Terjebak

Terjebak
Part 49 Beban hidup Voni


__ADS_3

Di sepanjang jalan mereka berdua tak bicara sepatah kata pun, baik Voni maupun Bramono mereka berdua sama-sama diam. Karena hari sudah larut malam, Bramono terpaksa harus mencari penginapan untuk mereka berdua.


“Sayang, kita bermalam di sini saja, nggak baik kalau kita melanjutkan perjalanan di malam yang semakin gelap ini.”


“Iya,” jawab Voni pelan.


Lalu Bramono mencoba membersihkan tubuh Voni yang telah berkeringat, dia menggosok pelan tangan dan bagian luar tubuh Voni, Bramono tak pernah merasa malu membersihkan gadis yang dia cintai itu.


“Sekarang tidurlah, lupakan semua kejadian yang telah menimpa mu,” bisik Bramono di telinga Voni.


Tampak saat itu air mata gadis cantik itu mengalir membasahi kedua pipinya yang merona. Bramono menghapusnya dengan kedua jemari tangannya dengan lembut.


Malam itu di saat Bramono sedang tertidur nyenyak, Voni terbangun lalu dia mengiris pergelangan tangannya, hingga darah segar menyembur mengenai wajah Bramono.


Karena terkena percikan darah, Bramono terbangun dan dia langsung duduk, betapa terkejutnya Bramono ketika dia melihat begitu banyak darah di atas kasur. Saat itu Bramono melihat Voni tersandar di kepala ranjang dalam keadaan lemah tak berdaya.


“Voni…!” teriak Bramono dengan suara lantang.


Teriakan Bramono sempat terdengar oleh kamar sebelah, sehingga beberapa orang terbangun.


“Tolong aku! tolong aku!” teriak Bramono seraya membuka pintu kamar hotel.


Beberapa orang penjaga hotel langsung berlarian menolong Voni dan membawanya ke mobil. Bramono sangat cemas sekali melihat kondisi Voni yang semakin tak bergerak. Mesti saat itu Bramono telah mengikat pergelangan tangan Voni dengan kain, namun darah terus saja menetes tak berhenti.


Setiba di rumah sakit, beberapa tenaga medis langsung memberikan pertolongan untuk Voni, gadis cantik itu mereka bawa ke ruang ISU.


Beberapa jam menunggu di luar, Bramono tak henti-hentinya berdo’a dan menangis, sepertinya hati pria itu benar-benar telah terpaut penuh pada Voni.


Tak berapa lama kemudian seorang perawat keluar dari ruang UGD, Bramono mengejarnya untuk mendapatkan informasi darinya.


“Bagai mana keadaan adik ku Sus?”


“Dia masih kritis Pak.”


“Apakah dokter bisa menolong nya?”


“Insya Allah, berdo’alah agar dia segera keluar dari masa kritisnya.”


“Voni, Voni. Kenapa kau melakukan semua ini sayang.”

__ADS_1


Bramono tak bisa menyalahkan Voni, karena menurutnya, tak semua anak bisa kuat mendapat tekanan yang sangat menyakitkan itu, termasuk Voni yang selama ini telah mencoba untuk tetap bertahan.


Beberapa jam kemudian, empat orang perawat keluar dari ruang ISU, sembari membawa Voni menuju ruang khusus.


“Mau di bawa kemana dia Sus?”


“Gadis ini mengalami kritis Pak, dia harus mendapatkan penanganan khusus.”


“ya Allah, tolong selamatkan dia.”


Tak henti-hentinya Bramono berdo’a untuk voni agar dia bisa keluar dari maut yang mengintainya. Sementara itu Voni yang saat itu sedang berada di alam bawah sadarnya, dia berada di tempat yang sangat gelap.


“Oh, dimana aku? kenapa tempat ini begitu gelap?” tanya Voni yang terus berjalan mencari cahaya agar dia tak merasa ketakutan.


Dia berjalan menyusuri kata hatinya, namun dia tak bertemu dengan siapapun, Voni mencoba meraba-raba apapun yang berada di sekitarnya tapi semuanya kosong dan hampa.


“Dimana aku ini berada? mana Papa? tolong aku Pa, kenapa tempat ini begitu gelap? huhuhu…!” Voni menangis seraya terus berjalan mencari keberadaan Papanya.


