Terjebak

Terjebak
Part 107 Kejadian yang direncanakan


__ADS_3

“Menurut pengakuan Voni, dia nggak membunuh, tapi pria itulah yang ingin membunuhnya, saat Voni mengelak pria itu terjatuh, pisau langsung menusuk perutnya. Tapi akibat dari kejadian terakhir itu, sampai sekarang Voni tak di akuinya lagi sebagai putrinya, dia bahkan di usir dari rumah dan menjadi gelandangan di jalanan.”


“Ya Allah kasihan sekali nasib Voni.”


“Seminggu lagi dia akan menghadapi sidang gugatan masalah warisan itu, saya pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri, Voni di tampar dan di cekik oleh Mamanya, dengan beringas sekali.”


“Kenapa Voni nggak meyerahkan semua hartanya itu pada Mamanya?” tanya Riska.


“Wasiat dari Papanya, harta itu nggak boleh jatuh ketangan Mama Voni sendiri.”


“Saya turut bersimpatik padanya kali ini.”


“Iya, saya juga Bu,” ucap Sovia.


“Bantulah Voni dengan do’a kalian, saya masih ragu dengan sidang kali ini, entah apa pula yang bakal dialaminya nanti, karena dua hari yang lalu, ada orang yang sengaja datang dan masuk kerumah Voni, hanya untuk menaburkan racun ke makanan mereka dan yang kena saat itu pembantunya sendiri."


“Ya ampun, benarkah itu Pak?” tanya Pak Aswadi tak percaya.


“Sepertinya, kita semua nggak yakin dengan apa yang di lakukan orang lain padanya. Tapi saya sendiri yang telah menyaksikannya, kalau Voni itu nggak pernah mengalami ketenangan, mesti dalam waktu yang singkat sekali pun.”


Saat Bramono bicara Aswadi tampak tertunduk malu, karena beberapa hari yang lalu, istrinya sendiri juga ikut menyakiti gadis malang itu. walau demikian, Voni tetap tenang dan sabar bahkan dia bermurah hati untuk memaafkan semua kesalahan orang lain.


Setelah pertemuan siang itu, Bramono langsung mencari keberadaan Voni, Nita memberitahukan, kalau Voni sedang berada di taman belakang sekolah.


“Ada masalah apa?” tanya Bramono yang berdiri dari jarak jauh.


Persidangannya besok, apakah Bapak bersedia mengantarkan aku ke pengadilan?”


“Tentu, besok pagi kita akan berangkat.”


“Baiklah, terimakasih atas kesediaannya.”


“Ya sama-sama.”


Kemudian Voni meninggalkan Bramono yang masih berdiri jauh darinya, sedangkan Bramono hanya bisa memandangi Voni dengan rasa sedih.


Malam itu, Voni kembali mengalami susah tidur, perasaannya tak tenang, karena dia akan menghadapi Mamanya di persidangan besok.

__ADS_1


Secara bersamaan, malam itu Luna juga sedang duduk diam di dalam rumahnya, entah apa yang sedang di pikirkan perempuan jahat itu.


“Kalau memang benar besok di lakukan persidangan, berarti Voni belum mati dong! kurang ajar, ternyata Bowo dan Roni tak becus melakukan pekerjaannya.”


Mesti Luna sadar kalau Voni belum mati, seperti yang ada di dalam benaknya, namun Luna tak kehabisan akal, dia memikirkan rencana lain untuk Voni di persidangan esok harinya.


“Hm, Voni, Voni, walau kali ini Mama gagal, Mama akan lakukan seribu cara untuk membuat mu menyesal hidup di dunia ini. Lihat saja nanti, mesti aku masuk penjara, tapi semua warisan itu akan jatuh ketangan ku, hahaha…!”


Siasat gila yang di rencanakan Luna telah membuat akal sehatnya menjadi hilang, dia tak pernah peduli dengan keselamatan putrinya, yang ada dipikiran Luna hanyalah harta warisan itu.


“Pagi hari, setelah Luna selesai makan, dia menitipkan Abi pada pembantunya. Lalu Luna berangkat sendirian dengan mengendarai mobil.


Lama Luna duduk diam di ruang tunggu, menantikan Voni yang masih berada di perjalanan. Sebelum berangkat, dua orang pria akan di utus oleh Bayu untuk menjaga dan mengawasi Voni selama berada di persidangan.


