
“Ku harap, suatu hari nanti, Bapak akan mengetahui sendiri jati diri ku,” jawab Voni seraya berlari meninggalkan Bramono.
Bramono memang penasaran sekali, dia bahkan sangat berharap agar secepat mungkin mengetahui latar belakang ke luarga Voni yang di anggapnya telah merusak masa depan Voni.
Sore itu Bramono memanggil Voni ke rumahnya, gadis manis itu pun mengikuti kemauan Bramono dan pergi bersamanya menikmati pemandangan alam yang indah di waktu petang. Air laut yang mulai pasang, menderu menghempas batu karang.
“Kau suka pemandangannya Voni?”
“Suka sekali, dulu waktu Papa masih hidup, dia suka mengajak aku ke pantai, tapi aku selalu menolaknya.”
Saat Voni bicara seperti itu, secara tak langsung Bramono tahu, kalau Papa Voni telah meninggal dunia.
“Kenapa? bukankah pantai dapat membuat pikiran kita menjadi rileks dan tenang?”
“Sebenarnya emang begitu, tapi aku nggak tahu.”
“Kalau kau suka, Bapak akan ajak kapan saja yang kau mau.”
“Benarkah?”
“Iya. Bapak janji.”
“Makasih Bram.”
Mendengar Voni menyebut namanya, Bramono tersenyum manis, dia memeluk tubuh Voni dengan lembut dan mengecup kening Voni berulang kali.
“Jika kau ada masalah, kau katakan saja pada Bapak, Bapak akan selalu ada untuk mu.”
“Kenapa Bapak begitu perhatian pada ku?”
“Karena kau orang yang Bapak sayangi Voni.”
“Tapi aku nggak jujur pada Bapak.”
“Nggak apa, suatu hari nanti, setelah semuanya berjalan dengan normal, kau pasti akan baik-baik aja.”
Mendengar ucapan Bramono, Voni bukannya merasa senang, dia justru menangis di pelukan Bramono, Voni sedih, karena Bramono begitu menyanyanginya, sementara Ibu kandungnya sendiri tak pernah perduli padanya, bahkan dia tak menginginkan Voni hidup di dunia ini.
“Hei, kenapa menangis sayang?”
“Di dunia ini, aku nggak punya siapa-siapa lagi, selain Bapak.”
“Benarkah?”
Voni tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya. Bramono mencoba mengangkat dagu gadis yang berada di sampingnya itu, Bramono menatap tajam wajah Voni. Saat itu baru dia sadar, kalau wajah Voni sangat cantik.
“Masya Allah, kau sangat cantik Voni, Allah begitu sempurna menciptakan gadis secantik kamu.”
“Bapak terlalu memuji.”
“Bapak serius sayang.”
__ADS_1
“Kecantikan yang ku miliki, saat ini nggak ada lagi gunanya Bram.”
“Kenapa?”
Voni diam saja, dia tak menjawab pertanyaan itu, hatinya begitu pilu, kalau membahas masalah itu.
“Sekarang kita pulang yuk, Bram.”
“Kau nggak ingin menikmati pemandangan ini lagi?”
“Nggak Bram.”
“Baiklah, kita pulang sekarang.”
Lalu Bramono membawa Voni pulang ke rumah kosnya. Di depan rumah, Ranti telah menunggu kedatangan mereka berdua.
“Maaf Bu, aku agak sedikit terlambat mengembalikan Voni.”
“Oh, nggak apa-apa Pak, asalkan perginya bersama Bapak, saya nggak khawatir.”
“Terimakasih Bu.”
“Iya sama-sama.”
Ketika Bramono mengantar Voni pulang, saat itu semua penghuni Kos baru tahu, kalau Voni menjalin asmara bersama Kepsek.
“Wah! beruntungnya Voni, bisa bercinta dengan Kepsek, pria nomor satu di sekolah kita. Udah gagah, berwibawa lagi.”
“Iya, padahal sebelum Voni, Kepsek itu menjadi incaran semua gadis di sekolah, ternyata cintanya hanya berlabuh pada gadis nakal.”
“Aku juga, padahal Pak Bramono adalah tipe aku banget.”
“Kalian lagi bahas apa?” tanya Voni yang tiba-tiba telah berada di samping mereka.
“Voni!”
