
Mesti Intan berusaha keras untuk masuk, namun Boy mencoba menghalanginya, dia bahkan menampar wajah Intan dengan kuat sekali.
Karena kerasnya tamparan Boy, membuat Intan terjungkal kebelakang, dia bahkan meringis menahan rasa sakit.
“Sekarang pergi kau dari sini wanita murahan!” bentak Boy kasar.
Dengan menangis sedih, akhirnya Intan keluar dari apartemen itu. dia pergi tanpa membawa apa-apa.
“Oh, sial! kemana aku mesti pergi malam ini.”
Dinginnya malam itu, terasa menusuk ke tulang sumsum yang paling dalam, seraya mengatupkan mulutnya Intan mencoba menjauh dari apartemen yang telah membuatnya menjadi sial malam itu.
Bagai mendapatkan pelajaran yang berharga malam itu, Intan hanya bisa menangis sedih di sepanjang jalan nya.
Beberapa jam berjalan kaki, Intan akhirnya menemukan taksi, kemudian taksi itu mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya.
Saat Intan menginjakkan kakinya di rumah itu, dia melihat Mamanya terbaring lemah di atas ranjang. Walau saat itu hati Yuli bahagia melihat kepulangan putri tercintanya, namun dia tak mau memperlihatkan kepada Intan betapa bahagianya dia saat itu.
Sementara itu Intan yang melihat Mamanya terbaring lemah di ranjang, dia datang menghampiri dan bersimpuh di tepi ranjang untuk meminta maaf pada Yuli.
“Kenapa pulang? bukankah di luar sana kau bisa bebas tidur dengan pria hidung belang mana saja!”
“Maafkan aku, Ma. Aku janji nggak bakalan membuat Mama sakit lagi.”
“Mama lebih baik sakit, ketimbang melihatmu menjadi seorang pelacur di luar sana!” ujar Yuli seraya menangis di hadapan Intan.
“Aku tahu itu Ma, itu sebabnya aku pulang, aku nggak akan berbuat seperti itu lagi, aku janji sama Mama dan Papa.”
Yuli hanya diam saja, dia tak mau menanggapi permintaan maaf putrinya, karena saat itu Yuli belum sepenuhnya yakin dengan ucapan putrinya itu.
“Sekarang Mama ingin tanya pada mu, apa yang telah kau dapat dengan cara menjual diri, apa!”
“Nggak ada Ma.”
“Kalau memang nggak ada, kenapa kau nggak mau Mama larang untuk nggak melakukan itu lagi?”
“Maafkan aku Ma, aku benar-benar menyesal,” rengek Intan.
Mesti Intan bermohon, tapi Yuli tak mudah percaya dengan ucapan putrinya, dia hanya diam saja seraya menoleh kearah yang lain.
“Apakah Mama udah memaafkan aku?”
“Sekarang pergilah mandi, bersihkan tubuhmu yang kotor itu.”
__ADS_1
“Setelah itu apakah Mama memaafkan aku?”
“Kita lihat dulu nanti, beberapa bulan kedepan, kalau saat itu kau masih berbuat hal yang sama, maka jangan harap Mama akan memaafkan mu.”
“Baiklah.”
Seperti niat Intan, untuk beberapa hari, dia tak pernah keluar dari rumah, sehingga hal itu membuat Yuli dan Aris menjadi senang. Akan tetapi, dalam beberapa hari itu pula, Intan merasakan ada sesuatu yang aneh di bagian tubuhnya.
Awalnya Intan merasa mual-mual, lama kelamaan berangsur muntah, beberapa minggu kemudian Intan merasakan perutnya mulai membesar, mesti dia merasa kalau saat itu dia sedang hamil, Intan tak mau memberi tahukan hal itu pada Papa dan Mamanya.
“Ah, gawat! ternyata aku hamil.”
Untuk meyakinkan kehamilannya, Intan pergi ke apotik untuk membeli testpack, ketika dia masuk kedalam, Yuli menghampirinya.
“Kau dari mana?”
“Oh, eh! dari warung Ma,” jawab Intan gugup.
“Ngapain ke warung?” tanya Yuli dengan nada sedikit tegang.
“Nggak ada.”
“Bisa Mama lihat, apa yang ada di tanganmu?”
“Wah, gawat. Jika Mama tahu aku lagi memegang testpack, pasti Mama semakin marah pada ku,” kata Intan bermonolog.
