Terjebak

Terjebak
Part 9 Semangat untuk Voni


__ADS_3

“Kenapa Mamanya begitu tega, menelantarkan putrinya demi laki-laki yang jahat itu?”


“Sepertinya Luna telah dibutakan oleh pria itu, sehingga dia tak melihat jalan lain. Sebaiknya kita rawat dia sekarang, kita carikan sekolah yang lebih baik untuknya.”


“Kemana kau akan mencarikan sekolah untuknya Bang.”


“Aku akan mengirim Voni ke tempat yang begitu jauh dari Mamanya, agar dia bisa fokus belajar di sana, untuk melanjutkan perusahaan yang telah di wariskan Papanya.”


“Kalau Luna mengetahuinya, dia pasti marah pada mu Bang.”


“Biarkan saja, lagian perempuan itu nggak punya apa-apa lagi. Dia itu hanyalah seekor sapi ompong, karena semua harta Sanjaya telah di wariskan pada Voni.”


Setelah Voni di mandikan dan di ganti pakaiannya, malam itu Voni sadar dari pingsannya, dia melihat semuanya telah berubah, bahkan tubuhnya yang berbau busuk pun saat itu telah berubah menjadi wangi.


“Rumah siapa ini? kenapa rasanya begitu asing sekali bagi ku,” ucap Voni seraya berjalan pelan menuju ruang tamu.


“Kau sudah sadar Voni?” tanya seseorang padanya.


“Udah, siapa kau sebenarnya, kenapa kau melakukan semua ini padaku?”


“Aku ingin kau sadar Voni, bahwa ada tugas berat yang saat ini sedang berada di pundak mu.”


Saat mendengar suara yang tak asing itu, Voni langsung menebaknya. “Om Bayu?”


“Iya sayang, Om yang telah mengeluarkan mu dari pergaulan bebas itu.”


“Untuk apa Om lakukan semua ini?”


“Om ingin kau sadar Voni, tatap masa depan mu, kau bukan orang miskin yang nggak punya apa-apa nak, kau orang kaya, kau punya segalanya, kau seorang konglomerat yang terkenal, lihat harta Papa mu ada triliunan Voni!”


“Untuk apa guna harta sebanyak itu Om, kalau Mama ku sendiri telah mencampakkan aku seperti sampah.”


“Kau jangan lemah Voni, bukankah kau itu gadis yang kuat, kau pasti bisa bangkit. Ayo tunjukan pada Mama mu kalau kau mampu tanpa bimbingan darinya.”


“Tapi Om!”


“Udah, nggak usah pakai tapi-tapian, saat ini sudah memasuki ajaran baru nak, kau akan Om hantarkan ke suatu tempat untuk melanjutkan sekolah mu.”


“Tapi aku belum menyelesaikan ujian akhir ku, Om.”


“Tenang saja Voni, nanti Om yang akan mengurusnya.”


“Voni tak dapat berbuat apa-apa, dia terpaksa harus mengikuti permainan yang sedang dilakonkan oleh Bayu, orang kepercayaan Sanjaya.

__ADS_1


Dua hari setelah itu, Bayu datang kerumah bersama seorang perempuan cantik yang tak lain adalah wali kelas Voni sendiri.


“Bu Lita!”


“Voni!”


Mereka berdua langsung berpelukan , Voni tak menyangka sama sekali kalau Bayu telah mempertemukan mereka berdua dalam kondisi seperti itu.


“Maafkan aku Bu.”


“Udah, udah. Ibu bisa mengerti kok, karena Pak Bayu telah menceritakan semua kejadiannya pada Ibu kemaren.”


“Ibu ngapain ke sini?”


“Ibu membawa kertas ujian akhir mu, jadi kau cukup menjawab soal ujian mu di sini saja,” ujar Lita seraya menyodorkan beberapa lembar kertas soal.


Tanpa di duga oleh Voni ternyata Bayu telah mempersiapkan semuanya, setelah menyelesaikan ujian akhirnya dengan sempurna, Voni di nyatakan lulus dengan nilai paling tertinggi diantara teman sekelasnya.


Satu bulan sesudah itu Voni diantarkan ke sekolah SMA, mesti terlambat beberapa bulan, tapi pihak sekolah tak mempermasalahkannya, dengan senang hati Voni resmi menjadi siswi baru di sekolah itu.


