
“Sudahlah Nduk, lebih baik gagal sekarang ke timbang nanti, setelah kalian punya momongan, pasti rasanya semakin berat dan menyakitkan.”
“Iya Ma.”
“Ikhlaskan saja nak, semua kejadian ini pasti ada hikmahnya.”
“Iya Pa.”
Maya tak membantah apapun yang di katakan Papa dan Mamanya, dia tahu, jika pernikahan itu tetap di lanjutkan, maka kesedihan terpanjang akan di alami oleh dirinya.
“Mesti terasa begitu berat, tapi ini merupakan jalan terbaik untuk mu nduk, Papa dan Mama juga sedih sekali dengan kejadian ini, tapi apa hendak di kata, semuanya sudah terjadi.”
Di sepanjang perjalanan, Maya hanya bisa menangis sedih. Sementara itu, Tino yang telah gagal dengan pernikahannya, hanya bisa terdiam sedih di sudut kamar.
Bukan hanya kehilangan istri tercintanya, Tino juga kehilangan pekerjaan yang selama ini dia geluti, hatinya benar-benar hancur saat itu.
Sore itu Voni datang ke kos Intan yang terlihat sedang menangis di kamarnya, Voni duduk di atas kursi sembari menatap tajam kearah Intan yang terus saja meratapi nasibnya.
“Nggak capek nangisnya?” tanya Voni dengan nada datar.
“Nggak Voni.”
“Ya sudah, kalau begitu lanjutkan aja.”
“Ngapain kau datang kesini?”
“Untuk ngabarin kamu, kalau Tino gagal melangsungkan pestanya.”
“Benarkah?”
“Iya, buat apa juga aku bohong, demi kamu, aku bela-belain seperti orang gila, sampai-sampai Tino menyuruh polisi menangkap ku.”
“Terus?”
“Aku panggil Bram, aja! Bram datang dan aku nggak berhasil mereka bawa ke kantor polisi, tapi nasib sial juga menimpa suami mu.”
“Maksud mu?”
“Saat ini Tino telah di pecat dari tugasnya sebagai seorang guru dan haknya untuk mengajar juga di cabut untuk selamanya.”
“Ya ampun! segitunya…?”
“Sekarang kau puas mendengar berita dari ku?”
“Nggak Voni.”
“Kenapa nggak puas?”
“Jika Tino di pecat dari tugasnya sebagai seorang guru, maka tipis harapan bagi ku, untuk mendapatkan dia kembali.”
“Tentu saja, karena semenjak hari di tetapkan dia keluarkan dari sekolah, aku melihat Tino dan keluarganya telah meninggalkan rumah dinasnya.”
“Keterlaluan dia, teganya dia mencampakkan aku sebagai istrinya yang sah.”
“Bukan hanya kau saja yang gagal menjadi pendamping Tino. Maya, istrinya yang satu lagipun sudah pergi meninggalkan dirinya.”
“Hancurlah sudah hidup ku Voni.”
“Hidup mu belum hancur Intan, kau cantik, kau pasti mendapatkan seorang suami yang baik nantinya.”
__ADS_1
“Lalu bagai mana dengan sekolah ku Voni?”
“Bram telah mengeluarkan mu dari sekolah Intan.”
"Hancur sudah hidupku, hiks, hiks, hiks."
“Sekarang pulanglah, benahi diri mu di rumah orang tua mu, renungkan nasib mu di sana.”
Intan tak dapat berbuat apa-apa, karena nasib sial sedang bersamanya saat itu, seraya mengemasi semua peralatannya, siang itu Intan pulang ke rumah orangtuanya di kampung.
“Gimana kondisi, teman Non itu?” tanya Anum ingin tahu.
“Siang ini dia sudah kembali ke kampung halamannya, Bi.”
"Kasihan sekali nasibnya."
“Dia terlalu jauh melangkah Bi, sehingga sulit untuk kembali.”
“Semoga saja, selama dia nggak bersekolah, dia bisa menyadari semua kesalahannya Non.”
“Iya semoga saja begitu Bi.”
Sore itu, seiring berjalannya waktu, Voni kembali mendapat sepucuk surat dari pengadilan. Voni heran, karena pada waktu itu, kasus antara Luna dan dirinya telah selesai dan pemenangnya adalah dirinya sendiri. Tapi saat menerima surat itu, Voni kembali membaca dengan teliti.
“Ya ampun, ternyata Mama kembali menggugat ku ke pengadilan.”
“Menggugat apa Non?”