“Kenapa? kalian kaget?”
“Ah, nggak! aku hanya bilang, kalau kau beruntung banget bisa pacaran dengan Kepsek.”
“Sebenarnya bukan aku yang menginginkan hubungan ini, tapi Bram sendiri.”
“Jadi, Pak Bramono sendiri yang menginginkan mu menjadi kekasihnya?”
“Iya, aku udah menolaknya, tapi Bapak itu tetap saja memaksa ku.”
“Wah, asik dong!”
“Asik apanya? kalau kalian mau ambil aja, aku nggak pala berminat.”
“Benar kamu nggak berminat?”
__ADS_1
“Iya, kalau kamu mau ambil aja, lagian aku nggak merasa keberatan kok.”
Mendengar ucapan Voni ke tiga teman satu kamar dengannya merasa senang, Voni yang memandangi mereka tampak tersenyum manis.
Kemudian Voni duduk diam di kursi yang ada di dekat jendela kamarnya, Lesti yang terus memperhatikan Voni merasa ragu dengan Voni saat itu, Lesti takut kalau Voni akan mengulangi hal yang sama.
“Kau ngapain duduk di depan jendela itu Voni?” tanya Lesti ingin tahu.
“Kenapa? kau takut aku bakalan loncat lagi dari sini?”
“Takut sih nggak, tapi aku nggak yakin dengan yang ada di dalam pikiran mu saat ini.”
“Kau tenang saja.”
“Ya sudah, kalau itu mau mu,” jawab Lesti sembari meninggalkan Voni sendirian di dalam kamarnya.
Malam itu tak seperti biasanya, Voni tidur mulai dari sore, ketiga temannya tak ada yang berani untuk membangunkannya, saat malam mulai menjelma, di saat semuanya sedang tertidur lelap, Voni mulai meninggalkan rumah kosnya.
Di kedai yang biasa dia singgahi, Voni sedang asik menegak minuman keras, dia bahkan sampai mabuk dan tidur di atas meja pemilik warung. Beberapa orang teman prianya mencoba untuk membangunkan Voni, namun gadis itu tetap saja tertidur.
Merasa tak enak diri meninggalkan Voni sendirian tertidur di warung, beberapa orang temannya terpaksa tak bisa pulang dan mereka ikut tidur di pelataran warung itu.
Bramono yang biasa keluar malam untuk memantau keadaan Voni, malam itu kembali berjalan menuju kedai yang biasa di singgahi Voni.
Keadaan tampak begitu sepi dari luar, karena semua terlihat aman dan sepi, Bramono terus saja melewati tempat itu, saat itu hatinya terasa berdetak dan perasaannya pun mulai tak tenang.
“Ada apa ya? kenapa perasaan ku jadi nggak tenang?” tanya Bramono seraya memegang dadanya.
Tak ingin menjadi penasaran, dia pun akhirnya kembali ke warung itu dan mencoba menoleh kearah dalam, saat itu Bramono melihat Voni tertidur lelap di sebuah bangku.
“Ya Allah Voni!” kata Bramono setengah berteriak.
Mendengar suara Bramono, beberapa orang pemuda yang selama ini menjadi teman Voni langsung terbangun.
“Maaf Pak, kami nggak bisa meninggalkannya sendirian disini, jadi kami terpaksa menemaninya.”
“Ya sudah, terimakasih kalian mau menemaninya disini, sebenarnya dia ini gadis baik-baik, tapi saya sendiri heran, kenapa dia jadi seperti ini?”
“Voni juga sering membantu kami Pak.”
“Maksud kalian?”
“Kalau kami butuh uang untuk berobat keluarga kami yang sakit, atau butuh uang untuk membeli sesuatu, dia selalu membantu kami.”
“Kalau kalian tahu, dia itu baik dan suka membantu kalian, tolong kalian jaga dia baik-baik. Kalian tahu, saat ini pihak sekolah sedang menyelidiki keluarganya.”
“Ooo, begitu. Jadi sekolah nggak tahu siapa orang tua voni?”
“Benar, kami juga ingin tahu, kenapa dia ingin sekali mengakhiri hidupnya.”
Voni memang ingin selalu mengakhiri hidupnya, karena bagi dirinya, apa arti hidup jika Mama, orang yang disayanginya tak ada lagi untuk nya.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*