Terjebak

Terjebak
Part 60 Bantuan untuk Lesti


__ADS_3

“Emangnya Mama mu nggak tahu, tentang kelakuan suaminya itu?”


“Walau Mama tahu, dia nggak akan pernah percaya, karena Mama sangat mencintai pria itu.”


“Terus, gimana selanjutnya?”


“Dia melihat ada pisau buah di dalam kamarku dan dia mengambil pisau itu untuk membunuhku, tapi pisau yang dia pegang sempat ku balikkan ke perutnya, hingga dia tertusuk pisau itu sendiri dan tewas di hadapan ku.”


“Ooo, begitu kejadiannya?”


“Tapi Mama nggak percaya, kalau saat itu aku hanya membela diri, bukan karena aku ingin membunuhnya. Aku dibawa ke kantor polisi, hingga beberapa hari kemudian aku di bebaskan. Tapi Mama nggak percaya dengan semua alasan itu, bahkan saat itu dia sendiri yang hendak membunuhku.


“Sungguh kejadian yang sangat memilukan sayang.”


“Semenjak kemarahannya, aku diusir dari rumah dan aku menjadi gelandangan, mengemis di jalanan dan bergaul dengan anak-anak malam yang nakal.”


“Berapa lama kau menjadi anak jalanan?”


“Aku nggak ingat, barang kali tiga atau dua tahun. Om Bayu ternyata mencari keberadaan ku selama itu, setelah dia menemukanku, lalu dia memutuskan untuk mengantarkan aku kesini melanjutkan Pendidikan, agar kelak aku bisa memimpin perusahaan Papa.”


“Berarti Om Bayu itu bukan Pamanmu?”


“Dia orang kepercayaan Papa ku, Bram.”


“Ooo, begitu.”


“Karena aku udah terbiasa hidup di jalanan, bertengkar dan saling serang, mabuk, merokok, semua itu sulit sekali untuk ku hindarkan. Bahkan mulut ku terasa dingin kalau aku nggak mendapatkan semua itu.”


Bramono yang mendengarkan cerita Voni secara keseluruhan menjadi prihatin sekali, tapi saat itu dia hanya bisa menarik nafas panjang untuk bisa menenangkan pikirannya yang terasa sedikit tegang, karena terbawa suasana.


“Sayang, boleh aku bertanya satu hal lagi?”


“Iya, silahkan.”


“Dari mana kamu tahu, kalau seluruh harta Papamu itu, jatuh ke tanganmu?”


“Ternyata waktu itu di hadapan Om Bayu, Papa telah menulis surat itu dan Om bayu ikut membacanya.”


“Ternyata Bayu itu memang orang yang bisa diandalkan ya?”


“Iya Bram, itu sebabnya dia menjadi orang kepercayaan Papa ku, jarang lho, ada pria seperti dia.”


“Kau benar Voni, apa lagi perusahaan yang di pimpinnya sangat besar.”


“Bukan itu saja Bram, perusahaan Papa juga membuka cabang di sepuluh perusahaan di Indonesia ini.”


“Semoga kau bisa bersabar dalam melalui semua ini Von?”


“Iya Bram, insya Allah.”


“O iya Von, untuk siapa uang kes yang kau bawa itu?”


“Untuk Lesti."


“Untuk Lesti?”

__ADS_1


“Iya, aku ingin memberinya bantuan, agar dia berhenti berniat untuk menggugurkan kandungannya itu.


rencananya aku akan mencarikan sebuah rumah untuknya nanti.”


Mendengar ucapan Voni, Bramono semakin terharu sekali, ternyata selama ini Bramono tak salah memilih gadis yang dicintainya.


Setibanya mereka di rumah sakit milik dr. Hery, mobil itu langsung berhenti, Bramono memarkirkan mobil itu.


Mereka berdua kemudian masuk kedalam untuk menemui Lesti yang masih kritis, Voni yang melihatnya dari luar, hatinya sangat sedih sekali.


“Itu Lesti Bram?”


“Iya, aku juga melihatnya.”


Saat mereka berada di luar ruangan itu, dr. Hery langsung keluar dan melihat mereka berdua dengan pandangan penuh tanda tanya.


“Bapak siapa?” tanya dr. Hery.


“Saya kepala sekolah, gadis ini, apa yang telah dokter lakukan padanya? ingat, saya bisa tuntut dokter ke polisi.”


