
“Ada apa ini? kenapa banyak orang di ruangan saya?”
“Kantor kita kemalingan Pak.”
“Kantor kita kemalingan?”
“Iya Pak.”
Betapa terkejutnya Pak Abdi ketika di lihat semua isi ruangannya berantakan, dia pun memeriksa semua berkas yang telah berserakan di mana-mana.
“Astagfirullah! apa yang telah mereka cari, hingga semua berkas ku habis berserakan.”
Tak berapa lama kemudian, Abdi teringat dengan surat wasiat itu dan dia langsung berdiri menghampiri lemarinya.
“Benar saja dugaan ku, ini pasti ulahnya Bu Luna.”
“Apa maksud Bapak?” tanya Bayu penasaran.
“Dia mengambil surat wasiat itu.”
“Tapi, tadi malam Luna ada dirumah ku, kok.”
“Luna datang kesana, agar kau nggak mencurigainya, tapi pada intinya dia menyuruh orang untuk mengambil surat itu ke kantor ini.”
Sambil menarik nafas panjang, Bayu duduk di atas sofa. Abdi yang melihat Bayu termenung dia langsung menanyakannya.
“Ada apa? kenapa kamu termenung?”
“Aku nggak nyangka, begitu kotor permainan Luna ini, dia sampai mencurinya, padahal kalau dia mau mundur selangkah saja dan memaafkan kesalahan Voni, pasti dia nggak seperti ini.”
“Kau benar Bayu, Luna punya sifat egois dan merasa dia berkuasa di atas segalanya.”
“Kasihan Voni, hidupnya tersiksa sekali, dia sering menangis dan bahkan berulang kali melakukan bunuh diri.”
“Kau benar Bayu, dulu aku melihat keluarga Sanjaya itu aman dan tentram, mereka saling tersenyum bila bertemu, begitu juga dengan putrinya terlihat sangat ceria sekali. Tapi ternyata itu hanyalah semu, agar orang tak melihat kalau keluarga Sanjaya itu hancur.”
“Iya Pak.”
“Yang membuat aku heran, kenapa ya, Bu Luna bisa-bisanya berpindah ke lain hati, padahal selain kaya, Pak Sanjaya sangat tampan bila di bandingkan Tio.”
“Nggak ada apa-apanya malah. Tapi yang aku tahu, mereka itu saling tertutup dan menyimpan rahasia itu rapat-rapat.”
“Iya, aku juga nggak pernah dengar tentang perselisihan mereka, yang aku tahu hanya masalah perselingkuhan itu saja, apa masalahnya sehingga Luna bisa selingkuh, aku juga nggak pernah mendapatkan informasi apapun,” ucap Abdi pelan.
“Ya sudah, sebaiknya kejadian hari ini, kita seolah-olah nggak tahu, seperti Bapak saya juga beranggapan semua ini pasti ulah Luna dan orang bayarannya.”
“Iya Bay.”
“Sekarang Bapak siapkan segala sesuatunya, jika nanti Luna menyerang kita, kita sudah siap dengan segala kemungkinannya.”
“Baiklah.”
__ADS_1
Setelah percakapan mereka selesai, Bayu langsung meninggalkan ruangan itu, tapi ketika dia hendak tiba di pintu, Abdi terdengar sedang bicara di belakangnya, tapi Bayu sedikit mendengar.
“Apakah Bapak lagi bicara?”
“Iya, Bayu.”
“Bicara apa?”
“Saya heran, kok Voni bisa tahu ya, kalau Luna akan merebut surat wasiat itu?”
“Voni memang punya kelebihan sedari kecil, sepertinya firasat yang dia miliki jarang sekali meleset.”
“O ya?”
“Begitu juga saat Luna hendak meracuni mereka berdua, ketika Anum hendak menyuapi Voni, gadis itu langsung berlari ke kamar, tapi dia lupa mengingatkan Papanya. Saat kembali turun, ternyata Tuan Sanjaya telah menelan makanan itu.”
“Kenapa kita nggak melaporkan kejadian itu ke polisi Bay?”
“Nggak Pak, Voni nggak ingin Mamanya masuk penjara.”
“Tapi ini kan sudah masuk tindakan kriminal Bay.”
