Terjebak

Terjebak
Part 51 Mencari dokter kandungan


__ADS_3

“Kenalan sih, ada. Tapi untuk satu janin mereka membandrol nggak sedikit Intan.”


“Berapa Pak?”


“Berkisar empat sampai lima juta untuk satu orang janin, apa lagi kalau janinnya sudah berusia empat bulan keatas, pasti harganya lebih mahal.”


“Kenapa begitu?”


“Karena resikonya sangat besar.”


“Ya ampun! dari mana kita mendapatkan uang sebanyak itu ya? kasihan Lesti dia pasti menderita sekali.”


“Kalau soal biaya, Bapak bisa kasih dia lima juta rupiah, tapi ingat, Bapak nggak mau tahu dengan resiko yang akan dia terima nantinya.”


“Baiklah, kalau soal resiko, biar kami bertiga yang menghadapinya.”


“Baiklah, nanti akan Bapak buatkan sepucuk surat untuk mu, agar kau berikan pada dokter itu.”


“Baik Pak. terimakasih atas bantuannya.”


“Iya sayang, untuk mu apa yang nggak bisa Bapak lakukan.”


Setelah mendapat apa yang diinginkannya, Intan langsung mengabarinya pada Lesti. Lalu mereka bertiga sepakat akan berangkat esok harinya dengan menaiki mobil tambangan.


Saat kesepakatan itu di buat, Voni datang ke kamar Lesti, niatnya hanya untuk melihat kondisi Lesti, tapi saat itu Voni mendengar pembicaraan mereka bertiga.


“Ya Allah! benarkah itu?”


“Voni!” ucap mereka bertiga serentak.


“Jadi benar, besok kalian akan pergi ke kota?”


“Iya Voni,” jawab Lesti dengan suara lantang.


“Ngapain?”


“Pak Tino memberi kami uang lima juta untuk biaya ke dokter.”


“Apakah kau nggak melihat jalan lain selain itu Lesti?”


“Nggak Voni, semua jalan udah tertutup rapat untuk ku.”


“JIka saja kau bersedia berkorban demi darah daging mu sendiri, tentu semuanya nggak akan menyulitkan mu.”


“Berkorban apa maksud mu Voni?”


“Berhenti kau berkhayal untuk mengikuti ujian akhir, lahirkan bayimu dengan selamat ke atas dunia ini. Ibu macam apa kau yang tega ingin membunuh bayi mu sendiri.”


Mendengar ucapan Voni, jantung Lesti jadi mendidih, dia sungguh tak mau menerima setiap kata berhenti, karena Lesti merasa gagal, kalau dia tak berhasil mengikuti ujian akhir.


“Heh Voni!” ujar Lesti seraya mendorong tubuh Voni dengan tangan kirinya. “Kau kira dirimu itu siapa hah, apakah kau malaikat, sekarang kau begitu mudah bicara keselamatan bayi ku. Apakah kau nggak nyadar, kalau selama ini kau sendiri sering melakukan percobaan bunuh diri.”


“Itu urusan ku!” jawab Voni dengan nada tinggi.


“Kalau begitu, ini juga bukan urusan mu, bayi sial ini harus ku buang dari rahim ku, apapun alasannya, titik!”


“Plak!” sebuah tamparan langsung mendarat di pipi mulus Lesti. “Dasar bodoh, hari ini kau bukan saja meneriaki aku, tapi kali ini kau juga sedang meneriaki nasib malang mu itu Lesti! Ibu macam apa kau ini, demi ambisi mu kau rela membunuh darah daging mu sendiri!”


“Pergi kau Voni! Pergi!”


Pertengkaran mereka berdua terdengar jelas oleh seluruh penghuni kos, berita yang selama ini mereka simpan rapat akhirnya di ketahui oleh seluruh anak-anak kos.


Karena pertengkaran itu, malam itu juga mereka bertiga berangkat ke kota, untuk mencari dokter yang di maksudkan oleh Tino. Dengan membawa sepucuk surat pengantar.

__ADS_1


Karena merasa takut akan terjadi sesuatu, maka malam itu juga Voni melaporkan kejadian itu pada Bramono. Voni mengetuk pintu rumah Bramono dengan kuat sekali, hal itu membuat Bramono terkejut. Saat pintu di buka Bramono mendapatkan Voni telah duduk di depan pintu.


“Voni! ada apa sayang?”


“Lesti Pak.”


“Lesti? siapa itu Lesti?”


“Anak kelas tiga.”


