mau bicara sepatah pun pada Voni. Hingga mereka tiba di tempat perlombaan, Bramono masih saja diam.


Tapi karena Voni orangnya begitu dingin dan santai, saat di abaikan Bramono pun dia masih saja terdiam. Seorang murid berusaha menegur Voni seraya mengulurkan tangannya.


Ketika gadis itu sudah mengulurkan tangannya, Voni langsung menatap gadis itu dengan pandangan yang menakutkan. Tak ingin terjadi sesuatu padanya, maka gadis itu langsung menarik tangannya kembali.


Bramono yang melihat kelakuan Voni yang tak sopan, langsung datang menghampiri mereka berdua. Dia mencoba menegur gadis itu.


“Hai, siapa namamu nak?” tanya Bramono ingin tahu.


“Dela, Pak.”


“Wah nama yang bagus, maafkan anak Bapak ya, dia kurang sehat.”


“Ooo, anak didik Bapak gila ya?”


Mendengar ucapan Dela, Voni langsung naik darah dan berusaha untuk memukul Dela, untung saja Bramono menghalanginya, kalau nggak Pasti Voni telah membuat kekacauan di tempat perlombaan itu.


Setelah Dela pergi, Bramono langsung menarik tangan Voni dengan kasar sekali. Bramono sangat kesal dengan tingkah laku Voni yang berlebihan itu.


“Sekarang katakan pada Bapak, kamu itu maunya apa sih?”


“Aku nggak mau apa-apa!”


“Nggak mau apa-apa gimana, baru saja kau membuat Bapak malu, lalu kau bilang nggak ada apa-apa?”

__ADS_1


“Habis, gadis itu datangnya mengejutkan sih.”


“Bapak nggak perduli, sekarang katakan pada Bapak, apakah kau nggak mau ikut lomba atau gimana?”


Voni diam saja, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, hal itu membuat Bramono kesal. Dengan marah Bramono menyeret tangan Voni ke mobil.


Tapi sekuat apapun, Bramono menarik tangan Voni, gadis itu malah mengelak dan tak mau naik mobil. Karena Voni mengelak untuk di ajak kembali, Bramono tak kuat lagi menahan emosinya. Lalu dia berencana hendak memukul mobilnya.


Ketika tangan itu hendak memukul mobil tiba-tiba saja Voni menghalanginya, dia menarik tangan Bramono untuk menjauhi parkiran.


“Ada apa Voni?”


“Maafkan aku, aku janji nggak akan mengecewakan Bapak.”


“Bapak nggak pernah berharap kau juara Voni, Bapak hanya berharap kau bisa menjaga sikap mu di hadapan orang banyak.”


“Baik,” jawab Voni singkat.


“Benar kamu mau mengikuti perlombaan ini?”


“Iya.”


“Kamu yakin? kalau nggak kita kembali pulang saja.”


“Aku yakin.”


“Sekarang kau temani Bapak untuk melakukan pendaftaran.”


“Baik,” lalu Voni mengikuti Bramono dari belakang.


Setelah selesai pendaftaran, mereka langsung di beri tempat menginap dan Bramono mengantarkan Voni ke kamarnya.


“Kamu istirahatlah dulu, nanti kalau perlu sesuatu cari saja Bapak di aula gedung.”


“Baik.”


Tak ada kata yang berlebih di ucapkan voni saat itu, di dalam pikirannya hanya ada minuman dan rokok yang tak bisa dilupakannya.


Karena telah begitu lama menunggu, tapi Bramono belum juga kembali, Voni memutuskan untuk berjalan-jalan di luar gedung.


Voni berjalan-jalan di luar, seraya mengikuti trotoar jalan, saat itu dia berniat hendak mengunjungi rumah Mamanya, tapi dia merasa ragu.


“Hm, kalau aku pergi, apakah Bramono nggak merasa kehilangan? tapi kalau aku mengajaknya ikut bersama melihat Mama, aku takut rahasiaku akan terbongkar.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2