“Kalian tahu, tugas kalian apa?” tanya Bayu pada orang suruhannya.


“Tahu Pak!”


“Apa? coba kalian katakan apa tugas yang telah saya berikan pada kalian.”


“Menjaga dan mengawasi Voni dari gangguan Luna.”


“Baik Pak.”


“Sekarang pergilah, tunggu kedatangan Voni di pintu masuk, nanti setelah dia masuk, langsung saja kalian kawal dari kejauhan, tindakan kalian jangan sampai mencurigakan.”


“Baik Pak.”


Setelah mendapat perintah, kedua orang itu langsung berangkat kepengadilan. Saat melihat kedua pria itu berdiri, Luna sudah merasa curiga , kalau kedua pemuda itu adalah orang suruhan Voni yang akan menghabisinya.


Tak ingin kecurigaannya menjadi masalah yang berlarut-larut, Luna pun datang menghampiri kedua pria itu.


“Hei kalian ini siapa?” tanya Luna.


“Kenapa Ibu bertanya, kami siapa?”


“Lalu kenapa kalian ada disini? pasti kalian berdua orang suruhan Voni untuk menghabisi saya, ya?”

__ADS_1


“Kok Ibu bisa berfikiran begitu, atau jangan-jangan, Ibu memang punya niat seperti itu, pada Voni.”


“Heh…! enak aja, kalau ngomong itu, jangan asal nuduh ya, ada bukti dulu, baru bicara!”


Tak ingin meladeni Luna, kedua pria itu langsung saja pergi, dia duduk di kedua sisi pintu masuk untuk menantikan kedatangan Voni.


Tak berapa lama kemudian sebuah kijang inova meluncur dengan kecepatan sedang menuju gedung pengadilan.


Setelah mobil berhenti, lalu Bramono turun, di susul pula oleh Voni, saat melihat wajah Voni, kedua pria itu, langsung melihat foto yang di berikan Bayu kepadanya, untuk mencocokkan gambar Voni yang ada di foto dengan yang aslinya.


“Ya benar, itu dia gadis yang akan kita lindungi.”


Dengan tenang, Voni masuk kedalam bersama Bramono, saat dia melintas di depan Luna, Voni tak melihat sedikitpun kearah Mamanya begitu juga dengan Bramono. Keduanya sengaja melakukan itu agar Voni bisa fokus pada sidang yang akan dia jalani sebentar lagi.


Di awal persidangan, jaksa memberikan kesempatan pada Luna untuk mengemukakan keinginannya, selanjutnya sidang berjalan sempurna seperti yang di inginkan Voni, tapi saat jaksa meminta surat wasiat yang asli, Luna dan Voni sama-sama berdiri memberikan surat itu ketangan jaksa.


Ketika pertemuan dekat yang tak di sangka itu terjadi, mata Luna sempat menatap tajam kearah Voni, sedangkan Voni hanya menunduk diam saat itu.


Beberapa saat menunggu, sidang pun kembali berjalan. Setelah keputusan di buat dan hakim hendak mengumumkan penentunya, Luna langsung membuka kabel menggulung rambutnya.


Diam-diam, kabel itu digulungkan pada kedua tangannya.


Kemudian keputusan pun di bacakan, bahwa yang menang pada persidangan kali itu tetap Voni, karena menurut jaksa, surat yang ada di tangan Voni lah yang aslinya.


Sebelum hakim memukulkan palunya, Luna langsung meradang. Dia marah, karena surat bukti yang menyatakan sah pada surat wasiat itu jatuh pada Voni.


“Pak hakim bohong! mana mungkin surat yang ada pada saya itu palsu!”


“Saya berkata jujur Bu, surat yang ada pada Ibu memang Salinan dari surat wasiat yang aslinya.”


“Saya nggak terima, saya nggak terima!”


Tanpa di sadari oleh orang banyak, Luna langsung berlari menghampiri Voni dan melilitkan kabel yang ada di tangannya ke leher Voni, sontak gadis itu terkejut dan menjerit kesakitan.


Di saat bersamaan dua orang suruhan Bayu, dan Bramono langsung berlari menghampiri Voni yang lehernya di jerat kabel oleh Luna.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2