
“Kok, nggak ada orang ya Bram, seperti rumah sepi dan nggak berpenghuni,” ucap Voni dengan setengah berbisik.
“Kamu yakin, kalau rumah ini nggak berpenghuni?”
“Sepertinya begitu, coba lihat kedalam, sepi sekali kan?”
“Iya juga sih.”
“Gimana kalau kita masuk aja!” ajak Voni pada Bramono.
“Jangan!” ujar Bramono sedikit bersuara.
“Ssst…! kenapa jangan?” tanya Voni sekaligus meredam suara Bramono yang sedikit meninggi.
“Nanti kalau tiba-tiba saja Mama mu keluar, gimana?”
“Kau lihat sendirikan, kalau rumahnya sepi!”
Siapa tahu mereka masih berada di dalam.”
Perkataan Bramono membuat Voni merasa ragu untuk memasuki rumah besar itu, seraya menarik nafas panjang, Bramono dan Voni duduk diam di samping kiri rumah tersebut.
Setelah lama menunggu, mereka berdua juga tak melihat ada pergerakan di dalam rumah itu, termasuk suara Abi atau suara Luna.
Dengan cara mengendap-endap, Voni mencoba memaksakan diri untuk masuk kedalam rumah itu, saat kakinya sudah berhasil membuka pintu depan, tiba-tiba saja Voni mendengar suara Abi merengek minta di buatkan susu sama Mamanya.
Voni yang ketakutan, langsung menutup kembali pintu rumahnya dan berdiri tepat di belakangnya. Bramono yang melihat Voni kembali menutup pintu, diapun merasa heran.
“Ada apa?”
“Aku mendengar suara Abi menangis, minta di buatkan susu sama Mama.”
“Kamu melihat Abi nya?”
“Nggak, aku hanya mendengar suaranya saja,” jawab Voni yang terus berbisik pelan.
“Kalau begitu, kita masuk aja ke dalam.”
“Nggak Bram, aku nggak berani.”
“Seperti orang yang sedang maling di rumah sendiri, begitulah Voni, untuk memasuki rumah yang sudah jelas menjadi miliknya saja, Voni mesti berfikir seribu kali. Bramono begitu sedih melihat nasib kekasihnya itu.
Tak lama berselang, kemudian Abi keluar dari dalam kamarnya, dia berlari kencang kearah pintu, tepat di belakang Voni berdiri. Bramono yang melihatnya, langsung mengasih tahu Voni, kalau ada Abi di belakangnya.
“Benarkah?” tanya Voni penasaran.
“Benar sayang.”
__ADS_1
Lalu dengan cepat Voni pun membuka pintu besar itu. karena pintu itu terbuka secara tiba-tiba, hal itu membuat Abi terkejut dan dia menjerit ketakutan.
“Ssst…!” ujar Voni yang muncul dari balik pintu.
“Kak Voni!” teriak Abi yang berlari menghampiri Voni dan memeluknya dengan erat.
“Kakak kenapa lama sekali datangnya?”
“Kenapa? apakah Abi udah rindu dengan Kakak?”
“Iya, tadi malam aja, Abi nggak bisa tidur, Abi mau bobok sama Kak Voni.”
Di saat Abi menyebut nama Voni, Luna keluar dengan kaki yang di seret pelan menuju pintu. Saat melihat Voni dan Bramono berdiri di depan pintu, Luna langsung marah dan memanggil Abi untuk menjauhi kakaknya itu.
“Abi kesini! usir kedua ekor anjing itu dari rumah kita, nanti kotorannya berserakan, Mama nggak mau membersihkannya!” teriak Luna dengan suara lantang.
Mendengar suara Luna bicara, Voni pun melepaskan Abi dari pelukannya, Voni berjalan pelan menghampiri Luna saat itu.
“Udah seperti ini saja, Mama nggak juga mau berubah, apa menunggu mati dulu baru sadar?”
“Kurang ajar, dasar anak durhaka!” bentak Luna yang berusaha menampar wajah Voni yang berdiri di hadapannya.
“Tampar! ayo tampar, biar Mama puas! jika seorang Mama mengatakan anaknya adalah anjing, maka Mama juga nggak lebih baik dari itu.”
“Binatang! berani-beraninya kau datang ke rumah ku ini!” ujar Luna geram.
“Lihatlah! perhatikan keadaan Mama itu baik-baik, kalau bukan aku yang melepaskan Mama dari penjara, barangkali Mama udah membusuk di dalam kerangkeng besi itu.”
“Mama benar-benar udah keterlaluan, sebagai orang tua, kau tak pantas disebut sebagai Mama.”