“Ya sudah, masuklah dulu ke dalam.”


“Baik,” jawab Voni seraya duduk di sofa Bramono.


Kemudian Bramono datang menghampiri Voni seraya memberinya segelas air hangat, dan dia duduk tenang di samping gadis itu.


“Minumlah dulu, biar jantung mu bisa berdetak dengan tenang.”


“Baik,” jawab Voni seraya mengambil air itu dari tangan Bramono.


“Sekarang coba ceritakan pada Bapak, apa yang ingin kau sampaikan.”


“Lesti, teman sekamarku waktu itu, dia hamil.”


“Apa! teman mu hamil?”


“Iya.”


“Mana dia sekarang?”


“Pak Tino memberinya uang untuk pergi ke kota.”


“Ngapain ke kota?”


“Ya ampun, apa maksud Pak Tino berbuat seperti itu?”


“Mungkin rencananya ingin membantu Lesti, agar dia dapat mengikuti ujian akhir.”


“Kalau sudah hamil, itu artinya telah merusak nama baik sekolah, murid seperti itu harus di keluarkan dari sekolah.


“Udah berapa bulan kandungannya?”


“Udah empat bulan.”


“Apakah terbayang di pikiranmu, jika kita menunggu sampai empat bulan lagi, sudah sebesar apa kandungannya?”


“Tentu udah besar.”


“Ya, itu sebabnya, kita harus mengeluarkannya dari sekolah, sebelum berita itu menyebar kemana-mana.”


“Bagai mana kalau Lesti berhasil menggugurkan kandungannya?”


“Jika kandungan Lesti sudah berusia empat bulan, Bapak nggak yakin dokter mau menggugurkannya.”


“Semoga saja apa yang ada di dalam fikiran Bapak menjadi kenyataan dan Lesti gagal menggugurkan kandungannya.”


Keesokan harinya, saat mereka masih berada di terminal, Lesti sepertinya mengalami kram pada kehamilannya, sehingga dia tak kuat untuk berdiri dan berjalan.


Seorang Ibu-ibu datang menolongnya dan mencoba memperbaiki posisi kandungan Lesti yang waktu itu menjerit kesakitan.


“Sepertinya kamu masih muda, udah berapa tahun umurmu?” tanya Ibu itu pada Lesti.


Lesti tak langsung menjawabnya saat itu, matanya yang berwarna kecoklatan menatap kearah Intan dan Indah yang berada tepat di hadapannya.

__ADS_1


“Dia kakak ku Bu, usianya udah dua puluh satu tahun.”


“Udah berapa usia kandungan mu?”


“Empat bulan Bu.”


“Hati-hati, kandungan yang usianya sekitar empat bulan biasanya rawan keguguran, karena masih lemah.”


“Iya, terimakasih Bu.”


“Kalian mau kemana sekarang?”


“kerumah dokter Hery.”


“Ooo, silahkan.”


“Baik Bu, kalau begitu kami permisi.”


“Iya.”


Dengan menaiki taksi, mereka bertiga akhirnya tiba di rumah dokter Hery. Ketika mereka bertiga tiba di sana, dokter Hery sedang menerima pasiennya, sehingga mereka bertiga terpaksa harus duduk di ruang tunggu.


Setelah di pastikan semua pasien tak ada lagi yang berobat, barulah mereka bertiga masuk kedalam dan memberikan surat dari Pak Tino itu kepadanya.


“Jadi kalian bertiga adalah anak didik Pak Tino?”


“Iya dok, siapa diantara kalian yang mengalami kehamilan itu?”


“saya dok,” jawab Lesti pelan.


“Sudah berapa bulan usia kandungan mu itu?”


“Udah empat lebih dok.”


“Udah empat bulan lebih?”


“Iya.”


“Lebihnya, udah berapa hari?”


“Empat bulan dua puluh hari.”


“Berarti kandungan mu jalan lima bulan.”


“Benar dok.”


“Biasanya kandungan yang udah mencapai lima bulan, kondisinya sudah semakin tua. Sehingga sulit untuk di gugurkan. Bukan hanya itu saja, resikonya pun sangat tinggi.


“Apa resikonya dok?”


“Pendarahan yang hebat, atau bisa jadi kematian yang akan merenggut nyawa mu sendiri.”


“Tolonglah kami dok, teman kami ini ingin mengikuti ujian akhir?”


“Tapi kalian udah terlambat membawanya kesini.”


“Tapi dok!”


“Katakan pada Tino ucapan maaf saya.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2