“Voni! Voni! Voni! Papa ada di sini sayang, apakah kau melihat Papa nak?”


“Nggak, aku nggak melihat siapa pun, semuanya gelap Pa?”


“Itulah tempat yang selama ini kau inginkan nak, kenapa kau ingin mengakhiri hidupmu sendiri?”


“Sabarlah nak, suatu hari nanti Mamamu pasti sadar dengan semua kesalahan yang dia lakukan.”


“Nggak Pa, Mama nggak pernah berubah, justru dia semakin membenci ku.”


“Tidak sayang, kalau kau menempuh cara seperti ini, maka kita nggak akan pernah bertemu sayang! kembalilah nak, kembalilah! belum saatnya kau meninggalkan dunia.”


“Nggak Pa, aku ingin bersama Papa.”


“Tapi bukan cara seperti ini kau bisa bertemu dengan Papa nak. Kembalilah sayang, kembalilah!”


“Papa…! Papa…! Papa…!” teriak Voni seraya merangkak mencari keberadaan Sanjaya yang telah meninggalkannya.”


Sementara itu di dunia, tubuh Voni mengalami kejang, denyut nadinya mulai melemah dan semakin lemah, dokter dan para perawat berusaha memberi kejut jantung untuk Voni, Bramono yang melihat jelas keadaan Voni dia begitu gemetar menahan diri.


Tubuhnya penuh dengan keringat dingin yang bercucuran, Bramono bahkan tak kuat untuk berdiri di dekat jendela kamar Voni.

__ADS_1


“Ya Allah, apa yang telah kau lakukan Voni, kenapa kau senekat ini, kau melakukan bunuh diri hingga beberapa kali, sementara aku, tak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk menolong mu, aku nggak berdaya.”


Beberapa jam kemudian, denyut jantung Voni kembali normal, karena Voni telah kembali ke tubuhnya yang telah dia tinggalkan untuk beberapa saat lamanya.


“Alhamdulillah, dok, pasien telah kembali!” teriak seorang perawat.


“Alhamdulillah, saat ini dia telah melewati masa kritisnya.”


“Iya dok.”


Bramono yang mendengar berita itu, langsung bersyukur pada Allah karena telah di beri kesempatan untuk bisa bertemu lagi dengan kekasih yang dia cintai.


Dua hari kemudian Voni sudah kembali normal hanya saja tubuhnya yang masih lemah. Bramono dengan setia merawat gadis itu.


“Kenapa kau lakukan itu sayang?”


Voni tak menjawab, selain hanya air matanya yang terus mengalir tiada henti. Saat itu memang tak ada kata-kata yang bisa dirangkainya menjadi sebuah kalimat yang sangat indah untuk Bramono.


Tak berapa lama kemudian, dia menatap wajah Bramono dengan tatapan kosong, hatinya begitu pilu sekali.


“Pergilah Bram, pergilah dari hidup ku. Biarkan aku meninggalkan dunia ini dengan duka hati ku,” bisik Voni dengan suara pelan.


“Nggak sayang, jangan ucapkan kata-kata itu pada ku. Aku nggak akan pergi sedetik pun dari mu.”


“Aku gadis yang nggak berguna Bram, hidupku hanya membawa derita dan beban untuk mu.”


“Biarlah, aku nggak akan pergi, biar semua beban itu aku yang tanggung.”


“Gadis mana yang bisa hidup dengan tenang, jika orang yang telah melahirkannya, menjadikan putrinya sebagai musuh yang paling dia benci. Aku nggak kuat menanggung penderitaan ini Bram, aku nggak kuat, hiks…hiks…hiks.”


Perkataan Voni benar-benar telah meluluh lantakkan hati Bramono, bukan hanya Voni yang merasakan sakitnya, Bramono yang menyaksikan kejadian itu merasa tak kuasa menahan diri.


Luna sudah keterlaluan dia tega menghancurkan masa depan dan hidup putrinya sendiri, Voni yang sudah terpuruk bahkan tak kuasa untuk bangkit. Masih saja dia siksa hingga pada luka yang paling terdalam.


Setelah Voni di nyatakan sembuh dan boleh kembali pulang, mereka berdua, kembali ke rumah dinas Bramono.


“Apa perlu ku antar kau pulang sayang?”


“Nggak usah Bram, biar aku pulang sendiri.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2