Terjebak

Terjebak
Part 86 Berkunjung ke penjara


__ADS_3

Sambil menuju mobil, Bramono terus melihat ke seluruh arah, siapa tahu Voni ada di luar gedung itu, tapi sepanjang perjalanannya, Bramono tak melihat siapa-siapa di luar.


Ketika dia hendak membuka pintu mobilnya, Bramono baru sadar, kalau kunci mobilnya tertinggal di dalam kamar, saat hendak berbalik, sekilas dia melihat ada seseorang di dalam mobilnya, ternyata dia Voni.


“Voni? kenapa kamu di sini sayang?”


“Kita pulang aja yuk?”


“Kenapa kamu nggak ke aula gedung tadi, kamu menang lho!”


“Aku tahu.”


“Kamu udah tahu, kalau kamu bakalan menang?”


“Nggak juga.”


“Kata panitia itu, dua bulan lagi, kamu akan mewakili seluruh SMA untuk tingkat internasional.”


Mesti, Bramono telah bicara panjang lebar, Voni tetap berlagak cuek dan biasa-biasa saja, dia bahkan tak merespon sedikitpun ucapan Bramono padanya.


“Kamu itu kenapa sih sayang, kok kelihatannya jutek terus dari tadi?”


“Kita pulang yuk!” ajak Voni pada Bramono.


“Baiklah, kalau begitu, Bapak ambil koper dulu kedalam.”


Seperti orang yang salah tingkah, Bramono begitu sulit memahami perasaan kekasihnya itu, dia bahkan hanya bisa mengusap dadanya sendiri saat menghadapi Voni.


Di perjalanan, semuanya terlihat tenang dan diam, sesekali Bramono mencoba mencuri pandang pada kekasihnya. Setelah mendekati penjara, Bramono mencoba bertanya pada Voni.


“Jadi kita mengunjungi Mama mu?”


“Jadi Bram.”


Saat Voni bicara, mobil yang di kendarai Bramono langsung berhenti dan masuk ke parkiran. Kemudian Bramono keluar serta membukakan pintu untuk Voni.


Ketika mereka berdua masuk, salah seorang sipir penjara mencoba menghampiri mereka berdua.


“Ada yang bisa kami bantu Pak?” tanya sipir itu dengan suara lembut.


“Kami ingin mengunjungi Ibu Luna.”


“Ibu Luna? kasus apa Pak?”


“Penculikan anak.”


Sesuai dengan nomor yang tertera di dada sebelah kiri setiap NAPI, maka sipir penjara itu memanggil Luna yang saat itu duduk sendiri di dalam ruangannya.


“Bu Luna! ada yang ingin bertemu dengan mu!”


“Akhirnya...! setelah enam bulan di tahan, masih ada orang yang ingin mengunjungi ku.”

__ADS_1


Ketika petugas sipir hendak membuka kunci, Luna datang bertanya padanya, tentang sosok yang datang mengunjunginya.


“Kalau boleh aku tahu, siapa sih yang datang mengunjungi aku, Bu?”


“Seorang gadis cantik dengan seorang pria tampan.”


Saat mendengar ucapan sipir penjara itu, Luna langsung teringat dengan Voni, tubuhnya terasa bergetar, dia bahkan tak kuat untuk berdiri, Luna pun terduduk di depan terali.


“Tutup kembali pintunya Bu.”


“Kenapa mesti di tutup? apakah Ibu nggak ingin menemuinya?”


“Nggak!”


“Kenapa Bu?”


“Karena dia, aku jadi begini, bahkan hidup ku hancur karena dia.”


“Emangnya dia itu sia, Bu?”


“Aku nggak kenal dengannya, suruh dia pergi, katakan kalau aku nggak mau menemuinya.”


“Baik Bu.”


Kemudian sipir penjara itu kembali mengunci pintu dan keluar untuk menemui Voni dan Bramono.


“Maaf Dek, sepertinya Bu Luna tak mau menemui Adek berdua.


“Kenapa begitu, Bu?”


“Kalau begitu, boleh aku bicara dengan Ibu sebentar.”


“Tentu boleh, datanglah ke ruangan Ibu.”


“Baik Bu.”


Di dalam ruangan sipir penjara itu, Voni mendapat pelayanan yang baik, saat itu Voni bertanya banyak hal tentang kondisi Mamanya.