Mesti Yuli berkata berulang kali, Intan tetap diam, karena tak ada kalimat yang bisa dia ucapkan untuk menyembunyikan kesalahan yang telah dia lakukan.
Kemudian, Yuli menarik tangan putrinya dengan kasar, sehingga testpack yang berada di tangan Intan terjatuh tepat di kaki Mamanya.
“Astaghfirullah! kamu lagi hamil Intan?”
“Maafkan aku Ma, aku juga nggak tahu!”
“Kurang ajar kau Intan, kau bawa aib ke dalam rumah ini!” teriak Yuli seraya menampar dan memukul Intan hingga putrinya itu merasa kesakitan.
"Maafkan aku Ma, maafkan aku," rengek Intan ketakutan.
“Ada apa Ma?” tanya Aris yang mendengar suara ribut di depan rumah.
“Putrimu hamil Pa!”
“Hah, dia hamil…!” ucap Aris seraya memegang dadanya yang terasa sakit.
__ADS_1
Melihat suaminya mendapatkan serangan jantung, Intan dan Yuli langsung berlari menghampiri pria yang hampir sekarat itu.
“Pa, Papa! sadar Pa, sadar!” jerit Yuli seraya mengguncang tubuh suaminya.
Sementara itu Intan hanya bisa menangis, menyesali dirinya yang telah menyebabkan petaka dalam rumah tangga kedua orang tuanya.
Dengan cepat Yuli menelfon ambulance, seraya menangis histeris, Yuli terus saja memeluk tubuh suaminya yang sudah tak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian ambulance pun datang, tubuh Aris mereka larikan kerumah sakit. Bantuan pun datang untuk menyelamatkan nyawa Aris karena serangan jantung. Intan hanya bisa menangis sedih di samping Papanya.
“Maafkan aku Pa, aku telah membuat Papa menderita.”
Rengekan Intan membuat Aris semakin marah, dia begitu kesal pada Intan, karena putrinya tak mau mendengarkan nasehat kedua orang tuanya.
“Sekarang pergilah dari hadapan ku.”
“Papa, maafkan aku.”
“Ah, pergi cepat, jangan perlihatkan wajah mu di hadapan ku.”
“Ma, Mama jangan marah pada ku, aku minta maaf.”
“Pergilah Intan, Papa dan Mama nggak mau punya anak seperti mu, hanya membawa aib kerumahnya sendiri.”
“Baiklah, aku akan pergi, asalkan kalian berdua mau memaafkan aku, aku janji setelah itu, aku nggak bakalan melihat wajah Papa dan Mama lagi.”
“Pergilah Intan, Papa dan Mama nggak sudi punya anak seperti mu lagi!”
“Intan benar-benar putus asa, karena kedua orang tuanya tak ada yang mau memaafkan semua kesalahan yang telah dia lakukan, selama Papanya di rumah sakit, Intan hanya bisa menangis di dalam kamarnya.
Malam itu Intan telah kehabisan akal, dia merasa depresi dengan kehamilan yang dia miliki, lalu Intan pergi kekamar mandi, kemudian Intan mengambil sikat gigi, sejenak dia terdiam seraya memegangi sikat gigi tersebut.
“Maaf kan aku Pa, Ma. Aku putrimu yang tak berguna, padahal aku menyesali semua kelakuan ku, aku terjebak dalam lingkungan hidup yang telah menyeret ku, ke lembah hitam.”
Kemudian sepucuk surat yang telah di tulis tangan itu di taruh Intan di atas meja kamarnya, tak berapa lama kemudian Intan pun menjerit histeris di dalam kamar mandinya.
Jeritan Intan terdengar jelas di rumah tetangga, tapi mereka tak ada yang berani mendatangi rumah Aris, sebab Aris dan istrinya sedang tak berada di rumah mereka.
Dua hari setelah itu Aris beserta istrinya pulang dari rumah sakit, ketika dia hendak memasuki rumah, mereka berdua mencium bau yang sangat menyengat.
Keduanya pun saling beradu pandang, sebab mereka berdua sama-sama tak tahu dari mana asal bau itu.
Setelah mengantarkan suaminya ke ruang tamu untuk beristirahat, lalu Yuli mencari dari mana asal sumber bau itu berasal, semakin di dekati kamar Intan, maka semakin busuk sekali bau yang tercium.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*