Saat itu Bayu berencana akan mencarikan rumah kos yang lebih layak untuk Voni, tapi Voni menolaknya, dia tak ingin sendiri tinggal di dalam kamarnya, untuk itulah, Bayu mencarikan rumah kos yang banyak penghuninya.


Menjadi seorang siswa baru, sebenarnya Voni tak berkeinginan sama sekali, tapi karena Bayu tetap memaksanya, akhirnya Voni menuruti kemauan pria itu.


Pagi itu awal dia mulai bersekolah, di tempat baru, teman baru dan sekolah baru, saat itu Voni terlihat santai dan biasa-biasa saja, tapi teman sekelasnya yang memandangi Voni merasa takut.


“Hari ini kelas kalian telah kedatangan murid baru, saat ini dia sedang duduk bersama kalian di sini, dia berasal dari kota dan ingin bersekolah di sini.”


“Kenapa nggak sekolah di kota saja? kan keren.”


“Hahaha…!”


Melihat semua murid tertawa, Voni merasa geram, matanya yang bulat langsung melotot tajam kearah anak yang berani buka mulut pagi itu.


“Pada murid Baru, berdiri dan perkenalkan nama mu pada teman-teman baru mu!”


Voni tak berani menolak perintah Pak guru yang berada di hadapannya, dengan berat hati dia pun berdiri untuk memperkenalkan namanya.


“Aku bernama Voni regina Sanjaya.”


“Daerah asalnya di mana?” tanya seorang teman pria.”


“Aku berasal dari?”

__ADS_1


“Dari mana Voni?”


“Dari…!”


“Apakah kamu nggak tahu, dari mana daerah asal mu, tempat kau dan kedua orang tuamu menetap," ujar Pak Khairul.


Lama Voni terdiam, dia benar-benar tak ingin mengingat masa kelam itu lagi, Voni bahkan memejamkan matanya, saat bicara.


“Aku ini hanya anak seribu pulau.”


Mendengar jawaban dari Voni, semua siswa langsung terperangah, begitu juga Pak khairul yang saat itu sedang berada di depan kelas.


“Ya sudah, kalau Voni nggak mau memberitahukan daerah asalnya, nggak apa-apa, nanti kalian pasti tahu, di mana Voni berasal. Nah anak-anak, mari kita lanjutkan pelajaran kita hari ini, kita akan melanjutkan pembahasan Bab dua.”


Voni hanya diam saja, rasa kesalnya saat itu belum juga hilang dari dalam hatinya, matanya yang indah tak lagi mencerminkan kebahagiaan sedikit pun.


“Voni!"


“Iya, Pak.”


“Karena saat ini kau udah terlambat, jadi kau bisa pinjam buku teman yang berada di sampingmu.”


“Baik Pak.”


Kali itu, Voni memang benar-benar sedang mengikuti pelajaran yang di terangkan Pak Khairul di depan kelas.


Tapi hal itu hanya berlangsung beberapa hari saja.


Voni yang sudah terbiasa hidup bebas dan lepas, dia merasa jenuh dengan semua pelajaran yang dia terima dan dengarkan di sekolah.


Dia pun mulai berkeliaran di malam hari mencari tempat yang bisa menghibur dirinya sendiri, agar kejenuhan tak lagi mengusik pikirannya.


Setelah semalaman begadang, Voni merasa ngantuk sekali.


Pagi itu, bel sekolah telah berdering, menandakan waktu belajar mengajar segera di mulai, sementara itu Voni masih saja tidur pulas dengan mimpi indahnya yang menyenangkan.


Sepertinya peraturan sekolah yang telah di tetapkan, pagi itu akan dilanggarnya.


Mesti Ibu kos tempat Voni menginap telah menetapkan peraturan untuk keluar malam, namun Voni melanggarnya dan tak menggubrisnya sama sekali.


Padahal di luar cuaca dingin dan berbahaya sekali untuk gadis secantik Voni, namun dia tetap saja merasa senang dengan kebebasan itu.


sudah tiga kali pagi, Voni terlambat datang kesekolah, hal itu membuat guru kelas melaporkan hal itu pada kepala sekolahnya.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2