Terjebak

Terjebak
Part 104 Dilarikan ke rumah sakit


__ADS_3

Keduanya pun akhirnya masuk kedalam rumah, sementara itu Voni yang sedari tadi mengetuk pintu rumah Bramono dia pun merasa kesal dan menendang pintu rumah itu dengan kuat sekali.


Saat pintu rumah di tendang Voni dengan kuat, barulah Bramono terbangun dari tidurnya, kemudian dia bergegas membuka pintu.


“Ada apa? pagi-pagi begini udah datang membangunkan Bapak?”


Voni diam saja, rasa kesalnya belum terbalas pagi itu, dengan cepat Voni langsung masuk kedalam rumah Bram dan mengambil kunci mobil, serta membawa mobilnya keluar dari garasi.


Bramono yang selama ini belum pernah melihat Voni menyetir mobil, rasa takutnya langsung muncul seketika, Bramono tak menyangka kalau Voni benar-benar marah pagi itu padanya.


“Ada apa sayang, kau mau kemana membawa mobil?”


“Minggir Bram!”


“Voni, kau nggak bisa memakai mobil Bapak sayang!”


“Aku mau kerumah sakit mengantarkan Bi Anum yang di racuni oleh seseorang,” jawab Voni seraya menyetir mobil itu, hingga keluar dari pekarangan rumah Bramono.


“Ya Allah, Bi anum di racun orang? Pantasan Voni begitu panik sekali.”


Tak ingin di tinggal oleh Voni, Bramono bergegas masuk rumah dan mengganti pakaiannya serta berlari mengejar Voni.


“Kau, kenapa kau kesini Bram?” tanya Voni ketika melihat Bramono berlari menghampirinya.


“Aku khawatir sekali, melihat mu panik.”


“Kamu tenang aja Bram, kau kira aku nggak bisa nyetir?”


“Bukankah selama ini, aku nggak pernah melihat mu nyetir.”


“Karena aku nggak mau bawa mobil, kan ada kamu yang selalu siap mengantarkan aku, jadi buat apa aku beli mobil dan menyetirnya sendiri.”


“Kamu itu ya, selalu ingin menang terus.”


“Itu menurut mu Bram, bukan menurut ku.”


“Jadi siapa yang nyetir?”


“Aku!” jawab Voni seraya bergegas naik keatas mobil.


Setelah Anum di baringkan di bangku kedua, Voni dengan lihainya, langsung menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.


Bramono yang berada di samping Voni berpegangan erat, perasaannya begitu takut sekali, keningnya tak pernah berhenti berkerut menahan rasa takut.


“Pelan dikit napa sih sayang?”


“Ini udah pelan Bram, jika aku pelankan lagi, nanti Bi Anum nggak tertolong, yang penting kamu pegangan yang kuat, kapan perlu tutup saja matanya.”


“Kamu itu ya, seperti pembalap kelas dunia saja, kalau menyetir.”


Voni hanya tersenyum manis saat mendengar Bramono menggerutu di sampingnya. Mesti Voni terlihat tenang dalam menyetir, tapi kecepatan mobil yang di kendarainya sangat kencang sekali, tak berapa lama, akhirnya mereka tiba di rumah sakit.

__ADS_1


Voni langsung turun dan berteriak minta tolong pada petugas medis, yang telah siap sedia membantu pasien yang berada dalam kecelakaan.


“Tolong Bibi saya sus.”


“Bibi adik kenapa?”


“Dia mengalami keracunan makanan.”


“O, baiklah.”


Dengan sigap, kemudian Anum mereka larikan ke UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Sementara itu Voni berdiri dan berjalan diruang tunggu, keresahan hatinya menimbulkan kecemasan yang luar biasa.


“Kamu yang tenang dikit kenapa sih sayang? kalau kamu hilir mudik terus, Bapak jadi semakin cemas.”


“Gimana aku bisa tenang Bram, kamu tahu sendirikan, Bi Anum segalanya bagi ku.”


“Iya, dia itu segalanya bagi mu, kalau Bapak kan hanya orang nomor sekian dalam hidup mu.”


“Aduh, kamu ini kenapa sih Bram, dewasa dikit napa sih, ah.”


“Iya, Voni…! saat ini kau bisa bilang Bapak kurang dewasa, padahal sewaktu kamu bolak balik nggak sadarkan diri, Bapak nggak pernah kau katakan kurang dewasa?”


