
“Walau Bu Luna itu jahat pada Non, tapi dia itu tetap seorang Ibu yang telah bersusah payah melahirkan Non ke dunia ini.”
“Iya Bi. Kalau begitu besok selesai ujian, aku ingin mengunjungi Mama ke penjara.”
“Boleh, itu sangat baik sekali, mesti Mamamu itu marah, tapi tetaplah menjaga silaturahmi dengannya, siapa tahu dengan cara seperti itu, Allah akan melihat kemuliaan hati mu.”
“Iya Bi.”
Rencana yang telah di niatkan oleh Voni, siang itu langsung diwujudkannya, bersama dengan Bramono Voni pergi ke penjara untuk mengunjungi Mamanya.
Setibanya di ruang tunggu, Voni menemui sipir penjara, karena waktu itu, bertepatan dengan waktu kunjungan.
“Adik ingin menemui siapa?”
“Bu Luna,” jawab Voni dengan suara lembut.
“Adek ini siapa?”
“Aku putrinya, Bu.”
“Putri, Bu Luna?”
“Iya.”
“Maaf dek, saat ini Bu Luna sudah di pindahkan kerumah sakit jiwa.”
“Apa! Mama ku di pindahkan kerumah sakit jiwa?”
“Iya dek.”
“Kenapa Mama mesti di pindahkan kesana? bukankah selama ini Mama ku itu baik-baik saja?”
“Selama ini Mama adek memang baik-baik saja, tapi sudah beberapa minggu ini Mama adik mengalami depresi berat.”
“Aku nggak percaya Mama mengalami depresi, Ibu tahu sendiri kan, kalau Mama ku itu kuat dan ceria, pasti ada yang tak beres dengannya.”
“Maaf dek, semuanya telah kami periksa, tapi nggak ada yang mencurigakan.”
“Baik, sekarang beri aku sepucuk surat, agar aku bisa menemui Mama di sana.”
“Baiklah.”
“Tapi Ibu harus ingat, aku akan mencari pengacara untuk membuktikan keterlibatan orang-orang yang ada di sini.”
Mendengar ucapan Voni, sipir penjara itu hanya bisa diam, dia sadar kalau depresi yang di alami oleh Luna, pasti ada sangkut pautnya dengan nara pidana lainnya.
Sementara itu, Voni dan Bramono bergegas menuju rumah sakit yang di maksudkan sipir penjara. Awal memasuki kawasan rumah sakit, Voni melihat begitu banyak wanita dan pria lainnya yang berjalan dan berlari.
Mereka semua itu adalah orang-orang yang mengalami gangguan jiwa, ada yang menangis dan ada pula yang tertawa secara bersamaan.
Ketika Voni tiba di dalam, seorang perawat datang menghampirinya, melihat kedatangan perawat itu, Voni langsung memberikan sepucuk surat pengantar yang di berikan oleh lapas tempat Luna di tahan.
“Adik ini, putri dari Bu Luna?”
“Iya, Sus. Apakah Mama saya ada?”
“Mama adik sedang dalam perawatan kami, karena dia baru saja mengalami kecelakaan.”
“Mama mengalami kecelakaan?”
__ADS_1
“Iya dek.”
“Kok bisa, bukankah disini pengawasannya sangat ketat, mana mungkin Mama saya bisa lepas dan berlari ke jalanan dengan mudahnya.”
“Kecelakaan itu di alami oleh Mama adik, ketika dia baru turun dari mobil tahanan yang mengantarnya ke sini, sewaktu baru turun, Mama adik langsung berlari menuju jalan, kami kesulitan untuk mengejarnya waktu itu.”
“Yang sabar sayang,” ujar Bramono pelan.
“Lalu mana Bu Luna itu sekarang Bu?” tanya Bramono ingin tahu.
“Dia ada diruang perawatan, tapi kondisinya kurang baik.”
“maksud Ibu?”
“Mama adik itu mengalami hilang ingatan, mungkin itu akibat benturan yang terjadi saat kecelakaan.”
Bersama perawat yang menangani Luna, Voni dan Bramono di antar mengunjunginya, keduanya hanya di perbolehkan melihat dari kejauhan.
Saat itu Voni melihat Mamanya sedang duduk seraya menggulung-gulung rambutnya, mesti selama di rumah sakit dia terurus, tapi Voni melihat Mamanya sedikit pucat.
