Terjebak

Terjebak
Part 36 Kemenangan Beruntun


__ADS_3

Mendengar ucapan Bramono, air mata voni langsung saja menetes tak terasa, tanpa berfikir panjang lagi, Voni duduk dan memeluk tubuh Bramono erat-erat.


“Maafkan aku Pak, maafkan aku. lagi-lagi, aku telah membuat Bapak kecewa dan marah.”


“Siapa bilang Bapak marah, saat ini Bapak telah bahagia, karena orang yang paling Bapak sayangi telah kembali ke pelukan Bapak dengan selamat.


Berulang kali Bramono mengecup kening Voni dengan lembut, aroma tubuhnya yang wangi membuat Voni tak ingin melepaskan pelukannya dari pria itu.


Bukan hanya itu saja, tangan Voni yang halus mulai merangsak masuk kedalam baju Bramono, kehangatan malam itu belum pernah di rasakan Voni sebelumnya. Hatinya terasa begitu damai sekali, di atas ranjang itu, mereka bercumbu dan melepaskan kerinduan, yang tak dapat di ucapkan dengan kata-kata.


Keesokan harinya, Voni bersama anak-anak lainnya telah bersiap-siap, mereka semua tampak berkumpul dia aula gedung olah raga.


“Semua peserta telah siap?” tanya seorang panitia dengan suara lantang.


“Siap…!” jawab anak-anak peserta lomba serentak.


Lalu seluruh peserta lomba di suruh duduk berbaris di posisi terdepan, tampak saat itu gadis yang pernah mengancam Voni ada di barisan kedua.


Matanya yang tajam menatap benci kearah Voni, di dalam hatinya, dia akan menghajar Voni habis-habisan.


“Awas kau, akan ku hajar kau nanti!” gerutu gadis itu penuh amarah.


Setelah semua peserta siap, lalu panitia memanggil nomor lot mereka, dua orang sekaligus akan maju ke depan. begitu juga dengan Voni, dia juga mendapat giliran untuk menampilkan kebolehannya.


Bramono yang menyaksikan pertandingan pencak silat itu, merasa kagum dengan Voni, karena sejauh yang dia lihat, Voni belum bisa di kalahkan oleh peserta manapun.


“Kau hebat Voni!” puji Bramono dengan suara lantang.


Voni hanya tersenyum saat pujian itu di layangkan kepadanya, mesti saat itu dia bisa namun hatinya terasa masih takut menghadapi begitu banyak lawan.


“Kamu kelihatan takut ya, sayang?” tanya Bramono ingin tahu.


“Nggak Pak, tapi aku agak sedikit grogi.”


“Nggak perlu takut, hadapi mereka semua dengan tenang tanpa beban, ok?”


“Ok.”


Beberapa saat kemudian, nomor lot Voni kembali di panggil untuk babak semi vinal, dengan berani Voni langsung melompat ke gelanggang dan berdiri tegap untuk menghadapi lawan yang ada di hadapannya.


Saat lonceng di bunyikan, Voni langsung saja menunjukkan kebolehannya, mesti mereka berdua sama-sama tangguh, tapi Voni bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh. Kekuatan pukulan yang di miliki Voni membuat lawan harus ekstra hati-hati.


Bukan hanya itu, tendangan kaki Voni juga sangat berbahaya, jika salah gerak sedikit saja, maka kaki Voni sudah sampai di kepala lawan.

__ADS_1


Walau Bramono terlihat diam, tapi dia begitu mengagumi ke bolehan kekasihnya itu. Di akhir-akhir pertandingan, terlihat Voni sedikit kelelahan, untung saja bel segera berdering pertanda, para peserta boleh beristirahat.


Namun saat-saat tak terduga, Muliana, mencoba menghadang langkah kaki Voni, sehingga Voni pun terjatuh, semua para penonton terlihat tertawa dan bertepuk tangan melihat Voni tersungkur.


Mesti Voni tersungkur, tapi juri tak menilainya, karena saat itu bel istirahat telah berdering. Hati Voni menjadi panas dan meradang.


Bramono yang melihat mata Voni mengandung amarah yang meluap-luap, dia merasa begitu cemas. Bramono takut dengan emosi yang di alami kekasihnya itu, dapat membuatnya bersikap curang dan mengurangi nilainya.


