
“Dia itu Papa mu Nak, dia udah meninggal dunia, karena di bunuh oleh Kakak mu sendiri.”
“Kakak ku, emangnya aku punya Kakak Ma?”
“Iya nak, dia telah Mama usir karena telah membunuh orang yang Mama sayang.”
“Sekarang Kakak ada di mana Ma?”
“Mama nggak tahu sayang, tapi dia nggak akan Mama izinkan kembali kerumah ini lagi, ulah kelakuannya yang jahat itu, akhirnya Mama dan kamu hidup menderita dan sengsara.”
Abi hanya diam saja, karena saat itu dia belum tahu apa-apa tentang pembunuhan dan kematian. Luna sengaja mencoba menghasut putranya itu.
“Ya udah sekarang Abi main sana sama Bibi, Mama ada pekerjaan.”
“Baik Ma.”
Luna yang saat itu sedang kecewa karena di tinggal Bayu, dia sedang berfikir, rencana apa yang bakal di buatnya untuk membalaskan rasa sakit hatinya itu. Tak berapa lama kemudian Luna mendapat kan ide untuk membalas sakit hatinya pada Bayu.
Setelah Luna berhasil memikirkan ide gilanya, lalu dia memanggil salah seorang anak buahnya untuk mengantarnya ke suatu tempat.
“Kita mau kemana Bu?”
“Jalan saja, nanti akan ku beri tahu.”
“Baik Bu.”
Sekitar lima kilo meter mengendarai mobil, lalu Luna menyuruh orangnya menghentikan mobil tersebut.
“Ada apa Bu? kenapa berhenti?”
“Tunggu disini saja.”
“Sebenarnya Ibu mau ngapain?”
“Bukan urusanmu!” bentak Luna pada orang suruhannya itu.
Tak berapa lama kemudian, bel sekolah pun berdering, saat itu Luna langsung bergegas keluar mobil. Sementara pria suruhan Luna hanya menatap heran pada majikannya.
“Apa yang hendak di lakukan perempuan bodoh itu? apakah dia mau menemui seseorang?"
Dugaan Brema tak salah lagi, sesaat kemudian tampak Luna sedang berbicara dengan seorang murid, lalu dia mengajak perempuan itu masuk kedalam mobil.
“Ayo jalan!” perintah Luna pada Brema.
“Kita mau kemana Bu?”
“Pulang ke rumah.”
Walau saat itu hati Brema masih penasaran, namun dia tak berani bertanya pada Luna. Setelah tiba di rumah, Luna membawa gadis itu masuk kedalam.
__ADS_1
“Mana Papa dan Mama ku, Bi?”
“Siapa bilang Papa dan Mama mu ada di rumah Bibi.”
“Apa maksud Bibi?”
“Papa dan Mama mu nggak pernah menyuruh Bibi untuk menjemput mu, tapi karena mereka berdua telah menipu Bibi, maka terpaksa Bibi harus membuatnya jera, kalau Luna itu bukan perempuan yang mudah untuk ditipu.”
“Jadi Bibi sudah membohongi ku?”
“Iya, kenapa rupanya!”
“Aku kecewa sama Bibi.”
“Emangnya aku perduli pada mu.”
Hati Yesi benar-benar sakit sekali, karena Luna telah berhasil menipunya, seraya duduk diam, Yesi terus berfikir agar dia bisa terlepas dari pengawasan ke dua pria bayaran Luna tersebut.
Namun sayang, ketika niat Yesi hendak terlaksana, tiba-tiba saja Luna menyuruh Orangnya untuk mengikat Yesi dan memasukkannya ke dalam gudang.
“Baik Nyah!” jawab Brema dan temannya serentak.
Sesuai perintah yang di berikan Luna padanya, kedua pria itu langsung mengikat Yesi dan menyembunyikannya di dalam gudang.
“Lepaskan aku! aku nggak mau kalian ikat, cepat lepaskan! tolong! tolong!” teriak Yesi sembari terus meronta-ronta untuk di lepaskan.
“Diam!” jika kau masih berontak terus, maka akan ku ikat kau lebih kuat lagi!”
“Diam! percuma saja meminta tolong pada kami, kami berdua hanya mengikuti perintah Bu Luna.”