“Mama masih menginginkan harta warisan itu, dia mencari pengacara lain untuk dapat memenangkan kasusnya.”
“Apakah Non hadir?”
“Kenapa Non? kalau Non nggak mau datang, nanti Mama Non berhasil mendapatkan harta itu.”
“Nggak Bi, nanti biar pengacara ku saja yang menyelesaikannya.”
“Ooo, begitu.”
Setelah selesai bicara dengan Anum, Voni langsung menelfon Bayu, lewat Bayu lah, Voni meminta tolong, agar persidangannya di selesaikan oleh pengacaranya saja.
“Baik Non, baik.”
“Katakan saja saat ini aku sedang sakit.”
“Baik Non, baik.”
“Ya sudah, selamat bekerja.”
“Iya, Non. Terimakasih.”
Setelah telfon di tutup, Bayu merenung sejenak, sebenarnya dia begitu kasihan dengan nasib Luna saat itu, tapi perempuan itu begitu keras hati dan sombong, dia tak mau mundur selangkah pun demi kebaikannya.
“Luna, Luna. Kau ini benar-benar bodoh, padahal Voni itu putri kandung mu sendiri, tapi kau lebih memilih dia menjadi musuh mu, ketimbang menyayanginya.”
Sambil menarik nafas panjang, lalu Bayu menghubungi pengacara perusahaan untuk menyelesaikan kasus Voni.
Keesokan harinya, sekitar jam sepuluh pagi, Luna datang ke gedung pengadilan bersama pengacaranya. Namun pagi itu, dia tak melihat Voni ada di sana. Kemudian Luna bertanya pada seseorang yang berada di pengadilan saat itu.
“Emangnya Voni nggak datang sekarang Pak?"
__ADS_1
“Nggak Bu, dia sedang sakit.”
“Syukurlah.”
“Syukur gimana maksud Ibu?” bisik pengacaranya saat itu.
“Kalau Voni nggak datang, secara tak langsung, harta itu jatuh ketangan ku.”
“Kenapa Ibu begitu yakin?”
“Secara tak langsung dia itu telah kalah Pak.”
“Dia kan punya pengacara yang bisa mewakili kliennya Bu.”
“Tapi kalau Bapak mampu mengalahkan pengacaranya itu, kita pasti menang kan, Pak?”
“Tentu Bu, kalau barang bukti yang kita miliki dapat mengalahkan yang dia punya, tapi kalau barang buktinya akurat dan punya jaminan hukum, maka kita nggak bisa menggugatnya.”
Dada Luna, terasa berdebar kuat saat itu, dia merasa cemas, kalau barang bukti yang di miliki kuasa hukum Voni, dapat membuktikan kepemilikan warisan itu.
Sesat kemudian, hakim memasuki ruang sidang, Luna sebagai penggugat di izinkan berbicara di depan hakim yang memimpin persidangan.
Ketika sidang berlangsung, dua orang penasehat hukum Voni dan Luna terjadi adu mulut, mereka saling bertahan di kliennya masing-masing.
Mesti demikian sidang tetap di lanjutkan yang pada akhirnya pengacara Voni berhasil memenangkannya.”
“Kita harus berusaha mendapatkan surat wasiat itu Pak,” kata Luna pada pengacaranya.
“Tapi, gimana cara mendapatkannya?”
“Kita curi, hanya dengan cara mencurinya, maka kita akan berhasil mendapatkan harta itu.”
“Kalau begitu, Ibu cari saja orang lain yang bisa mengambil surat wasiat itu dari tangan pengacara Voni.”
“Baik, akan saya lakukan nanti.”
Luna yang sudah semakin terpuruk, dia mencoba menghalalkan segala cara, agar bisa mendapatkan harta warisan itu sepenuhnya.
Dalam waktu bersamaan, Voni yang sedang menunggu hasil sidang, langsung di hubungi oleh Bayu, dengan jantung yang berdebar Voni mengangkat telponnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, Non.”
“Gimana, apakah pengacara kita berhasil Om?”
“Alhamdulillah, pengacara kita berhasil memenangkan sidang kali ini Non.”
“Oh syukurlah.”
“Di pertengahan persidangan, sempat terjadi sedikit keributan sih, tapi pengacara kita berhasil menjelaskan semuanya.”
“Kalau boleh aku tahu, keributan apa ya Om?”
“Pengacara Luna, tak yakin sedikit pun kalau almarhum Papa Non, nggak menyisakan sedikit pun harta sebanyak itu untuknya.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1