
“Dasar anak durhaka kau, beraninya kau mengatakan Mama, dengan kata, kau!”
“Aku memang anak durhaka, dan barang kali, aku bakal menjadi penghuni neraka, tapi apakah kau tahu, aku seperti ini, itu semua karena kebusukan hati mu, Luna!”
“Kurang ajar! beraninya kau mengatakan aku seperti itu, anak nggak tahu diri!” teriak Luna seraya mengejar Voni dan hendak menarik rambut gadis cantik itu.
Tapi Bramono yang berada di belakang Voni telah lebih dulu menarik Voni agar terhindar dari amukan Luna.
“Mati saja kau Voni, bunuh dirimu agar kau bisa terbebas dari dosa mu!”
“Kau Mama yang jahat Luna, di Dunia ini aku rasa, hanya kau yang berhati iblis seperti itu.”
“Kurang ajar!” teriak Luna yang terus memberontak dari pelukan Anum. “Menyesal aku melahirkan mu ke dunia ini, Voni!”
“Aku juga menyesal lahir dari rahim seorang Ibu seperti mu Luna, aku juga nggak menginginkan kehidupan ini, bahkan aku sudah berulang kali ingin menghirinya, aku lelah Luna, kau Ibu yang nggak punya hati sedikit pun, hanya karena harta kau membuang ku kejalanan, Ibu macam apa kau Luna!” teriak Voni seraya berlari keluar rumah.
“Anda tak pantas di katakan seorang Ibu!” ujar Bramono pada Luna.
Kata yang di ucapkan Bramono membuat darah Luna berdesir dengan kuat, dia tak menyangka kalau kata yang terakhir itulah yang membuatnya menjadi tersakiti.
Luna menangis histeris, setelah Voni dan Bramono meninggalkannya, Luna begitu marah sekali, karena rasa sakit hatinya tak terbalaskan saat itu.
Sementara itu, Voni yang telah berlari keluar rumah langsung masuk kedalam mobil, di susul oleh Bramono yang tampak kelelahan mengejar Voni dari belakang.
Tanpa bertanya dan berbicara, Bramono langsung menghidupkan mesin mobil dan memacunya dengan kecepatan sedang. Keduanya sama-sama terdiam, tak tahu mesti bicara apa.
Sesekali, Bramono hanya bisa memandangi Voni dari sudut matanya yang begitu tajam. Sementara Voni terlihat diam tanpa meneteskan air matanya.
Ketika mereka berdua telah menempuh perjalanan begitu jauh, Bramono mencoba bicara pada Voni dengan pelan dan lembut.
“Rasanya perut Bapak udah lapar, gimana kalau kita makan dulu ya sayang?”
“Baiklah,” jawab Voni pelan.
Mesti saat itu Voni bicara pelan sekali, tapi Bramono masih bersyukur, kalau Voni masih mau bicara, mesti hanya satu kata.
Di depan sebuah restoran yang ada di pinggir jalan, Bramono turun dari mobilnya, lalu dia membukakan pintu untuk Voni, agar gadis itu bisa turun dari mobil.
Voni tak menolak sedikit pun saat Bramono menggandeng tangannya, di dalam restoran itu, Voni masih makan seperti biasa, bahkan dia tak menolak saat Bramono menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
Walau Voni masih terlihat diam, tapi hati Bramono merasa senang saat itu, karena Voni tak menghiraukan amarah dari Mamanya. Selesai makan mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Setibnya di rumah, Bramono langsung mengantarkan Voni ke rumah kos, karena saat itu sudah larut malam, Bramono tak sempat mengajaknya bicara sepatah kata pun.
Di dalam kamar kos itu, Voni menumpahkan semua rasa sakitnya di atas kasur, bahkan suara tangis Voni hampir terdengar di kamar lain.
Indah yang saat itu sudah tidur dengan lelap, terbangun dan dia mencoba membangunkan Intan yang juga sudah tertidur.
“Ada apa Indah?”