“Ya udah, aku minta maaf.”


“Kalau begitu kamu tunggu disini, Bapak pergi dulu.”


“Lho, lhoh Bram, kamu mau kemana?”


“Ngapain?”


Walau terdengar jelas di telingannya, Bramono tetap pergi tanpa mengindahkan ucapan Voni, dia keluar dan tak kembali lagi.


Kecemasan Voni pun bertambah saat itu, bukan hanya Anum saja yang dia pikirkan, tapi kepergian Bramono yang tak pernah kembali pun membuatnya semakin gelisah.


“Kamu kemana sih Bram? kok jam segini belum juga kembali, apa ucapan ku tadi menyinggung perasaannya ya? aduh Bram, kenapa kau seperti anak kecil saja?”


Tak ingin penasaran, lalu Voni berlari menuju parkiran rumah sakit, betapa terkejutnya Voni, ternyata tak ada mobil Bramono di parkiran.


Voni begitu kecewa sekali, dia tak menyangka ucapan yang di anggapnya sepele, ternyata telah membuat Bramono tersinggung dan pergi meninggalkannya.


Dengan langkah gontai, Voni pun kembali kedalam, saat itu hatinya tampak semakin terpukul, rasa sedih telah menutup setiap celah hatinya.


Sungguh tak disangkan oleh Voni, ternyata Bramono telah menantinya di ruang tunggu, Voni yang melihat Bramono duduk diam, diapun berlari dan memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat sekali.


“Oh, sayang kamu kemana saja tadi, aku takut sendirian di sini.”


“Eh Voni, lepas! tuh lihat, semua orang memandangi kita,” bisik Bramono di telinga Voni.


Saat itu Voni baru sadar, kalau dia sedang berada di rumah sakit, tempat semua orang duduk menantikan saudaranya yang sedang berobat.


“Eh, maaf!” ujar Voni seraya melepaskan tangannya dari leher Bramono secara pelan.

__ADS_1


“Bapak tadi pergi membeli nasi, kamu belum sarapan kan?”


“Belum, tapi aku ntar aja makannya, Bram.”


“Ntar kapan Voni, nanti yang ada kamu sendiri yang sakit.”


“Aku makan, sampai Bi Anum sadar Bram.”


“Baiklah, kalau begitu kamu minum teh ini dulu, biar perutmu terasa hangat.”


“Baik, makasih ya,” ucap Voni seraya mengambil teh itu dari genggaman tangan Bramono.


Saat Voni sedang meminum teh yang di suguhi Bram padanya, tiba-tiba ponsel Voni berdering, dia pun membukannya dan melihat nama orang yang ingin bicara dengannya. Karena sakit hati, lalu Voni mematikan ponselnya.


“Kenapa di matikan sayang? siapa tahu penting.”


“Om Bayu, Bram.”


“Om Bayu? berarti dia ingin membicarakan hal penting dengan mu, angkat saja.”


“Nggak, aku bahkan udah berulang kali menghubunginya, tapi dia nggak mau ngangkat.”


“Siapa tahu waktu itu dia lagi sibuk, sayang.”


“Aku nggak mau Bram, aku masih kesal padanya.”


“Lalu gimana dengan sidang mu hari ini?”


“Terserah dia, kapan perlu batalkan saja.”


“Kalau di batalkan, berarti kamu kalah.”


“Biarkan aku kalah Bram, asalkan Bi Anum sadar dan segera kembali pada ku.”


Kali itu Bramono tak dapat berbuat apa-apa, perempuan yang telah di anggapnya sebagai Ibu, dia itu adalah segalanya dalam hidup Voni.


“Baiklah, sekarang lanjutkan makan rotinya.”


“Aku nggak selera lagi Bram.”


“Tapi kamu baru memakan sepotong sayang, nanti kamu bisa sakit lho.”


“Aku nggak mau lagi Bram.”


“Baiklah, kalau itu mau mu, nanti kalau kau lapar kau bisa memakannya lagi.”


Voni benar-benar kesal dengan Bayu. Pasalnya, dia sebagai direktur di perusahaan, tak mampu berbuat apa-apa, padahal dia memiliki anak buah yang begitu banyak, yang bisa di perintah sesuai kemauannya.


Dalam waktu lebih kurang sepuluh menit, Bayu udah puluhan kali menghubungi Voni, namun tetap saja ponsel itu dimatikan, oleh gadis nakal itu.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2