“Tapi aku nggak salah apa-apa Om.”
“Nanti saja di lepaskan, kalau Papa mu telah memberitahukan tempat tinggal Voni pada kami.”
“Voni? siapa itu Voni, Om?”
“Anak Tuan Sanjaya, atau putri Ibu Luna sendiri. Yang telah di culik oleh Papa mu.”
“Benarkah?”
“Iya,” jawab Brema seraya membanting pintu dengan kuat, sehingga Yesi semakin ketakutan.
“Ya Allah, Papa…! tolong aku!” teriak Yesi dari dalam gudang yang tertutup rapat.
Di saat Yesi sedang di sekap di dalam gudang, Mega begitu panik, karena dia tak menemukan putrinya di sekolah, Mega bahkan menangis histeris di depan sekolah itu.
“Kami kira dia udah pulang bersama Ibu tadi?” ucap penjaga sekolah.
“Bukankah sebelumnya aku udah pesankan kepada Bapak, jangan biarkan putri ku pulang ke rumah jika bukan aku atau suami ku yang menjemputnya.”
__ADS_1
“Iya Bu, Bapak masih ingat pesan Ibu, tapi sepertinya, tadi itu Yesi langsung keluar dari pekarangan sekolah, Bapak kira dia melihat Ibu atau Bapaknya.”
“Ya Allah, bagai mana ini Pak, Bang Bayu pasti marah besar pada ku.”
“Bapak juga nggak tahu Bu, namanya saja musibah, kita nggak bisa merencanakannya kan?”
Saat melihat Mega panik, Pak Ramli merasa kasihan sekali, pria tua itu terus saja berfikir agar dia dapat mengetahui siapa yang telah menculik Yesi.
“Kalau Ibu nggak keberatan, gimana kalau kita laporkan saja ke polisi Bu?”
“Baik Pak, baik.”
“Kalau begitu Ibu tunggulah disini, Bapak akan melaporkan masalah ini ke satpam dulu, siapa tahu dia punya informasi yang bisa kita lacak.”
“Iya, Pak.”
Setelah mendapat izin dari Mega, Pak Ramli langsung bergegas menemui satpam penjaga, Ramli menceritakan semua kejadian itu pada mereka.
“Benar kah?”
“Iya Pak.”
“Jam berapa kejadiannya?”
“Sekitar dua jam yang lalu.”
“Kalau begitu, mari kita periksa cctv sekolah ini dulu, siapa tahu kita bisa menemukan siapa orang yang telah membawa Yesi saat ini.”
Benar saja, dari cctv yang di lihat, satpam dan penjaga sekolah melihat, ada sebuah kijang inova berwarna hitam berdiri di luar pagar sekolah.
Saat itu ada seseorang yang keluar dari dalam mobil tapi mereka tak melihat wajahnya, begitu juga dengan plat mobil mereka, sama sekali tak terlihat.
“Itu dia orang yang telah menculik Yesi, tapi sayang, wajahnya nggak terlihat sedikitpun juga.”
“Barang kali dia sudah mengetahui kalau sekolah ini punya cctv?”
“Bisa jadi, begitu juga dengan plat mobilnya kita nggak bisa melihatnya.”
“Iya.”
Karena mereka tak melihat siapa yang telah melakukan penculikan tersebut, itu sebabnya, Ramli tak mau memberitahukan tentang cctv itu pada Mega.
Mereka hanya melaporkan kejadian itu pada polisi, beberapa saat kemudian empat orang polisi datang untuk memeriksa tempat kejadian.
Sementara itu, Mega terus saja menangis tiada henti, rasa takut akan kehilangan putrinya membuat jantungnya menjadi lemah, dia tak sadarkan diri ketika polisi memeriksa sekolah.
Di lain tempat, Bayu yang saat itu sedang berada di perjalanan, dia terus saja melajukan kendaraannya tanpa henti, Bayu ingin sekali segera sampai kerumah dan bercanda ria bersama kedua orang putrinya yang cantik dan lucu.
Setibanya dia di halaman rumah, pintu gerbang langsung di buka oleh Atun, perempuan paruh baya itu, berdiri di samping pagar. Setelah mobil majikannya masuk, lalu Atun menutup pintu gerbang dan menguncinya.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*