“Kau dengar suara tangisan itu?” tanya Indah pada Intan.
“Suara tangisan?”
“Iya, sepertinya dari arah kamar Voni.”
“Ngapain juga ngurusin dia, bukankah karena dia kita mendapat hukuman dari kepala sekolah?”
“Iya juga sih, tapi aku kasihan sekali padanya, mesti hidupnya sudah hancur seperti itu, dia masih mau menolong ku, coba kalau nggak ada dia, entah bagai mana nasib ku ini.”
“Udah, cuma bantuan segitu doang kok!”
“Walau pun bantuan itu kecil, tapi setidaknya, dia telah berusaha menyelamatkan aku.”
“Terserah mu sajalah! aku capek, aku mau tidur!”
“Heh, Indah! kau dengar suara itu?” tanya Wanti pada Indah.
“Iya aku dengar, kalian juga dengar kan?” tanya Indah pada yang lainnya.
“Iya, kami semua mendengarnya, sepertinya suara itu berasal dari arah kamar Voni.”
“Iya, tapi aku nggak berani masuk kedalamnya,” ucap Diah yang berdiri di belakang yang lainnya.
“Aku juga!” timpal Nur.
“Iya, kami juga nggak ada yang berani,” jawab yang lainnya serentak.
Karena semuanya tak ada yang berani, Indah juga merasa takut untuk masuk kedalam kamar Voni, kemudian meraka semua kembali ke kamar mereka masing-masing.
Pagi hari ketika seluruh siswi kos itu sudah berangkat ke sekolah mereka, Indah tak melihat Voni keluar dari dalam kamarnya, perasaan cemas mulai membayangi perasaannya. Lalu Indah memberanikan diri menghampiri kamar gadis nakal itu.
Indah mencoba menempelkan telinga nya di pintu kamar Voni, bahkan Indah mencari celah sempit agar bisa mengintip ke dalam kamar itu. walau Indah telah berusaha dengan gigih, namun yang dia lihat hanyalah kegelapan semata.
__ADS_1
“Aduh, kenapa kau nggak keluar Voni? aku takut terjadi sesuatu pada mu,” gumam Indah pelan.
Sementara itu di SMA Semangat Negeri, Bramono tak melihat Voni ada di halaman sekolah, tempat seluruh anak-anak beristirahat dan bermain.
Hati Bramono menjadi cemas, takut terjadi hal yang tidak di inginkan, lalu Bramono menemui Nita, teman sebangku Voni yang saat itu berada tak begitu jauh darinya.
“Hei Nita!” panggil Kepsek dari kejauhan.
“Saya Pak?” tanya Nita, yang saat itu agak sedikit ragu.
“Iya kamu!”
“Ada apa Pak?” tanya Nita seraya berjalan menghampiri Bramono.
“Apakah pagi ini, Voni ada masuk kelas?”
“Sepertinya nggak Pak.”
“Jadi, dia belum datang?”
“Belum Pak.”
“Apakah, kamu mau mendatangi kosnya? katakana pada Voni agar dia sekolah hari ini.”
“Baik Pak.”
Dengan bergegas, Nita langsung menuju rumah Voni, dari kejauhan Nita melihat ada Indah sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar Voni.
“Kak Indah? ngapain Kakak berjalan di depan pintu kamar Voni?” tanya Nita ingin tahu.
“Dari semalam Voni menangis, tapi pagi ini, Kakak nggak melihatnya keluar kamar, Kakak takut terjadi sesuatu padanya nanti.”
“Kenapa nggak Kakak ketuk aja pintunya?”
“Kakak nggak berani Nit, coba kamu aja yang melakukannya, siapa tahu dia langsung terbangun.”
“Baiklah, akan ku coba.”
Lalu Nita mengetuk pintu kamar Voni berulang kali, Nita bahkan menggedor pintu kamar itu dengan kuat. Akan tetapi tak ada jawaban dari dalam sama sekali.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*