Kemudian Bramono berdiri dengan memberi sedikit kode pada Voni, agar kekasihnya itu bersikap tenang dan sabar.


Voni yang melihat kode itu dia mencoba menarik nafas dan menenangkan dirinya yang duduk di sudut biru. Saat bel kembali berdering Voni kembali berdiri dan menghadapi lawannya.


Hanya beberapa jurus saja, Voni mampu memukul lawannya dengan telak, Muliana tersungkur tak berkutik. Voni akhirnya menang dan dapat melaju ke babak final.


Tanpa sadar Voni langsung berlari kencang dan memeluk Bramono dengan senangnya, tepuk tangan riang menyambut keberhasilan Voni saat itu.


“Aku menang Pak!” ujar Voni seraya tersenyum senang.


“Iya nak, iya.”


“Tinggal satu kali bertanding lagi Pak.”


“Iya, semoga saja kau menjadi pemenangnya.”


Di babak Vinal, Voni juga bertemu dengan lawan yang tak kalah hebatnya, beberapa kali, Voni mengalami kewalahan dan bahkan dia tampak sedikit terhuyung.


Jantung Bramono bergetar dengan kuat, hatinya merasa tak tenang saat itu, karena kekasihnya sedang melakukan pertandingan yang sengit.


Di pertengahan babak, Voni berhasil menjatuhkan lawan, sehingga dia tak sanggup lagi untuk berdiri.


Sorak riuh para penonton kembali terdengar menggema di gedung olah raga, mereka tak menyangka, Voni yang terlihat tenang dan biasa-biasa saja, ternyata mampu membawa tropi kemenangannya.


Dua kali kemenangan telah di raihnya, Voni berhasil mengharumkan nama sekolah Semangat Negeri yang selama ini tak pernah di pandang sekolah lain.


Dengan rasa bangga Bramono di ajak Voni naik ke atas pentas, semua para peserta lomba bersorak gembira saat pengumuman juara mulai di bacakan dewan juri.


“Terimakasih sayang, kau telah mengharumkan nama sekolah kita.”


“Sama-sama, Pak. Tapi ini semua berkat kerja keras Bapak selama ini, aku hanya menjalankan perintah saja,” jawab Voni tersenyum senang.


Sore itu Voni dan Bramono langsung berangkat meninggalkan gedung olah raga, di perjalanan hendak keluar dari gerbang sekolah itu, mobil Bramono di hadang oleh mobil lain.


Bramono dan Voni merasa heran, lalu mereka berdua turun dari mobil, begitu juga dengan pemilik mobil itu mereka juga keluar. Betapa terkejutnya Voni ternyata mobil yang menghadang mereka adalah gadis yang telah mengancamnya bersama dengan guru olah raga itu.

__ADS_1


“Ada apa ya?” tanya Bramono heran.


Mesti Voni tak mengetahui apa niat guru itu menghadangnya, namun Voni tetap waspada di belakang Bramono.


“Maaf kan kami Pak, atas perbuatan murid ku kemarin sore pada murid Bapak,” kata pria itu sportif.


“Oh, masalah yang kemarin, saya udah melupakannya kok.”


“Ulah kelakuan Yola, saya jadi terpancing emosi menanggapinya.”


“Nggak apa-apa.”


“Kalau begitu, selamat atas keberhasilan murid Bapak.”


“Iya, sama-sama,” jawab Bramono seraya menjabat tangan pria itu.


“Silahkan Bapak melanjutkan perjalanannya.”


“Baiklah.”


Mereka berdua pun berpisah secara baik-baik, hati Bramono sangat senang sekali saat itu, tak ada lagi beban yang terasa mengganjal di dalam dadanya.


Di perjalanan menuju sekolah, Bramono menyempatkan diri mampir di rumah sakit sepesialis penyakit dalam, dia berencana akan memeriksakan kondisi Voni.


“Bapak ngapain disini?” tanya Voni heran.


“Bapak ada peru sebentar.”


“Kalau begitu Bapak aja yang turun, aku lagi malas,” jawab Voni datar.


“Nggak bisa gitu dong sayang, kita masuk aja berdua.”


“Lagian, ini kan rumah sakit Pak, Bapak ngapain ke sini?”


“Ada perlu.”


“Ya, perlunya itu perlu apa?”


“Udah, nggak usah banyak tanya, bawel banget.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2