“Maafkan saya Pak, saya sudah berusaha untuk menolaknya, tapi gadis ini dan kedua temannya tetap memaksa saya. Bahkan dia bersikeras untuk tetap di aborsi.”


“Dokter tahu kan, kalau kandungan seusia dia, nggak bisa untuk di gugurkan?”


“Tahu Pak.”


“Kalau udah tahu, kenapa dokter masih melakukannya?”


“Saya terpaksa Pak.”


“Maafkan saya Pak, tapi semuanya telah terjadi, saya berjanji nggak akan melakukan hal itu lagi di kemudian hari.”


“Saya pegang ucapan dokter, tapi ingat jika terjadi sesuatu pada murid saya, maka dokter akan menanggung akibatnya.”


“Baik Pak.”


Setelah mereka selesai berbincang-bincang, lalu Bramono dan Voni masuk kedalam ruangan itu, dia melihat Lesti terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur.


“Lesti, Lesti. Apakah kau mendengarkan aku?”


“Dia masih koma saat ini, karena banyak kehabisan darah,” jelas dr. Hery.


“Gimana dengan bayi yang ada di kandungannya dok?” tanya Voni ingin tahu.


“Bayinya selamat, saya nggak berhasil menjatuhkannya, karena saat itu dia mengalami pendarahan.”


“Kira-kira berapa lama lagi dia nggak sadarkan diri dok?”


“Entahlah, semestinya kemaren dia sudah sadar, tapi hingga hari ini dia belum juga sadar.”


Lalu Voni menyentuh tangan Lesti yang lemah, dia berusaha untuk mengangkat tangan itu agar bisa merasakan kalau saat itu Lesti tak sendiri, ada Voni bersamanya.


“Lesti, sadarlah.”


Karena Lesti masih tak sadar, lalu Voni dan Bramono duduk diam di sebelah gadis itu, sambil terus memandanginya.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, tangan Lesti terlihat bergerak, Voni langsung menggenggamnya dengan lembut, Voni benar-benar berharap agar Lesti cepat sadar.


Perlahan kemudian kedua matanya mulai terbuka, Lesti melihat ada Bramono dan Voni berada di samping kirinya.


“Voni.”


“Iya Lesti, kamu udah sadar?”


“Udah Von, ada Kepsek juga ternyata.”


“Gimana keadaanmu Lesti?”


“Saya udah sedikit baikan Pak, tapi masih terasa sakit, tapi syukurlah kalau bayinya sudah keluar.”


“Bayi, bayi apa?”


“Maafkan saya Pak, saya telah membuat nama sekolah rusak.”


“Iya, sebenarnya Bapak nggak bisa memaafkan semua kelakuan mu itu, tapi karena Voni yang minta, Bapak terpaksa harus memaafkan mu.”


Lesti tampak sedikit tersenyum di sudut bibirnya. Voni yang melihat juga tersenyum saat itu.


“Kau tahu Lesti, sebenarnya bayi yang ada di dalam kandungan mu nggak bisa di keluarkan.”


“Apa! jadi bayinya belum gugur?”


“Iya, bayinya masih berada dalam kandungan mu, selama tiga hari ini kau hanya mengalami pendarahan.”


“Oh tuhan, benarkah itu Voni?”


“Iya.”


“Lalu bagai mana dengan ujian ku?”


“Kau nggak usah ikut ujian Lesti, kau besarkan saja kandungan mu, kau lahirkan bayi itu dengan selamat ke dunia ini. aku akan mencarikan rumah untuk mu, dan memberi mu modal untuk usaha.”


“Benarkah itu Voni?”


“Iya Lesti.”


“Kau dapat uang dari mana untuk modal usaha ku?”


“Pokoknya kau tenang saja, apa yang akan ku lakukan pada mu nanti.”


Lesti merasa senang dia terlihat tersenyum dengan niat baik Voni itu. lalu Voni mengajak Bramono pergi dan meninggalkan Lesti sendirian di rumah sakit milik dr. Hery.


“Kau janji akan datang lagi kan Von?”


“Iya, kamu tenang saja, aku pasti kembali kok.”


“O iya Von, apakah kau melihat Indah dan Intan?”


“Saat ini mereka berdua telah kembali ke sekolah, orang yang selama ini kau andalkan itu, dia telah meninggalkanmu saat kau mengalami kritis.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2