“Apa benar Mama saya mengalami depresi sus?”
“Iya dek, dia mengalami depresi berat.”
“Kok bisa depresi, padahal Mama saya itu orangnya sangat ceria.”
“Kalau soal itu, kami nggak tahu dek.”
“Pasti ada yang nggak beres selama Mama saya di penjara.”
Saat Voni dan Bramono memperhatikan Mamanya dari luar, Luna tiba-tiba saja melihat Voni dan dia bergegas menghampiri jendela serta memukul-mukul kaca jendela itu dengan kuat.
“Mungkin amarah yang terjadi sebelum dia mengalami depresi, masih terasa sampai saat ini, sayang.”
“Apa bisa seperti itu?”
“Menurut perkiraan ku.”
“Ah, kamu itu sok tahu.”
“Ssst…! jangan keras-keras, nanti dia dengar dan marah pada kita.”
Saat mengunjungi Luna di rumah sakit jiwa, Voni menghubungi Bayu dan pengacara pribadinya, untuk segera datang ke rumah sakit.
“Sekarang Non?”
“Iya, Om. Sekalian ajak pengacara kita kesini, ada yang ingin kita bicarakan.”
“Baik Non.”
Tak berapa lama menunggu, Bayu dan pengacara pribadinya datang ke rumah sakit. Bayu heran kenapa Bramono dan Voni berada di rumah sakit sore itu.
“Kok, Non Voni ada di sini?”
“Aku lagi jenguk Mama Om.”
“Mama Non ada disini?”
“Iya, dia mengalami depresi dan di pindahkan kerumah sakit ini. tapi malang, Mama mengalami kecelakaan dan saat ini dia kehilangan ingatannya.”
__ADS_1
“Kok bisa kecelakaan, bukankah pengawasan di rumah sakit ini begitu ketat.”
“Kata perawat yang menangani Mama, dia mengalami kecelakaan ketika baru turun dari mobil tahanan.”
“Ooo, begitu.”
“O iya Non, ini pengacara baru kita, namanya Dani, dia bekerja sudah sekitar tiga bulan ini.”
Kemudian Dani mengulurkan tangannya dan Voni menyambutnya dengan baik.
“Pengacara lama kita kemana emangnya Om?”
“Dia mengundurkan diri, Non?”
“Kenapa?”
“Karena dia punya pekerjaan baru di perusahaan lain.”
“Baiklah, begini Pak. Saat Mama di penjara, dia mengalami depresi berat, padahal sebelum itu, Mama terlihat sehat dan kuat, Bapak tolong selidiki, kenapa Mama mengalami depresi selama ini dalam sel, apakah ada yang selalu mengintimidasi Mama atau bagai mana.”
“Baik Non, saya akan bekerja sesuai dengan perintah Non Voni.”
“Baik, ini tugas baru untuk Bapak, jika Bapak berhasil membuktikan ada keterlibatan nara pidana lainnya, maka, masa kontrak dengan Bapak akan saya lanjutkan.”
“Non, kok bicaranya seperti itu sih?” tanya Bayu yang merasa heran dengan ucapan Voni saat itu.”
“Kenapa? Om nggak terima?”
“Bukan itu maksud Om Non.”
“Om tenang saja, bukankah Pak Dani ini baru bekerja selama tiga bulan bersama kita, jadi aku ingin buktikan kerja sama kita dengan Pak Dani.”
“Tapi Non!”
“Pak Bayu, nggak apa-apa, saya akan berusaha bekerja dengan baik, agar Non Voni merasa senang menerima saya bekerja bersamanya.”
“Bagus. kalau begitu saya permisi dulu!”
“Baik Non.”
Kemudian Voni menggandeng tangan Bramono untuk keluar dari rumah sakit itu, sedangkan Bayu yang melihat sikap Voni, merasa sedikit kurang senang.
“Emangnya gadis itu siapa Pak?” tanya Dani pada Bayu.
“Dialah sekarang pemilik sah perusahaan Sanjaya grup.”
“Ooo, ternyata pemilik Sanjaya grup itu, seorang gadis remaja, saya kira dia itu udah tua.”
“Saat ini dia masih duduk di sekolah menengah atas.”
“Hebat ya, masih gadis saja, dia udah memiliki perusahaan sebesar itu.”
“Itu semua warisan yang di berikan almarhum Papanya.”
“Ooo, begitu.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1