“Aku juga nggak sudi kau panggi Mama, aku mau muntah mendengarnya. Mulai hari ini, hubungan kita antara Ibu dan anak telah putus!”
Ucapan Luna tersebut membuat hati Voni menjadi hancur, sejauh itu, tak sedikit pun rasa kasih sayang di hati Luna untuk putrinya Voni.
“Ayo Abi, kita tinggalkan perempuan jahat ini!” ujar Voni seraya menarik tangan Abi.
Melihat Voni membawa Abi pergi, Luna semakin marah, dia berusaha untuk merebut Abi dari tangan Voni, tapi Luna tak berdaya sama sekali, sifat egois yang dia miliki telah melumpuhkan hatinya yang sakit.
“Kurang ajar kau Voni! dasar anak nggak berguna!” teriak Luna sambil terus mengejar Voni yang membawa Abi bersamanya.
“Kak, Abi kasihan melihat Mama.”
“Abi kasihan melihat Mama, dek?”
“Iya Kak.”
“Kalau begitu biar Kakak aja yang pergi, Abi kembali saja sama Mama.”
__ADS_1
“Baik Kak.”
Mendengar jawaban Abi, Voni langsung melepas tangan Abi dan membiarkan adiknya kembali pada Mamanya. Bramono yang melihat kejadian itu merasa heran dengan sikap Voni yang membiarkan Abi tinggal bersama Mamanya.
“Kenapa dia di tinggal sayang?”
“Biarkan, dia sama Mama, Bram. Aku nggak tega melihat Mama seperti itu.”
“Ooo, kalau begitu kita kemana sekarang?”
“Kita pulang Bram, aku benci Mama.”
Sebenarnya hati Bramono begitu sakit melihat Voni mendapat cacian dan hinaan dari Mamanya, tapi Bramono tak bisa ikut campur urusan mereka.
“Sekarang kita mau kemana sayang?”
“Entahlah Bram, kepala ku rasanya mau pecah.”
Mendengar jawaban dari Voni, Bramono berusaha menghentikan kendaraannya, dia memberi Voni minuman, agar gadis cantik itu bisa sedikit tenang dan rileks.
Sejenak Bramono hanya bisa diam membisu, pikirannya kosong, dia tak tahu mesti berbuat apa. Sementara itu, Voni yang telah selesai minum, dia terlihat tenang, dia berusaha memijit-mijit dahinya secara pelan.
“Kamu harus kuat Voni, mesti Mama mu itu marah, di hatinya pasti masih tersimpan sedikit kasih sayang untuk mu.”
“Aku nggak bisa berharap banyak padanya Bram, karena Mama telah menganggap ku tiada, maka aku akan menjadikan diri ku yatim piatu seutuhnya. Agar tak ada lagi rasa sakit yang ku derita dalam hidup ini.”
“Mama mu benar-benar telah dibutakan oleh materi, dia bahkan dengan teganya mencampakkan darah dagingnya sendiri demi harta.”
“Saat ini aku benar-benar sudah hancur Bram!”
“Kamu nggak boleh berputus asa sayang, masih banyak orang yang butuh bantuan dari mu, jika Mama mu udah nggak sudi lagi menganggap mu sebagai putrinya, biarkanlah. Tapi kau harus tetap berdiri tegak, tunjukan pada Mamamu kalau kau mampu berdiri tanpa bantuan darinya.”
“Iya Bram.”
“Kamu sekarang udah sedikit baik?”
“Iya.”
“Gimana kalau kita refreshing dulu, kita bermain ke pantai, memandang indahnya suasana pantai, air laut yang berwarna biru, pohon kelapa yang melambai-lambai, perahu nelayan yang terombang-ambing di bawa air pasang dan semua yang indah lainnya. Apakah kau nggak ingin melihatnya?”
Seraya tersenyum manis, Voni menganggukkan kepalanya, Bramono membalas dengan senyuman, kemudian mobil di nyalakan dan mereka berlalu pergi menuju pantai.
Suasana Pantai yang indah, membuat mata Voni menatap jauh kedepan sana, ingin rasanya semua kepiluan itu, pergi jauh meninggalkannya.
Seperti gadis remaja lainya, Bramono dan Voni berlari dan bermain di derunya ombak, mereka tertawa dan saling senyum di antara mereka.
Kepuasan tercipta di dalam hati Voni, rasa sedih yang dia derita telah sirna saat itu. Bramono berusaha terus memberi motifasi pada kekasihnya, agar selalu kuat dan tegar.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*