“Apakah selama berada di dalam penjara, Mama ku berubah Bu?”


“Sepertinya Bu Luna nggak pernah berubah, dia justru sering marah dan berkata kasar pada pengawas penjara ini.”


“Selama Mama di sini, apakah ada yang datang mengunjunginya?”


“Nggak dek, nggak ada sama sekali.”


“Kalau begitu, saya akan bayar, buatlah Mama saya senang selama berada di sini.”


“Kenapa adek melakukan semua itu pada Ibu Luna?”


“Bukankah tadi aku udah katakan, kalau dia itu adalah Mama ku.”

__ADS_1


“Tapi kenapa adek, nggak pernah datang mengunjunginya?”


“Buat apa datang, kalau Mama sendiri nggak mau menemui ku.”


Kemudian Voni membuka tas yang berada di samping kirinya, dia mengeluarkan selebaran kwitansi dan menulis sejumlah uang di atasnya.


“Nggak perlu tempat yang mewah, setidaknya beri Ibu ku sebuah tempat tidur layak dengan selimut dan makan yang biasa dia makan selama ini.”


“Sebenarnya, siapa adek ini sebenarnya?”


“Aku putri Sanjaya, pewaris tunggal perusahaan Sanjaya grup, sedangkan yang telah kalian tahan itu adalah istri sah almarhum Sanjaya.”


“Maafkan kami, kami di sini hanya menjalankan perintah dari atasan kami.”


“Aku nggak pernah meminta agar Mama di lepaskan, hanya aku ingin, kalian beri dia tempat yang layak, agar Mama tidak merasa kedinginan jika malam hari, serta beri dia makanan yang layak seperti yang biasa di makan selama ini.”


“Baik dek, kami akan lakukan sesuai permintaan mu.”


“Kenapa nggak di keluarkan aja Voni, bukankah kamu sanggup mengeluarkan Mama mu dari dalam penjara, kan?”


“Aku nggak mau, karena jika Mama tahu, dia justru semakin membenci ku.”


“Jika kamu mengeluarkannya dari dalam penjara, siapa tahu Mama mu bisa menyadari semua ke khilafan yang dia lakukan.”


“Apa kamu yakin seperti itu Bram?”


“Insya Allah seperti itu, kita ini kan nggak bisa memastikan kebaikan dan keburukan seseorang, kapan masanya dia berubah, itu hanya Allah yang bisa menentukannya. Biasanya do’a dari seorang anak yang sholeh akan cepat di kabulkan oleh Allah.”


“Tapi aku bukan anak yang sholeh Bram, aku justru seorang anak durhaka, calon penghuni neraka.”


“Kamu bisa aja beranggapan seperti itu Voni, tapi Allah juga yang akan memutuskannya nanti. Jangan kamu kira Mama mu itu nggak di masukkan dalam perhitungan Allah, justru dialah yang nantinya banyak menanggung beban anak-anaknya.”


“Kenapa begitu?”


“Karena sewaktu kita belum di ciptakan Allah, kedua orang tua kita secara tak langsung telah berjanji kepada Allah, akan menjaga amanah yang telah di titipkan kepadanya. Jika amanah yang di titipkan itu nggak baik, maka dia yang bakal menanggung semua resikonya.”


“Benarkah begitu Bram?”


“Iya sayang. Untuk itu, kamu jangan berputus asa dulu, karena di sisi Allah itu, nggak ada yang nggak mungkin baginya.”


Mendengar sedikit pencerahan dari Bramono, Voni tampak tersenyum, hatinya begitu senang, karena belum tentu dia akan di cap menjadi penghuni neraka.


“Masih banyak kesempatan untuk mu Voni. Mesti Mama mu begitu jahat dan kejam padamu. Sebagai seorang anak, kamu jangan pernah menaruh dendam kepadanya, tetap kau hormati dia, seperti kau menghormatinya, sewaktu dia baik dan sayang kepada mu.”


“Iya Bram, aku mengerti!” jawab Voni seraya bergegas menghampiri sipir penjara.


Kwitansi yang saat itu sedang berada di tangan sipir, langsung di ambil Voni dan di robeknya, sipir penjara itu merasa heran dengan sikap Voni tersebut.


“Aku berubah pikiran!”


“Maksud adek?”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2