“Mesti saat itu aku begitu sakit hati, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa, karena di belakang Luna, Voni bermohon pada kami, agar tidak melaporkan kejadian itu pada polisi. Sesuai perintah Luna, kami mengatakan kalau Tuan Sanjaya terkena serangan jantung.”
“Ooo, begitu.”
“Yang penting kita bekerja sesuai permintaan gadis cantik Sanjaya.”
“Ya sudah, kau boleh pergi sekarang.”
“Baiklah.”
Ketika Bayu keluar dari ruangan pengacara, semua karyawan menatapnya, seperti ada yang hendak mereka tanyakan, tapi mereka tak ada yang berani buka mulut.
“Ada apa?” tanya Bayu ingin tahu.
“Nggak ada apa-apa Pak.”
“Ooo, begitu! O iya, saya ingatkan pada kalian semua, kejadian ini jangan sampai ada yang tahu, baik Voni mau pun Bu Luna.”
“Baik Pak.”
“Bagus!” ucap Bayu seraya bergegas menuju ruangannya di lantai atas.
Saat memasuki ruangannya, Bayu juga terkejut karena seluruh isi ruangannya kacau dan berantakan, lalu dia memerintahkan beberapa orang staf dan office boy membantu membereskannya.
Di saat perusahaan sedang mengalami sedikit masalah, Voni merasakan malam itu tidurnya terasa terganggu, tapi dia udah tahu, kalau hal itu bakal terjadi.
“Non, kenapa tadi malam Non tidurnya gelisah sekali?”
“O ya? apa Bibi melihat kalau aku tidurnya gelisah?”
__ADS_1
“Iya, Bibi melihat seperti itu. Sebenarnya Bibi ingin sekali membangunkan Non Voni, tapi Bibi takut Non terkejut nantinya.”
“Sebenarnya setelah surat wasiat itu di berikan Om Bayu pada ku, semenjak hari itu pula aku merasa tak tenang, tapi aku nggak tahu, apa yang bakal terjadi, Bi.”
“O walah, Bibi jadi takut Non.”
“Berdo’alah semoga nggak terjadi apa-apa pada kita Bi.”
“Iya Non, nanti Bibi akan berdoa untuk Non dan Bibi juga.”
“O iya Bi, aku mau ketempat Bram dulu ya, tutup semua pintu, jangan izinkan orang lain masuk kedalam rumah.”
“Baik Non.”
Setelah Voni pergi, Anum langsung menutup pintu rumahnya rapat-rapat, karena Voni yang merasakan firasat buruk itu, Anum juga menjadi ketakutan.
Di depan rumah Bramono, gadis itu memperhatikan di sekelilingnya, setelah terlihat sepi, lalu Voni masuk kedalam rumah itu. ketika tiba di dalam, Voni melihat Bramono sedang tidur di dalam kamarnya.
Tampa berfikir panjang lagi gadis nakal itu langsung masuk kedalam kamar Bramono dan tidur di sampingnya, seperti Bramono, saat itu Voni juga tertidur dengan nyenyak.
Ketika suara azan ashar berkumandang, Bramono pun terbangun, akan tetapi dia begitu terkejut saat di lihatnya ada Voni di sampingnya.
“Ya Allah! Voni…!”
“Ssst…! apa kamu ingin semua orang di komplek ini tahu, kalau aku tidur bersama mu.”
“Voni! kenapa kau lakukan itu?”
“Kenapa? nggak boleh?”
“Nanti kalau terjadi sesuatu pada kita gimana?”
“Ya ampun! ternyata hanya itu?”
“Hanya itu gimana maksudmu?”
“Ya hanya itu, jika terjadi sesuatu pada kita, sebaiknya kita menikah saja, jangan di tunda lagi, nanti kalau ketahuan aku hamil gimana, siapa yang malu? Bapak kan?”
“Lagian ngapain sih kamu disini?”
“Tiduri kamu.”
“Hah…!”
“Eh salah, maksud ku, tidur sama kamu!” ujar Voni seraya mendekap tubuh Bramono dengan erat, serta merebahkan kepalanya di atas dada Bramono.
Merasakan kelembutan dan kehangatan tubuh Bramono, Voni tak mau melepaskan dekapannya, dia bahkan bermanja- manja pada pria yang sangat menyayanginya itu.
Dengan lembut Bramono membelai lembut rambut Voni yang berada di atas dadanya yang bidang.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*